Dijodohkan Dengan Dosen

Dijodohkan Dengan Dosen
Nindy Kenapa??


__ADS_3

Setelah puas mengelilingi rumah yang akan mereka tinggali nanti. Sekarang mereka dalam perjalanan pulang, tepatnya pulang ke kediaman keluarga Mahendra, atau rumah orang tua pak Varo.


"Assalamualaikum!" seru mereka berdua ketika sampai di depan pintu.


"Waalaikumsalam!" jawab mereka yang ada di dalam.


Ceklek.


Pintu terbuka, menampakkan Sarah dengan senyum sumringahnya.


"Kenapa tidak bilang-bilang kalau mau datang," ucap Sarah girang. Mereka tersenyum, dan menyalami Sarah. Dan dia mengajak anak dan mantunya masuk.


"Kebetulan tadi dari lihat-lihat rumah Ma, jadi sekalian mampir, kan nggak jauh juga," ucap pak Varo dan menduduki sofa.


"Oya? Gimana rumahnya, kamu suka?" tanya Sarah ke alya.


"Suka Ma. Pemandangan sama pekarangannya juga enak di lihat," ucap Alya.


"Baguslah, itu desainnya Varo sendiri yang milih."ucap Sarah.


"Sambil menunggu papa datang, bagaimana kalau kita masak makan siang?" tanya Sarah.


"Oke lah Ma," ucap Alya mantap.


"Memangnya bisa masak?" Pertanyaan pedas keluar dari mulut suaminya sendiri. Duh, ingin rasanya Alya mengeluarkan cabe-cabe didalam mulut pak Varo.


"Jangan remehin saya ya Pak! Gini-gini saja juga jago kali masaknya," ucap Alya dengan sombongnya. Membuat Sarah terkekeh.


"Masak air?"


"Lama-lama kenapa Bapak tambah ngeselin sih?" ucap Alya dengan tampang juteknya.


Pak Varo hanya mengangkat bahunya acuh, Alya sudah mendengus kesal. Suaminya sekarang tidak jauh beda dengan abang Dar-nya.


"Tidak usah di ladenin sayang. Bisa berbusa mulut kita, dianya cuma cuek. Lebih baik kita masak," ucap Sarah di angguki Alya. Tapi sebelum melangkahkan kakinya, Alya menjulurkan lidahnya ke arah pak Varo. Di balas tatapan tajam dari sang empu.


Sarah geleng-geleng kepala, tapi tidak bisa di pungkiri kalau dia sangat senang. Suasana seperti ini yang dia idam-idamkan dari dulu. Berharap rumahnya rame dengan pertengkaran jahil dari anak-anaknya, suara mengadu. Tapi ada suatu insiden yang membuat dia kehilangan harapan itu.


"Kita mau masak apa Ma?"


"Kamu sukanya masak apa?" tanya balik Sarah.


"Banyak Ma," ucap Alya bercanda.


"Emm ... masak capcay, tumis kangkung, omelette sosis, omelette sayur, masih ada yang lain Ma. Tapi ya gitu, kalau datang magernya gak masak," ucap Alya cekikikan.


"Nanti kalau capek, suruh suamimu saja yang masak. Biar kerjanya bukan cuma kertas sama laptop."


"Siap kalau itu Ma," ucap Alya dengan semangatnya. Dan mereka mulai memasak diselingi candaan-candaan mantu dan mertua itu. sesekali ART disitu ikutan nimbrung.


Sepertinya mereka sangat senang dan mudah akrab dengan nyonya barunya.


"Selesai." Setelah berkutak dengan alat-alat dapur, akhirnya masakan mereka sudah jadi.


"Bik anterin ke meja makan ya!" suruh Sarah.


"Siap Nyah."

__ADS_1


"Alya juga bantuin Ma," ucap Alya dan mulai membawa masakan mereka kemeja makan.


Terdengar suara deru mobil dari luar, mungkin pak Aryo sudah pulang dari kantor.


"Mama ke depan dulu ya. Kayaknya papamu sudah datang," ucap Sarah di angguki Alya.


Semua makanan telah tertata rapi diatas meja, juga piring dan gelas. Langkah kaki terdengar, muncul tiga orang secara bersamaan.


"Wih enaknih pasti," ucap Aryo.


"Iya dong. Siapa dulu yang masak," ucap Sarah sambil merangkul pundak menantunya. Aryo hanya tertawa, dan pergi mencuci tangannya di ikuti pak Varo.


"Yaudah yuk duduk." Mereka berempat duduk.


"Mau lauk yang mana Pa?"


"Lauknya mau yang mana Pak?"


Sarah dan Alya bersamaan bertanya, dengan pertanyaan yang sama. Membuat mereka bertiga tertawa, ingat! Cuma bertiga. Yang satu cuma cuek-cuek kambing.


"Mama sama anak kompak banget," ucap Aryo tersenyum.


"Kita ini couple ... ya 'kan Al?"


"Yes Mam," ucap Alya cekiki 'kan.


"Lauknya apa 'Pak?"


