Dijodohkan Dengan Dosen

Dijodohkan Dengan Dosen
part 11


__ADS_3

"Di sana siapin keperluan suami kamu Nak, biarpun ada pembantu tapi itu tugas kamu sebagai istri," Ucap Mama Elsa. Ya ... sekarang mereka berdua akan pindah rumah.


"Iya Ma. Gak bisa ya kalau Alya gak usah ikut pindah?" ucap Alya dan langsung mendapat jitakan sayang dari abangnya.


"Tidak bisa dong sayangnya Mama. Kamu sudah menikah, haru ikut suami," ucap Elsa menepuk pipi Alya gemas.


"Tapi sering-sering ya nengokin Alya?"


"Kalau Mama ada waktu ya, ke sana."


"Harus pokoknya," ucap Alya dan beralih menghadap sang Papa dengan muka sedihnya.


"Pa, sering-sering nengokin Alya ya ya," rayunya.


"Kalau Papa tidak sibuk, Papa akan mampir. Kantor Papa kan lewatin rumah kalian," ucap Radit.


"papa mah, sama aja," ucap Alya mengerucutkan bibirnya tapi tetap memeluk ayahnya.


"Bang, gue mau pergi dari rumah. Lo nggak mau nahan gue gitu?"


"Buat apaan?" tanya Darren sok polos.


"Kalau gue pergi, gak bakal ada lagi orang yang Abang jahilin kan?"


"Biarin lah, dari pada Abang kena omel sama ...." Darren menunjuk Elsa, Radit terakhir pak Varo.


"ma,Pa kita pamit ya," ujar pak Varo menyalami kedua mertuanya.


"Jagain anak Papa ya Nak," ucap Radit.


"Iya Pa."


"Jagain anak Mama ya, marahin aja dia kalau salah," ujar Elsa.


"Pasti Ma."


"Apaan sih Ma. Bapak juga, giliran marah-marah langsung 'Siap," cibir Alya.


"Jangan ngomong gitu Nak!" tegur Radit, Alya cuma nyengir.


"Ubah dong panggilan kamu Nak," ucap Mama.


"Panggilan apaan Ma?"


"Panggilan 'Bapak. Manggil suami sendiri kok Bapak, harusnya kakak atau Mas," ucap Mama.


"Atau manggil ... ayah, papa, sayang, honey, baby, cintaku, lov —."


"Udah Bang, jijik gue dengernya," potong Alya sambil bergidik geli.


"Dikasih tau juga 'Dek," ucap Darren.


"Lebay Bang. Yaudah, kita pamit Ma,Pa, Bang," kata Alya.


"Kalian hati-hati."


"Kalau Mama nanti datang, panggilan kamu harus beda loh. Kalau masih tetap, Mama nggak akan nengokin kamu," ucap Mama sadis.


"alya usahain deh."


"Harus! mama juga titip cucu."


"Ih, Mamaaaa!"


"Udah sana, suamimu sudah nunggu." Dan Alya memeluk Mama, Papa dan abangnya.


______________


Diperjalanan Alya terus berpikir, seperti ada yang dia lupakan. Tapi apa? Sama sekali tidak dia ingat. Koper dua, hanya berisi baju dan alat make up milik Alya sendiri.


"Barang-barang saya tidak ada yang kelupaan 'kan ya?" tanya Alya ... kepada pak Varo juga dirinya sendiri.


"Mana saya tau."


Mene seye teu! ini malasnya Alya bertanya sama orang itu. Jawabannya selalu bikin naik darah.


"Kayak ada yang kelupaan gitu Pak. Tapi susah ingetnya," ucap Alya terus menepuk jidatnya.


"Saya tau!" seru pak Varo.


"Apa?" tanya Alya semangat.


"Tempat tidur kamu," ucap pak Varo langsung mendapat pukulan tas, dari Alya.


"Saya lagi nyetir loh ini, kalau kita kecelakaan gimana?"


"Lagian Bapak juga. Saya serius nanya -nya loh Pak!" ucap Alya kesal.


"Ah. Saya ingat!" pekik Alya.


"Bisa tidak jangan teriak?!"


"Tidak bisa," ucap Alya dengan muka polosnya.


"Apa yang kamu lupa? Biar kita bisa pulang ambil sekarang."


"Beneran? Ah tapi nggak deh kayaknya, pasti nggak bakal Bapak turutin."


"Ya apa?"


"Celi."


"Celi? apa itu?" tanya pak Varo dengan alis berkerut.

__ADS_1


"Masa lupa Pak?"


"Bukan lupa, saya memang tidak tau benda apa itu."


"Enak aja, itu hewan Pak! Bukan benda tau!" ketusnya.


"Hewan?"


"Hamster Pak, yang kemarin kita beli," ucap Alya.


"Hamster kemarin? !" tanya pak Varo .


Jadi kemarin setelah pulang dari kampus Alya merengek minta dibelikan Hamster walaupun awalnya Pak Varo tidak mengijinkan Akhirnya Pak Varo terpaksa harus membelikan Alya Hamster.


