
Baru kali itu Ashia terkejut ketika mendengar penawaran seseorang.
"Kuliah?!" tanyanya tidak percaya karena dia tidak pernah bermimpi untuk belajar ke jenjang setinggi itu.
"Kalau mau kuliah, aku bisa membiayai kamu kuliah, tapi kamu harus kuliah di Dumai karena aku butuh kamu buat ketemu Ibuku. Dan setelah tamat Kuliah, dan dapat kerja yang layak. Kamu bisa ganti uang biaya kuliah dariku, bagaimana?" ucap Irfan menawarkan bantuan, " Dan lagi, kamu akan jadi istriku, sudah sepantasnya aku memberikan kamu nafkah, iya…"
"Ya, oke, aku mau kuliah. Aku mau membuktikan ke Putra kalau aku juga bisa kaya, lebih kaya dari dia… aku bisa kaya.. sama Desi juga, sama Wawakku, sama Dinda juga.. sama semua orang yang menghina Nenekku. Aku bisa kuliah, aku bisa kaya. Aku mau nyari Mamakku kalau aku udah kaya. Aku mau bawa dia pulang ke sini," jawab Ashia sembari menjatuhkan air mata di depan Irfan, " Bantu aku jadi orang kaya ya, Bang!" pinta wanita itu pada Irfan. "Haaa...hiksss… Aku mau ketemu sama Mamakku!" teriak Ashia, menangis di depan Irfan.
"Ohh… hmm!" Dan Irfan menganggukan kepala sembari terheran-heran ketika melihat tangisan Ashia yang meraung-raung di dalam mobilnya.
******
Ashia berdiri sembari membawa tas ransel di punggungnya.
Dia memang sengaja keluar ketika melihat mobil yang biasanya berkunjung ke gubuk, datang.
"Ashia, mau kemana?" tanya Ranti pada Ashia,
Dia terlihat berjalan di atas jembatan kayu.
__ADS_1
"Aku nggak tinggal di sini lagi, Bu," jawab Ashia, datang menghampiri.
Mereka bertemu di pertengahan jembatan kayu, gubuk di kebun bibi dari Ashia.
"Jadi kamu mau tinggal dimana?" tanya Ranti,
"Aku mau menikah, ikut suamiku," jawab Ashia,
Itu membuat Ranti terkejut.
"Ha... kok tiba-tiba mau menikah? Memang udah ada calonnya, perasaan kemaren bilang nggak pernah pacaran dan temen cowok satupun," tanya Ranti, begitu penasaran.
Dia merasa bersalah.
"Ya mau sih. Tapi nggak apa-apa nih, Ibu yang jadi walimu?" tanya Ranti,
Sebenarnya dia merasa senang.
"Aku takut malah Ibu nggak mau,"
__ADS_1
"Ya maulah, kamu juga udah Ibu anggap seperti anak sendiri," jawab Ranti, menyenangkan hati Ashia.
"Benar, ya, Bu," pinta Ashia.
"Iya, benar."
"Apapun yang terjadi, Ibu mau jadi Waliku kan?" tanya Ashia memastikan lagi.
"Iya Loh," jawab Ranti, meyakinkan.
"Kalaupun misalnya suamiku nanti, bukan orang yang Ibu suka?" tanya Ashia lagi,
"loh, kenapa nggak Ibu suka? ya nggak mungkinlah, 'Kan itu perasaanmu, kamu yang cinta sama dia, kamu yang pilih dia, kenapa Ibu harus nggak suka? kalau kamu suka sama dia, pasti Ibu juga suka," jawab Ranti, menyenangkan hati Ashia.
"Terima kasih, Ibu, ya!" ucap Ashia sembari memeluk tubuh Ranti.
"Ashia!" bersamaan sengan suara laki-laki yang terdengar di telinga Ranti yang berdiri membelakanginya.
"Ibu, dia Calon suamiku. Aku akan tinggal bersamanya, mulai dari sekarang. Ibu janji akan menemuiku saat aku di sana 'kan? Ibu, tolonglah tepati janjimu karena tidak ada seorangpun yang pernah menepati janji padaku!" pinta Ashia, memohon.
__ADS_1
Sementara itu Ranti hanya terdiam di pelukan Ashia dan tidak menoleh ke belakang karena dia sangat mengenali suara seorang putra yang sangat ia rindukan.