
"Pulang ajalah, Fan! Udah nunggu lama, Mama kamu juga belum datang," ajak Syarifudin, teman Irfan yang tampak gerah dan kepanasan berada di atas motor yang di parkirkan di depan pasar.
Laki-laki tersebut tampak duduk sembari memperhatikan Ashia yang terlihat sedang berbicara dengan seorang laki-laki.
Dia menemani temannya yang sedari tadi bertahan duduk di lantai gedung pasar, menunggu kehadiran sesosok wanita yang sangat temannya tersebut selalu rindukan.
"Tunggu ajalah dulu! Entah kenapa aku percaya Mamaku akan datang," jawab Irfan, menolak ajakan Syarifudin.
"Nyesel banget aku ngasih tahu info tentang Mama kamu kemaren,"
"Nanti aku kasih kamu uang, jadi sekarang diam sajalah!"
"Yang bener?"
"Huh!" hela Irfan, menoleh sejenak ke arah temannya yang begitu semangat ketika membahas tentang uang.
"Manteepp. Aku beli cendol dulu. Tunggu aku, ya!" ucap Syarifudin yang kini telah turun dari motor dan pergi meninggalkan Irfan.
Irfan sendiri tampak duduk di atas semen, memakai masker dan juga masih mengenakan Helm.
Sedari tadi, ia terus memandangi lapak jualan Ashia yang berada di depan pasar, dekat dengan parkiran motor.
"Nggak butuh, tolonglah jangan ganggu aku! Aku nggak mau Ibumu maki-maki aku lagi. Waktu itu aku cuma nagih hutang tapi Ibumu sampai dorong Nenekku masuk ke parit. Jadi aku nggak butuh lagi kamu bantuin aku!" teriak Ashia, terdengar hingga ke telinga Irfan yang mendengarnya.
__ADS_1
"Aku tahu kamu benci sama aku karena aku nikah sama Desi. Tapi tetep aja…"
"Aku benci sama kamu karena kamu nggak juga bayar hutang. Padahal kamu udah kaya, 3 juta itu apalah artinya untuk orang kaya kayak kamu. Waktu itu, aku cuma nagih 500 ribu untuk beli obat Nenekku tapi Mama kamu malah tiba-tiba datang ke kebun terus maki-maki Nenekku, pakai acara dorong-dorong segala lagi. Selama 2 Tahun ini kamu kemana, nggak ingat hutang, ya? Sekarang pas udah nggak ada lagi Nenekku, baru kamu datang. Kenapa? Kamu takut dimaki-maki Nenekku ya, kalau dia masih hidup," lanjut teriak Ashia hingga membuat wanita tersebut kini menjadi pusat perhatian banyaknya pengunjung serta pedagang pasar.
"Shia!"
"Pergilah kumohon, pergi, Put! Aku malu diliatin orang," pinta Ashia mulai memperpelan suara karena menyadari bahwa dia telah meluapkan emosi di tempat yang salah dan Irfan masih melihat ke arahnya.
Saat itu laki-laki tersebut tampak telah berdiri.
"Shia!"
"Brengsek, sudah kubilang jangan dekati suamiku lagi! Tapi sekarang kamu malah merayunya, berapa banyak yang kamu mau biar kamu nggak ganggu rumah tangga kami lagi?" maki seorang wanita yang tiba-tiba datang setelah ia keluar dari mobil mewah.
"Desi!" panggil putra dengan raut wajah panik, terlebih lagi ketika ia melihat wanita paruh baya juga tak kalah ikut menghampiri dirinya dan Ashia.
Ashia tidak dapat menerima tuduhan yang tiba-tiba dilontarkan padanya.
"Karena kamu yang terus nyariin dia dulu, jadi dia nyariin kamu setelah dia pulang dari Singapur," jawab wanita paruh baya yang tak lain adalah Ibu dari Putra.
Putra sendiri adalah sahabat Ashia sejak kecil. Dahulu, rumah orang tuanya berada di samping rumah Nenek Ashia. Lalu setelah tamat SMA, dia ikut merantau bersama pamannya ke negara tetangga, Singapura dengan berbekal uang pinjaman dari tabungan milik Ashia.
Kemudian setelah beberapa bulan bekerja, dia kembali dan menikah dengan seorang wanita yang memiliki banyak harta, lalu pergi kembali untuk bekerja ke negara perantauannya.
__ADS_1
"Kemarin aku nyari dia juga karena terpaksa, Wak. Aku butuh uang buat bayar obat Nenekku. Dia 'kan punya hutang sama aku 3 juta,"
"Hallaaaah… banyak kali ceritamu! Bilang aja kamu mau menggatal sama suami orang, mentang-mentang anakku udah kaya!" tuduh wanita paruh baya lagi pada Ashia.
"Nggak ya, Wak. Kalau ngomong itu dijaga, jangan sembarang main fitnah orang kayak gitu!" balas Ashia, menolak tuduhan dan dia tidak terima dengan ucapan kasar wanita paruh baya tersebut.
"Dasar wanita gatal. Nggak tahu diri kamu itu!"
"Ahh lepasin rambutku! Nggak pernah aku ganggu suamimu, asal kamu tahu, ya!"
Ashia terlihat berusaha melepaskan genggam tangan istri dari Putra pada rambutnya.
"Desi! Kamu ini kenapa sih?" Dan Putra terlihat membantu Ashia, melepaskan genggaman tangan Desi – istrinya dari rambut Ashia.
"Kalian sudah lihat 'kan! Wanita ini nih pelakor, dia perusak hubungan rumah tangga orang. Dia sering datang ke rumah saya, cuma untuk minta-minta uang. Padahal anak saya ogah tuh ketemu sama dia, makanya anak saya nggak pernah balik ke rumah, risih dan jijik liat mukanya," teriak wanita tua memberitahukan pada orang-orang yang melihat pertengkaran di sana.
"Wawak kalau ngomong enak kali loh! Nggak usahlah nuduh orang kayak gitu. Aku juga nggak akan ganggu anak Wawak kok, jadi jangan gituah, Wak!"
"Nggak ganggu gimana! Selama ini kamu punya pacar pun enggak, kamu juga nggak pernah berhubungan sama laki-laki lain kecuali sama anakku aja. Bilang aja, kamu memang diem-diem ngincer Putra karena dia udah kaya. Makanya terus datengin rumahku!"
"Aku ngurus Nenek, mana sempet pacaran,"
"Halahh, banyak cerita! Ngurus apa? Buktinya aja kamu diusir sama Wawakmu sendiri karena memang nggak becus ngurus nenekmu. Kamu nyari-nyari Putra dan minta-minta nomornya sama temen-temen cewek kamu 'kan? Kamu pikir aku nggak tahu," lanjut tuduh wanita tua semakin menambah kericuhan di sana.
__ADS_1
"Mana ada aku kayak gitu Wak. Udah dibilang aku…"
"Makan ini duit!"