Duke's life prophecy

Duke's life prophecy
2


__ADS_3

Graziano menatap hamparan kebun strawberi yang dapat ia lihat dari jendela kamar, ia menghela napasnya.


Ini sudah hari ketiga, ia menyangdang status duches dibagian barat Gardenia tapi entah kenapa hatinya resah. Dari malam pernikahan, bahkan ia belum bertemu dengan Matteo lagi, pelayan dan beberapa orang-orang Matteo mengatakan jika suaminya itu tengah sibuk dengan tugas dari kaisar.


Graziano beranjak, ia keluar dari kamarnya. Ia ingin pergi ke gazebo dihalaman depan.


"Yang mulia Duches Graziano, hormat kami." Pelayan menundukkan kepalanya dan membungkukkan sedikit tubuhnya, "apa Anda membutuhkan sesuatu, biar kami mendapatkannya untuk Anda," ucapnya, memberikan rasa hormatnya.


"Siapa namamu?" Graziano mengulas senyum tipis.


"Hormat hamba, saya Elena frilianska kepala pelayan dirumah utama, saya ditugaskan untuk langsung menjadi pelayan pribadi Anda, katakanlah kepada Saya jika yang mulia membutuhkan sesuatu," jelas Elena.


"Tentu, semoga kita menjadi teman baik," ucap Graziano.


"Mohon ampun yang mulia, rasanya terlalu kurang ajar jika saya menganggap Anda teman, Anda Tuan saya, tak pantas orang rendahan berteman dengan yang mulia duches." Elena menundukkan kepalanya.


Graziano tak bisa berkata-kata lagi, pelayan di sini sangat menerapkan kedisiplinan, ia sebagai duches harus bisa mengimbangi agar dihargai dan disegani.


"Baiklah, bisa kau antar aku ke gazebo didepan sana, aku bosan berada dikamar," ucapnya.


"Mari i yang mulia, saya akan mengantar Anda." Elena membiarkan Graziano berjalan terlebih dahulu sedangkan ia mengekor dari belakang.


Duches yang baru tiga hari ini, terlalu pendiam menurut Elena, bahkan baru hari ini duchesnya ini meminta keluar.


Beberapa pelayan dan penjaga yang berpapasan dengan Graziano memberi hormat.


Kakinya berhenti, Graziano terkagum-kagum melihat halaman rumah suaminya yang begitu indah dengan dihiasi taman bunga yang bermacam-macam.


"Apa kebun strawberi begitu jauh dari rumah utama?" tanyanya.


"Ya, yang mulia. Kebun masih jauh dari rumah utama, kebun dekat dengan pavilliun iloni, akan sangat melelahkan jika kita berjalan sampai ke sana," jelas Elena.


Graziano mengerti, padahal kebun itu terlihat sangat dekat saat ia melihatnya dari kamar, ternyata terlihat dekat karena saking besarnya.


"Elena, apa Duke masih begitu sibuk?" Graziano menatap bunga-bunga didepannya.


"Maaf yang mulia, penjaga pavilliun Daisy mengatakan duke tak bisa diganggu karena pekerjaannya yang menumpuk,"

__ADS_1


"Aku bosan," celetuk Graziano, ia melangkahkan kakinya kembali, melanjutkan niat awalnya yang ingin pergi ke gazebo. Semua orang rumah utama mengatakan Matteo sibuk, apa Matteo tak memikirkan dirinya yang seperti anak ayam kehilangan induk? Graziano asing dengan semuanya, ia tak tahu apapun. Bahkan dua hari kemarin ia menghabiskan waktunya untuk membaca buku-buku dan belajar mengenai buku kas rumah, ia tahu ia sudah belajar tentang tugas duches yang harus bisa mengatur keuangan, dan juga kebutuhan keluarga.


Matteo memiliki kediaman yang cukup besar, ia duke kaya raya dengan wilayah kekuasaan besar yang telah kaisar percayakan, bahkan mungkin ayahnya saja masih dibawah Matteo jika soal harta kekayaan.


Graziano duduk digazebo, ia diam untuk beberapa saat melihat air danau yang terlihat menenangkan.


"Elena sudah berapa lama kau bekerja di sini?" tanya Graziano tiba-tiba.


"Saya bekerja dari usia muda, awalnya saya selalu ikut ibunda saya saat kecil, sampai saya diangkat menjadi pelayan diusia empat belas tahun," " jelas Elena, membuat Graziano mengerti.


Matanya menyipit, saat ia melihat Matteo tengah berjalan dengan beberapa penjaga dibelakangnya, tanpa pikir panjang Graziano beranjak dari duduknya membuat Elena ikut mengikuti langkah Graziano.


