
"Papa Al, dia ...."
"Ya kenapa?" tanya Nana mulai kesal, dari tadi cuma dia, dia dan dia.
"Papa malu, hiks ... punya anak kayak aku Al," ucap Nindy. Membuat kedua sahabatnya tersentak dan mata mereka membola.
"Cerita!"
Beberapa jam yang lalu ....
"Assalamualaikum," salam Nindy saat memasuki rumahnya.
Namun tidak ada jawaban dari orang rumah, sayup-sayup Nindy mendengar suara orang yang seperti bertengkar. Dengan langkah pelan, Nindy mendekati asal suara itu.
*******
"Itu beda Pa!"
"Apanya yang beda? Setiap kali Papa kenalin dia dengan laki-laki, anak itu selalu menolak!"
"Nindy sudah besar Pa! Dia berhak menentukan pilihannya sendiri!"
"Ahh! Mama selalu saja bela anak itu! Coba lihat Lya, baru sekali dia dikenalkan sama anak teman Papa, dia langsung terima. Bahkan mereka bahagia. Tapi Nindy? Dia selalu membangkang! Papa malu Ma, setiap saat mereka selalu menawari perjodohan dengan Nindy, bahkan laki-laki itu sendiri yang datang melamarnya langsung ke Papa. Tapi anakmu itu menolak! Beda sekali dengan 'Lya kakaknya!"
"Tapi jangan bandingin mereka Pa!"
"Yang jelas Papa malu punya anak kayak dia!"
Deg ... serasa tertusuk ribuan duri, hati Nindy sangat sakit. Air matanya sudah tak terbendung lagi.
"Pa -Papah mal -malu punya a -anak kayak Nindy?" tanya Nindy dengan nada sesengukan.
Kedua orang yang tadi berdebat terlonjak kaget, tidak disangkanya orang yang mereka bicarakan akan mendengarnya.
"Nindy," gumam Dina. Mamanya Nindy.
"Papa malu? Papa bandingin aku sama mbak Lya?" tanya Nindy dengan nafas memburu, menahan emosi dan sesak di dadanya.
"Tidak, bukan begitu Nak," ucap Alif dengan nada sendu.
"Jujur aja kali Pa. Lagian Nindy dengar semuanya tadi! Papa malu 'kan punya anak kayak Nindy! Yang selalu membangkan, tidak seperti mbak Lya?"
"Iya! Papa malu Nindy! Papa udah sering dibilang memilih-milih, Papa dikata-katai! Papa —."
"Pa cukup! Tidak seharusnya kamu bicara begitu sama anakmu!" sela Dina dengan emosi.
"Tapi dia yang selalu menolak dikenalkan dengan laki-laki yang Papa pikir mereka semua baik!"
"Nindy tau mana yang baik untuk diri Nindy sendiri Pa! Nindy bisa cari sendiri pendamping hidup!"
"Sudah sayang, kamu pergi istirahat ya. Kamu capek pasti," ucap Dina menenangkan putrinya.
"Nindy keluar sebentar ya Ma. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam, nak kamu istirahat dulu ya," ucap Dina tetap berusaha membujuk putrinya.
"Nindy butuh waktu untuk nenangin diri Ma," ucap Nindy lalu melangkah 'kan kakinya keluar. Di luar dia berpapasangan dengan kakaknya 'Lya juga kakak iparnya.
"Dek kamu —." Belum selesai Lya bicara, Nindy langsung berlari meninggalkan mereka dengan tanda tanya di otak keduanya.
Nindy berlari keluar, ternyata di luar ada Nana yang juga memandangnya bertanya. Tapi tidak banyak bertanya, Nana mengusulkan untuk menelpon Alya. Nindy mengangguk, memang disaat seperti ini, mereka butuh satu sama lainnya.
____________
"Gila! Cuma karna lo gak mau dijodohin sama laki-laki yang datang lamar lo. Bokap lo jadi malu?! Gak abis pikir gue!" pekik Nana tidak sadar.
"Auuh!" Nana meringis, saat kulit kacang tepat mengenai pipinya.
__ADS_1
"Ssut! Diem," peringat Alya. Nana langsung diam, menutup mulutnya.
"Terus dia banding-bandingin lo sama mbak Lya?" tanya Alya.
"Iya, hiks ... Papa malu punya anak kayak gue Al!"
"Nggak! Lo nggak yang sepatutnya merasa seperti itu, lo anak yang baik Nin. Lo sahabat yang baik, harusnya lo yang malu punya papa kayak dia. Bukannya gue mau ngompor-ngomporin, tapi memang sepatutnya seperti itu. Mana ada ayah yang tega bilang Malu, langsung didepan muka anaknya sendiri," ujar Alya.
