Dijodohkan Dengan Dosen

Dijodohkan Dengan Dosen
Part 13


__ADS_3

Author POV ....


"Aakkkkh!" Alya menjerit, bukan karena apa. Tapi, jam sudah menunjukkan angka 06:45 yang berarti tinggal setengah jam lagi akan terlambat masuk kelas.


"Pak bangun!" Alya mengguncang-guncang tubuh pak Varo, bodoh amatan lah kalau nanti dia dimarahi.


"Sebentar," gumam pak Varo.


"Nggak ada sebentar-sebentaran, kita sudah mau telat Pak! ya ampun." Alya terus mengoyang-goyangkan tubuh pak Varo.


"Jam berapa memangnya?" tanya pak Varo yang masih setengah sadar.


"Sudah jam setengah enam lewat, Pak! Sedikit lagi kita —."


"Siapin baju saya dulu baru kamu mandi, saya mandi di kamar tamu," ucap pak Varo memotong ucapan Alya, dan berlari dengan memegang kepalanya karena masih sedikit pusing.


Sedangkan Alya melongo takjub, suaminya sungguh baik hati. Ck, mereka sama-sama telat loh ini, masih sempat-sempatnya dia melarang Alya mandi sebelum menyiapkan bajunya. Tapi bagaimana pun,Alya tetap menyiapkan baju mengajar untuk suaminya.


Setelah menyiapkan baju, Alya bergegas mandi sebelum terlambat. Jangan sampai dia terlambat, apa lagi ada jam mengajarnya pak Danu.


Selepas mandi, karena masih ada waktu, mereka menyempatkan sarapan sebelum ke kampus. Selain itu, tidak enak juga sama mbok Asri yang sudah membuat sarapan, tapi tidak dimakan.


Tapi mereka berdua cuma memakan roti panggang, dengan susu segelas. Alya makan dengan cepat, sampai-sampai hampir keselek roti. Sedangkan pak Varo ya ... bisa dibilang makannya santai.


"Assalamualaikum!" salam orang dari luar, mbok Asri pergi membuka pintu.


Tidak lama setelah mbok Asri keluar, sekarang sudah kembali. Dengan Darren disampingnya.


"Kenapa Bang?" tanya Alya dengan mulut yang masih dipenuhi roti.


"Telen dulu Dek, astaga!"


"Ini Abang bawa tikus," ucap Darren mengangkat tentengan ditangannya.


"Ish. Abang! Berapa kali Alya bilang, itu hamster bukan tikus!" ucap Alya ketus.


"Serah Abang lah, mulut-mulut Abang. Btw, ini mau ditaro dimana?"


"Belakang," jawab Reya singkat, dan kembali meminum susunya hingga habis.


"Nih, lo aja deh yang bawa. Abang mau makan juga," ucap Darren tanpa permisi dia langsung duduk dan makan. Dan menyimpan hamster dikursi, disampingnya. Lebih tepatnya disamping pak Varo juga.


"Kenapa disimpan disini sih!" Pak Varo terlihat kesal, juga sesekali Alya menangkap kalau pak Varo seperti geli sendiri kalau melihat ke arah hamsternya.


"Bapak beneran takut?" tanya Alya sambil menaik-turunkan alisnya.


"Tidak!" ucap pak Varo cepat.


"Takut memang dia Dek," celetuk Darren.


Pak Varo mendelik tajam ke arah Darren.


"Beneran Bang?"


"Tidak, jangan percaya!" sanggah pak Varo.


"Nggak percaya gue, coba lo pegang deh!"


"Tangan saya kotor nanti," ucap pak Varo sambil melap-lap tangannya, membuat Darren berdecih mengejek.


"Saya-saya, kek bicara sama siapa aja lo. Lagian itu tikus nggak kotor, bersih!"


"Kotor pasti, yang namanya tikus pasti kotor!"


Reya yang kesal karna hamsternya dipanggil tikus terus, langsung mengambil kandang Celi dan membawanya kebelakang.


"Astaga, telat gue!" Alya langsung ngacir menghampiri kedua cogan dimeja makan.


"Bang, gue nebeng ke kampus ya?"


"Ikut sama suami lo aja kali Dek," ucap Darren.


"Ish. Nanti kalau ada yang lihat Alya sama pak Varo gimana? Berabe urusannya nanti."


