Duke's life prophecy

Duke's life prophecy
10


__ADS_3

"Aku hampir gila mencarimu Duchess, sudah aku katakan tunggu aku sampai kembali," ucap Matteo, ia menatap Graziano khawatir. Ia takut omega itu tersesat atau bertemu bandit dan semacamnya.


"Maaf duke, aku tadi mencarimu juga. Kupikir kau pergi melupakan aku, kau pergi begitu lama," ucap Graziano.


Matteo menghela napas, "maafkan aku, tadi aku bertemu orang penting dan berbincang lama," jelasnya, Graziano mengangguk.


"Mari kita pulang, ini sudah malam." Matteo menarik tangan sang omega untuk digenggam, ia tak mau sampai Graziano menghilang lagi.


Matteo benar-benar panik tadi, saat tak mendapati Graziano duduk ditempat semula, ia bertemu dengan putra mahkota yang baru pulang dari asrama dan berbincang banyak, jadi ia lama. Sungguh ia tak sengaja melakukannya, Putra mahkota bukan hanya sebatas Putra mahkota baginya, keduanya teman akrab sejak dulu.


Graziano merengut, dari semalam setelah dari pameran ia tak bisa tidur. Sebenarnya hatinya merasa dongkol dan kesal, anyaman yang ia sukai dimintai begitu saja, andai itu bukan putra mahkota ia tak akan sudi memberikannya.


"Yang mulia, apa ada sesuatu yang mengganggumu?" Elena bertanya, saat melihat Tuannya merengut dan sesekali mendengus, ini bukan seperti pribadi Graziano yang selalu tenang.


"Aku sangat kesal, semalam aku dan duke pergi ke pameran. Dan kau tahu, aku bertemu dengan putra mahkota, dia meminta anyaman yang sudah aku beli." Graziano semakin menekuk wajahnya, ia masih ingat betapa bagusnya anyaman itu.


"Saya mengerti yang mulia, pasti itu sulit bagi Anda. Apa lagi yang memintanya putra mahkota, tapi bukan kah putra mahkota tinggal di asrama selama ini?" ucap Elena.


"Eum, duke bilang dia sudah pulang. Dan beberapa hari lagi akan ada perayaan di ibu kota, untuk penyambutannya," jelas Graziano.


Elena terkekeh, saat Duchess kesal seperti ini, itu adalah hal yang langka dan lihat wajah menekuk itu, sangat menggemaskan. Elena pikir, Duke sedang mabuk karena itulah memilih mencintai Selir Yian.


"Ada apa, kenapa kau tertawa?" tanya Graziano penuh selidik.


"Tidak yang mulia, saya sangat menyukai ekspresi kesal Anda. Duke harus melihatnya," ucap Elena.


"Kau sama saja, sudahlah.... ayo bantu aku menyiapkan pakaian untuk perayaan penyambutan," ucap Graziano, yang diangguki elena


Berbeda dengan Graziano yang kesal karena putra mahkota, Yian tengah mendiami Matteo karena meninggalkannya semalam.


"Yian, kumohon mengertilah. Aku tak mungkin membiarkan Duchess pergi sendiri," ucap Matteo.


Yian masih diam, ia meringkuk membelakangi Matteo yang duduk ditepi ranjang.


"Yian, jika kau marah begini aku tak akan mengerti apa yang kau inginkan," ucap Matteo.


"Aku ingin ikut ke perayaan," cetus Yian tiba-tiba, membuat Matteo menganga. Ke perayaan ia akan membawa Graziano, mana mungkin Matteo datang bersama selir.


"Yian, aku bukan tak mau, tapi orang-orang akan heran jika aku membawa selirku, ini acara perayaan penyambutan putra mahkota," tutur Matteo.


Yian mendudukan dirinya, emosinya tersulut.

__ADS_1


"Jadi aku dimatamu itu benar-benar orang rendahan, apa aku tak pantas?" ucap Yian, membuat Matteo gelagapan.


"Tidak, maksudku bukan seperti itu tap


"Aku sadar diri aku orang rendahan, dan bukan istri sah mu, baiklah pergi saja sana dengan Duchess kau mungkin sudah tak mencintaiku lagi." Yian menatap Matteo dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


Matteo menghela napas, ia memeluk Yian, mendekapnya. Ia sama sekali tak bermaksud, tapi sungguh ia sudah membicarakan ini dengan Graziano, keduanya akan pergi bersama.


"Apa aku benar-benar tak boleh ikut?" ucap Yian mulai terisak, Matteo masih diam ia mengusap rambut Yian.


"Aku iri pada Duchess, dia selalu bepergian denganmu," ucapnya lagi.


