
Brakkk!
Ashia menghentikan langkah kaki ketika tiba-tiba sebuah mobil sedan mewah berhenti di pinggir jalan, tepat di sampingnya.
"Kamu… Kamu itu cucunya Mbah Golla, iya 'kan?"
Ashia tertegun ketika melihat wanita paruh baya yang mungkin berusia hampir empat puluh tahunan telah keluar dari mobil dan bertanya.
"Iya, Bu!" jawab Ashia yang tampak mengerutkan dahi, kebingungan.
"Ingat sama Ibu, enggak? Dulu Ibu pernah nginap di rumah Nenek kamu loh. Waktu dulu Ibu susah, itu.. emmm waktu baru-baru cerai sama suami Ibu!" ingatkan wanita paruh baya tersebut pada Ashia.
"Ohhh… iya ingat! Ibu Ranti, ya?"
"Nahh iya, bener. Kamu ngapain jalan kaki di sini, Shia? Itu juga ngapain bawa-bawain tas segala kayak mau pindahan aja," tanya wanita paruh baya yang bernama Ranti tersebut.
Wanita paruh baya itu sangat cantik, kulitnya putih dan bersih seperti kulit yang selalu menerima perawatan khusus dari salon kecantikan. Rambutnya juga terlihat bergelombang dan berwarna pirang.
Dia seperti wanita kaya elegan pada umumnya.
__ADS_1
"Aku… mau ke gubuk Nenek. Aku nggak tinggal lagi di rumah Nenek karena rumah itu udah punya Wawakku sekarang, Bu! Jadi Wawakku nggak mau aku tinggal di sana," jelas Ashia begitu lirih.
"Oalah, ya udah kamu ikut Ibu aja, tinggal sama Ibu!"
"Nggak usah, Bu! Aku belum mau ninggalin desa ini. Aku masih pengen ngenang Nenekku!" tolak Ashia sembari melepaskan tangan Ranti yang tadinya menggenggam tangan wanita itu dan mengajaknya masuk ke dalam mobil.
"Ya udah kalau gitu, Ibu antar kamu ke Gubuk nenek kamu aja, ya?" tawarkan Ranti pada Ashia. Dan tanpa ragu, Ashia menganggukan kepala menyetujui.
*******
"Fan!"
Seorang laki-laki muda yang sangat tampan terlihat duduk di meja kasir sembari menghitung uang.
Wajahnya lonjong, alis matanya tebal, bola matanya berwarna coklat terang dan rambutnya tersisir rapi, memiliki poni sedikit naik ke atas.
Tubuhnya yang duduk terlihat cukup tegap ketika ia hanya menggunakan kaos oblong biasa yang memperlihatkan otot-otot lengannya. Dadanya juga tampak bidang dan lehernya cukup panjang.
Rahang laki-laki itu terlihat kuat, dagunya juga cukup runcing.
__ADS_1
Dia atas dagu, setiap manusia yang memandang, dapat melihat bibir seksi berwarna merah muda. Lalu hidung yang mancung, tampak semakin menambah ketampanan dari wajah laki-laki yang berkulit bersih serta cukup putih tersebut.
Hanya sayangnya, mata laki-laki itu tampak sedikit sipit. Dan ketika tersenyum, dia seperti sedang memejamkan mata.
"Tadi siang aku liat Mamamu,"
"Oh!"
"Kok oh sih?" tanya laki-laki muda lain yang tadinya baru saja masuk ke dalam sebuah toko ponsel yang cukup ramai dikunjungi konsumen dan memiliki belasan pegawai.
Para pegawai tampak sibuk melayani konsumen hingga beberapa dari para konsumen terpaksa duduk dan menunggu untuk dilayani di luar toko.
Beberapa konsumen wanita juga terkadang memandangi laki-laki muda yang duduk di meja kasir tanpa bergeming, saking kagumnya mereka melihat ketampanan dari wajah laki-laki muda tersebut.
"Dia juga nggak mau ketemu aku," jawab laki-laki muda itu, Dia adalah Irfansyah Febrian, salah satu pengusaha muda yang memiliki toko ponsel terbesar di kotanya. "Aku udah capek berharap, Din. Mau sekeras apapun aku nemuin dia, dia nggak bakalan mau ngeliat ke aku lagi," jawab Irfan pada temannya tersebut sembari tersenyum lembut pada seorang konsumen yang telah datang menghampiri untuk membayar uang pembelian padanya.
"Abang… Abang ini ganteng kali, loh!"
"Makasih ya, Mbak!" ucap Irfan sembari menerima uang dari konsumen di depannya.
__ADS_1