"Gak ada, lo ikut sama Varo! Oke Adeknya Abang? Abang mau pergi, makasih makanannya," ucap Darren.


"Mbok Asri yang cantik, makasih sudah dimasakin. Enak banget loh Mbok," ucap Darren dengan lebay.


"Sama-sama Den ganteng." Seketika Darren langsung senang tingkat dewa, karena di puji ganteng. Alya dan pak Varo sama-sama menampakkan wajah ingin muntah.


"Sirik ae kalian berdua ... dah lah, gue mau pergi dulu. Jangan kangen!" ucap Darren sedikit teriak.


"Tidak akan!" sahut mereka berdua, sedangkan Darren tergelak.


"Ayo cepet Pak!"


"Sabar."


"Nggak bisa Pak, sepuluh menit lagi saya sudah terlambat!"


"Biarpun kita cepat-cepat, tetap saja akan terlambat."


"Nah, justru itu. Cepat dikit makanya, biar kalau saya dihukum tuh tidak terlalu berat."


"Aneh!" cibir pak Varo, tapi tidak digubris oleh Alya. Yang Alya pikirkan sekarang, hukuman apa yang akan dikasih pak Danu juga bagaimana, kalau ada yang melihat dia keluar dari mobil dosen devil idola kampus ini.


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 'delapan menit, mereka sudah sampai diparkiran kampus. Pak Varo memarkirkan mobilnya di parkiran khusus dosen.

__ADS_1


Dengan sangat teliti, Alya turun dari mobil sambil melirik-lirik sekitar. Sudah persis seperti penguntit.


Setelah turun, Alya menepuk jidatnya. Dia lupa menyalimi sang suami. Alya ingin membuka pintu, tapi keburu pak Varo keluar.


"Kenapa?" tanya pak Varo bingung.


Alya melihat sekitar, dilihatnya tidak ada orang. Alya langsung menarik tangan pak Varo, cuma dua detik, Alya sudah melepasnya dan langsung berlari menuju gedung fakultasnya.


Selesai menaiki lift, dari lantai satu ke lantai 'empat. Akhirnya Alya sampai didepan kelas dengan aman dan selamat.


Tapi sepertinya belum aman dan selamat, karna didalam sudah ada suara pak Danu yang sedang menerangkan materi.


Tok.


Tok.


Tok.


Ceklek ....


Pak Danu membuka pintu, terpampang jelas muka yang sedikit keriput dengan sorot mata tajam memandang Alya. Kalau kata orang ya, pak Danu ini sudah seperti pak Varo versi tua.


"Maaf Pak, saya terlambat," ucap Alya menunduk.


"Berapa menit?"


"Lima menit Pak."


"Karna baru lima menit, kamu juga baru kali ini terlambat di jam saya. Jadi, kamu boleh masuk. Tapi setelah kelas selesai, kamu pergi keruangan saya! Disana ada hukuman menanti," ucap pak Danu dengan nada datar.


Alya mengangguk, dan memikirkan hukuman yang akan dia terima. Ini gara-gara suaminya yang lagi-lagi meminta memeriksa tugas mahasiswa/i sampai jam 'sebelas malam.


_______


Sekarang Alya berada di depan ruangan pak Danu, duduk sambil menunggu pak Danu yang katanya sebentar lagi akan datang.


"Pak Danu dimana sih, udah jamuran gue nunggu. Belum datang juga!" Alya terus menggerutu.


"Ekhem!" Deheman orang di samping Alya cukup keras, membuat Alya yang dari tadi menggerutu, mendongak 'kan kepalanya.


"Eh, Pak Varo."


"Ikut saya."


"Kemana? Saya lagi nungguin pak Danu, Pak," ucap Alya.


"Pak Danu ada urusan mendadak, jadi beliau meminta saya yang mengasih hukuman sama kamu," ucap pak Varo.


"Hukumannya pindah sama Bapak gitu?"


"Ya," jawab pak Varo singkat.


"Istrinya melahirkan, nanti selesai hukuman ... kita ke rumah sakit untuk jenguk istrinya pak Danu"


"Kita? Kalau gitu, pak Danu nanti pasti ta —."


"Sudah tau," balasnya singkat.


"Ha?! Siapa yang kasih tau? Perasaan pak Danu nggak datang waktu itu," ucap Alya sambil mengingat-ingat.


