Duke's life prophecy

Duke's life prophecy
3


__ADS_3

Pengangkatan Yian menjadi selir pertama Matteo jadi topik hangat, membuat keluarga kerajaan juga sampai mendengar berita itu.


Yian banyak mendapat hadiah dari berbagai kalangan, tak ayal ia juga mendapat hadiah dari istri sah, karena itu sebuah keharusan yang berarti istri sah menghargai Yian.


Berita itu tersebar begitu saja, dari mulut ke mulut. Bahkan ada pengumuman yang tertempel dibalai desa jika Matteo mengangkat selir disaat umur pernikahan yang begitu dini.


Nama Graziano banyak terseret menjadi gosip, seperti apa yang sudah ia kira jika akan ada rumor buruk, ini maksudnya rumor dimana orang-orang beranggapan jika ia tak bisa menjadi pasangan yang baik sampai Matteo membutuhkan selir dengan cepat.


Graziano dicap istri tak becus dan juga pasangan mengerikan. Saat ini omega itu tengah merenung digazebo, Elena yang sedari tadi menemani Graziano ikut merasakan sakit.


Akan ada gelar perayaan pengangkatan selir dengan meriah, besok tepatnya perayaan itu digelar. Saat ini semua orang tengah sibuk menyiapkan segala hal untuk itu, sedangkan Graziano hanya diam dengan semuanya bahkan disaat orang-orang dengan terang-terangan mencibirnya.


"Yang mulia, Anda tak mungkin berperangai seperti yang orang-orang rendahan itu katakan, saya percaya pada Anda," tutur Elena yang sedari tadi diam..


Graziano mengulas senyum tipis, "terima kasih," ucapnya.


Tiba-tiba Elena bersimpuh, ia merasa tak


berguna.


"Apa yang kau lakukan Elena,"


"Tuanku, Anda bisa menghukum saya setelah ini. Tapi saya mohon janganlah Anda menunduk pada selir itu, Anda harus kuat, posisi Anda jauh lebih tinggi dari anak saudagar itu." Elena berucap tegas.


"Duduklah yang benar Elena, aku tahu. Aku tak akan menghukummu, tapi teruslah jadi pendukungku," tutur Graziano.


Graziano boleh lemah didepan Matteo, tapi dia tak pernah diajarkan menunduk dihadapan kaum rendahan, ia putra bangsawan duke bagian timur, ia putra tunggal duke Antonio Albert hal hina jika ia menunduk pada Yian, tak peduli dengan rumor buruk tentangnya.


Pesta meriah diadakan begitu besar, bahkan pernikahan antara Matteo dan Graziano tak semewah dan semeriah ini, banyak rumor mengatakan jika sang singa kerajaan telah mencintai selirnya dibanding istri sahnya.


Graziano berjalan dengan anggun, pakaian khas kebangsawanannya menjadi sorotan, bibir merah muda, kulit putih dengan rambut pirang alaminya menjadi kesan betapa manisnya istri duke Matteo.


"Silakan duduk yang mulia duches Graziano." Pelayan memberikan hormat, mempesilakan duduk bagi Graziano.


Yian yang sedari tadi sudah hadir, menatap Graziano sang istri duke. Walaupun Graziano seorang omega pria tetapi ia tak kalah manis dengan perempuan.

__ADS_1


"Selamat Yian, kau menjadi selir pertama yang mulia duke." Graziano berkata lembut, membuat Yian tersenyum.


"Terima kasih yang mulia, saya sungguh merasa terhormat dengan kehadiran Anda dipesta ini, saya juga terharu dengan hadiah yang Anda kirimkan," tutur Yian.


"Tentu itu tugasku membuat selir suamiku nyaman," ucap Graziano, mungkin perkataannya manis tapi matanya menatap dingin pada perempuan dihadapannya.


Yian definisi perempuan cantik dan bermulut manis, pantas saja jika Matteo menyukainya.


"Yang mulia duke memasuki ruangan!"


Semuanya berdiri, dan menundukkan kepalanya memberi hormat pada sang duke.


Matteo menghampiri kedua omeganya, ia duduk didekat Yian.


"Kau senang," bisik Matteo yang diangguki Yian mengabaikan Graziano yang seperti pajangan. Ia menggenggam tangan Yian, mengajak selirnya itu berdansa. Banyak orang yang mengatakan jika mereka romantis, tanpa peduli sang istri sah yang menatap penuh luka pemandangan dihadapannya.


