Dijodohkan Dengan Dosen

Dijodohkan Dengan Dosen
Kompleks Kirana Garden


__ADS_3

Sinar mentari pagi yang terang, menembus memasuki jendela kamar. Mengusik tidur kedua manusia yang tidurnya sangat lelap.


"Enghh." Alya melenguh, perlahan membuka matanya. Pandangan pertama kali dilihatnya adalah wajah yang sangat tampan. Dengan alis yang tebal, bulu mata yang sedikit lentik, hidung mancung. Juga bibir yang sedikit tipis.


Alya tersadar dari pandangannya, dan melihat sekarang dia sedang memeluk tubuh orang disampingnya. Hampir saja dia berteriak, tapi langsung dia menutup rapat mulutnya.


Perlahan dia melepas pelukannya dari tubuh suaminya. Tapi na'as, karena satu tangan pak Varo masih memeluk erat tubuh Alya. Jadinya dia tidak bisa bergerak.


"Lepas ... lepas," gumamnya. Alya berhasil memindahkan tangan pak Varo dari pinggangnya. Dan dengan perlahan dia bangun dan duduk dengan menghela nafas lega.


Tapi tidak lama, netranya menangkap jam yang sudah menunjukkan angka 07:10. Kali ini dia benar-benar memekik kaget, mengingat jam ini ada pelajaran dosen devil.


Tapi tunggu dulu! Alya melirik pak Varo yang sedang mengerjap-ngerjapkan matanya. Sepertinya dia terbangun karena teriakan Alya.


Alya mengelus dada, hampir saja ginjalnya lompat. Untungnya si dosen devil masih ada di tempat tidur, baru melek malahan.


"Pak, Pak!" Alya menggoyang-goyangkan lengan pak Varo.


"Hmm." Pak Varo menjawabnya dengan deheman, sambil mengucek matanya.


"Bapak tidak masuk jam ngajar hari ini?"


"Libur," ucap pak Varo, dan meregangkan otot-ototnya sambil menguap. Alya memperhatikan pak Varo tanpa berkedip.


'Maka nikmat Tuhan manakah yang kamu dusta kaan,' batin Alya berdecak.


Baru bangun saja tampan MasyaAllah, apa lagi kalau sudah mandi ... jadi Subhanallah.


"Jangan lupa kedip, nanti ada kecoa yang masuk. Lagian saya tau saya ganteng. Tapi tidak usah seperti itu juga lihatnya," ujar pak Varo narsis.


"Mana bisa kecoa masuk ke mata. Lagian siapa juga yang liatin Bapak. Jangan kepedean!" ketus Alya mengelak.


Pak Varo tidak menggubris, dia langsung berdiri dan ke kamar mandi.


"Siapin baju saya!" perintahnya sebelum melangkah masuk ke kamar mandi.


"Saya juga liburkan Pak?" tanya Alya, pak Varo menghentikan langkahnya.


"Hmm," deheman pak Varo sebagai jawaban.


"Berapa hari 'Pak?" tanya Alya antusias.


"Hanya hari ini!"


"Ya ... saya kira seminggu," ucap Alya cemberut.


"Kamu pikir lagi libur semester?!" tanya pak Varo berdecak. Dan betul-betul menghilang dari balik pintu.


"Siapa tau gitukan?" gumam Alya. Dan melaksanakan perintah suaminya, untuk menyiapkan bajunya.


Kebetulan ada beberapa baju pak Varo yang di bawah mama Sarah tadi malam. Alya memilih kaos oblong hitam dengan celana kain selutut. Hanya pakaian luar loh ya, bukan pakaian dalam.


Setelah menyiapkan baju, Alya beralih merapikan tempat tidurnya.


Ceklek.


Pintu terbuka, menampakkan pak Varo yang hanya memakai handuk melilit di pinggangnya, dengan rambut yang basah dan acak-acakan. Menambah kadar kegantengan seorang Varo. Eaak ....


"Baju saya mana?"


"Alya ... baju saya mana?"


"Eh ... itu," ucap Alya menunjuk tempat baju yang baru dia siap 'kan.


