Dilamar Pemilik Toko Ponsel Yang Tampan

Dilamar Pemilik Toko Ponsel Yang Tampan
Bab 3


__ADS_3

Syarifudin benar-benar kesal temannya dipuji. dia cukup gerah melihat wanita yang terang-tetangan mengejar cinta temannya.


Meskipun begitu, dia tetap tersenyum lembut pada wanita itu agar dia akan datang lagi ke toko ponsel milik Irfan.


"Mbak, nggak usah dipuji! Nanti dia kegeeran," kata Syarifudin


"Ngarang aja kamu, Din!" ucap Irfan sembari memberikan uang kembalian pada konsumen di hadapannya.


"Kulanjutkan yang tadi,"


"Apa lagi? Astaga Udin, Udin! Nggak liat orang lagi sibuk, ya?" ucap Irfan, mengeluh.


Laki-laki itu tampak menghela napas berat, melihat sikap dan tingkah temannya.


"Tadi aku nggak sengaja denger, Mama kamu ngomong sama satu cewek, lumayan cantiklah. Dia pengen itu cewek tinggal sama Mama kamu tapi cewek itu nolak. Padahal Mama kamu udah baik hati mau ngerawatnya. Pas aku cari tahu, ternyata cewek itu nggak punya emak sama bapak, dia juga diusir dari rumah bibinya. Pasti Mama kamu bakalan sering datang dan ngerawat cewek itu. Kudenger sih, Nenek cewek itu pernah jadi guru Mama Kamu. Terus Mama kamu merasa banget harus menjaganya gitu kali ya,"


"Oh… Mbah Golla, ya?" tanya Irfan, raut wajahnya cukup terkejut saat itu.


"Lah iya, iya.. aku inget tadi mama kamu nyebutin nama itu. Tapi katanya Mbah.. Mbah itu udah meninggal,"


"Hmm pantes aja!" ucap laki-laki muda mulai tersenyum ceria diantara kesedihan dari raut wajah tadinya.


"Kamu kenal, ya?"


"Aku nggak kenal cucu Mbah itu, aku kenal Mbah Golla aja. Dia memang orang yang baik waktu masih hidup dulu," jawab Irfan mulai tampak bersemangat, "Udin, besok bawa aku ke sana!"


"Okelah siap, tapi ada duit 'kan?"

__ADS_1


"Duit aja di otakmu."


*******


Ashia Qinatifah adalah wanita manis yang lahir di desa kampung nanas, kecamatan Bangko Pusako, Kabupaten Rokan Hilir, Provinsi Riau.


Setelah melahirkan Ashia, ibunya memilih untuk pergi merantau dan meninggalkan Ashia begitu saja pada nenek yang biasa dipanggil Mbah Gello.


Mbah Gello sendiri menghidupi Ashia dengan menjadi seorang petani serta pedagang buah nanas.


Biasanya ia menjual buah-buah nanas dari kebunnya ke kota terdekat dari desanya tersebut yaitu kota Dumai.


Dan untuk sampai ke sana, dia membutuhkan waktu kurang lebih sekitar 1 jam jika dirinya menggunakan sepeda motor bersama dengan Ashia.


Mengikuti kegiatan neneknya yang telah meninggal di masa lalu. Ashia yang tak lagi memiliki apapun, memilih untuk membantu tetangga yang tinggal tidak jauh dari rumah neneknya, pergi menjajahkan buah nanas milik mereka ke kota.


Di sela-sela kesedihannya yang telah kehilangan nenek serta diusir dari rumah neneknya, dan juga terpaksa harus tinggal di gubuk pertengahan kebun nanas yang sepi jika malam tiba, wanita itu tetap berusaha untuk terus tegar menjalani pahitnya hidup.


Dia masih bisa tersenyum ketika menjajahkan buah-buah nanas di pasar kota pada para konsumen yang telah menjadi pelanggan tetap dari neneknya.


"Masih bisa-nya kau jualan, Shia? Kutengok mata kau sembab gitu, habis nangis kau 'kan?" tanya seorang pelanggan yang berasal dari kota Medan. Dia merupakan pelanggan setia neneknya yang selalu membeli buah nanas dalam jumlah cukup banyak karena suaminya adalah pedagang buat pada salah satu kelurahan di kota Dumai tersebut.


"Apolah awak cakap tuh, Mak? Ealah… sudah jangan diingatkan lagi!" ucap seorang pelanggan lain yang tiba-tiba datang dan mengingatkan pelanggan yang tadinya bertanya pada Ashia.


"Enggaklah, Bu. Udah nggak sedih lagi sekarang. Akunya udah ikhlas lahir batin ditinggalin Nenek," jawab Ashia sembari berusaha untuk tetap tersenyum lembut pada kedua pelanggan yang baru saja tiba.


"Udah sabar aja kau, ya? Kubelilah 10 biji nanasmu itu, bungkus ya? Nanti kutambahin uang buat jajan kau," ucap pelanggan setia nenek Ashia yang memang dari dahulu sudah sangat baik pada mereka.

__ADS_1


"Makasih ya, Bu!" ucap Ashia sembari memasukan satu persatu buah nanas ke dalam karung beras kecil.


"Ini, buat kau aja kembaliannya!"


"Banyak kali ini, Bu!"


"Sudah tak apolah tuh. Hitung-hitung rezeki buat kamu!" ucap pelanggan lainnya ketika Ashia ingin mengembalikan uang kembalian pada pelanggan yang telah pergi.


"Iya, anggap aja rezeki kau. Senang-nya aku ini ngasih kau!" ucap pelanggan pertama yang telah melangkah pergi meninggalkan Lapak buah Ashia.


"Ibu beli 3 buah, ya. Masih 10 ribu 'kan harganya?"


"Iya, Bu!"


"Ngomong-ngomong, kudengar kamu diusir sama Wawak kamu, benar itu ya?" tanya pelanggan yang masih tersisa.


"Hmm…" angguk Ashia.


"Tega sekali dia samamu! Kalau nenekmu masih hidup, pasti sudah dijambak rambut Wawakmu yang kurang ajar itu," ucap kesal pelanggan tersebut, "Tinggal sama Ibu aja, mau?"


"Ahh enggaklah, Bu! Aku juga nanti rencananya mau cari kerja dan ngekos. Untuk sekarang, aku masih pengen tinggal di desa aja dulu," tolak Ashia sembari memberikan kantung yang berisi tiga buah nanas kepada pelanggan neneknya tersebut.


"Oh iya sudah. Tapi kalau butuh bantuan, hubungi Ibu aja, ya?"


"Iya, makasih ya, Bu!" ucap Ashia sembari menerima uang pembelian dari pelanggan yang mulai berdiri dan melangkah pergi tersebut.


"Shia!" Lalu Ashia menoleh kepala ke arah seseorang yang memanggil namanya.

__ADS_1


"Putra!"


__ADS_2