Dijodohkan Dengan Dosen

Dijodohkan Dengan Dosen
Asdos


__ADS_3

Sial!


Sudah bangun kesiangan, kejedot pintu kamar mandi.pula. Mana si dosen kaga bangunin. Sengaja kali buat dia telat.


Dengan gerakan mandi cepat, akhirnya membuakan hasil yang memuaskan. Sampai di kampus dengan selamat.


Walaupun harus kena omel orang rumah, dan kena tinggal sang suami ke kampus duluan. Ck, sangat menyebalkan. Untungnya dibiarkan bawa mobil, kalau tidak ....


"Huh ... huh ... huh." Alya mengatur nafas, karena ngos-ngosan abis lari maraton dari parkiran ke kelas.


"Abis dikejar anjing Al?" tanya Nana dengan muka polosnya.


"Lebih parah dari dikejar anjing ini mah, kalau dikejar anjing bisa manjat pohon. Lah ini, harus lari terus," ucap Alya dengan masih mengatur nafas.


"Bangun kesiangan?" tanya Nindy, nah kalau ini Alya suka. Langsung nangkap kondisi.


"Iya," ucap Alya dan menarik nafas panjang, mengakhiri nafas ngos-ngosannya.


"Gue pikir setelah nikah sama dosen devil, tidak ada lagi drama bangun kesiangan yang berujung telat masuk kelas. Tapi sama aja," ucap Nindy tertawa mengejek dengan nasib sahabatnya.


"Tega banget sih tu orang, kaga bangunin gue. Apa dia sengaja lagi buat gue telat, terus di marahi dibentak-bentak?" ucap Alya sambil berpikir.


"Jangan suuzon sama suam —."


"Shuttt!" Alya langsung membungkam mulut Nana yang hampir keceplosan, apa lagi si Aldi sudah ada didepan mereka.


Nana memukul tangan Alya yang masih nongkrong manis di mulutnya. Dengan cengiran tanpa dosa, Alya ngelepas tangannya dari mulut Nana.


"Lo mau bunuh sahabat lo yang cantik ini?!" tanya Nana dengan lebay-nya.


Alya bergidik geli. "Sorry sayang, gue kelepasan tadi," ucap Alya.


"Gimana Al? Udah itu belum?" Nana bertanya ambigu, membuat Alya bingung.


"Itu apa?"


"Itu loh ... MP?" goda Nindy dengan suara kecil.


"MP apa?"


"Lo kok jadi polos Al?" tanya Nana gemas.


"Mp, mp apa coba?"


"Nih." Nindy menyodorkan bukunya yang ada tulisan 'Malam 'Pertama.'


"Gila kalian berdua!" pekik Alya membuat orang-orang beralih menatap dirinya.


"Berisik Al!" ketus Nana dan Nindy.


"Kalian juga apa-apaan."


"Cuma nanya Al sayang, sebenarnya dari kemarin kita mau tanyain ini. Tapi gak jadi, karena masalah itu," ucap Nindy.


"Jadi gimana?" tanya Nana.


"Ya nggak lah!" ketusnya.


"Yaah!" Mereka berdua langsung lemas.


"Jadi ... masalah lo Nin? Gimana?" tanya Alya.


"Ya nggak gimana-gimana, cuma papa tidak pernah bicarakan soal itu dari gue balik. Tapi selama gua balik sampai berangkat pagi ini, papa gak pernah ngomong sama gue," ucap Nindy dengan hembusan nafas berat.


"Mungkin papa lo lagi renungin diri, atau menyesal," ucap Alya.


"Iya, siapa tau om Alif lagi renungin kesalah —."


"Beb Nindy kenapa?" Aldi memotong pembicaraan Nana, membuat gadis itu memukul kepala Aldi.


"Bisa gak jangan potong pembicaraan orang!" ketus Nana.


"Kan gue penasaran."


"Ya tapi jangan potong-potong juga kali!"


"Ye sorry. Nindy kenapa emang?"


"Masalah keluarga. Lo dilarang tau," ucap Nindy.


"Jahat banget sih lo Beb."


