
"Udah sono turun! Kapan gue mulai ngasih selamat kalau lo tetap nongkrong disitu!" sungut Darren. Arga mencabik, dan tanpa sengaja dia menarik tangan Nana hingga sang empu tertarik. Niatnya ingin menarik tangan Darren, tapi malah tangan mahasiswinya yang tertarik.
Nindy juga Darren kompak, teriak 'cie-cie.' Pak Arga langsung melepas tangannya, dan langsung berlari turun dari pelaminan.
Nana masih mencerna apa yang terjadi, setelah mengerti. Wajahnya bersemu merah. Lagi-lagi Nindy menggodanya dengan mencolek dagu Nana.
"kayaknya bakal ada yang menyusul nih," goda Nindy lagi.
"Ish. Apaan sih." Nana langsung pergi memberi selamat, dari pada tinggal di situ menjadi bahan godaannya Nindy. Nindy sendiri terkekeh, sampai menampakkan gigi putih dan rapinya. Yang sangat terlihat manis oleh mata Darren. Eh tunggu, Darren? Yap, dari tadi memang Darren memperhatikan Nindy, tanpa gadis itu sadari.
"Selamat ya 'Pak. Sabar-sabarin aja sama kelakuan istri Bapak ini," ucap Nindy dan langsung membuat Alya menyumpahinya.
"Terima kasih. Saya akan selalu sabar sama sikapnya yang cerewet," ucap pak Varo membuat Nindy cekikikan.
"Ish! Dimana-mana, orang itu istrinya di puji-puji. Ini malah di jelek-jelekin," ucap Alya kesal.
"Kamu sudah jelek kali 'Dek, jadi nggak perlu di jelekkin lagi. Tambah jelek jadinya," ucap Darren dan langsung membuat Dina juga Tania tak bisa menahan tawanya. Alya merenggut kesal,
mengangkat jari telunjuknya dan menggoyangkannya dileher.
Bukannya diam, Darren tambah menggoda adiknya.
"Apa gitu-gituan, mau luluran?" tambah Darren.Alya tak sadar, dan langsung mengadu ke pak Varo yang dari tadi hanya tersenyum kecil melihat mereka semua.
"Pak! Bang Darren ngeselin," ucap Alya mengerucutkan bibirnya, dengan menggoyang-goyangkan lengan pak Varo.
"Dih! Sudah ada pawangnya ternyata. Kalau ini, baru gue takut," ucap Darren, dan lagi mengundang tawa Nindy dan Nana.
*Jadi Selama seminggu sebelum pernikahan Alya Dan Pak Varo sudah dekat dan dengan senang hati melakukan pernikahan ini.*
"Duh. Gue mau turun, mules lama-lama perut gue tinggal di sini," ucap Nana dan turun. Tepatnya pergi mengambil makanan, karena perutnya sudah sangat lapar.
"Selamat Pak."
"Selamat Bro."
Darren dan Nindy berucap bersamaan, kepada orang yang sama juga. Alya menaik-turunkan alisnya, menggoda abang dan sahabatnya.
"Cie."
"Apaan sih Al." Nindy menghampiri Alya, memberikan ucapan selamat.
"Selamat ya. Gue doa'in, semoga kalian bahagia," ucap Nindy dan memeluk Alya.
Alya membalas pelukan Nindy, "Terima kasih. Semoga lo juga cepat nyusul."
__ADS_1
"Nyusul pala lo, calon aja gue gak punya," ucap Nindy sambil menoyor kepala Alya.
"Ada. Noh, abang gue nganggur," ujar Alya sambil menunjuk ke arah Darren.
"Nganggur-nganggur, lo pikir gue lagi cari kerjaan!" sungut Darren.
"Kerjaan mencari pendamping hidup," ucap Alya.
"Eh. Al, gue balik duluan ya. Nyokap gue udah Wa, nyuruh pulang," pamit Nindy.
"Ada masalah apa?" tanya Alya.
"Gak tau. Gue balik duluan ya."
"Pulangnya sama siapa?" tanya Alya lagi.
"Sama supir taksi paling," ucap Nindy menyengir. Karena tadi dia kesini nya bareng Nana, tidak mungkin kalau dia memanggil Nana mengantarnya pulang. Walaupu kalau dia meminta, pasti akan Nana antar. Tapi Nindy tak enak, kalau harus merepot 'kan orang, walau Nana sahabatnya.
"Biar bang Darren antar lo ya?" pinta Alya sambil memberi kode ke arah Darren.
"Nggak usah, gue naik taxi aja lah."
"Tidak ada penolakan!" ucap Alya, yang tak sadar kalau sudah mengikuti gaya bicara pak Varo.