"Datang, kamu saja yang tidak lihat."


"Berapa dosen yang tau pernikahan kita?" tanya Alya dengan suara pelan.


"Mana saya tau. Pertanyaan -nya sudah 'kan, kapan saya kasih kamu hukuman?!"


"Jahat banget, gatal banget tuh tangan kalau mau hukum gue!" gumam Alya menggerutu.


"Saya dengar! Lagian ini hukuman dari pak Danu, bukan dari saya! Salah sendiri, kenapa harus terlambat," ucap pak Varo tanpa dosa.


"Ye! Saya terlambat gara-gara Bapak juga kali," ucap Alya tak terima.


Adu mulut lagi-lagi terjadi, walaupun akhirnya Alya juga yang akan mengalah. Bukan mengalah, lebih tepatnya 'kalah bicara.


Selepas hukuman yang diberikan kepada Alya, yang katanya dari pak Danu. Sekarang mereka berdua sedang dalam perjalanan ke rumah sakit, tempat istri pak Danu melahirkan.


Ditengah perjalanan Alya meminta berhenti tepat didepan Mall.


"Kenapa?"


"Mau beli sesuatu Pak, masa datang gitu aja nggak ada yang dibawa."


"Beli apa memangnya?"


"Emm ... baju aja gimana? Anaknya cowo atau cewe?"


"Perempuan," ucap pak Varo singkat.


"Yaudah, saya masuk dulu, Bapak kalau mau nunggu disini aja."


"Saya ikut, nanti kamu kesasar lagi," ucap pak Varo.


"Serah Bapak lah, saya nggak mau debat." Lalu Alya turun, dan melangkah 'kan kakinya masuk kedalam Mall diikuti pak Varo disampingnya.


Beberapa pasang mata melihat ke arah mereka, baik itu laki-laki juga perempuan. Pak Varo yang memakai kemeja polos berwarna merah maron yang sangat kontras dengan kulitnya, dengan lengan yang digulung sampai siku, dipadukan celana cardinal berwarna hitam. Dan Alya yang memakai celana jeans hitam dengan baju kaos putih yang dipadukan dengan jaket denim warna biru tua.


Mereka berjalan beriringan ke tempat baju bayi, tak ayal mereka berdua jadi tontonan pengunjung. Gimana tidak? Pak Varo yang ganteng , juga Alya yang tak kalah cantiknya.

__ADS_1


Pak Varo yang sangat risih, menarik tangan Alya untuk mempercepat langkahnya.


"Aish. Jangan narik-narik Pak!" Alya memekik kaget, karena tanpa kode-kodean pak Varo langsung menarik tangannya.


"Bapak kenapa sih, hobi banget bikin orang kaget!" Alya terus mengomel, tapi sayang ... orang yang dia omeli hanya acuh.


"Cepat pilih, biar kita cepat keluar dari sini," ucap pak Varo.


"Emang kenapa Pak? Disini tidak ada hamster sama tikus," ledek Re


Alya dan langsung dipelototi pak Varo.


"Iya iya, ini saya milih nih!"


"Ini bagus gak Pak?" Alya memperlihat 'kan baju bayi untuk anak usia satu setengah bulan.


"Hmm."


"Ini?" Pak Varo hanya mengangguk atau Berdehem setiap kali Alya bertanya.


"Gini aja udah cukup 'kan Pak?" tanya Alya yang lagi-lagi hanya dibalas anggukan oleh pak Varo.


"Ngomong Pak, apa gunanya ada mulut kalau nggak bicara!"


Baru saja pak Varo mau angkat bicara, ada orang yang dengan sengaja menyenggolnya. Siapa lagi kalau bukan ondel-ondel berjalan.


"Sorry, aku gak sengaja," ucap orang itu, dengan suara centilnya. Orang itu ingin melap bedak padatnya yang sedikit bertaburan di kemeja pak Vark, tapi langsung ditepis dengan kasar oleh pak Vark.


"Tidak usah!" bentak pak Varo pada perempuan ber -make up tebal and menor dengan pakaian yang sedikit terbuka itu tersentak keget.


"Saya cuma mau bersihin ya, tidak ada yang lain!" Perempuan itu balik meninggi 'kan suaranya.


Pak Varo berdecih, memangnya perempuan itu pikir kalau pak Varo tidak tau apa maksud dari ingin 'membersihkan itu.