"Ck. Kebiasaan melamun terus!" decak pak Varo. Alya hanya bisa menggaruk kepalanya malu, karena sudah dua kali dia melamun karena memperhatikan pak Varo.


"Mau lihat saya ganti baju?" tanya ambigu pak Varo.


"Ha? Gimana?"


"Kamu mau lihat saya ganti baju? Pake berdiri di situ terus."


"Ya ... enggak lah," ucap Alya. Dan dengan kekuatan penuh, alya menyambar handuk dan masuk ke kamar mandi. Pak Varo hanya menggeleng kepala.


.


"Morning Ma, Pa, dan Bang Darren."


"Pagi juga," ucap Radit dan Elsa.


"Sini sarapan," ucap Elsa.


"Iya Ma," ucap pak Varo, sedangkan Alya sudah lebih dulu duduk.


"Mama sama papa nya pak Varo, dimana Ma?" tanya Alya. Karena semalam mereka menginap disini.


"Sudah pulang barusan, ada kerjaan mendadak katanya. Padahal Mama mau kita sarapan bareng," ucap Mama Elsa ikutan duduk, setelah semua makanan beres disiapkan di meja makan.


"Ow gitu."

__ADS_1


"Alya, ambilin suamimu makanan!" tegur Mama Elsa. Dengan terpaksa, Alya menurunkan kembali sendok yang tinggal satu dorongan saja, akan masuk kedalam mulutnya.


"Nasinya mau ditambah?" tanya Alya dengan memaksakan senyum manisnya. Sedangkan Darren sudah tertawa di tempat.


"Segitu saja."


"Lauknya?"


"Ayam kecap. Itu saja," ucapnya. Alya mengangguk.


"Lagi diet Varo?" canda Darren.


"Lho memang orang-orang kalau sarapan makannya dikit. Memangnya kamu, mau sarapan mau tidak, sama semua," ucap Mama menyindir, dibalas cengiran oleh Darren.


"Sudah-sudah. Makan, Papa sudah lapar," celetuk Radit.


Lalu mereka mulai makan, sesekali Darren menggoda pasutri itu. Sehingga terjadi lagi drama adu mulut antar Alya dan Darren.


"Ehm. Pa, Ma, setelah makan ada yang Varo omongin," ucap pak Varo tiba-tiba, Radit dan Elsa mengangguk.


Selepas Makan dan beres-beres, mereka semua berkumpul diruang keluarga sambil berbincang-bincang.


"Ohya ... tadi mau bicara Var?" tanya Radit.


"Emm soal tempat tinggal. Rencananya Varo mau pindah ke rumah, yang sudah selesai dibangun," ucap pak Varo.


"Sudah jadi memangnya?" tanya Radit lagi. Pak Varo mengangguk.


"Sudah bisa ditinggalin juga, cuma kurang peralatan dapurnya saja," ujar pak Varo.


"Itu terserah kalian saja, mau tinggal disini juga tidak apa-apa," ucap Radit terkekeh.


"Maksudnya kita akan pindah rumah gitu?" tanya Alya sambil menunjuk dirinya juga pak Varo.


"Iya lah Dek. Kamu kan sudah nikah, jadinya harus ikut suamilah," ucap Darren ikutan nimbrung.


"Tapi Alya gak mau pindah," ucap Alya mengerucutkan bibirnya.


"Lho kenapa begitu?" tanya Elsa.


"Gak mau jauh dari Mama sama Papa." ucap Alya dengan muka dibuat sedih.


"Cuma Mama sama Papa? Abang tidak Dek?"


"Enggak tuh," ketus Alya. Dan Darren mendengus kesal.


"Mau pergi lihat-lihat rumahnya tidak?" tanya pak Varo mengalihkan pembicaraan.


"Sekarang?" tanya Alya persis orang bodoh.


"Nggak, lima tahun kemudian. Ya sekarang lah Dek!" ucap Darren kesal.


"Lo kenapa sih Bang? Dari tadi sewot mulu!" kesal Alya. Dan pamit untuk pergi ganti baju, karena sekarang dia cuma memakai celana selutut dengan baju kaos rumah.