Graziano berjalan sedikit cepat, ia sudah sangat merindukan suaminya.


"Yang mulia,"


Ucapan Graziano berhasil menghentikan langkah Matteo dan penjaganya.


"Hormat kami yang mulia duches." Ketiga penjaga itu memberi hormat pada Graziano.


"Kalian pergilah," titah Matteo pada penjaga dan juga Elena.


Graziano menggigit bibir dalamnya, ia gugup jika didekat Matteo.


"Maaf duke, aku memanggilmu begitu saja tak tahu tempat," ucap Graziano nada bicaranya sedikit bergetar kentara akan kegugupannya.


Matteo menghela napasnya, "aku disibukkan dengan banyak pekerjaan maaf untuk itu," ucapnya.


"Apa aku mengganggumu, jika kau masih ada pekerjaan kau bisa meninggalkanku, tadi aku hanya begitu terlalu antusias saat melihatmu, karena selama tiga hari ini kau tak mendatangiku," tutur Graziano, ia mengeluarkan semua yang bersemayam dihatinya.


Matteo menghela napasnya, jujur saja ia bahkan tak ingat dengan omeganya ini.


"Mari ikut denganku duches, ada sesuatu yang harus kita bicarakan." Matteo membawa Graziano ke pavilliun daisy.


Sengaja ia mengajak Graziano kemari, agar tak ada yang menguping pembicaraannya.


"Duduklah," ucap Matteo.

__ADS_1


Graziano duduk lesehan dihadapan Matteo, keduanya hanya dipisahkan oleh meja kecil.


"Duches ...


"Ya, pembicaraan seperti apa yang duke ingin bicarakan?" tanya Graziano, matanya sirat akan kemurnian yang begitu indah.


"Maafkan aku sebelumnya duches, sudah dari kemarin aku ingin memberi tahumu, aku akan mengangkat selir dihari ketujuh pernikahan kita, kuharap kau menyetujuinya,"


Bagai disiram air panas, rasanya hati Graziano mendidih saat mendengarnya, jadi Matteo ingin mengangkat selir dihari ketujuh pernikahannya, bahkan Graziano belum sepenuhnya mengenal Matteo, keduanya belum pernah tidur bersama, dan sekarang suaminya ingin selir?


Graziano menelan saliva-nya, "dari bangsawan mana gerangan submisif yang kau inginkan duke?" tanyanya.


Graziano harus menerima risiko menjadi istri utama seorang pemimpin wilayah, wajar jika Matteo ingin selir walau nyatanya hatinya perih karena mereka masih terbilang pengantin baru.


"Dia bukan putri bangsawan, dia hanya putri dari pasangan saudagar biasa," ucap Matteo.


Graziano terhenyak mendengarnya, "apa yang mulia duke tak ingin submisif bangsawan seperti ..."


"Tidak, aku hanya ingin dia. Kau sebagai pasangan sah ku, harus mau menerima dia sebagai selirku, namanya Yian dia tak memiliki marga karena statusnya yang hanya seorang anak dari saudagar biasa," sela Matteo.


Graziano meremat celananya, ia mengulas senyum tipis. Tiga hari ia ditinggalkan, dianggurkan dan saat bertemu suaminya mengatakan akan mengangkat selir, suatu penghinaan bagi Graziano, ia yakin akan tersebar rumor yang tidak-tidak.


"Apa tak bisa sesudah sebulan pernikahan, maksudku ini terlalu dini akan terjadi rumor tak mengenakan dikalangan keluarga, dan pihak luar." Graziano berucap lembut, berusaha memberi pengertian.


"Rumor keluarga atau kau yang tak menerima?" Matteo menatap dingin omega dihadapannya.


"Jika dia dari kalangan bangsawan mungkin tak terlalu sulit, tapi duke sendiri tahu jika dia ... "


"Jadi maksudmu dia orang rendahan?"


Lagi-lagi ucapan Graziano disela, bukan itu maksudnya, ia hanya sedikit memikirkan nasibnya yang akan menerima rumor buruk nantinya.


"Dia perempuan baik dan cantik, tak ada larangan duke yang tak boleh memiliki selir dari kalangan biasa. Setelah ini belajarlah lagi duches, agar kau mengerti dan tak merendahkan orang. Pergilah pembicaraan selesai aku hanya ingin memberi tahumu, karena menghargaimu sebagai duches, soal izin aku tak perlu izinmu," ucap Matteo telak, Graziano menggigit bibirnya, ia hanya mengangguk.


"Baiklah, aku pergi." Graziano berpamitan dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


Hatinya sakit, apa Matteo tak memikirkan perasaannya?

__ADS_1


__ADS_2