"Iya Nin. Lo anak dan sahabat yang paling baik yang pernah kita kenal. Jangan merasa jadi anak yang gak berguna. Lo berguna, berguna banget Nin. Kita semua sayang sama lo," ucap Nana. Dan berakhir menjadi pelukan melow ketiga sahabat itu.
"Benar kata mereka, Kamu anak yang baik Nindy." Kata singkat dan padat itu membuat ketiga orang yang tadinya melow jadi salting sendiri.
"Hiks ... sejak kapan pak Varo disitu?" tanya Nana sambil menyembunyikan wajahnya dengan rambut Nindy.
"Rambut gue Na! kena ingus nanti," ucap Nindy, Nana mendengus.
"Sejak kapan Bapak di situ?" tanya Alya sambil melirik-lirik mencari tissu.
"Dari awal kalian masuk," jawab pak Varo dan mengambil tissu yang ada di meja belakang mereka.
"Ya ampun. Malu gue Alya!"Nana langsung mengabil tissu dan melap wajahnya, di ikuti Nindy. Muka mereka memerah malu, kepergok menangis di depan dosen devil? Ck, sangat memalukan.
"Kenapa jujur banget Pak, kita malu tau," ucap Alya.
"Kalian tanya, jadi saya jawab." Tanpa di duga sebelumnya, pak Varo merebut tissu di tangan Alya dan melap muka istrinya yang sudah basah dengan lembut.
Aksinya membuat kedua orang di dekatnya tercengang, dengan mata membulat juga mulut yang menganga.
Apa lagi si ehhem ... Alya sudah spot jantung dibuatnya.
"Ingusnya."
"Biar saya saja Pak."
"Permintaan bukan penawaran!"
"Nilai E?!"
"Jorok tau Pak!"
"Pernikahan kita di publis?!"
"Jorok Pak ih."
"Jadi Asdos saya selama tiga tahun?!" Dengan amat sangat terpaksa, Alya mengeluarkan ingusnya.
Nindy dan Nana sudah cengo dengan tampan jijik-nya. Walaupun dilapisi tissu, tapi tetap. Kadar kejijikkan nya tetap melekat. Ieu.
"Sudah pak," ucap Alya. Mengangguk, pak Varo membuangnya ditempat sampah, di dekat mereka.
"Sini in tangannya." Alya langsung menarik tangan pak Varo, saat dia ingin melapnya di hoodie miliknya. Dengan cepat, Alya membersihkan tangan pak Varo yang besar itu. Jika dilihat, satu telapak tangan pak Varo sebanding dengan hampir satu setengah telapak tangan milik Alya. Hampir! Cuma hampir.
Sedangkan kedua temannya sudah senyum-senyum melihat adegan sweet sepasang pasutri itu, walaupun awalnya sempat sangat menjijikan.
"Maaf-maaf ya Pak. Kita gak bermaksud buat nangis disini, suer deh Pak," ucap Nana dengan muka malunya.
"Saya juga Pak, gak bermaksud sebelumnya," ucap Nindy meringis, karena mereka bertiga ditatap dengan tajam penuh penindasan.
"J -jangan lihat gitu ih. Kita takut kali Pak," ucap Alya dengan jujurnya.
Pak Varo menghembuskan nafas kasar, seberapa menakutkan kah dirinya? Sampai-sampai di cuma melihat orang yang baginya, cuma melihat dengan biasa-biasa saja sudah sangat menakutkan bagi orang lain.
"Saya tadi dengar semua apa yang kalian bicarakan. Soal masalah kamu Nindy ...." Pak Varo menggantung ucapannya. Nindy sudah menunduk. Alya menyikut lengan kekar suaminya, memberi kode.
"Bukannya saya mau ikut campur. Tapi ada baiknya kamu perbaiki masalah kamu dengan ayahmu, jika ayah kamu bisa mengerti 'Alhamdulillah. Tapi jika dia tetap keras hati, memaki kamu dengan sebutan anak tidak berguna, anak yang bikin dia malu ... saya dan kedua sahabat kamu ini yang akan menemui ayah mu, untuk berbicara soal ini," ucap pak Varo.
Lagi-lagi Nindy dan Nana melongo, karena mendengar pak Varo berbicara panjang lebar. Sering sih dengar, tapi itu semata-mata saat menjelaskan pelajaran. Kalau Alya mah ... sudah biasa.
__ADS_1
"Kamu dengar saya bicara 'kan?!" tanya pak Varo dengan ketus.
