Duke's life prophecy

Duke's life prophecy
5


__ADS_3

"Yang mulia duches, mohon ampun karena mengganggu waktu Anda." Pengawal Han yang selalu berjaga didepan rumah utama, bersimpuh dihadapannya.


"Ada apa gerangan pengawal Han, sampai mendatangiku?" Graziano bertanya, baru kali ini pengawal Han mendatanginya dengan tergesah.


"Pelayan Elena, ia tengah disidang diruang persidangan yang mulia duke," ungkap pengawal Han.


Graziano mengepalkan tangannya, ia tahu mengapa Elena disidang oleh Matteo.


"Antar aku ke sana," ucap Graziano.


"Mari yang mulia."


Keduanya pergi kepersidangan keluarga Lareon, dengan langkah lebar Graziano masuk ke ruang persidangan yang langsung mendapat banyak pasang mata menatapnya penuh tanya.


"Maaf yang mulia, aku datang begitu saja tanpa izin darimu. Aku hanya ingin mengambil pelayanku Elena," ucap Graziano, ia menatap Matteo dengan tegas tak ada keraguan dimatanya.


Elena tersenyum tipis saat tuannya, datang, ia sudah sangat panik jika dibawa ke persidangan kekaisaran yang sudah jelas kaisar langsung yang akan memberinya hukuman.


"Berdirilah Elena, tak sepantasnya kau bersimpuh tanpa ada kesalahan apapun," ucap Graziano, aura duches yang disandangnya menguar membuat orang-orang yang hadir menatapnya kagum.


"Duches tak sepantasnya kau membela orang rendahan," cetus Matteo, yang sudah jengkel dengan sikap Graziano.


"Dia pelayanku, dia mengabdi padaku. Jika dia memiliki kesalahan maka tanyakan padaku, karena sehari-hari dia hanya menemaniku, tak ada yang tidak aku ketahui yang mulia," ucap Graziano, dengan berani.


Orang-orang yang berada dipersidangan merasa takut dengan perdebatan antar suami istri ini, persidangan di isi oleh kepala pelayan dari dua belas pavilliun, dan beberapa pelayan dari rumah utama.


"Duches aku melakukan persidangan ini, karena selir Yian mengatakan dia dihina oleh pelayanmu itu," ucap Matteo sedikit tenang.


"Lalu kenapa yang mulia tak memberi tahuku, jika akan ada persidangan ini. Bukan kah aku ber-hak tahu?" Graziano menatap Matteo lekat, "selain Elena pelayanku, aku juga sebagai duches dibagian barat Gardenia ini," lanjutnya.


Telak, yang Graziano katakan ada benarnya. Ia yang terlalu terburu-buru mengadakan persidangan tanpa sepengetahuan omeganya itu.


Suasana tengah tegang, selir Yian yang menjadi dalang dari masalah ini bercetuk enteng.


"Yang mulia duches, saya tahu saya hanya seorang selir, tapi saat dihina semua perasaan manusia tetap sama, yaitu sakit,"

__ADS_1


Sebisa mungkin Graziano tidak mendengus, karena itu tak sopan jika dilakukan dihadapan semua orang apalagi dihadapan duke.


"Katakan hal apa yang pelayanku katakan sampai kau mengadu pada duke?" tanya Graziano.


"Bukankah Anda sendiri tahu yang mulia, saat pelayan Elena menghina saya. Bahkan dia bilang saya tak pantas bertanya pada Anda, saya tahu kedudukan saya jauh dibawah Anda, tapi jika saya berniat meng-akrabkan diri apa itu juga tak boleh?" tutur Yian, semakin memancing gejolak panas dihati Graziano, ingin sekali ia menenggelamkan selir itu ke danau dekat kebun.


"Pelayanku hanya mengatakan hal yang pantas, ia hanya menegurmu yang sedikir kurang sopan, bukan menghina selir Yian, lain kali cernalah ucapan seseorang sebelum kau masukan ke dalam hatimu," ucap Graziano, ia tak akan takut melawan selir tak tahu malu macam Yian.


Matteo selaku kepala keluarga di bagian barat Gardenia ini, menengahi.


"Duches, Selir Yian. Ini bukanlah waktunya untuk berdebat, aku akan meminta duches menceritakan hal ini dari sudut pandangnya, karena aku sudah mendengar cerita dari sudut pandang Selir Yian." Matteo memberi waktu untuk Graziano menceritakan kejadian ini, sampai membuat Selir Yian diam.


Tentu saja Graziano menceritakan semuanya, tak ada yang ia lebih-lebihkan ataupun ia kurangi. Matteo yang menyimak menganggukkan kepalanya paham, ia mengerti dan sudah paham.


Ia menggulir matanya, menatap selir Yian yang seperti tengah tak terima dengan ungkapan Graziano, selirnya itu meremat gaun biru yang tengah dipakainya.


"Baiklah, aku mengerti sekarang. Di sini hanya terjadi salah paham, dan untuk Elena mungkin ia tak bersalah, tapi tetap saja ia akan mendapat hukuman karena telah berani menyinggung perasaan Selir Yian," ucap Matteo.


Graziano menyipitkan matanya, ia melihat seringaian Selir Yian yang seakan mengatakan jika ia menang.