"Tumis kangkung sama capcay udang," ucap pak Varo. alya mengabilkan lauk yang diminta suaminya, dan setelah mengambilnya dia memberikannya ke pak Varo.


Lalu mereka mulai makan, tanpa ada yang bersuara. Karena tidak ada yang mengganggu satu sama lain. Tidak sama seperti kalau ada Darren, sudah di pastikan meja makan bakal rusuh dibuatnya.


Selepas makan, Alya membantu mencuci piring. Walau sudah di larang, tapi Alya tetap kekeh mau membantu. Dan Sarah mengalah, tapi dia senang, menantunya sangat baik.


.


Sekarang mereka tengah berkumpul sambil bercanda, rumah terasa ramai dengan adanya Alya yang sedang membicarakan Darren yang sering mengganggunya, tentang kedua sahabatnya somplak gak ketulungan, tentang kampus, bahkan tentang dosen disampingnya sekarang.


Sering kali Alya dan pak Varo berdebat hanya karena masalah sepele. Contohnya saat ini ....


"Kan saya dosennya, jadi terserah saya dong."


"Tapi gak profesional Pak. Saya sebagai mahasiswi yang tertindas, merasa dizolimi," ucap Alya dengan dramanya, membuat kedua orang tua paruh baya itu tertawa.


"Itu kamu saja yang baper."


"Ya wajar kalau saya baper Pak. Ngancem Nya pake nilai, nilai E pula."


"Agar kamu tidak membantah!"


"Ya tapi —."


Drtt ... drtt.


Alya berhenti berbicara, saat hpnya berbunyi.


"Bentar ya Ma, Pa, Alya angkat telepon dulu." Mereka hanya mengangguk.

__ADS_1


"Halo?"


"Hiks ... hiks." terdengar suara tangis dari sang penelpon.


"Nindy lo kenapa?" tanya Alya panik. Yang menelpon memang Nindy.


"Hiks ... Al, Papa jahat!"


"Om Alif kenapa Nin? Lo kenapa?" tanya Alya dengan panik, membuat ketiga orang di dekatnya ikut menajamkan pendengarannya.


"Hiks ... gue mau cerita. Lo hiks ... dimana?" tanya Nindy di sela-sela tangisnya.


"Di rumah mertua gue, lo kesini aja. Gue sharelok alamatnya. Tapi lo bisa nyetir?"


"Hiks ... ada Nana yang nyetir, hiks."


"Yaudah Kalian hati-hati."


"Yaudah gue hiks ... tutup ya."


"Iya."


Panggilan terputus, Alya menghembuskan nafasnya kasar. Ada apa lagi dengan sahabatnya itu?


"Kenapa sayang?" tanya mama Sarah.


"Nindy Ma. Alya gak tau dia kenapa. Alya suruh kesini, gak apa-apa Kan?"


"Tentu tidak apa-apa dong. Mau sekampus pun kesini nya, Mama tidak masalah," ucap Sarah bercanda.


Beberapa menit mereka mengobrol sambil menunggu Nindy dan Nana datang, tidak dapat disembunyikan raut khawatir dari wajah Alya tentang sahabatnya.


"Permisi Nyah. Katanya di luar ada temannya Non Alya," ucap salah satu ART.


"Ah iya. Makasih Bik."


"Pak, Mah Pa, Alya kedepan dulu ya," pamit Alya di angguki mereka bertiga.


Di teras telah ada Nindy dengan mata sembabnya, dan Nana yang terus mengelus punggung Nindy.


"Nin!"


"Alya." Nindy langsung berhambur memeluk tubuh Alya, untungnya Alya jago jaga keseimbangan jadinya tidak jatuh terkapar.


"Ssst. Tenangin diri lo dulu, lo kenapa?"


"Hiks ... hiks." Tapi hanya ada suara tangis yang terdengar. Bertahun-tahun ya mengenal Nindy, tidak pernah dia menangis sepiluh ini. Nindy gadis yang kuat, sangat pintar menyembunyikan masalah hidupnya.


Alya melirik ke arah Nana, gadis itu mengangkat kedua bahunya tidak tahu. Dari tadi dia mencoba meminta Nindy menjelaskan, tapi hanya gelengan dan suara tangis yang keluar dari mulut Nindy.


"Yasudah. Masuk dulu yuk."


"Hiks ... gak apa-apa? Gue bertamu sambil nangis gini, bisa dikira gue lagi bunting jadi minta pertanggung jawaban orang rumah," ucap Nindy. Alya sama Nana kompak menyentil kening Nindy, dan tertawa. Lihat saja sekarang, meskipun dia sangat sedih, masih sempat-sempatnya dia melawak. Walaupun agak garing.


"Mau cerita apa? Om Alif ngapain lo?" Sekarang mereka sudah ada di ruang tamu, dengan di temani minuman dan cemilan. Nana sudah memangku satu toples cemilan, membuat Alya geleng kepala melihat kelakuan sahabatnya yang satu ini, tidak kenal tempat.


"Papa Al, dia ...."

__ADS_1


__ADS_2