Duke's life prophecy

Duke's life prophecy
9


__ADS_3

"Duke aku sudah memeriksa pengeluaran dari tahun kemarin, setiap bulannya terus saja melonjak naik. Aku ingin memintamu untuk melihatnya." Graziano memberikan buku keuangan ditanganya.


"Kau sudah minta maaf yang benar pada Selir Yian?" Matteo merima buku itu.


"Yang mulia, saat ini kita sedang tidak membicarakan itu," ujar Graziano, padahal kemarin ia sudah meminta maaf walau dengan terpaksa ia harus merendahkan diri meminta maaf pada sesuatu yang bukan salahnya.


"Tapi aku ingin membahas itu," imbuh Matteo.


"Duke, saat itu aku langsung meminta maaf pada Selir Yian, dan saat ini mari fokus pada keuangan keluarga kita. Jika ini terus dibiarkan, maka para lintah penghisap itu akan merasa aman," tutur Graziano, lama-lama ia akan habis kesabaran dalam menghadapi dukenya.


"Baiklah, aku akan memeriksanya. Dan jika benar ada penggelapan dana, maka bersiaplah Duchess kau akan menjadi penuntut," ucap Matteo.


Graziano mengangguk, ia tak akan membiarkan para lintah itu terus menghisap.


Hanya keheningan, Graziano tak bicara kembali membiarkan Matteo fokus pada lembaran kertas yang ia berikan.


"Duchess, apa pengeluaran bulan ini benar-benar segini?" Matteo bertanya.


"Eum, karena bulan ini banyak perayaan yang duke lakukan," sahut Graziano.


Matteo kembali fokus, ia cukup terkejut banyaknya pengeluaran yang begitu banyak dan besar, selama ini ia tak begitu memperhatikan.


Rahang Matteo mengeras saat menemukan kejanggalan, benar apa yang dikatakan istrinya, ini semua tak wajar.


"Besok kau harus ikut keruang persidangan, mari kumpulkan orang-orang yang bekerja di dapur, aku akan mengirim mereka ke kaisar jika sampai itu benar terbukti," ucap Matteo, kentara jika ia menahan kekesalan.


"Baiklah, aku akan datang. Duke, aku akan pergi ke rumah utama, terima kasih sudah meluangkan waktu." Graziano beranjak dari duduknya.


"Duchess." Matteo tak membiarkan Graziano pergi.


"Ya, apa ada sesuatu lagi yang harus di diskusikan?" tanya Graziano.


"Tidak, hanya saja terima kasih sudah membantuku mengurus keuangan dan kau menemukan kejanggalan ini, selama ini aku kurang memperhatikan, sekali lagi terima kasih," ucap Matteo, Graziano tersenyum.


"Ini sudah menjadi tugasku sebagai Duchess, kau tak perlu sungkan. Jika ada sesuatu yang bisa kubantu, dan kau ingin berdiskusi, kau bisa datang atau memanggilku yang mulia," tutur Graziano.


Graziano mengumbar senyum manisnya, Andai jika Matteo bertemu dengan Graziano lebih awal mungkin ia jatuh cinta pada paras dan tutur kata sopan itu, bagaimana ia berkata dengan lembut, bertingkah laku layaknya bangsawan, paras yang begitu manis tapi cintanya sudah habis untuk Yian, rasanya tak ada lagi ruang untuk yang lain, bahkan ia tak berniat untuk menambah selir lagi.


"Yang mulia, aku ingin meminta izin padamu," ucap Graziano membuat kesadaran Matteo yang terhanyut kembali.

__ADS_1


"Aku dan Elena ingin pergi ke ibu kota, Elena bilang di sana ada pameran, aku ingin membeli banyak kerajinan seni, apa boleh?" tanya Graziano.


"Dimalam hari?" tanya Matteo.


"Ya, itu diadakan malam hari. Aku berjanji akan membawa beberapa penjaga, dan juga ak...


"Mari pergi bersama," sela Matteo, senyuman Graziano semakin mengembang.


"Mari, aku akan cepat bersiap. Aku akan menunggumu yang mulia," ucap Graziano.


Matteo suka, ia sangat suka senyuman itu rasanya ingin sekali setiap saat ia melihatnya, ia tak suka wajah muram Graziano seperti kemarin dimana keributan terjadi dengan Yian.


"Aku kembali dulu, sampai jumpa yang mulia." Graziano melangkah pergi, senyuman itu tak luntur dari wajahnya, ia sangat senang akhirnya ia bepergian dengan alphanya.


Matteo mengulas senyum tipis, ia akui Graziano tak pernah marah atau mendiaminya begitu lama jika sudah bertengkar, ia pikir Graziano akan mendiami karena masalah kemarin.


Di sinilah Duke dan Duchess itu berada, di ibu kota tepat dimana pameran diadakan, saat ini Graziano tengah memilih-milih kerajinan seni dari anyaman.


"Ini mengangumkan, Anda membuatnya dengan sangat baik," cetus Graziano, menatap benda ditangannya dengan berbinar.