Kemudian di susul pak Varo, juga ingin mengganti celananya. Dengan yang lebih panjang.


Ceklek.


"Aaaaa! Jangan lihat, jangan masuk dulu!" teriak Alya. Karena sekarang dia hanya memakai Tank top juga celana sepaha.


Pak Varo berjingkrak kaget, bagaimana tidak? Baru buka pintu, suara Alya sudah sangat melengking di pendengarannya menusuk gendang telinga.


"Kamu kenapa sih teriak-teriak?!" tanya pak Varo dengan nada kesal, jangan lupakan telinganya sudah dia tutup rapat-rapat.


"Bapak di larang masuk, kenapa malah masuk sih?" tanya Alya kesal, badannya sudah dia tutupi dengan handuk.


"Mau ganti celana."


"Bapak keluar dulu lah, saya juga mau ganti baju."


"Tinggal ganti saja apa susahnya?" tanya pak Varo membuat Alya ingin sekali melempari kepala suaminya dengan handuk yang dia pakai sekarang.


"Masalahnya saya — Aaaaa! Bapak kenapa ganti celana disini sekarang sih?!" Lagi-lagi Alya teriak. Gimana tidak, pak Varo sudah membuka celana luarnya. Hanya menyisakan boxs*r saja.


Pak Varo tidak menanggapi, hanya diam memakai celana jeansnya.


"Pak sudah?" tanya Alya dengan posisi membelakangi pak Varo dan tangan yang menutup matanya.


"Hmm."


"Huft. Bapak nggak lihat tempat!" gerutu Alya.


"Apanya? Saya lihat tempat. Buktinya saya ganti celana di kamar, bukan di tempat umumkan?" tanya pak Varo dengan muka ngeselin bagi Alya.


"Nyenyenye. Bapak keluar lah, saya mau ganti baju."


Tidak berbicara apa-apa lagi, pak Varo memakai hoodie, lalu keluar kamar. Dan Alya juga memakai memakai hoodie dan celana jeans yang robek kecil di bagian lututnya. Dengan rambut yang yang dibiarkan tergerai.


Entah dia sadar atau tidak, pakaiannya sangat mirip dengan pakaian pak Varo. Bedanya, Alya memakai hoodie berwarna pink sedangkan pak Varo, hoodie berwarna cokelat.

__ADS_1


Alya keluar setelah melihat penampilannya yang sudah perfect. Di bawah sudah ada pak Varo yang sedang berbincang dengan Darren, tentang bisnis. Ya gitu, orang kantoran kalau kumpul pembahasannya tidak jauh dari bisnis.


"Ayo Pak!" ajak Alya setelah berada tepat disamping pak Varo.


"Wih ... kalian janjian?" tanya Darren.


"Janjian?" beo Alya dengan kening berkerut.


"Iya. Noh baju sama celana, ck. Kembaran." Sontak Alya memperhatikan penampilan pak Varo, sedetik kemudian matanya terbelalak. Gara-gara acara buka celana, sampai-sampai dia tidak sadar.


"Yasudah, kita pergi dulu," pamit pak Varo kepada Darren.


"Ti-ati!"


"Gue pergi dulu 'Bang Dar'!" ucap Alya dan langsung berlari menyusul pak Varo, sebelum kena ocehan unfaedah dari Darren juga suaminya.


"Rumahnya di komplek mana Pak?" tanya Alya setelah ada didalam mobil.


"Kompleks Kirana Garden" jawabnya singkat.


"Yang dekat kampus ya Pak?"


"Hmm."


Hening ... sampai mobil pak Varo memasuki gerbang kompleks. Kompleks ini rata-rata rumah tingkat dua, jarang ada yang cuma setingkat.


Karena terlalu sibuk memperhatikan rumah orang-orang, dia jadi tidak sadar kalau mobil sudah berhenti didepan sebuah rumah. Dengan cat dominan putih, pagar berwarna hitam. Itu yang ditangkap netra Alya.


Setelah membunyikan klakson mobil, pagar terbuka lebar. Jangan kalian pikir pagarnya terbuka otomatis, No! ada security yang membukanya.


