
Sebagai Ibu, siapa yang tidak senang untuk bertemu dengan anaknya sendiri. Begitulah seharusnya Ranti.
Hanya, dia terpaksa menghindari putranya yang selalu mengikuti kemanapun dia pergi, karena dia telah membuat perjanjian bodoh demi kebahagiaan putranya sendiri.
"Ibu, dia calon suamiku," ucap Ashia.
Jantung Ranti benar-benar terpacu kencang mendengarnya.
Dibanding tidak setuju, dia lebih mengkhawatirkan keadaan Ashia nanti jika bersama putranya.
"Dia ibumu, ya?" tanya Irfan, berpura-pura tidak mengenal.
"Memang bukan Ibu kandungku, tapi aku sudah anggap dia seperti ibuku sendiri," jawab Ashia yang sudah melepaskan pelukan untuk Ranti.
Lalu Ranti segera berbalik ke belakang. Dia melihat wajah putranya dari jarak yang sangat dekat.
Jika bukan karena mantan mertua yang tidak mengizinkan dirinya untuk bertemu putranya sendiri pasti saat itu dia sudah memeluk laki-laki itu.
"Ibu adalah calon mertuaku, ya? Maaf ya aku memelukmu," ucap Irfan yang telah membungkuk dan memeluk ibunya.
Lalu dia tersenyum pada Ashia yang berada di belakang Ranti dan air mata laki-laki itu jatuh deras membasahi pipi.
Perilakunya membuat Ashia juga merasa sedih. Dan wanita itu ikut menjatuhkan air matanya.
********
__ADS_1
"Eh udah dengar belum?"
"Dengar apa?" tanya seorang wanita tua yang rumahnya dekat dengan rumah nenek Ashia.
Namun rumah itu sudah diambil alih oleh bibinya.
"Ashia mau menikah sama laki ganteng, udah gitu, dia punya toko ponsel besar di dumai. Punya banyak langganan lagi," ucap sang pemberi kabar, mengejutkan Bibi Suna yang tadinya sedang bermain ke rumah wanita itu untuk membicarakan aib tetangga.
"Ahh yang bener, kamu? Aku kok nggak dengar kabarnya," tanya wanita yang telah mengusir Ashia dari rumah neneknya.
"Aku dengar akadnya dilaksanakan lusa, dan katanya kalau saudara sekampungnya datang, bakalan di isikan pulsa 10 ribu, setiap satu hape," lanjut tetangga nenek Ashia, semangat bercerita, "Makanannya pasti mewah, 'kan suaminya kaya," tebak tetangga tersebut.
"Ngaco kamu ini ngomongnya," ucap Bibi Ashia, terlihat penasaran. "Lagian lusa acara lamaran Dinda, jadi kamu nggak boleh pergi ke acara Ashia, awas kamu kalau nggak datang ke rumahku!" ancam Bibi Ashia yang mulai kesal.
Dia yang tadinya duduk pada kursi papan di bawah pohon rambutan yang sudah tinggi mulai berdiri, dan melangkah pergi.
"Pulang sebentar, ambil motor mau liat Ashia," jawab wanita yang hampir tua itu, tampak melangkah lebih cepat.
"Kata Pak Sumidi, Ashia udah tinggal bersama calon suaminya. Calon suaminya takut dia kenapa-kenapa di gubukmu itu. Kamu sih tega ngusir dia pergi," ucap tetangga wanita tersebut, mencibir.
Mulutnya terlihat maju dan dia cukup tidak menyukai sifat dari bibi Ashia. " Huh, dasar nenek lampir," ejeknya sangat kesal.
*******
"Mamak kemaren ketemu Ashia?" tanya wanita yang terlihat sedang duduk di cermin.
__ADS_1
Dia terlihat sedang dihias oleh seorang MUA.
"Enggak, kayaknya dia udah jadi wanita gatal. Sembarangan tidur di rumah laki-laki yang nggak mukhrim, udah kayak mamaknya. Lo*te," hina bibi dari Ashia yang sedang duduk, melihat putrinya dihias, " Duh cantiknya anak Mamak, pantes anak orang terkaya dikampung ini mau nikahin kamu. Anakku memang paling top deh," puji wanita tersebut sembari sesekali ingin mencium pipi putrinya itu.
"Jangan cium, Mak! Entar kotor,"
"Oke deh," jawab wanita tersebut,
"Mak!" Lalu terkejut ketika seorang laki-laki memanggilnya,
"Apa sih, Pak ah? Buat kaget aja," bentak wanita tersebut pada laki-laki yang mulai melangkah masuk ke ruang hias.
"Togok tadi nelpon, katanya orang tua Nasir nggak jadi ngelamar Dinda karena udah denger berita kalau kau ngusir Ashia," jelas laki-laki tersebut semakin mengejutkan wanit itu,
"Lah kok gitu si Pak?" Dan juga putri mereka yang langsung berdiri.
"Salah kalian sendiri, anak baik-baik kok di usir. Malu aku sama tetangga," ucap laki-laki tersebut marah sembari membanting ponselnya ke atas lantai.
"Mamak… Mamak…!" tangis Dinda,
"Gimana ini, Buk. Jangan nangis riasannya nanti luntur," ucap wanita yang sedang menghias Dinda.
"Nggak usah dihias, Ayo Dinda kita liat Ashia ke KUA, bener nggak dia nikah sama laki-laki ganteng itu," ajak ibu Ashia, emosi.
Sembari menarik tangan putrinya untuk ikut pergi.
__ADS_1
"Mamak… ini semua gara-gara Ashia. Mamak… Mamak… aku mau nikah sama bang Nasir,"