
Ashia terkejut ketika lembaran uang kertas pecahan ratusan ribu dilempar ke wajahnya.
"Aku… Nggak butuh lagi duit kalian!"
"Ambil duit itu, jangan ganggu Putra lagi!" bentak Desi pada Ashia.
"Putra, pulang!"
"Tapi Ma, kalian ini kenapa sih?" tanya Putra pada Ibunya yang telah menarik paksa tangan laki-laki itu untuk masuk ke dalam mobil. " Aku cuma mau ngomong sebentar sama Shia!"
"Pulang!"
Hari itu, Ashia hanya bisa menahan malu di hadapan banyak orang karena perlakuan kasar dari tetangga neneknya di masa lalu.
Wanita itu tampak menunduk malu, sembari menjatuhkan air mata, dipandangi oleh banyaknya orang di pasar sana.
Bahkan beberapa orang mulai menjauhinya, pelanggan yang biasa membeli buah nanas, juga berbisik-bisik buruk tentangnya.
__ADS_1
Hatinya sangat sakit tak terkira.
Dia sudah kehilang satu-satunya keluarga yang merawatnya, kehilangan rumah tempat dia hidup selama ini, lalu sekarang, dia harus menahan rasa malu karena tuduhan palsu yang menimpanya.
"Hikss… Hikks!"
Tubuh wanita itu bergetar menahan rasa malu yang begitu hebat. Tak berselang waktu lama, ia mulai membereskan buah-buah nanas yang masih tersisa dan berniat untuk kembali pulang.
Ashia tidak lagi mampu menahan diri untuk terus berjualan, dia memilih untuk pulang ke gubuk di pertengahan kebun nanas yang kini telah menjadi hak Bibinya dan berniat untuk menenangkan diri di sana.
*******
Di atas jembatan yang dekat dengan pintu rumah, dua orang wanita sedang duduk sembari saling bercerita. Salah seorang dari mereka yang merupakan wanita paruh baya bernama Ranti, tampak sedang memakan rujak nanas di atas piring.
"Jadi sebenarnya gimana perasaanmu ke dia?" tanya Ranti sembari memasukan potongan nanas yang sudah dioleskan sambal rujak berwarna hitam ke dalam mulutnya.
"Ya… Malunya itu loh, Bu! Nggak tahan. Tapi gimana pun, ya aku nggak bisa benci. Aku masih cinta, karena dari dulu udah bersama," jelas Ashia yang tampak menundukan kepala, duduk di atas jembatan samping Ashia, pada sore hari menjelang petang di keramaian tempat yang dilalui banyak kendaraan motor berlalu lalang silih berganti.
__ADS_1
Walaubagaimanapun, kebun nanas tersebut memang berada di pinggir jalan lintas raya, Riau - Sumatera Utara.
"Haduh! Payah ya kalau udah berurusan sama hati?"
Ranti hanya menghela napas sembari sesekali menoleh ke arah Ashia yang masih menunduk kepala.
Ranti bahkan enggan untuk melanjutkan memakan rujak di tangan dan lebih memilih meletakan piring pada jembatan papan di sampingnya.
"Gimana enggak? Dari kecil udah bareng. Rumahnya dulu tetanggaan sama rumah Nenekku. Sekolah dari SD sampe SMA bareng. Udah ngerasain susah barengan, makan mangga sama sawo curian, ya bareng. Berantem sama kakak kelas warga desa seberang, juga bareng. Dulu keluarganya susah, ya makan ubi rebus bareng di rumah Nenekku. Bahkan Mamanya udah aku anggap kayak Mamaku sendiri, ya karena memang aku nggak pernah ketemu sama Mamakku selama hidup ya, Bu!" jelas Ashia bercerita.
Matanya mulai berkaca-kaca. Wanita itu tampak berusaha menahan tangisan untuk tidak jatuh membasahi pipinya.
"Ya ampun, udah bersama lama malah kamu ditinggal nikah, ya?"
"Ya 'kan emang nggak pernah pacaran. Dan mungkin aku juga yang cuma cinta sama dia," jawab Ashia sembari tersenyum pahit lalu menggigit bibir bawah.
"Oalah, gitu ya! Tapi ya, kalau dia nggak cinta sama kamu, kenapa kemarin tiba-tiba datang pengen bantuin kamu?" tanya Ranti, cukup curiga.
__ADS_1
"Entahlah, Bu! Harusnya nggak usah datang, bayar hutang aja lewat orang ya udah, gitu aja ya, Kan? Gara-gara dia datang, Desi malah ngamuk-ngamuk sama aku. Mentang-mentang aku pernah dekat sama Putra jadi dia anggap aku mau ngerebut putra dari dia. Sesak kali difitnah begitu, malah di depan banyak orang lagi. Karena kejadian itu, Bu Warsih malah udah nggak mau nitip nanas ke aku, minjemin motor juga paling udah nggak mau. Dia bilang, dia takut suaminya kurebut nanti. Parah kali, aku udah dicap pelakor sama warga dekat sini," jelas Ashia, bercerita lagi.