Duke's life prophecy

Duke's life prophecy
7


__ADS_3

DOR!


belum follow? Follow sana, biar pas kangen gak ribet ehehe..... pas kalian


______________


Graziano tak bisa apa-apa, ia hanya berbaring. Demi Tuhan rasanya seluruh persendiannya remuk, Matteo tak main-main.


Bahkan ia dibantu Matteo untuk membersihkan tubuhnya kembali, matahari sudah naik begitu tinggi, tandanya ini sudah sangat siang.


"Duches kau yakin tak mau keluar dari kamar?" Matteo duduk pinggir ranjang.


"Eum, Elena tak ada. Aku tak memiliki teman dekat, dan duke kau tahu rasanya tubuhku sakit semua," tutur Graziano, ia sangat malu membahasnya mengingat kejadian pagi tadi, itu sungguh diluar kendalinya.


Matteo mengangguk, ini semua karenanya. Hari ini ia putuskan untuk menemani omeganya, ia tak akan pergi ke pavilliun daisy, lagipula laporan bulan ini sudah ia kerjakan dan rapat bersama kaisar di adakan besok.


"Baiklah, aku akan menemanimu di sini," cetusnya.


Graziano tersenyum tipis, akhirnya ia bisa bersama lebih lama dengan alphanya.


"Duduklah, aku akan meminta pelayan membawakan makanan, kita belum makan," ucap Matteo.


Graziano dibantu duduk oleh Matteo, sungguh itu sangat perih.


Tok


Tok


Matteo beranjak, ia mengambil makanan yang dibawakan pelayan.


"Akan aku suapi, kau hanya perlu mengunyah makanannya." Matteo menyuapi Graziano dengan tangannya.


Keduanya sangat manis, sungguh harmonis sudah seperti pasangan duke dan duchess pada umumnya.


"Shh...


"Ada apa?" tanya Matteo.


"Ini pedas, tak cocok dengan lidahku," ucap Graziano, Matteo langsung memberinya minum.


"Biar kuganti makanannya," ucap Matteo, namun Graziano menggeleng.


"Tidak, kau juga makanlah. Aku tak mau makan, biar nanti aku meminta buah-buahan segar," tutur Graziano

__ADS_1


Akhirnya Matteo makan sendiri, ia ingin memaksa omeganya untuk makan tapi sepertinya Graziano benar-benar tak mau makan.


Seharian ini Graziano dan Matteo berbincang banyak hal, dari mula bagaimana kehidupan remaja sang omega yang sangat nakal dan bagaimana senangnya ia saat mendapat lamaran dari seorang Matteo.


Keduanya asik berbincang, sampai tak ada niatan untuk keluar kamar.


Yian mendengus, ia bahkan melemparkan nampan berisi makanannya.


Ia sedari tadi memarahi pelayan pavilliun ilichi. Kepala pelayan pun bahkan tak berani untuk sekedar mengangkat kepalanya.


"Nona kami mohon tenanglah, mungkin saja duke tengah sibuk dengan tugas yang kaisar berikan," ucap krisya pelayan yang akhir-akhir ini dekat dengan Yian.


Selir Yian berdecak, ia berkacak pinggang. Dari semalam Matteo tak mendatanginya sama sekali, biasanya walaupun sibuk Matteo pasti akan menyempatkan waktu untuk menemuinya.


"Semalam dia bilang akan menemui duchess, aku yakin Matteo masih bersama duchess," ucapnya, merasa kesal sendiri..


"Nona makanlah sedikit saja, jika yang mulia sampai tahu dia pasti akan marah besar," bujuk Krisya.


"Siapa kau! Beraninya kau memerintahku!" Yian menarik rambut Krisya membuat pelayannya itu meringis.


Suasana di pavilliun ilichi semakin menegang saat Yian meledak-ledak dengan amarahnya, mendorong pelayan Krisya sampai tersungkur.


Tiba-tiba saja ia mengerang kesakitan memegang perutnya.


"Nona ...


"Aku tak butuh tabib, aku hanya ingin Matteo!" serunya, saat pelayan lain datang dengan tabib Loi.


"Nona, kami mohon. Kami akan memanggil yang mulia, namun izinkan lah tabib Loi untuk memeriksa Anda," ucap kepala pelayan.


Yian tak mengubris ucapan para pelayan, ia meremas pakaiannya, perutnya terasa sakit, tak mungkin 'kan jika ia mengalami keguguran? Pikiran negatif mulai menyerangnya, tubuhnya melemas.


