
Ashia sudah tidak tahan hingga air matanya mulai menetes jatuh. Dia merasa semakin hidup sebatang kara.
"Udahlah yang sabar! 'Kan Ibu udah bilang, ikut tinggal sama Ibu aja, gimana?" tawarkan Ranti sembari mengelus punggung Ashia perlahan-lahan.
"Ibu tinggal sama suami Ibu 'kan? Dan maaf, di sana juga ada anak tiri Ibu, iya kan? Aku beneran nggak mau ngerepotin Ibu loh! Kasihan Ibu, maaf jujur, aku takutnya Ibu nanti semakin ditindas sama anak tiri Ibu. Soalnya aku pernah dengar Ibu curhat ke Nenek tentang anak tiri Ibu yang suka maki-maki Ibu sih, mentang-mentang dia orang kaya," tolak Ashia sembari menyeka air mata.
Dia mulai menghela napas lega ketika mengingat bahwa bukan hanya dia saja yang memiliki masalah berat di dunia.
"Oh itu ya," Ranti tersenyum pahit, dia juga mulai menundukan kepala, teramat bersedih, " Ngomong-ngomong, kenapa Putra bisa punya hutang sama kamu? Dan kenapa kamu sampai sekarang belum punya pacar? Kamu memang sengaja nunggu dia ya?" tanya Ranti mengganti topik untuk menghilangkan rasa sedih di dalam hati.
"Hmm… Pas tamat SMA, dia mau ikut pamannya merantau ke Singapura, tapi Ibunya nggak punya uang jadi dia hampir gagal ikut pamannya kalau nggak ada aku yang minjemin uang buat dia berangkat ke sana. Bukan ngungkit ya, tapi aku juga bantu dia ngurus pasport loh! Dia bilang 'Tunggu aku ya!' Aku jawab 'Iya!' Dia bilang nanti kalau sukses mau ngajak aku jalan-jalan ke Singapura, ke Malaysia, tapi pas pulang dia malah langsung nikah sama Desi. Sakitnya itu nggak tahan sampe nggak selera makan tapi dipaksain biar nggak sakit, Lah selang berapa minggu malah Nenek pergi. Kayak perasaanku diombang-ambing sama apa gitu, nyeseknya nggak ketulungan, hihi!"
__ADS_1
Ashia berusaha untuk menghibur dirinya sendiri dengan mengembangkan senyuman lebar hingga gigi-giginya kelihatan.
"Aku bantu kamu cari kos-kosan atau kontrakan di Dumai, gimana? Cewek sendirian di gubuk yang nggak ada tetangga, apalagi dekat sama jalanan lintas di tengah malam, bahaya loh!" tawarkan Ranti sembari mewanti-wanti pada Ashia di sampingnya.
Wanita paruh baya itu terlihat begitu khawatir dengan kondisi Ashia pada hari itu.
"Nanti aku pikirkan itu lagi ya, Bu! Aku nggak enak juga pake uang Desi yang di lempar ke aku kemarin."
"Ho'oh… namanya duit, sayang disia-siain sih, tapi aku takut, nanti Desi datang ke sini nagih duit itu pula. Aku kenal Desi, dia orangnya kadang nggak jelas. Udah cinta mati sama Putra dari dulu, ya wajar aja kalau sekarang dia bisa nikah sama Putra, terlebih lagi dia kaya, Papanya Tuan Sawit, Mamanya buka koperasi pinjaman hutang. Jadi semua bisa gampang aja dia dapat, termasuk Putra."
"Yang sabar ya, Shia?"
__ADS_1
"Iya, Bu!"
***********
Ashia menghela napas berat ketika melihat Ranti telah mengemudi mobil pergi meninggalkannya.
Air matanya jatuh, dia merasa mulai kesepian lagi.
Wanita itu berbalik lalu mulai menangis sesenggukan.
"Mbah!" panggilnya lirih, " Aku kok ya ditinggal sendiri terus, ya Mbah!" ucapnya lirih sembari terus menangis karena hatinya merasa begitu menyesakkan. "Mamaku entah kemana, Nggak ada yang kenal dan tahu siapa Bapakku, Putra pun udah nikah, Mbah loh satu-satunya orang yang paling dekat sama aku kenapa malah pergi selamanya sih, Mbah?" keluh Ashia masih menangis berdiri lalu perlahan melangkah kaki.
__ADS_1
"Mbak!" panggil seseorang, mengejutkat Ashia