"Jangan manggil gue beb-beban Di! jijik tau gak," ucap ketus Nindy. Aldi hanya tersenyum menyebalkan.


"Ngomong-ngomong nih guys!" Tiba-tiba ada suara nyeletuk dari Angga.


"Kenapa Mangga asem" tanya Tata mengejek.


"Etdah. Jahat banget kalian, hati gue sakit lo manggil gitu ... hiks." Angga menangis drama, membuat rambut dan kepalanya yang jadi korban.


"Lepas woy! Sakit Junaedi, Jubaedah!"


"Makanya jangan lebay, lo cowo gayanya kek cewe!" ucap Aldi se enaknya.


"Bercanda Junaedi! Aelah, lo mah baper mulu kek cewe!"


"Enak aja!" Terjadilah aksi tarik-menarik rambut antara Aldi dan Angga, meskipun hanya main-main. Tapi bisa ditebak, kalau itu sakit.


"Tarik terus Di!" seru Tata menyemangati.


"Gue dukung Angga, tarik Ngga!" tambah Rafi.


"Aldi!"


"Angga!"


"Ada apa ini?!" Suara bariton milik pak Varo menghentikan aksi keduanya, semua orang juga langsung duduk manis dan kalem ditempatnya masing-masing. Begitu juga Alya, Nindy dan Nana. Mereka bertiga langsung duduk rapi ditempat.


"Ini a -anu Pak." Aldi berucap gugup, dengan kakinya dan kaki Angga saling menyenggol.

__ADS_1


"Anu apa?!"


"Nggak ada apa-apa P -Pak," jawab Angga tak kalah gugupnya.


"Kakinya kenapa? Perlu saya tendang juga?!"


"J -ja ... jangan Pak," jawab mereka berdua serempak.


"Lalu?!"


"Cuma main-main 'Pak," ucap Angga dengan menahan takutnya.


"Main-main?"


"I -iya Pak," jawab Aldi.


"Main-main sampai menyakiti satu sama lain?!"


"Maaf Pak, kita salah," ucap Angga di ikuti Aldi.


"Saya tidak butuh maaf!" Angga dan Aldi seketika meringis. '


'Pasti akan dihukum,' batin keduanya.


"Lari keliling gedung fakultas selama lima kali putaran, sekarang!" Angga dan Aldi tersentak, begitu juga semua orang dikelas. Dengan menelan ludah kasar, mereka langsung berlari keluar kelas dan melakukan hukuman. Yang kalau dipikir pakai logika, yang mereka perbuat tidak sepantaran dengan hukuman yang diberikan.


Sedangkan dikelas, suasananya masih mencekam. Apa lagi bagi Tata, yang tugasnya jadi penanggung jawab kelas.


"Penanggung jawab kelas?!"


"S -saya Pak," ucap Tata dengan tampang takutnya, membuat ketiga orang didepannya ingin sekali tertawa, tapi bukan waktu yang tepat untuk ketawa sekarang.


"Kamu tau kesalahan kamu 'kan?!"


"I -iya Pak."


"Jadi?"


"Siap, saya salah Pak! Saya tidak akan mengulangi lagi!" ucap tata mantap.


"Kamu bukan tentara, tidak usah pake gaya seperti itu!" ucap dosen itu pedas.


Seketika kelas riuh, ketawa yang dari tadi ditahan sekarang sudah keluar. Sedangkan Tata menggerutu dengan mengumpat.


"Diam!" bentaknya. Semua orang langsung menutup rapat mulutnya, bahkan yang belum bisa mereda tawanya terpaksa menutupnya dengan tangan.


"Sekali lagi saya lihat seperti tadi, maka bukan hanya orang yang berbuat saya hukum! Tapi satu kelas, paham!"


"Paham 'Pak!"


"Yang punya nomor orang yang saya hukum tadi, tolong dihubungi. Suruh kembali ke kelas dengan cepat!"


"Tata, lo nelpon Aldi cepet!" desak mita, karna sudah tak tahan dengan tatapan tajam dari dosen didepan mereka.