"Terima kasih yang mulia telah memuji hasil orang rendahan ini, jarang sekali bangsawan seperti Anda menyukai barang anyaman seperti ini, sungguh saya merasa terkesan," sahut sang pengrajin.


Graziano terkekeh, ia mengambil dua barang anyaman yang menurutnya unik lalu menunjukannya pada Matteo.


"Jika kau menyukainya, maka beli lah," ucap Matteo, yang diangguki sang omega.


Setelah membeli benda-benda unik itu,


keduanya pergi untuk melihat pertunjukan


musik.


"Kau menyukai pameran seperti ini?" tanya Matteo, ia duduk disamping Graziano yang tengah menatap pemusik yang memainkannya dengan lihai.


"Sangat, aku sangat menyukainya. Dulu aku juga pernah belajar memainkan lyra, itu sangat menyenangkan," celoteh Graziano terus membahas berbagai jenis alat musik.


Matteo hanya mendengarkan walaupun ia tak mengerti, karena sejak remaja yang ia pelajari hanya pendidikan strategi perang, bela diri, cara menggunakan pedang dan semacamnya.


"Duchess, aku ingin pergi sebentar jangan kemana-mana, hanya tunggu, aku akan pergi sebentar," ucap Matteo tiba-tiba.

__ADS_1


"Baiklah aku akan menungumu," ucap Graziano, membiarkan Matteo perti sedangkan ia kembali menikmati alunan jada lyra yang sangat indah.


Graziano mungkin melupakan masalah kemarin, tapi ia tak akan melupakan perbuatan Yian, dengan perlahan ia akan merebut hati duke. Ia sangat senang saat Matteo mengajaknya kemari, ia pikir ia akan pergi dengan Elena.


Hanyut dalam alunan musik, sampai Graziano tak sadar jika Matteo pergi sudah cukup lama, ia mengedarkan pandangannya tak ada Matteo di sudut manapun.


Dengan hati gelisah, ia beranjak dari duduknya. Matteo berjanji hanya pergi sebentar, tapi ia belum kembali sampai pertunjuk musik selesai.


Graziano berjalan tergesah, ia mencari-cari Matteo di banyaknya orang-orang yang datang, ini sangat sulit.


"Arghh... maaf!" pekik Graizano tak sengaja menginjak kaki seseorang, "maafkan saya, saya benar-benar tak sengaja," ucapnya.


Tangannya meremas mantelnya, saat pria dihadapannya menatapnya dingin. Graziano yakin orang dihadapannya bukan orang biasa, terlihat dari pakaian yang ia kenakan, mantel sutra yang begitu mahal.


"Tak bisakah pria kecil sepertimu, jalan dengan hati-hati?" ucapnya, suara beratnya membuat Graziano takut.


Demi Tuhan ia berharap Matteo segera menemukannya, yang ia takutkan pria dihadapannya adalah penjahat atau penyusup,yang akan membakar pasar pikirannya sudah liar.


"Apa tampangku seperti penjahat, sampai kau meremas mantelmu seperti itu?"


Graziano mendongak, tatapan keduanya bersi bobrok. Rahang tegas itu, dan mata tajam itu, benar-benar menambah kebringasan dalam pikiran Graziano.


"Putra mahkota, maafkan kami.. kami terlambat. Barang yang Anda inginkan sudah habis."


Mata Graziano membola, putra mahkota? Rasanya jantungnya akan melompat keluar saat beberapa orang berpakaian pengawal itu menghampiri pria dihadapannya, dengan sebutan putra mahkota.


"Mohon ampuni kebodohan saya yang tak mengenali Anda, saya benar-benar tak mengenali wajah Anda putra mahkota." Graziano menunduk memberi hormat, jujur saja ia takut. Ini pertama kalinya ia berpapasan dengan putra mahkota, selama ini yang ia tahu putra mahkota tinggal di asrama tengah mengenyam pendidikan.


"Angkat kepalamu, ini bukan masalah besar. Kakiku tak patah jika hanya di injak oleh pria kecil sepertiku," ucap putra mahkota.


"Sekali lagi maafkan saya yang mulia, saya bisa menerima hukuman apapun,"


Putra mahkota terkekeh, baru kali ini ia mendengar seseorang rela dihukum karena tak sengaja menginjak kaki, bahkan para menteri yang korupsi saja memohon membela diri untuk tak dihukum.


"Tidak, tapi bisakah kau ganti rugi?" Putra mahkota melirik anyaman yang dibawa Graziano, "aku ingin itu." Tunjuknya.


Graziano memegang erat anyaman ditangannya, sebenarnya ia tak rela memberikannya, ia sangat menyukainya.


"Sebenarnya saya sangat menyukai anyaman ini yang mulia, tapi karena Anda meminta dan menginginkannya juga, maka ambillah." Graziano memberikan anyamannya, "tolong jaga dengan baik, karena barang ini sangat indah," ucapnya.

__ADS_1


"Tentu aku akan menjaga sesuatu yang indah, sampai jumpa kembali."


Graziano diam, melihat kepergian putra mahkota dan beberapa pengawal yang mengekorinya dari belakang. Mimpi apa ia semalam, bisa bertemu putra mahkota dipameran.


__ADS_2