Krisya mendekap tubuh Selir Yian yang akan ambruk.


"Cepatlah panggil yang mulia, mungkin ia sedang di rumah utama," ucap Krisya ia merasa panik.


"Tapi Krisya, mungkin yang mulia akan marah, karena ku dengar dari pelayan rumah utama, jika ia menghabiskan waktunya seharian dengan duchess."


Mendengar ucapan kepala pelayan, membuat kesadaran Yian yang tadinya melemah kembali kuat, Matteonya bersama duchess? Tak akan ia biarkan Matteo direbut omega pria itu.


"Ini... sakit... " adunya.


Kepala pelayan yang mendengar erangan kesakitan Yian, semakin panik dengan terpaksa ia erlari meninggalkan kamar Yian, ia pergi menuju rumah utama. Masa bodo jika ia akan dihukum setelahnya, saat ini kondisi Selir Yian begitu mengkhawatirkan.

__ADS_1


"Ada apa kepala pelayan ilichi kemari?" Pengawal Han menghadang langkah kepala pelayan ilichi saat akan masuk ke rumah utama.


"Aku ingin menemui yang mulia duke, saat ini Selir Yian tengah sakit, dibagian perutnya," ungkapnya.


Pengawal Han mengerutkan keningnya, "panggilkan tabib, saat ini yang mulia Duke tak bisa diganggu, ia sedang menemani Duchess," ucapnya.


Kepala pelayan ilichi ini tak mengubris, ia dengan lancang meneroboh penjagaan, saat ini ia berada dipihak Selir Yian.


Tok


Tok


Dengan tangan bergetar ia mengetuk pintu kamar Duchess.


Saat pintu terbuka yang ia dapati adalah Matteo dengan wajah dinginnya, kentara jika ia terganggu dengan perbuatannya.


Kepala pelayan langsung bersimpuh dihadapan Matteo.


"Mohon ampun yang mulia, Anda boleh menghukum saya setelah ini. Yang mulia, Selir Yian mengadu sakit dibagian perutnya, kondisinya sangat mengkhawatirkan dari kemarin malam ia menolak makanan yang telah kami siapkan," tutur kepala pelayan.


Jantung Matteo seakan berhenti berdetak, dengan cepat ia melangkah pergi.


"Yang mulia, kau akan kemana?!"


Matteo tak mendengarkan pertanyaan yang sedikit keras itu dari Duchessnya. Saat ini dalam pikirannya hanya ada sang selir, ia takut terjadi apa-apa dengan janinnya.


Sedangkan Graziano yang ditinggalkan menjadi muram, hatinya sesak saat Matteo pergi tanpa penjelasan, sebenarnya apa yang terjadi?


Dengan terpaksa dan susah payah ia beranjak dari ranjangnya. Graziano meninggalkan kamarnya.


"Pelayan, apa sesuatu telah terjadi?" tanya Graziano pada pelayan yang tengah menghentikan langkahnya saat membawa nampan.


"Selir Yian mengalami sakit dibagian perutnya yang mulia, hanya itu yang orang rendah ini tahu," sahut pelayan.


Graziano mengangguk, "terima kasih, kau bisa pergi," ucapnya.


Pelayan membungkukkan tubuhnya, lalu pergi.


Graziano mengepalkan tangannya, tak bisakah selir rendahan itu memberinya waktu sebentar bersama Matteo, ia yakin selir itu hanya sedang cari perhatian. Demi Tuhan, Graziano akan membalasnya, ia akan merebut apa yang seharusnya menjadi miliknya.


Kedudukannya jauh diatas Selir Yian, ia tak akan diam saja. Ia lemah didepan Matteo, karena Matteo alphanya, ia bisa mengendalikan dirinya. Tapi Selir Yian? Dia sama omega sepertinya, ia memiliki hak untuk mengatur Selir itu.


"Aku Duchess, aku yang memiliki kedudukan setara dengan Duke, sebesar apapun duke mencintainya, Selir Yian tak ber hak mengambil sesuatu yang bukan miliknya," gumam Graziano, tangannya mengepal.

__ADS_1


Dengan terseok-seok karena bagian belakangnya yang masih sakit, ia kembali ke kamarnya, berendam air hangat mungkin lebih baik saat ini.


Ia merasa kembali kesepian setelah Matteo pergi, ia merindukan Elena. Pelayannya itu masih dalam masa dihukum membuatnya harus menelan pil pahit dengan kenyataan itu.


__ADS_2