Dijodohkan Dengan Dosen

Dijodohkan Dengan Dosen
Hukuman


__ADS_3

~Alya Pov~


Adu benjol pala gue.


"Kepala kamu tidak apa-apa?" tanya suami gue.


Tapi dia nanya kayak gimana gitu, gue perhatiin seperti nahan ketawa. Dasar! Istrinya sakit, malah mau di ketawain. Gue gini karena lo juga.


"Sakit!" Gue ngerengek. Jijik sebenarnya ngerengek kek gitu, tapi beneran sakit.


"Siapa suruh berdiri di dekat pintu."


"Bapak juga kenapa tidak nyaut? Saya kan takut, kalau-kalau ada hantu di dalam, terus bapak pingsan karena liatnya, gimana?" cerocos gue.


"Keracunan film horor gini jadinya!" cibir pak Varo.


Apaan. Nonton film horor sekali aja kagak pernah, kalau nonton drakor ... itu baru.


"Sakit tahu Pak," ucap gue sambil ngelus jidat, yang gue yakin udah benjol.


Tanpa kesandung apa pun, tapi langsung jatuh, pak Varo narik tangan gue duduk ditepi ranjang. Terus dia ngelus, sambil niup-niup juga.


Jangan tanya jantung gue apa kabar sekarang? Jantung gue udah lari maraton, dag-dig-dug. Apa lagi jarak gue sama pak Varo sangat dekat.


Dag dig dug.


"Udah?"


"Ha?" Gue cengo, gara-gara sibuk sama jantung gini jadinya.


"Sudah tidak sakit?"


Gue meraba-raba jidat yang udah benjol, tanpa sengaja tangan gue mencet kencang. Sampai-sampai gue memekik.


Pletak!


Pak Varo menyentil kening gue.


"Bisa tidak, jangan teriak?!" tanya pak Varo kesal.


"Maaf Pak. Saya reflek tadi," ucap gue sambil nyengir.


Hiaa.


Pak Varo hanya melihat gue dengan wajah datarnya.


"Sa -saya mau mandi dulu," ucapku, langsung lari ke kamar mandi.


Dalam kamar mandi, gue denger kok kayak ada suara-suara srek-srek gitu. Ihh, seram. Apa jangan-jangan beneran ada hantu lagi.


Gigi gue merinding.


"Apaan sih tu." Sambil mencari-cari di mana keberadaan sang pendamping hidup, eh. Di tangan gue udah ada gayung yang siap menggeplak siapa saja yang sudah buat bulu kuduk gue merinding.


Brakk!


"Astaghfirullah!" ucap gue kaget. Jantung gue udah mau lompat dari tempatnya.

__ADS_1


Sikat gigiku sama tempatnya udah berhamburan di lantai. Mau tau kerjaan siapa?


Si mahluk kecil yang suka makan apa aja,iya tikus.


"Alya ada apa?!" Terdengar suara sang suami dari luar, mungkin dia kaget saat gue teriak tadi.


"ada tikus Pak!" seruku.


"Dimana?"tanya pak Varo.


"Ya didalem lah pak, kalo diluar kenapa saya teriaknya didalem."ucap ku jengkel dengan pertannyaan nya.


"Trus saya harus apa."ucap pak Varo santai.


"Ya buang lah pak, kalo ada tikus gimana saya mandinya?"ucap gue kesel.


"Oke saya akan buang tikusnya asal kamu jadi Asdos saya selama setahun dan kamu mau bantu saya koreksi tugas kampus."ucap Pak Varo.


"Ya udah iya asal tikusnya dibuang saya jadi Asdosnya bapak dan saya bantuin de koreksinya."ucak gue malas.


"Ya udah biar saya usir dulu tu tikus."ucap pak Varo.


"Ya udah sana."


Mandinya aku tunda dulu,karena ada tikus didalam kamar mandi.


"Alya, ini tikusnya mau dibuang kemana."tanya Pak Varo.


"Iiii...ya buang ke luar lah pak, sana-sana."ucap gue.


"Ya udah saya keluar dulu buang ni tikus, sekarang kamu mandi sana."ucap Pak Varo.


"Udah nggak ada Alya cuman ada satu ini doang."ucap Pak Varo.


"Ya udah saya mandi dulu, bay."gue langsung ninggalin tu dosen yang masih megang tu tikus.


"Alya udah saya buang tikusnya, sekarang turun ke bawah sana ditungguin tu sama yang lain buat makan."ucap Pak Varo.


*****


Selepas makan malam dengan semua keluarga, Alya dan pak Varo kembali ke kamar. Saat kejadian tadi, soal tikus. Seperti yang Alya bilang tadi, pasti akan ada konsekuensinya.


Konsekuensi atau hukumannya, Alya harus menjadi Asdosnya pak Varo, selama satu tahun. Valid no debat! Bukan cuma itu, malam ini Alya harus menemani sang suami begadang.


Bukan begadang yang ***-***. Tapi membantu pak Varo mengoreksi tugas kampus. Jadi, Alya menjadi Asdos, baik di kampus juga rumah. Yang bisa disimpulkan, Alya menjadi Asisten pribadi pak Varo.