"Maafkan orang rendah ini yang mulia, saya sungguh tak bermaksud, jika Anda memberi hukuman itu, saya akan menerimanya dengan baik," ucap Elena.


"Selama tiga hari kau akan membersihkan kandang kuda yang di urus viscount Pion, hanya itu setelahnya kau bebas," ucap Matteo.


Graziano sebenarnya tak terima, tapi ia juga tak bisa melawan lebih jauh lagi, itu akan menjatuhkan harga diri Matteo dan dirimya sendiri.


"Persidangan ini ditutup, dan bagi kalian para kepala pelayan tiap pavilliun, jangan pernah meniru apa yang Elena lakukan, jangan menyinggung perasaan Duches maupun Selir Yian," ucap Matteo. "Dan aku akan memberi kalian pengumuman, aku melupakan ini saat pesta kemarin, jika Selir Yian tengah mengandung anakku, jadi aku meminta bantuan kalian untuk ikut menjaganya," lanjutnya.


Graziano menggigit bibir dalamnya, ia menatap Selir Yian dingin. Rasanya ingin sekali menarik rambutnya, lalu melemparnya ke kubangan kotoran babi.


"Persidangan ditutup silakan kembali dan kerjakan hal yang kalian tunda tadi," ucap Matteo, semuanya segera meninggalkan aula persidangan begitupun Elena.


"Saya pergi terlebih dahulu yang mulia, terima kasih," ucapnya sebelum pergi, yang hanya diangguki Graziano.


"Selir Yian pergilah terlebih dahulu, ada yang ingin aku bicarakan dengan duches," ucap Matteo.

__ADS_1


Yian segera pergi meninggalkan keduanya.


"Hal apa yang tuanku ingin bicarakan," ucap Graziano, ia naik ketempat duduk dekat Matteo.


"Soal tadi, aku lupa tak memberi tahumu, jadi maaf jika kau tersinggung." Matteo menatap Graziano, "dan aku ingin meminta bantuanmu, untuk ikut serta menjaga Selir Yian, kau sendiri tahu, betapa cerobohnya Selir Yian," lanjutnya.


"Apa pelayan di pavilliun ilichi kurang?" tanya Graziano, "sampai aku harus ikutnmerawatnya," ucapnya.


Matteo memejamkan matanya sebentar, selama ini ia tak pernah peduli dengan duchesnya ini, sampai ia tak tahu seperti apa sifat sang duches.


"Duches, hanya kau orang yang aku percaya saat ini. Selir Yian tengah mengandung, dan anak itu akan menjadi anakmu juga."


Graziano mengerutkan keningnya, sejak kapan anak selir jadi anaknya juga? Bahkan jika ingin diakui olehnya, harus ada perjanjian diatas kertas jika ia mengangkat anak selir.


"Yang mulia, terima kasih sudah percaya padaku. Tapi aku tak bisa membantumu, aku bukanlah omega sekuat itu, bagiku Selir Yian adalah sainganku, dia telah mengambil hati suamiku," ucap Graziano, katakanlah dia gila, jika ia bisa ia mungkin akan meminta berpisah dengan Matteo tapi posisinya tak memungkinkan, seorang omega akan dianggap hina dan kotor jika bercerai dengan alphanya apalagi ia menikah bukan dengan orang sembarangan, bisa saja jika ia bercerai dengan Matteo, status sosial keluarganya akan turun dan jatuh, dan Graziano tak akan membiarkan itu terjadi.


"Mari bicara sebagai mana halnya omega dan alphanya, aku tahu kau sangat mencintai Selir Yian, tapi kau juga harus tahu yang mulia jika ada aku yang berjuang dengan pernikahan ini, mungkin tak apa aku bisa menerimamu yang mencintai Selir Yian, tapi jangan paksa aku untuk menerima Selir Yian selayaknya saudara, karena bagiku dia panah beracun yang tertancap dihatiku, yang perlu kulepas bukan semakin menusukkannya ke dalam," tutur Graziano, dibarengi dengan senyuman manis.


"Duches apa aku begitu melukaimu?" Matteo bertanya dengan lirih.


"Aku tak apa, hanya saja tak akan ada omega yang tak terkejut saat tahu jika selir suaminya tengah hamil setelah satu hari pengangkatan selir,"


"Maaf,"


"Jangan meminta maaf duke, semakin sering kau mengatakannya maka rasanya akan hambar,"


Matteo diam, benar ia sudah sering meminta maaf dan sudah sering juga Graziano memaafkannya.


"Jika tak ada yang perlu dibicarakan aku akan kembali ke rumah utama, dan yang mulia jika kau akan bermalam dikamarku aku akan menunggumu, tapi jika tidak katakanlah sejak awal agar aku tak menunggu, aku pergi."


Setelah mengatakan itu Graziano pergi meninggalkan aula persidangan, ia sedikit lega setelah mengatakan segalanya. Sampai kapanpun tak ada persaudaraan antara istri sah dan seorang selir rendahan.


_____________


Nahkan gue up 4 ch hari ini, jadi jangan khawatir gak gue lanjut. Soalnya gue lagi bucin sama nih story, kalian mah komen yang banyak ae, biar doi semangat.

__ADS_1


__ADS_2