"Baiklah maafkan aku, kau boleh ikut. Aku akan membawamu dan Duchess," ucap Matteo.


"Duchess?" Yian melepas pelukan Matteo, ia tak mau pergi sebagai selir. Maksudnya ia ingin ikut dan Graziano tak boleh ikut.


"Ya, kau dan Duchess akan pergi bersamaku," ujar Matteo.


Yian mengepalkan tangannya, selalu saja Graziano menjadi penghalang. Ia memaksa ingin ikut, agar Matteo tak mengajak Graziano.


"Ada apa?" Matteo bertanya saat melihat wajah muram Yian.


"Terima kasih, kau selalu mengerti aku." Yian memeluk Matteo.


Tak apa ia pergi dengan Duchess, tapi akan ia pastikan kehadiran Duchess tak akan berpengaruh. Ia akan merenggut atensi semua orang, tak ada tempat bagi Graziano dihati semua orang.


Yian menyeringai, ia memiliki rencana bagus. Lagipula rumor buruk tentang Graziano sudah menyebar disebagian orang-orang istana, itu akan memudahkannya menjatuhkan omega pria itu.


Perayaan ini cukup besar, karena putra mahkota sudah lama mengenyam pendidikan di asrama. Membuat kaisar antusias untuk merayakannya, banyak bangsawan yang diundang dan beberapa orang terpilih.


Semua orang disibukkan dengan perayaan ini, bahkan pasar diibu kota penuh, semua orang berbondong-bondong ikut serta dalam perayaan ini. Karena kaisar khusus memberikan bazar gratisan untuk rakyat.


Jangankan orang lain, bahkan Graziano ikut heboh, ia sangat antusias, sedari tadi memilih-milih pakaian yang cocok sampai membuat Elena pusing dibuatnya.


"Yang mulia Anda sangat antusias sekali," celetuk Elena, matanya mengedar melihat pakaian berserakan dilantai.


"Elena, ini pertama kalinya aku dan Duke akan pergi ke istana bersama. Akan sangat buruk jika aku tampil tampak jelek," ucap Graziano.


Elena menyukai sisi Graziano yang memikirkan dirinya sendiri, ia menyukai sisi dimana Graziano mengerutkan keningnya, memikirkan hal yang sebenarnya tak perlu dipikirkan.


"Anda tak perlu memikirkan hal ini yang mulia, tampil seperti ini saja sudah membuat orang terkesan," cetus Elena, ia tersenyum bangga.

__ADS_1


Bibir Graziano berkedut, saat mendengar


pujian Elena.


"Kau berlebihan," ucapnya, menyembunyikan senyumannya.


"Siapapun akan berlebihan jika itu berhubungan dengan Anda, Anda sangat mengagumkan. Mendiang Duke Lareon dan Duchess Maria juga pasti mengagumi Anda dari alam sana," ucap Elena, terdengar tulus.


"Terima kasih Elena, kau selalu membuatku percaya diri," ucap Graziano.


Di saat tengah asik berbincang, tiba-tiba saja pintu terbuka. Membuat aktivitas keduanya berhenti, saat Matteo masuk.


"Elena tinggalkan kami berdua," titahnya pada Elena, membuat Elena pergi dengan tergesah.


"Ada yang ingin aku bicarakan denganmu Duchess," ucap Matteo menghampiri, Graziano.


"Apa sesuatu itu yang mulia?" Graziano menyimpan pakaian yang tengah dipegangnya.


"Duchess, Selir Yian ingin ikut serta apa kau tak masalah?" tanya Matteo, langsung membuat Graziano muram.


"Tentu saja aku tak suka," ucap Graziano langsung, ia tak akan munafik.


"Tapi Duchess, aku sudah menyetujuinya


untuk ikut, dan dia juga sudah bersiap sama


hebohnya denganmu." Matanya mengedar


melihat pakaian Graziano yang berserak


dimana-mana, membuat Graziano malu sendiri


disebut heboh.


"Jika begitu ikut saja, aku tak menyukainya pun kau tetap memberinya izin," cetus Graziano.


Matteo menangkup kedua pipi Graziano yang saat ini terlihat sangat kesal.


"Terima kasih, sudah mengerti." Matteo mencium keningnya lama, seakan berkata ia juga tak mau seperti ini.


Bagi Graziano, Matteo itu sulit dijelaskan. Perasaannya abu-abu, ia bagaikan layang-layang yang selalu ditarik ulur, terkadang suaminya ini akan bersikap baik dan secara bersamaan juga akan menyakitinya.

__ADS_1


__ADS_2