"Jangan tidur dulu! Ingatkan perjanjian kita?" tanya pak Varo dengan seringainya.


"Pak ayolah. Masa cuma karena disuru buang tikus aja jadi hukuman satu tahun, apa lagi tikusnya yang salah bukan Alya." kesal Alya sambil menarik selimut menutupi seluruh kepala dan badannya.


"Satu, jika tidak mau membantu maka, nilai menjadi E! Dua, kalau tetap tidak mau maka, setiap berangkat dan pulang kampus, saya yang antar! Tiga, kalau masih tidak mau membantu maka, pernikahan kita saya publikasikan! Empat, jika tetap tidak menurut maka, masa jadi Asdos saya di perpanjang jadi 'tiga tahun!"


"Bapak mah curang ih!" rengek Alya dengan mengibaskan selimutnya. Dan bibir dimajukan lima senti.


"Yang duluan cari masalah siapa?"


"Kan cuma buang tikus Pak."

__ADS_1


"Ngantuk Pak!" rengek Alya lagi.


"Tidak ada ngantuk-ngantukkan, saya tau kalau jam segini belum jam tidurmu."


"Dih. Bapak kepoin saya ya?" tuduh Alya dengan pd nya.


"Tidak ada waktu saya untuk kepoin kamu, saya tau dari Darren. Bangun cepat Alya! Atau perjanjian kita berlaku detik ini juga!"


"Emang Bapak tidak malu kalau istrinya dapat nilai E? Memangnya Bapak tidak takut kalau ada yang curiga? Terus Bapak gak takut kalau saya jadi bahan bullyan fans-fansnya Bapak? Dan ... memangnya Bapak tega nyiksa istri sendiri?" cerocos Alya dengan muka memelas.


"Tidak sama sekali! Kamu bantuin saya atau perjanjian itu berlaku sekarang!" Alya mendengus, ujung-ujungnya dia juga yang kalah dalam berdebat.


"Mana yang mau dikoreksi?" tanya Alya sambil memposisikan tempat duduk yang nyaman.


Pak Vari meletakkan setumpuk kertas di hadapan Alya. Mata Alya membulat, sebanyak ini kah yang harus dia kerjakan. Alya menggeleng kepala.


'Dasar suami tidak pengertian.' Cibir Alya dalam hati.


Tapi tunggu! Sejak kapan kertas-kertas itu ada dirumah ini? Tidak mungkin juga kalau pak Varo bawa saat datang ke sini. Dia juga tidak pernah pulang ke rumahnya.


"Bentar deh Pak. Sejak kapan kertas-kertas ini ada di rumah ini? Setau saya, Bapak gak pernah pulang dari sini?"


"Saya nyuruh Arga yang antar," jawabnya singkat.


"Kapan? Saya tidak perna lihat?"


"Waktu masih acara. Saya nyuruh dia bawa diam-diam, kalau di lihat orangkan malah tidak di izinkan."


"Tapi saya capek loh Pak. Badan saya remuk-remuk gegara berdiri," ujar Alya.


"Kerja sebisa kamu saja. Yang lebihnya biar —."


"Bapak yang ngerjain? Oke kalau gitu!" ucap Alya dengan semangat.


"Siapa bilang? Besok kamu lanjut 'kan lagi!" ketus pak Varo, dan langsung mematahkan semangat empat lima milik Alya.


Walau pun kesal, Alya tetap mengerjakan tugasnya sebagai Asdos. Cukup lama Alya membolak-balik kertas, memastikan tidak ada yang salah atau yang dia langkai.


Matanya sudah merem melek, sampai saat dia tertidur di atas kertas yang sudah di periksa.


Pak Varo yang tadinya sibuk dengan laptop dihadapannya langsung menoleh ke arah Alya, saat mendengar suara kepala Alya yang terjatuh di meja.


Pak Varo membereskan bantal Alya, dan pelan-pelan dia mengangkatnya ke kasur. Lalu memakai 'kan selimut hingga batas dada Alya.


Mengelus pucuk kepala Alya sebentar, lalu dia kembali melanjutkan kerjaannya yang tinggal sedikit.


.


Setelah selesai dengan pekerjaannya, pak Varo melangkahkan kakinya ke kasur. Ikut merebahkan tubuhnya yang sudah sakit.


Posisi tidurnya tidak saling membelakangi, melainkan saling berhadapan. Tapi jaraknya yang sedikit jauh, dengan guling yang berada di teng ____.


"Enghh." Alya melenguh, menarik dan memeluk guling itu.


Sepertinya sudah tidak ada lagi penghalang, karna Alya sudah mengambil alih guling itu. Ya walaupun bisa di bilang gulingnya masih menghalangi, tapi gulingnya sudah berada dalam pelukan Alya.


"Have a nice dream," ucap pak Varo dan ikut terlelep.

__ADS_1


Ya ... begitu lah. Malam pertama setelah pernikahan, mereka habis 'kan dengan mengoreksi tugas kampus.


__ADS_2