
Ashia sedikit takut duduk di dalam mobil, tepat di samping Irfan yang terlihat berada pada kursi pengemudi.
"Kemarin… Hari minggu maksudku, aku lihat Mbak dikeroyok sama satu keluarga." Ragu-ragu Irfan memulai percakapan.
"Astaga, Malunya...."
Ashia menutup kedua mata dengan telapak tangan lalu menjatuhkan kepala di atas dasbor mobil sehingga wajahnya kini terlihat bersembunyi.
"Enggak, bukan itu yang mau kubahas,"
"Nggak apa-apa, Bang. Udah terlanjur malu. Ya udah malu-maluin aja, lagian semua warga juga udah pada tau."
"Oh…!" Irfan terlihat merasa iba, " Aduh, bukan itu… Mbak kenal Bu Ranti, Kan?" tanya Irfan, menegaskan diri untuk menyatakan maksud hatinya.
"Hmm! Bu Ranti orang yang baik. Tapi aku nggak mau ngerepoti dia,"
"Aku… Anaknya Bu Ranti,"
"Aa… Apa?" tanya Ashia terkejut, lalu sontak memandang ke arah Irfan, " Ohh, Maaf, Bang. Aku nggak tau kalau Abang…"
"Boleh aku cerita masalahku sama Mbak?"
" Hmm, bolehlah. Ashia aja, panggil aku Ashia!"
"Iya, Ashia. Aku dan Ibuku udah lama nggak pernah ketemu dan dia nggak mau ngeliat aku sejak…."
Irfan mulai menceritakan kisah masa lalunya pada Ashia dan Ashia tampak menjadi pendengar yang baik bagi laki-laki itu.
**********
__ADS_1
Tatapan mata Ashia terlihat semakin memerah. Kelopak matanya berkaca-kaca.
"Sabar ya, Bang!"
"Hmm, iya, Terima kasih mau dengerin cerita aku!" ucap Irfan, laki-laki itu tampak sangat kuat bahkan setelah bercerita ia masih bisa mengembangkan senyuman lembut untuk Ashia.
"Abang harus kuat. Fighting!" ucap Ashia memberikan semangat sembari menepuk bahu Irfan dan hal itu semakin membuat Irfan melebarkan senyumannya.
"Shia, sebenarnya… "
"Sebenarnya, kenapa?" tanya Ashia, menarik kembali tangan di atas bahu Irfan.
"Aku mau ngelamar kamu,"
"Ha'... Haaa...?"
"Yang benar saja? Kita bahkan enggak kenal, Bang,"
"Iya, karena begitu makanya kenalan dulu,"
"Nggak bisa gitu, ihhh aneh banget!"
"Nggak, sebenarnya... " Irfan ragu untuk berbicara, maka dari itu, dia terdiam sejenak, " Ada kesepakatan yang ingin aku ajukan padamu,"
"Kesepakatan?"
"Sepakat menikah. Dan aku berjanji akan membantumu keluar dari masalah, lalu setelah masalah kita sama - sama selesai, kita bisa berpisah!"
"Sepakat Menikah, ya?"
__ADS_1
"Hmm benar, sepakat menikah,"
Ashia menelan Saliva, dia tampak ragu-ragu menerima penawaran dari Irfan.
"Tapi…"
"Aku ingin kamu membantuku bertemu sama Ibuku sampai aku menyelesaikan masalah kami dan Aku akan membantumu membersihkan namamu dari warga desa di sini. Juga, kupastikan kamu nggak akan dituduh lagi sebagai Pelakor," ucap Irfan berusaha meyakinkan.
"Tapi, aku takut Ibu Ranti marah sama aku,"
"Kalau dia marah, aku yang akan minta maaf padanya. Cuma ini satu-satunya cara agar aku bisa bertemu Ibuku, cuma darimu, Shia… Aku ingin sekali berbicara pada Ibuku lagi walau sekali saja seumur hidupku," ucap Irfan, seperti tidak memiliki pilihan.
"Oh … begitu, Ya udah. Tapi… Apa abang bisa bantu aku jadi orang kaya?" tanya Ashia, tampak bersemangat.
"O… Oh… Aku bisa kasih kamu uang bulanan,"
"Bukan, aku mau kerja keras sampai jadi kaya, aku nggak mau ngandalkan harta orang lain."
"Aku bisa masukan kamu kerja di tokoku dan kukasih kamu gaji besar,"
"Masa kerja di toko suami sendiri,"
"Di perusahaan temanku, aku bisa minta tolong ke dia untuk ngasih kamu jabatan tinggi,"
"Ahh!" Wajah Ashia terlihat lemas, " Aku cuma tamat SMA loh, Bang. Aku nggak mau digosipin masuk ke perusahaan pakai orang dalam, nggak enak, sakit telingaku nanti,"
"Oh… Gimana kalau Kuliah dulu?"
"Kuliah?!" tanya Ashia begitu terkejut.
__ADS_1