"Ayo. Biar saya antar!" ucap Darren.
"Ini permintaan bukan penawaran!" tekan Darren. Nindy menggeleng kepala, Nggak abang, nggak adek sama suami. Sama-sama pemaksa. Pikir Nindy.
"Yaudah. Gue balik," ucap Nindy dan pergi menyusul Darren.
Giliran para orang tua yang memberi selamat, dan doa. Agar pernikahan mereka terjalin sampai hanya maut dan takdir, yang bisa memisah 'kan mereka.
"Papa titip putri Papa sama kamu. Tegur dan marahi dia, kalau salah. Tapi jangan dengan kekerasan. Semua tanggung jawab Papa, sudah beralih ke kamu," ucap Radit menepuk pundak menantunya.
"Pasti. Terima kasih, karena sudah mempercayai Varo untuk menjaga putri Papa," ucap pak Varo. Aryo mengangguk, dan beralih ke arah putrinya.
"Putri Papa sudah gede, sudah jadi istri orang. Perasaan masih kemarin Papa gendong kamu. Jadi istri yang baik ya, dengerin apa yang di omongin suami. Jangan membantah," ucap Radit dan memeluk putrinya. Walau ingin menangis, tapi dia tahan. Agar tak membuat putrinya khawatir.
"Jagain anak Mama ya Var. Sabar-sabar sama sikap kekanak-kanakannya. Mama percaya sama kamu," ucap Elsa.
"Pasti. Terima kasih Ma."
"Jadi istri yang baik ya sayang. Sekarang surga mu berada, di atas ridho suamimu. Jika ada masalah, cerita sama suamimu. Jangan di pendam. Mama yakin, kamu bisa jadi istri yang baik," ucap Elsa dan mendekap anaknya, tidak seperti laki-laki. Yang ingin menangis tapi gengsi, Mama Elsa sudah menumpahkan air matanya. Begitu juga dengan Alya, dia sudah menangis.
"Sekali lagi, jadi istri yang baik. Mama mau nyusul Papa, pasti dia pergi nangis dikamar," ucap Mama terkekeh kecil.
__ADS_1
"Iya Bun. Maaf kalau Alya banyak salah."
"Semua orang pernah berbuat salah. Mama sudah memaafkan semua, bahkan sebelum kamu meminta maaf."
"Jadi suami yang bertanggung jawab Nak. Tugasmu sekarang adalah, membimbing istrimu menuju jalan ridho Allah," ucap Aryo.
"Pasti Pa."
"Sekarang kamu sudah menjadi anak kami juga. Jangan sungkan berbagi keluh kesah, kepada kami Nduk," ucap Aryo sambil memegang lengan menantunya.
"Juga ... sabar-sabar sama sikap suami kamu," ucap Aryo terkekeh.
"Iya Pa."
"Kamu sudah jadi suami. Jangan sakiti perasaan istrimu, jika kamu menyakiti perasaan istrimu. Berarti kamu juga menyakiti perasaan Mama. Ingat itu Nak," ucap Sarah.
"Varo akan ingat Ma. Insyaallah, Varo akan menjaga perasaan istri Varo," ucap Varo melirik ke arah Alya.
"Anak Mama bertambah satu sekarang," ucap Sarah dan memeluk Alya.
"Jangan sungkan sama Mama kalau kamu mau cerita ya sayang. Kamu sudah jadi anak kami juga. Kalau ada masalah, kalian harus terbuka satu-sama lain."
"Iya Ma."
"Kamu juga Var! Kamu harus terbuka sama istri kamu, jangan suka di pendam sendiri. Sekarang kamu sudah punya istri."
"Iya Ma." ucap pak Varo.
"Yasudah, Mama mau nyamperin papa kamu dulu." Mereka berdua mengangguk.
****
Setelah acara selesai, sekarang mereka berada di dalam kamar yang sama.
"Handuk kamu mana? Saya mau mandi, gerah."
"Tu, yang tergantung," tunjuk Alya.
Pak Varo mengambilnya dan masuk ke dalam kamar mandi. Sedangkan Alya sibuk membersihkan make up dari wajahnya.
"Pak masih lama gak?" tanya Alya sedikit teriak.
"Pak!" Tapi tidak ada jawaban apa pun dari dalam. Pikiran Alya sudah kemana-mana.
"Pak!" Alya mengetok-ngetok pintu kamar mandi, tapi tetap tidak ada jawaban apa pun.
__ADS_1
Alya memegang, gagan pintu. Tapi saat ingin membukanya. Pintu sudah terbuka, membuat Alya yang masih belum siap dengan situasinya langsung terdorong dan terjedot pintu.