Mobil memasuki pekarangan rumah, pekarangannya tidak terlalu luas, sederhana. Dan rumah bertingkat dua. Pak Varo memarkirkan mobilnya, di garasi.


"Ayo turun!"


"Iya Pak," ucap Alya.


'Gak disuruh turun 'pun, gue bakal turun.' Alya mendumel dalam hati.


Mereka keluar dari mobil, disamping rumah ternyata ada kolam yang cukup luas. Muat sepuluh orang di dalamnya.


Mereka melangkahkan kaki memasuki rumah. Desain sederhana namun cantik juga elegan. Yang pasti indah dipandang mata.


"Eh ... Den Varo udah datang, duh maaf Den. Bibik masih sibuk beresin rumah," ucap mbok Asri, pembantu yang disewa pak Varo. Lebih tepatnya, pembantu dari rumah orang tuanya pak Varo. Tapi disuruh kerja disini.


"Tidak apa-apa Mbok, kita cuma mau lihat-lihat rumahnya," ujar pak Varo dengan senyum tipisnya.


"Ini Non Alya ya?" tanya mbok Asri menunjuk Alya.


"Iya Mbok. Panggil Alya aja lah, gak usah pake embel-embelan," ucap Alya sambil terkekeh.


"Oalah, cantik sekali si Non. Tidak salah bu Sarah milihin jodoh," ucap mbok Asri ikutan terkekeh.


"Ada-ada aja Mbok ini."


"Yasudah Mbok, kita mau lihat-lihat dulu," kata pak Varo.


"Oh. Yasudah, mau Mbok temani juga?"


"Tidak usah Mbok, lanjut beres-beres aja terus istirahat. Capek kan pasti," ucap Alya. Di angguki mbok Asri.


Lalu mereka mulai menelusuri setiap inci, sudut dari rumah. Mulai dari ruang tamu, ruang keluarga, dapur, meja makan, toilet tamu, kemudia mereka naik ke lantai dua. Yang terdapat lima kamar. Satu-persatu kamar dibuka oleh pak Varo, Alya mah cuma tinggal masuk. Sampai di kamar terakhir yang di buka pak Varo, itu kamar yang akan mereka tempati. Kamarnya luas, luas banget malah.


Tempat tidurnya, king zise. Lemari ada tiga buah, meja rias, dan masih ada yang lain. Ada juga toilet, toiletnya juga luas dan bersih. Tentu bersih, karna belum ada yang pernah pakai.


"Capek," ucap Alya, sambil meluruskan lututnya. Sekarang mereka ada ditaman belakang rumah.


"Ini minumnya Den, Non." Mbok Asri tiba-tiba datang membawa jus. Sangat kebetulan Alya haus tingkat bulan, jadinya setelah mbok Asri selesai menyimpannya dimeja depan mereka. Alya langsung meminumnya hingga sisa setengah.


Mbok Asri cekikikan melihat majikan barunya.


"Kamu dari keliling rumah, atau keliling dunia coba? Hausnya tidak kira-kira," cibir pak Varo.


"Keliling planet Mars. Keliling rumah lah, rumahnya segede gini. Orang siapa coba yang tidak capek," ucap Alya dengan nada kesalnya.


"Lha saya tidak," ucap pak Varo.


"Iya. Bapak kan buka orang, melainkan kutub!" ucap Alya ketus. Sedangkan orang yang dikatai, memandangnya tajam. Mbok Asri geleng-geleng kepala, lalu pergi meninggal 'kan mereka berdua.


"Mau nilai kamu E?!"


"Nggaklah. Bapak mah tidak profesional banget, bedain napa urusan kampus sama urusan rumah tangga."


"Saya profesional, buktinya saya tidak membeda-bedakan kamu sama mahasiswa lain."


"Menurut saya Bapak tidak profesional. Dikit-dikit ngancem soal nilai, padahal tidak ada hubungannya sama sekali dengan kampus."


"Terserah saya lah. Saya kan dosennya," ucap pak Varo se enaknya.


"Nahkan. Itu namanya tidak profesional Bapak," ucap Alya dengan nada gemas, gemas-gemas pengen pinyik-pinyik mulutnya.

__ADS_1


__ADS_2