"Iya. Boleh ya saya bawa juga? Kalau di rumah Mama, tidak ada yang ngurus. Boleh ya Pak?" tanya Alya dengan muka memelasnya.


"Nggak boleh!" ucap pak Varo tegas.


"Yaa ... jangan gitu lah Pak. Saya udah melihara dia loh, masa mati gara-gara tidak ada saya yang ngurus. Padahal saya udah sayang banget sama dia," ucap Alya dengan muka pura-pura 'sad -nya.


"Kasih ke orang lain aja lah yang urus."


"Nggak mau Pak! Memangnya kenapa sih, saya gak boleh bawa? Atau beneran Bapak takut sama hamster? Eh atau tikus? Kalau Bapak takut sama tikus, berarti nggak usah takut sama hamster lah Pak. Beda tau tikus sama hamster, hamster nya lucu-lucu, " cerocos Alya dengan semangatnya.


"Saya bilang saya tidak takut sama tikus atau hamster-hamster mu itu, buktinya saat ada tikus dikamar kamu saya kan yang buang!" sangkalnya.


"Yaudah, biarin saya bawa Celi ya Pak?" pinta Alya dengan muka puppy eye -nya.


"Baik, tapi nanti suruh Darren yang bawa. Tapi tempatnya di taman belakang, ditempat khusus hewan memang!"


"Thank you, Pak suami!" ucap Alya girang, tanpa sadar langsung memeluk si ... ehhm.


Nafas tercekat ....


"alya saya lagi menyetir!" tegur pak Varo Menentralkan perasaannya.


"Eh ... maaf Pak," ucap Alya dengan cengirannya, dan langsung memperbaiki posisi duduknya dengan menahan malu.


Mobil memasuki pekarangan rumah, didepan pintu berdiri mbok Asri yang memang sedang menunggu kedatangan mereka.


Masih dengan perasaan malu, Alya turun dari mobil. Sedangkan pak Varo menurunkan koper Alya dari bagasi.


"Yang ini biar saya yang bawa Pak," ucap Alya menarik koper di satu tangan pak Varo.


"Emang bisa?" tanya pak Varo menaikkan satu alisnya.


"Bisa lah, ringan gini juga," ucap Alya enteng.


"Tidak usah!"


"Biar saya saja Pak!"


"Biar saya saja yang bawa!"


"Saya saja Bapak!"


"Pak, biar saya saja."


"Oke," ucap pak Varo menyerah. Baru kali ini dia menyerah saat berdebat.


"Assalamualaikum mbok," salam Alya.


"Wa'alaikumsalam. Biar saya saja yang bawa Non," ucap mbok Asri.


"Tidak usah Mbok, biar dia saja," ucap pak Varo dan melenggang masuk dengan koper ditangan kanan, dan tangan kirinya dimasukkan ke saku celana.


alya mendengus, kalau tidak ada mbok Asri... dia pasti akan mengumpat.


"Biar saya saja Mbok," ucap Alya dengan senyuman.


"Tidak apa-apa Non?"


"Nggak apa-apa Mbok, Alya masuk dulu ya."


"Eh maaf Non, mbok sampai lupa nyuruh masuk," ucap mbok Asri menggaruk lehernya.


"Nggak apa kok Mbok," ucap Alya dan menyusul si devil ke kamar. Jujur, sedikit susah memang dia membawa kopernya naik tangga.


"Huuhh." alya menghembuskan nafas lega dan lelahnya setelah selesai menaiki anak tangga, dan sekarang dia sudah ada didepan pintu kamarnya eh, kamar pak Varo dan Alya.


"Capek?!" tanya pak Varo dengan nada meledek.


"Astaghfirullah!" Alya mengelus dada kaget, dan memelototi pak Varo. Bagaimana bisa orang itu sudah ada didekat Alya dengan berdekap dada.


"Kamu pikir saya setan? Pake Istigfar segala?" tanya pak Varo dengan muka datar.


"Bukan mikir lagi, udah mirip malah!" gerutu Alya, tapi masih terdengar jelas ditelinga pak Varo.


"Apa kamu bilang?!"


"Apa? Saya tidak bilang apa-apa," ucap Alya dengan mengutuk mulutnya dalam hati, bisa-bisanya dia kelepasan bicara begitu.


"Tidak baik mengatai suami."


"Siapa yang mengatai Bapak?" tanya Alya sok tidak tau.


"Ck. Kamu pikir saya tuli?!" Pak Varo berdecak kesal.


"Enggak," ucap Alya dengan gelengan bodoh.


"Bisa gak waras saya kalau ngomong terus sama kamu."


"Saya juga, bisa stres kalau ngomong terus sama kutub," ucap Alya.

__ADS_1


"Apa?!"


"Nggak," ucap Alya dan langsung melenggang masuk ke kamar dengan menarik koper. Sedangkan pak Varo mengelus dada miris, mimpi apa semalam sehingga harus punya istri macam Alya.


____


Pak Varo memasuki kamar, setelah tadi dari ruangan kerjanya yang terletak di samping kamar mereka.


