Dijodohkan Dengan Dosen

Dijodohkan Dengan Dosen
part 12


__ADS_3

POV Alya ....


Malu yang sekarang aku rasakan, setelah kejadian di kamar tadi ... rasanya biar melihat pak Varo saja, sudah seperti ketahuan maling ayam terus di arak keliling kampung, malunya gak ketulungan dah.


Di didekat kolam ikan, aku duduk meratapi nasib perjalanan kisah hidup, eak. Rasa-rasanya baru kemarin aku manjat pohon mangga terus jatuh keseleo, bukannya dinangis-nangisi, malah di omelin sama Mama. Sekarang aku sudah jadi seorang istri, istri dari bapak Alkavaro yang devilnya nggak tanggung-tanggung.


"Ikan, lo bahagia gak hidupnya?" Aku sudah kek Orgil, bicara sama ikan. Abisnya gabut aku , kalau dirumah ada bang Darren yang aku ajak duel, lah sekarang? mau ngajak suami, boro-boro diajak ngobrol, istrinya jatuh dari motor sekalipun gak bakal dilirik. Et dah, jahat banget bahasa aku. Mau ngajak mbok Asri, nggak enak juga. Lebih baik ngajak ikan ajalah, yakan?


"Woy, lo denger gak?" ucapku sambil menepuk-nepuk air, sampai-sampai airnya nyiprat kena muka.


"Dih, malah kabur." Ikannya pada mojok. Nggak ikan, nggak majikan, sama-sama nyebelin emang.


"Ikan, kesini dong ... Kakak ada makanan nih." Dah fiks! siapa 'pun yang lihat, sudah dicap aku sebagai orang gila.


Karena ikan sudah pada mendekat karena makanan yang bentukannya mirip pilus yang lauknya krenyes-krenyes, ngemilnya kriuk-kriuk, yang aku tabur-taburin ke air kek biskuit tabur kelapa ... jadi ngawur kan aku ngomongnya.


Ikan pada ke asikan makan, akunya dicuekin. Karena makin bosen, aku mengeluarkan hp yang dari tadi nongkrong disaku celana.


Saat membuka hp, terpampang jelas muka orang yang sudah empat hari ini menjadi suamiku. Dengan perasaan dag-dig-dug duwar! Aku berbalik ... huft, untung nyata. Gimana gak kaget woy, pas buka hp kan nggak sengaja kepencet kamera. Nah,kebetulan lagi kamera depan, disitu terpampang muka sang suami sambil bersedekap dada. Gimana bisa langsung nangkep kamera? Bisa, kan posis hp aku lagi menengadah ke atas.


Aku berbalik dengan perasaan kesal dan malu. Sumpah dia usah beneran mirip mas kunti, muncul aja gitu. Masa dari tadi gue duduk sambil ngobrol bareng ikan, kaga lihat atau dengar langkah kaki sama orangnya.


"Astaga Bapak, kalau datang bilang-bilang kek. Biar saya gak jantungan gitu!" omelku dengan nada dongkol.


"Kamu yang keasikan ngobrol sama Ikan, sampai-sampai tidak sadar saya ada disini dari tadi," ucapnya.


Astaga naga ganteng! Berarti dia denger gue ngobrol sama ikan dong? Ikan, tarik kakak dek!


"Ah masa sih. Atau Bapak yang memang langsung muncul dibelakang saya?!" tuduhku dengan memicingkan mata.


Bukannya marah, si suami malah menampakkan muka takut. Maksudnya apa coba?


"Saya juga gak tau. Perasaan tadi saya masih ada dilantai dua deh, tapi kenapa bisa ada disini?" ucapnya dengan nada bertanya-tanya. Tapi mukanya kok jadi ngeselin? Jadi pengen nampol.


"Ya Bapak jalan lah, mana bisa langsung ada disini," ucapku. Dia langsung Ngejitak kening mulusku ... sakit kali ini Pak!


"Itu kamu tau kenapa saya bisa ada disini, karena saya jalan lah. Mana bisa langsung ada disini," ucapnya mengikuti cara bicaraku di akhir kata -nya.


Ngeselin lo Varo, sumpah!

__ADS_1


"Au ah, gelap!" Pak Varo mengangkat satu alisnya dengan kedua tangan dimasukkan kedalam saku celana, plis aku cewek munafik kalau bilang dia nggak ganteng. Aku nggak munafik, dia ganteng ... ganteng banget.


"Terang gini, masa kamu bilang gelap?" tanya -nya sambil melihat-lihat lampu.


Nyebelin ...!


"Bapak mah, tidak mengerti pribahasa!" ucapku merajuk.


"Justru saya mengerti, jadi bilang begitu," ucapnya.


"Serah lah! Bapak ngapain kesini?"