"I -iya Pak," ucap Nindy kaget, gara-gara sibuk mencerna ucapan pak Varo. Sedangkan Alya hampir tertawa ngakak melihat wajah takut-takut dari sahabatnya.
"Papa kamu datangkan waktu pernikahan saya sama Alya?"
"Emm ... datang Pak. Dan itu juga salah satu penyebab papa sangat kukuh ingin menikahkan saya sama laki-laki pilihannya," ucap Nindy tersenyum miris.
"Kamu bicarakan baik-baik dulu sama orang tua kamu. Kalau masih tetap sama, seperti yang saya bilang tadi. Saya dan kedua sahabat kamu akan mendatangi pak Alif," ucap pak Varo dengan merangkul Alya. Membuat sang empu tersedak oksigennya.
"Atau perlu saya bawa Darren juga?" tanya ambigu pak Varo. Membuat Nindy dan Nana bingung, tapi Alya langsung tau maksud sang suami. Uch, memang suami-istri sepikiran.
"Mau ngapain bawa abangnya Alya Pak?" tanya Nana membuka suara, memang dia sangat tidak tahan jika ada pertanyaan yang berputar di otaknya.
"Untuk persiapan, siapa tau dia berguna disana," ucap pak Varo se enaknya. Membuat Alya mencubit gemas lengan suaminya. Bisa-bisanya dia berbicara se enak dengkul tentang abangnya.
"Sudah berani KDRT ternyata? Hmm," ucap pak Varo dengan tampang datarnya.
"Bapak yang se enaknya ngomong. Abang saya itu berguna selalu," ucap Alya.
"Tidak sel —." Pak Varo berhenti bicara, saat empat orang menghampiri mereka bertiga.
"Tadi gue keselek kaki ayam, gue pikir kenapa. Tau-taunya ada yang bicarain gue," celetuk Darren.
"Pede sekali anda bang D—."
"Apaa?!"
"Bang Darren," ralatnya cepat. Membuat seisi ruangan tertawa kecuali Darren juga pak Varo.
"Tapi beneran lo, tadi Darren Hampir keselek ceker ayam. Mana kaki ayam yang pedas pula, sampai-sampai mukanya merah. Untung ada ni Mommy Sarah yang dengan sigap mengambilkan air," ucap pak Arga.
"Sejak kapan memangnya kalian datang?" tanya Alya.
"Sekitar lima belas menit yang lalu. Pas masuk kita lihat kalian, tapi karena ada bau masakan ya ... kita langsung cus lah pergi makan," ucap Darren dan duduk ditengah-tengah Nindy dan Alya.
"Ih Bang. Kalau mau cari kesempatan jangan gini juga caranya!" omel Alya, Darren tidak menggubris. Dengan muka sok serius, dia menatap Nana, Nindy, Alya dan pak Varo.
"Lo napa Bang? Kerasukan?" tanya Alya.
"Ho'oh, gue kerasukan jin kepo. Kalian nggak lagi bicarain kegantengan gue kan Var,Al?"
"Pd!" seru kelima orang didekat telinga Darren, membuat telinganya berdenyut.
"Mama senang kalau setiap hari rumah rame seperti ini," ucap Sarah dengan senyum mengembang. Pak Varo diam-diam tersenyum tipis, melihat kebahagiaan terpancar di wajah orang yang sudah melahirkan dan membesarkannya, membuat dia ikutan bahagia.
"Kita bakal sering-sering main kesini, asal ada cemilannya Tante," ucap Nana, membuat Nindy menyentil teman tidak ada malunya itu.
"Hehe, canda Tante," ucap Nana.
"Cemilan selalu siap. Oya, jangan panggil Tante lah, panggil Mama aja kayak mereka."
"Asyiaap!" seru Nana dan Nindy.
Beberapa jam mereka berbincang dan bercanda ria, dengan Darren yang selalu mengganggu Alya, membuat Alya kesal tingkat gedung. Hidup abangnya akan hampa tanpa menjahili dirinya.
"Bang lo pindah duduk lah, heran gue. Tempat duduk sebanyak ini, cuma mau duduk di mari."
"Kenapa bukan lo aja kali yang pindah."
"Yang datang siapa, yang disuruh pindah siapa!" ketus Alya.
Alya hendak berdiri, tapi di urungkan saat tangan pak Varo memegang pundaknya.
"Kenapa Pak?" Pak Varo tidak menjawab, tapi malah melihat ke Darren dengan muka datarnya.
Darren cuma mampu mendengus, tidak akan aman mengerjai sang adik kalau si pawang ada didekatnya.
__ADS_1