Alya yang melihat itu menjadi penonton, sebenarnya dia ingin ketawa juga jijik dengan perempuan itu. Penampilannya saja sudah mirip jal*ng, yang haus uang.


Entah keberanian dari mana, Alya menggenggam tangan pak Varo. Tujuannya untuk menenangkan suaminya yang emosi dan galaknya dalam mode 'on.


"Pak, kita pergi bayar ya." Niatnya Alya yang ingin menarik tangan pak Varo, tapi keduluan pak Varo yang menarik tangannya pergi ke kasir, Meninggal'kan si ondel-ondel yang menahan kesal.


_________


Sekarang Alya dan pak Varo sedang berjalan ke kamar rawat tempat istri pak Danu dan bayi -nya, tadi setelah belanja baju bayi, mereka langsung ke rumah sakit.


Mengetok pintu satu kali, pak Varo membuka pintu kamar nomor 112 sesuai kata resepsionis tadi.


"Assalamualaikum," salam mereka berdua.


"Waalaikumsalam." Pak Danu dan istrinya menjawab tersenyum menyambut kedatangan mereka.


Beruntunglah Alya, karena belum ada dosen lain yang datang. Diruangan itu hanya ada satu anak laki-laki selain pak Danu, istri dan bayi -nya, mungkin anak pak Danu juga..


Alya dan pak Varo menyalami pak Danu dan istrinya yang kelihatan masih kurang bertenaga.


"Apa kabar Bu?" tanya Alya sekedar basa-basi, atau dalam tahap perkenalan gitu ... hehe.


"Baik Nak, tapi ya gini ... lemas lah setelah melahirkan," ucap Zahra, istri pak Danu.


"Sakit ya Bu?"


Zahra terkekeh, "Awalnya memang sakit, tapi kalau anaknya sudah lahir, rasa sakitnya hilang diganti rasa bahagia."


Alya tersenyum, dan netranya tertuju ke pak Danu yang menggendong bayi -nya. Digendongannya tertidur bayi mungil, yang cantik.


"Mau gendong adeknya?" tanya Zahra, Alya mengangguk antusias. Gitu-gitu Alya juga jago kali gendong bayi, jangankan bayi yang udah beberapa jam lahir, bayi yang baru sedetik lahirpun dia bisa gendong loh. Hehe ....


"Bisa emang?" Nah ... tau kan itu siapa yang meremehkan kemampuan Alya?


Alya mendengus, "Bapak mah, hobinya remehin saya mulu." Mulut Alya sangat gatal, kalau tidak membalas ledekan suaminya.


"Lho, masih manggil Bapak?" tanya pak Danu.


"Belum terbiasa Pak," ucap Alya menyengir.


"Biasakan Nak, nanti orang ngira kalau kamu anaknya suamimu lagi," ucap Zahra terkekeh.


"Alya usahain Bu," ucap Alya.


"Kakak Alya gendong adeknya dulu ya 'ganteng," ucap Alya pada Davin, anak pak Danu, yang usianya mungkin baru 'tujuh atau delapan tahu.


Pak Danu menyerahkan bayi -nya kegendongan Alya. Alya menggendongnya dengan teletan, tanpa ada rasa takut.


"Sudah cocok nih jadi 'ibu," goda pak Danu kepada pak Varo yang dari tadi memperhatikan Alya menggendong bayi.


Pak Varo dan Alya cuma tersenyum kaku, ternyata pak Danu orangnya humoris, beda kalau lagi mengajar.


Alya duduk dan sesekali menggoyang-goyangkan tangannya, juga sesekali menciumi wajah sang bayi karena gemas.


"Ah ini, buat adeknya," ucap pak Varo sambil menyerahkan Peper-bag yang isinya baju bayi yang tadi mereka beli.


"Jadi repot-repot ini," ucap pak Danu.


"Berbagi Rezeki Pak," ucap pak Varo lagi.


"Dedeknya tenang banget digendong sama kamu, Alya," ujar Zahra.


"Iya tuh, tenang banget tidak rewel," tambah pak Danu.

__ADS_1


"Halo." Pak Varo sekarang berada didekat Alya, lebih tepatnya di samping Alya duduk.


"Halo juga 'Om," ucap Alya menekan kata 'om.


__ADS_2