
"Boss, orangnya udah bangun!" teriak salah seorang laki-laki ketika melihat wajah Ashia di depan jendela.
"Oalah, Kak. Lama kali Kakak bangun. Kami udah nunggu lama loh!" keluh seorang wanita yang tampak mulai berdiri dan melangkah mendekati.
"Aduhh… ada perlu apa, ya?" tanya Ashia, bergegas membuka pintu gubuk.
"Ahhh.. Boss kami itu ya, tiba-tiba ngajak kami liburan bersama. Udah seneng banget, saya kira bakalan liburan kemana gitu… setidaknya ke Pekan Baru, Kek atau ke Mall, atau ke pantai tapi ternyata malah liburan ke Kebun Nanas," keluh seorang wanita lain yang mengenakan jilbab merah, dia juga tampak mulai mendekati.
"Lumayanlah Mbak Nina, setidaknya hari ini nggak perlu kerja dan gaji harian juga nggak ke potong," timpal orang lainnya, dia adalah seorang laki-laki.
"Bosss!" Lalu laki-laki itu berteriak menyapa dan berlari mendekati Irfan yang baru saja keluar dari mobil, Irfan berjalan mendekati Ashia.
"Iya sih, tapi tetap aja… eh iya, Kak… ehh bukan, Kakak ini keliatan masih muda, ya?"
"Panggil Shia saja!" ucap Ashia, menawarkan.
__ADS_1
"Ahh iya, Shia nama kamu, ya?"
"Kak, kakak punya hubungan apa sama Boss kami? nggak biasanya loh dia deket sama wanita lain selain Mbak Nara," tanya wanita yang pertama kali mendekati Ashia, dia berambut panjang dan berponi menutupi dahi.
"Entah… Lah saya juga nggak kenal sama bossnya Kakak… boss Kakak yang mana? Siapa namanya? Saya aja ini masih kaget liat kalian semua ada di sini," jawab Ashia mengerutkan dahi sembari menggelengkan kepala, bingung.
"Irfan loh, Shia. Dia itu terkenal di kota Dumai yang punya toko Lighting Cell… Ihh masa nggak tahu?" tanya wanita berjilbab merah.
"Nggak tau, ehh iya… " jawab Ashia terlihat berpikir, "Iya, aku beneran nggak tau,"
"Ini, Kak, Boss kami… Ini dia loh, masa nggak kenal sama orang seganteng ini?" tanya wanita berambut lurus pada Ashia.
"Ha… Haa…? Aku aja baru liat dia kemarin, Mbak. Jadi mana mungkin punya hubungan…"
"Udah, kalian mending pergi aja dari sini! Ada urusan yang mau kubicarakan sama Mbak ini," usir Irfan pada para karyawan yang berada di dekat Ashia. Sementara Karyawan lain tampak sedang sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing.
__ADS_1
Ada yang berfoto, Ada yang sedang menghentikan pedagang rujak jalanan, Ada yang sedang mengobrol di pinggir jalan dan ada pula yang sedang bergosip, memperhatikan Irfan dan Ashia yang tampak berduaan.
"Abang yang kemarin sore, ya?" tanya Ashia bersamaan dengan kedua karyawan Irfan yang telah melangkah pergi dengan bergumam kesal.
"Iya, sekarang aku datang bawa banyak orang, jadi nggak perlu takut sama tetangga Mbak lagi, Kan?" tanya Irfan, membuat Ashia tersenyum kaku.
"Ahhh iya… jadi sebenarnya, Abang siapa, ya?" tanya Ashia, mulai berpikir keras, mengingat kembali beberapa saudara yang mungkin ia lupakan.
"Huh!" Irfan terlihat menghela napas berat, "Gini, Mbak?" Dia ragu untuk memulai pembicaraan. " Bicara di dalam mobil saya saja, gimana? Biar enak ngomongnya. Di sini nggak enak diliatin karyawan saya. Ya.. mau saya usir nggak mungkin, saya suruh jangan liat kita, juga… pasti mereka akan curi-curi liat. Kalau di dalam rumah… Pasti Mbaknya nggak ngizini, iya 'kan?" jelas Irfan, memberitahukan dengan nada yang cukup gugup.
Dia bahkan sampai menelan salivanya.
"Ohh.. tapi…"
"Tenang saja! Kaca mobilku nggak gelap kok, jadi kalau saya macem-macem sama Mbak, orang-orang juga akan tahu," jelas Irfan, berusaha meyakinkan keraguan Ashia yang dia ketahui.
__ADS_1
"Hmm! Ya udah kalau gitu,"