
"Ya Allah, Astaga, Ya Ampun, Siapa sih ah? Nganggetin aja?" tanya Ashia yang kaget dan sontak berbalik ke belakang.
"Aduh maaf nggak sengaja, aku ganggu ya?" tanya seorang laki-laki berkulit putih.
Warna putihnya bahkan melebih kulit cerah milik Ashia.
"Huh, nganggetin aja, Bang!" ucap kesal Ashia,
Dia merasa malu dan dengan cepat menyeka air mata.
"Maaf, Mbak! Aduh jadi nggak enak hati,"
"Bang, udah tutup. Nggak ada lagi stok nanas. Lagian ladang ini punya Wawakku dan juga… Aku nggak berani ngambil tanpa izinnya. Beli Nanasnya di ujung sana aja bang! Ada yang jual kok," ucap Ashia sembari menunjuk ke arah sebelah kiri jalannya.
"Nggak niat beli nanas kok mbak. Saya malah mau ketemu sama mbak,"
__ADS_1
"Mau ngapain, bang? Udah magrib, nggak enak sama tetangga, cewek sama cowok berduaan malam-malam," tolak Ashia perlahan-lahan mundur ke belakang, " Abang memang punya muka ganteng sih bang, tapi kalau mesum, ya saya takut jugalah," tuduh Ashia, mencibir.
"Astaga, enggaklah Mbak, saya nggak mesum,"
"Ya, kalau nggak mesum, pulanglah sono bang!" usir Ashia berwaspada.
"Oh ya udah nggak apa-apa. Besok saya datang lagi biar enak diliat tetangga. Oh iya, nama saya Irfan, saya balik dulu aja sore ini kalau gitu," ucap Irfan yang tampak berdiri di depan Ashia sembari menenteng Helm berwarna hitam mengkilat di tangannya.
"Helm abang mahal, baju juga kayaknya mahal, jangan bilang abang pencuri, ya!"
"Nggak loh bang, aku ini masih perawan jadi jaga-jaga kalau ada orang jahat gimana," ucap Ashia membela diri.
"Ya udah, besok saya datang, saya jelasin alasan saya mau ngomong sama Mbak, ya?"
"Nggak enak juga dilihat sama tetangga ada cewek sama cowok berduaan di gubuk sepi begini, Bang," tolak Ashia bersikeras.
__ADS_1
"Besok saya datang bawa banyak orang, jadi tenang aja! Sekarang saya pulang dulu, ya Mbak. Jam 11 pagi jangan pergi kemana-mana, tunggu aja saya!" ucap Irfan sembari mengenakan helm di tangan lalu tersenyum lembut, mengejutkan Ashia.
'Ga… Ganteng bener, ya Allah!' ucap Ashia di dalam hati lalu mulai melihat punggung Irfan menjauh darinya.
"Orang ganteng mau ketemu sama aku buat apa ya? Jangan-jangan aku mau ditawarin jadi pekerja Salon pijat kali ya kayak yang kudengar-dengar selama ini!" lanjut Ashia bergumam lalu ia melangkah untuk memasuki pintu gubuk dan bersiap menyalakan lampu cerobong Api.
*******
"Ampun… Ampuni aku, Ya Allah! Nggak seharusnya aku takut sama setan tapi mau gimana lagi, tadi malam aku sendirian dan juga hujan-hujan, nggak ada tetangga, nggak ada orang lewat jadi aku ketakutan… huwaaa! Tolonglah… berikan perubahan dalam hidupku. Aku pengen kaya biar nggak disepelekan orang lagiiii…. Huh!"
Ashia membuka pintu kamar gubuk sembari berteriak kencang. Bola matanya terlihat memerah, kelopak mata juga tampak menghitam. Sepertinya dia tidak tidur semalaman karena merasa takut akan kesendirian lalu tertidur saat pagi telah datang.
"Enaknya kalau punya mamak, punya kakak, punya bapak, punya adik, punya abang…" keluh wanita itu berandai-andai sembari mulai membuka jendela gubuk dan cahaya matahari di siang hari terlihat masuk ke dalam gubuk serta menerpa kulit wajahnya. " Ehhh… Loh!" Ashia terkejut ketika dia melihat ada belasan orang tampak duduk sembari terkadang saling berfoto di jembatan menuju gubuk milik saudaranya tersebut. "Kok rame?"
"Boss, orangnya udah bangun!" teriak salah seorang laki-laki ketika melihat wajah Ashia di depan jendela dan membuat Ashia kaget.
__ADS_1