"Hp gue lowbat," ucap Tata menyengir.


"Nin ... lo yang nelpon deh."


"Sudah dihubungi?"


"B -belum Pak," jawab Tata gugup.


"Saya dari tadi —."


"Sudah di angkat Pak," potong Alya. Siapa lagi mahasiswa/i yang berani motong pembicaraan si dosen, kalau bukan dia?


"Halo kenapa Al?" tanya Aldi disebrang telepon dengan nafas ngos-ngosan.


"Ke kelas sekarang."


"Lah ... bukannya kita disuruh keliling lima putaran?"


"Mana gue tau, lo balik cepet!"


"Siapa yang suruh?" tanya Angga juga.


"Pak —." Perkataan Alya terpotong


"Astaga." Hampir saja Alya menendang ginjal orang yang merampas hp-nya, kalau tidak cepat dia lihat.


"Balik ke kelas sekarang!"


"S -siap Pak." Tanpa menunggu jawaban lagi, pak Varo langsung mematikan telepon secara sepihak, membuat Aldi mendengus geram.


'Untung dosen,' itu yang terus dipikirkan Angga dan Aldi.


"Kalau saya suruh apa-apa, langsung ke intinya. Jangan bertele-tele," ucap pak Varo dan menyerahkan kembali handphone Alya.


Alya mendengus. "Kan baru mau langsung keintinya, tapi Bapak udah lebih dulu ngambilnya," ucap Alya tidak mau disalah 'kan.


"Alasan. Bilang saja kalau mau bicara lama-lama sama dia," cibir pak Varo.


"Astaga Pak. Perasaan kerjaannya su'udzon mulu sama saya."


"Kenyataan 'kan?"


"Nggak 'lah Pak. Jangan asal nuduh orang sembarangan Pak."


Orang-orang menghembuskan nafas, tidak jarang mereka melihat kedua orang itu adu mulut. Kedatangan Aldi dan Angga mengalih 'kan perdebatan mereka yang tidak ada faedahnya sama sekali, menjadi pembahasan pelajaran.


"Kelas saya akhiri. Yang merasa Asdos saya, tolong ikut keruangan saya."


Semua orang celingak-celinguk heran, pasalnya mereka belum ada satupun yang tau kalau Alya sudah menjadi Asdosnya pak Varo. Apa lagi pak Varo bukan tipe dosen yang suka memakai Asdos, dia lebih suka bekerja sendiri.


****


Alya berdiri setelah selesai merapikan alat tulis dan buku-bukunya. Lagi dan lagi orang-orang tercengang, siapa sangka Alya yang akan menjadi Asdosnya pak Varo? Apa lagi tak jarang mereka adu mulut saat berbicara.


Mereka berdua berlalu meninggalkan kelas, juga meninggalkan tanda tanya dikepala orang-orang di kelas.

__ADS_1


******


"Ada perlu apa manggil saya Pak?" tanya Alya setelah sampai dan duduk santai diruangan suaminya, eaak.


"Kamu tau tugas sebagai asisten dosenkan?"


"Tau."


"Itu kamu tau. Jadi tidak perlu bertanya lagi," ucap pak Varo, tapi sayang tidak dapat dicerna oleh otak Alya.


"Maksudnya Pak? Saya gak ngeh," ucap Alya sambil menggaruk kepala.


"Sini saya kasih tau," ujar pak Varo, Alya yang masih belum mengerti hanya mendekat sesuai perintah.


"Gimana Pak?"


"Ini." Pak Varo menyodorkan setumpuk buku, Alya masih belum mengerti tapi, tetap mengambilnya.


"Masih belum mengerti?"


"Belum." Alya menggeleng dengan polos. Pak Varo menyentil kening Alya dengan gregetannya.


"Sudah ... ikuti saya saja," ucap pak Varo, Alya hanya mengangguk.


Mereka berjalan dikeridor kampus, melewati mahasiswa/i. Tak jarang Alya menangkap ciwi-ciwi yang menatapnya sinis, tak suka. Tapi ada juga yang hanya, bodo amatan.