"Memangnya kenapa? Tidak ada larangan juga, ini rumah saya ... biarpun saya mau jual tidak ada yang larang," jawabnya, membuat Alya putri Sanjaya mencebik.


"Ya ya. Biar lompat dari genteng pun tidak ada yang larang, biar nyebur di kolam ikan 'pun tidak ada yang larang!" cerocosku. Kesal sumpah, nggak yakin kalau aku bisa lama-lama tinggal disini.


"Bicaramu!" tegurnya, lagi-lagi aku cuma bisa menggerutu dalam diam, dalam hati lebih tepatnya.


Suasana hening, pak Varo duduk sambil memperhatikan bintang-bintang yang berkerlap-kerlip, tapi hanya satu yang indah ... jiah. Sedangkan aku hanya memperhatikan ikan-ikan yang berenang kesana-kesini, sesekali melirik wajah ganteng suamiku.


Sekali lagi, aku gak munafik ya!


"Kalau besok atau nanti, mantan Bapak kembali gimana?" tanyaku tiba-tiba, entah kenapa mulutku jadi lemes gini.


Lebay, ampun.


"Kalau dia kembali kenapa?" tanya -nya. Aku yang tadinya antusias saat dia buka suara, tapi ujung-ujung dia nanya balik. Gondok langsung perasaan aku.


Aku mencebik dan mendelik sinis, eh dianya malah terkekeh. Kalau liat dia ketawa gini 'kan aku jadi gak jadi marah. Tingkat kegantengannya itu loh, nambah.


"Jangan nanya balik, is!" kesal ku. Pak Varo berdehem, dan men cool-cool 'kan wajahnya. Sok kecakepan emang, tapi cakep beneran sih.


"Kalau dia balik ... kenapa emangnya? Kamu takut saya ninggalin kamu, terus kamu jadi janda muda. Gitu?"


Sama aja Alkavaro! Nanya balik itu namanya.


"Saya mah gak masalah kalau jadi janda muda, banyak laki-laki yang mau sama saya. Salah satunya Faiz!" ucapku keras. Eh dia natap gue tajem buanget. Aku salah bicara emang?


"Saya serius Alya!"

__ADS_1


"Saya juga serius pak Varo!"


Terjadilah aksi tatap-tatapan mematikan, pak Varo melotot aku juga melotot. Sampai angin sialan membuat mata ku perih, sampai berkaca-kaca.


Sialannya lagi, pak Varo malah ketawa ngakak. Tidak bisa aku pungkiri, baru kali ini aku lihat dia ketawa sampai matanya ikutan berair. Tapi ganteng, sialan emang. Dimana-mana orang kalau ketawa itu mukanya kek gimana gitu, lah suami aku ketawa malah tambah ganteng.


"Pak udah ih, jangan ketawa in saya!" Bukannya pd ya, emang pak Varo lagi ketawain gue karena, mata aku yang berkaca-kaca kena angin.


"Kalahkan, makanya jangan sok-sokan nantangin saya!" ucapnya songong. Suami siapa sih dia?


"Itu gara-gara angin kali Pak, kalau gak ada angin saya yang bakal menang!" ucapku tak kalah songong dari si songong.


"Ck. Kalau kalah ya kalah, jangan salahin angin!" ucapnya kembali kemode asli, yaitu 'datar.


"Enggak lah, emang angin yang salah."


"Emmm ... pertanyaan saya tadi, gimana?" tanyaku, tapi pak Varo hanya menggeleng.


"Saya sudah bilangkan dulu, kalau saya tidak akan kembali lagi sama 'dia! Biar 'pun dia mau kembali lagi sama saya!" Pak Varo menekan semua ucapannya.


"Kenapa?" tanyaku. Jiwa kepo aku keluar.


"Kecewa ...." Pak Varo menggantung ucapannya.


"Karena kecewa?" tanyaku sedikit hati-hati, jangan sampai dia gertak-gertak aku karena banyak nanya.


Dia mengangguk. "Tapi alasan paling utama karena ... saya sudah punya kamu! Saya sudah punya istri! walaupun saya belum punya istri, saya juga tidak akan kembali sama 'dia," ucap pak Varo, membuat tubuhku meleleh eh hati.


"Poligami 'kan ada." Aku langsung menutup mulut dengan tangan, dan langsung menggeleng.


"Kamu mau saya begitu?" tanya -nya, aku menggeleng. ya enggak lah, siapa juga yang mau dimadu.


"Makanya, mulutnya dikontrol!" ucapnya meledek.


"Hoam ... saya ngantuk Pak, mau tidur."


"Ya tidur. Mau saya tidurin?" tanya pak Varo yang terdengar ambigu di telingaku.


"Haa? Apa Pak?"

__ADS_1


"Nggak!"


Dih.


__ADS_2