Putra duke Antonio itu seperti dilempari kotoran diwajahnya, ia dipermalukan seharusnya sebelum berdansa dengan Yian, Matteo berdansa dengannya.


Graziano meninggalkan kursinya, lagipula tak ada yang peduli akan kehadirannya, semua orang fokus pada pasangan yang tengah berdansa, Rasanya sesak.


"Duches Graziano!"


Seperti ditarik kesadarannya, Graziano mengedarkan pandangannya, mencari siapa yang memanggilnya dengan lantang.


"Ada apa yang mulia?" tanya Graziano penasaran, karena Matteo membawanya ke kamar dengan kasar.


"Hentikan bau menjijikan itu, kau ingin menggoda para alpha, hah!" sentak Matteo, ia mencengkram tangan sang omega, feromon alphanya keluar dengan kuat membuat Graziano bersimpuh tak berdaya saat feromon itu memenuhi kamar.


"Yang mulia ini sesak," lirih Graziano, ia nyaris tak bisa bernapas karena feromon kemarahan Matteo.


"Ini masih jauh berbeda disaat kau mengeluarkan feromon menjijikanmu tadi, apa kau sengaja hah!"


Graziano menggeleng pelan, napasnya tersenggal-senggal dominasi Matteo padanya tak main-main.


"Aku ... aku tak menyadarinya..."

__ADS_1


Feromon manis Graziano tertutupi oleh feromon Matteo, alpha itu mencengkram pipi Graziano tanpa sadar membuat omega yang tengah lemah itu meringis.


"Apa kau cemburu pada Yian?" Pertanyaan yang diajukan Matteo membuat air mata Graziano luruh begitu saja.


"Ohh jadi benar, dimana sikap duches yang pantas itu. Kau tak menerima aku memiliki selir? Dan kau menggoda para alpha diluar sana, apa kau tak punya harga diri duches?"


Graziano memegang tangan Matteo yang mencengkram pipinya dengan bergetar. Ia menggeleng, ia tak kuat lehernya terasa dicekik disaat feromon Matteo terus-terusan menguar memberikan dominasi.


"Dia hamil, makanya aku membuat pesta meriah ini, aku tahu kau iri. Tapi dia hamil, dan dia hamil anakku," ucap Matteo ringan, seakan kabar yang dia ucapkan itu tak menyakiti Graziano.


Telak, rasa sakit dihati Graziano semakin terbuka lebar. Ia menatap Matteo lekat, dengan tatapan kecewanya.


"Kau mencintainya?" Graziano berucap dengan lirih, suaranya bergetar.


"Tentu saja." Feromon Matteo sedikit berkurang, membuat pening dikepala Graziano sedikit berkurang.


"Lalu kenapa kau melamarku yang mulia?"


Matteo membuang pandangannya, saat mata dengan binar indah itu menatapnya penuh luka, kentara akan rasa sakit yang membungbung didalam hatinya.


"Ahh ya, aku tahu ... aku hanya omega yang diramalkan untukmu, ya Tuhan maafkan aku yang mulia, telah lancang padamu, seharusnya aku sadar ... kau menikahiku karena ramalan itu, kau sama sekali tak menyukaiku," ucap Graziano, ia mengusap air matanya yang mengalir begitu saja.


Matteo datang menghampirinya dengan raut yang dingin, ia menarik Graziano keluar dari aula.


Selir hamil, Yian tengah hamil anak suaminya. Sedangkan dirinya? Jangankan hamil ia tidur satu ranjang dengan Matteo saja tak pernah, ia merasa dirinya dilemparkan kekubangan kotoran babi, ia merasa hina saat ini.


"Pergilah yang mulia, mohon ampun atas kejadian barusan, aku meminta izin padamu, untuk tak kembali ke aula," tutur Graziano.


"Mohon ampun yang mulia, kau bisa menghukumku nanti tapi aku sungguh aku tak bisa kembali ke sana." Graziano menatap Matteo yang hanya diam, ia meremat celananya.


Tanpa pikir panjang Matteo segera melangkah.


"Yang mulia," ucapan Graziano menghentikan langkah Matteo yang akan keluar.


"Selamat atas kehamilan Nona Yian, selamat kalian akan menjadi orang tua."

__ADS_1


Matteo meremas gagang pintu, perkataan Graziano terdengar serak membuatnya merasa bajingan telah menyakiti omega itu. Rasanya Matteo ingin berbalik menenangkan omega itu, memeluknya tapi egonya jauh lebih besar, ia melangkah pergi begitu saja meninggalkan Graziano yang tengah kacau.


__ADS_2