"Besok bawa in ya?" rayu Alya dengan suara manja.


"*....*."


"Harus bawaain pokoknya!" titah Alya tidak mau dibantah.


"*....*."


"Kalau gak, Adek ngambek!"


"*....*."


"Ish. Bawaain ya?" alya terus merayu, agar dibawakan permintaannya.


"*....*."


"Oke, kalau gitu besok Alya —."


"Teleponan sama siapa? Terus apa yang mau dibawa 'kan?" tanya pak Varo dengan tetapan tajam, dengan hp Alya sudah ada ditangannya.


"Nah kebetulan. Bapak aja deh yang ngomong sama dia ... abisnya abang Darren nggak mau bawain Celi kesini," ucap Alya dengan muka cemberut.


"Darren?" tanya pak Varo, Alya mengangguk.


"Lo kenapa Var?" tanya Darren diseberang telepon dengan cekikikan .


"Nggak!" sangkal pak Varo.


"Ck. Enggak apa? Lo pikir adek gue lagi teleponan sama siapa? Gebetannya gitu?" tanya Darren dengan ketawa yang sudah tidak tertahan lagi.


"Bawain tikusnya Alya besok!"


"Hamster Pak, ya Alllah. Enggak abang nggak Bapak, sama-sama ngatain Celi tikus!" protes Alya.


"Oke-oke, gue bawa," ucap Darren disela-sela tawanya.


"Nah, gini kek dari tadi," ucap Alya meledek abangnya.


"Kalau bukan suami lo yang nyuruh, nggak bakal Abang bawa," ucap Darren kesal.


"Jahat lo Bang Dar," ucap Alya dan langsung mematikan sambungan teleponnya.


"Bapak tadi kenapa coba langsung narik hp saya, udah dua kali loh Bapak narik nya!"


"Buat Mastiin, siapa tau kamu lagi telponan sama abang-abang tukang sayur," ucap pak Varo. Alya mendelik, buat apa juga dia menelpon abang tukang sayur, lagian punya nomor abang-abangnya saja tidak punya.


"Kalau beneran saya nelpon abang-abang tukang sayur, kenapa emang?"


"Saya nggak nyangka, kalau selera kamu abang-abang tukang sayur," ucap pak Varo dengan geleng-geleng kepala.


"Bapak semakin lama, semakin ngeselin sumpah!"


"Lha, kamu sendiri yang bilang."


"Asal Bapak tau, selera saya itu seperti ... Kim Taehyung, Chi Chan wook, Lee Minho, Song Jongki, Cha eun Woo, sama —."


"Sudah-sudah, kamu sebut seribu nama 'Pun tidak ada yang saya tau juga."


"Jelas ... Bapak mah taunya cuma angka-angka yang bikin pusing tujuh keliling!" sindir Alya, pak Varo hanya Mengendikkan bahu acuh.


"Besok saya gak usah lah ikut Bapak ngajar," ucap Alya.


"Tugas kamu sebagai Asdos saya masih satu hari loh."


"Lagian saya cuma duduk, nggak ada kerjaan juga."


"Tidak boleh!" ucap pak Varo penuh penekanan.


"Ayolah Pak, hukumannya diganti aja lah ya?" bujuk Alya.


"Mau diganti ya? Hmm." Pak Varo perlahan mendekat ke arah Alya.


"Ho'oh, ganti lah Pak. Tapi jangan yang susah," ucap Alya yang belum menyadari kalau pak Varo sudah ada didekatnya.


"Ganti?" tanya pak Varo dengan senyum devil khasnya.


"I -iya g -ganti," ucap Alya terbata-bata, gimana tidak? kalau muka dan wajah mereka sangat dekat.


"Oke." Pak Varo menatap Alya dengan intens, membuat sang empu menelan Saliva nya susah payah.


"Jauh-jauh dikit Pak!" Namun sial, pak Varo tidak mendengarkan. Bahkan dia semakin mengikis jarak di antar mereka.


Alya berjalan mundur, pak Varo juga berjalan maju. Alya terus mundur, dan ....


Bruk ....


Sial!


Kaki Alya tersandung, dan terjatuh di atas kasur. Dan lebih sialnya, tangannya juga menarik tubuh pak Varo. Sehingga ... posisi keduanya sangat dekat, dengan Alya dibawah sedangkan pak Varo ada di atas. Dengan tangan pak Revano menahan dirinya agar tidak jatuh menimpa tubuh kecil mungil milik Alya.


Nafas keduanya tercekat, dengan jantung yang berdisko hebat.


"Makan siang dulu Non, Den." Suara mbok Asri menyadarkan keduanya.


"Bangun Pak," suruh Alya sedikit mendorong tubuh pak Varo.

__ADS_1


Mengatur nafas dan detak jantung yang sepertinya tidak normal, mereka hanya menjawab 'Iya Mbok' sebagai jawaban untuk mbok Asri.


"Saya duluan turun," ucap Alya lalu berlari keluar kamar, dengan perasaan malu.


__ADS_2