"Bisa cepat sedikit jalannya tidak?" tanya pak Varo dengan nada yang ... menyebalkan.


"Ini sudah jalan yang paling cepat kali Pak. Bapak aja yang terlalu cepat."


Beberapa menit berjalan dengan tumpukan buku ditangannya, akhirnya mereka sampai ke kelas lain. Alya menepuk keningnya, baru mengerti dengan ucapan sang dosen.


Kelas yang tadinya agak ribut, kini menjadi hening saat pak Varo dan Alya masuk. Pandangan mahasiswa/i menatap Alya, ada yang mengira kalau Alya anak baru atau anak pindahan dari fakultas lain.


"Perkenalkan dia, Asdos saya," ucap pak Varo to the point.


"Ah iya. Nama saya Alya Putri Sanjaya, panggil saja Alya. Saya asisten dosennya pak Varo," ucap Alya disertai senyuman manis. Melihat senyuman itu, jiwa-jiwa buaya dari mahasiswa keluar dari sangkarnya.


Hiaa.


"Manis banget woy!"


"Semester berapa Beb?"


"Dari jurusan apa Neng?"


"Boleh minta 'wa-nya gak?"


Begitulah celetukan para buaya, seakan tak menyadari keberadaan sang dosen devil, yang kini menatap mereka dengan garang.


"Ekheem!" Deheman pak Varo membuat mereka diam seketika.


"Dia disini untuk membantu saya, bukan menjadi gombalan kalian. Mengerti!" Suara pak Varo meninggi, membuat mereka langsung kicep.


"Iya Pak."


"Baiklah, kita mulai pelajaran."


Sepanjang pelajaran, Alya hanya duduk santai tanpa beban, hanya sesekali menyimak materi yang dijelaskan pak Varo. Hanya sesekali, yang lainnya dia hanya sibuk memerhatikan sekeliling.


Sampai pelajaran berakhir 'pun Alya tidak ada kerjaan sama sekali, seakan pak Varo tidak menganggapnya ada disitu.


"Pak saya deluan kekantin ya?" izin Alya.


"Hmm."


"Pak!"


"Hmm."


"Ih, saya langsung mau ke kantin ya Pak?"


Pak Varo menghadap Alya dengan wajah datar, sedangkan Alya mendengus kesal.


"Saya sudah mengizinkan kamu dari tadi."


"Kapan coba? Palingan cuma 'hmmm hmmm, itu doang."


"Sama saja kan?"


"Beda ... udah ah. Ini bukunya, saya langsung ke kantin, perutnya sudah keroncongan dari tadi," ucap Alya menyerahkan buku ditangannya, tanpa menunggu lama lagi, Alya langsung melangkah'kan kakinya tapi ....


"Apa lagi Pak?!" tanya Alya menahan kesal, sekarang tangannya ditarik oleh sang suami.


"Bisa belikan saya kopi latte satu?" Alya menengadahkan tangannya.


"Apa?"


"Uangnya Pak," ucap Alya.


"Perhitungan sekali jadi istri," ujar pak Varo dengan nada kecil.


"Bukannya perhitungan Pak. Bapak sebagai suami harusnya yang memberikan nafkah," ucap Alya dengan suara tak kalah kecil.


"Ini nih, pergi cepat," ucapnya sambil menyodorkan dua pembar uang merah.


"Kebanyakan Pak. Cuma beli kopi doang."


"Ambil saja lebihnya. Kan kamu bilang, suami harus menafkahi istri."


"Oke Pak. Kalau gitu saya duluan."


"Tunggu," ujar pak Varo, menghentikan langkah kaki Alya.


"Jangan jajan sembarangan," ucap pak Varo sambil mengulum senyumnya, karna melihat Alya yang masih terdiam kaku.


"Kenapa? Ada yang kelu —."


"Saya permisi Pak," ucap Alya dan berjalan meninggalkan pak Varo.

__ADS_1


"Awas kesandung batu," ucap pak Varo masih dapat didengar Alya. Baru saja Alya senang, sekarang dibuat kesal tingkat akut.


__ADS_2