
"Loh, kok gitu sih Wak?"
Seorang wanita muda terlihat duduk di hadapan wanita yang hampir memasuki usia lima puluh tahunan, dengan raut wajah penuh dengan kesedihan.
"Ya kan emang kamu nggak berhak nerima warisan Nenek," jawab wanita tua yang dipanggil 'wawak'.
Wawak adalah sebutan panggilan hormat bagi mereka yang lebih tua dibandingkan dengan ibu atau ayah dari sang penyebut panggilan tersebut. Wawak juga berarti Paman atau Bibi yang lebih dipertuakan.
"Tapi 'kan Mamaku punya bagian warisan sendiri, Wak. Jadi kenapa aku harus pindah dari rumah ini? Aku nggak punya rumah loh, Wak. Saudaraku juga cuma Wawak," keluh wanita berkulit kuning langsat yang cukup bersih tersebut.
Matanya yang lebar tampak berkedip. Bulu matanya memang tidak lentik tetapi meskipun demikian, alis mata yang panjang tampak terukir alami hingga membuat orang yang memandang matanya, cukup terpesona dan menyadari bahwa dia adalah wanita yang sangat manis.
__ADS_1
Hidungnya tidak terlalu mancung, namun dia tidak pula pesek, mulutnya kecil dan terdapat tahi lalat kecil di atas dagu yang sedikit runcing.
Wajahnya berbentuk oval dan rambutnya yang panjang terkadang menutupi bagian sisi samping wajah hingga membuat wajah tersebut tampak lonjong jika saja rambutnya tidak terikat serta dibiarkan terurai begitu saja.
"Ya udah, suruh aja Mama kamu pulang dan ambil bagian warisannya sendiri! Kamu nggak bisa ngambil warisan mama kamu, kamu nggak berhak,"
"Ya jangan gitulah, Wak!" ucap wanita itu, terdengar memohon.
Wanita muda itu adalah anak perempuannya. Dia terlihat sedang mengecat kuku sembari sesekali meniup cat agar cepat mengering.
"Dulu si Putra pinjam uangku, Wak. Nenek juga tahu itu. Aku nggak ada pacaran sama dia loh Wak. Jadi…"
__ADS_1
"Udahlah pergi aja dari rumah Nenek, Shia! Nanti kamu ngotorin rumah ini lagi dengan berbuat Zina sama laki-laki lain kayak emakmu," ucap wanita muda yang telah menyelesaikan kegiatan mengecat kukunya.
"Dinda, jagalah omonganmu itu!"
"Halah emang iya. Sok alim kamu tuh!" jawab wanita muda sembari tampak tersenyum meremehkan.
"Udahlah sekarang lebih baik kamu pergi aja! Itu barang-barang kamu bungkusin sana, ambil dan bawa pergi!"
"Terus aku mau tinggal dimana, Wak?" tanya wanita yang dipanggil Shia itu, sangat panik.
"Tinggal di gubuk ladang nanas aja sana! Minggu depan Dinda mau nikah jadi kamu nggak boleh keliatan di depan besannya. Bisa malu aku kalau mereka tahu aku punya saudara kayak kamu… Ihhh… Emak sama anak nggak ada bedanya," cibir wanita tua sembari mendorong tubuh Ashia di hadapannya hingga wanita itu terjatuh dari atas sofa.
__ADS_1
"Teganya, Wak… Wak.. !" ucap Ashia yang mulai berdiri lalu mengambil barang-barang miliknya dan membawa barang-barang tersebut keluar dari rumah dimana dia pernah menghabiskan sisa waktu dalam hidupnya di sana. "Mbah, hikss… Kenapa Mbah pake acara meninggal, sih?" ucap lirih Ashia yang tampak berdiri, menatapi rumah batu-bata di hadapannya.