
Graziano mengusap lehernya yang sudah diberi tabir dari tabib, perbuatan Matteo berbekas.
Graziano termenung, sekarang ia tak memiliki cara apapun untuk membantu keluarganya. Kaisar? Pemimpin yang ia pikir bijaksana itu, nyatanya hanyalah sebuah angan.
Bagaimana keadaan orang tuanya? Bagaimana jika mereka terkena wabah mengerikan itu, Graziano putra tunggal dari duke bagian timur itu hanya diam dan tak memberi bantuan apapun, apakah pantas ia menjadi seorang putra bangsawan? Ia terlalu lemah.
"Yang mulia." Elena menghampiri Graziano, ia menundukan kepalanya.
"Ada apa?" tanya sang Duchess.
"Duke mengerahkan para penjaga dan beberapa tenaga medis milik keluarga Lareon untuk berangkat ke Gardenia bagian timur, Duke benar-benar mengeluarkan pemberontakan pada Kaisar, menurut kabar yang saya tahu, akan ada kontroversi dan ada dua pendukung, antara pendukung Duke dan Kaisar," tutur Elena menjelaskan apa yang ia tahu.
Graziano meremat seprai, ia tak habis pikir jika keinginannya benar-benar menentang Kaisar, ini akan memicu pertumpahan darah, Kaisar akan merasa tak dihargai, dan tindakan Matteo sangat melawan Kaisar.
"Dimana Duke sekarang?" tanya Graziano.
"Duke sedang dibarak bersama dengan kemiliteran pimpinannya, ia benar-benar tengah menyiapkan segalanya," ucap Elena.
Tampa pikir panjang Graziano beranjak, ia dengan tergesa pergi. Apa yang Matteo lakukan pasti itu karenanya, ia yang telah melakukan kekacauan ini.
Grazino pergi diantar kereta kuda, barak lumayan jauh jika ditempuh dengan jalan kaki, Graziano tak memiliki kesabaran untuk berjalan ke sana.
Saat sampai dibarak, ia dapat melihat banyak penjaga yang tengah latihan, dengan berbagai senjata perang.
Graziano mengedarkan pandangannya saat turun dari kereta, ia mencari-cari keberadaan Matteo.
"Jangan remehkan kekuatan lawan!"
Suara itu, Graziano segera melangkah mencari sumber suara keras itu, yang ia yakini suara Matteo. Dan benar saja, Matteo tengah melatih beberapa pria dengan wajah tegasnya.
__ADS_1
"Duke." Graziano menghampirinya, dengan ragu memanggil Matteo.
Matteo menggulir matanya, keningnya mengerut. Sedang apa omeganya dibarak?
"Boleh aku bicara?" tanya Graziano.
"Selesaikan latihannya, aku akan pergi dulu!" teriak Matteo pada orang-orangnya.
Ia membawa Graziano ke tenda, dibenaknya penuh tanya tentang kedatangan Graziano.
"Ada apa kau sampai kemari?" Graziano menunduk takut. tanya Matteo,
"Ak-aku hanya ingin membicarakan tentang masalah yang ku dengar," ucap Graziano.
"Bicaralah, dan tatap lawan bicaramu," ucap Matteo, membuat Graziano langsung mendongak. Seumur hidup, Graziano selalu berpegang teguh dan kepribadian tenang, tapi entah kenapa jika bersama Matteo ia selalu merasa takut dan jantungnya tak berhenti berdetak cepat, seakan akan meledak jika ia menatap Matteo terlalu lama.
Matteo menghela napas, "menurutmu, apa perbuatanku ini sebuah pemberontakan?" tanyanya.
"Tentu saja, kau melanggar perintah Kaisar, dan ini akan membuahkan kontroversi dari berbagai pihak, Duke jika ini akan membahayakan kedudukan dan Gardenia barat ini, lebih baik hentikan, aku akan memikirkan cara lain untuk membantu Gardenia timur," tutur Graziano.
Matteo terkekeh, menurutnya Graziano terlalu tak konsisten dengan keinginannya sendiri, bukankah ini keinginan Graziano dari awal? Ia yang membantu Gardenia timur.
"Jangan membuatku bingung Duchess, bukankah ini keinginanmu?" Matteo berucap dingin, membuat atmosfer ditenda ini menjadi terasa menegangkan.
"Bukan begitu, aku masih sangat ingin membantu tempat kelahiranku, hanya saja tidak dengan cara ini, aku tak mau ada kekacauan ditempat kelahiran suamiku," ucap Graziano, membuat Matteo membuang pandangannya. Suami? Demi Tuhan, Matteo merasa panas diwajah dan telinganya saat mendengar kata itu.
"Putra mahkota berbeda dengan Kaisar, kita bisa memintanya untuk membujuk Kaisar, dan sebentar lagi dia akan diangkat menjadi Kaisar, bukankah itu hal yang bagus, ditambah kau yang memiliki ikatan pertemanan dengan Putra mahkota?" Graziano berucap dengan enteng, seakan ucapannya sudah benar, tak sadar jika alphanya mendengus tak suka.
"Tak ada, aku tak setuju. Putra mahkota darah daging Kaisar, mana mungkin seorang anak melawan ayahnya, lagipula Putra mahkota terlalu lemah jika melawan Kaisar," ucap Matteo, ia tak suka saat Graziano menyebutkan Putra mahkota, ucapan Yian pada malam kemarin masih tertanam diotaknya.
__ADS_1
"Duke... kumohon, pikirkan dampak dari pemberontakan yang akan kau lakukan," ucap Graziano.
Matteo menghembuskan napasnya, ia sama sekali tak berniat memberontak, hanya saja bukan hal tak mungkin ia akan disudutkan dalam pertemuan bersama Kaisar nanti, mungkin saja akan ada penyerangan pada daerah pimpinannya, Kaisar itu tak bisa ditebak.
Ia melakukan pelatihan keras dibarak, untuk penjagaan dan merekrut banyak tenaga medis agar ia memiliki aset, karena dalam pertempuran harta sesungguhnya adalah tenaga medis, jika mereka lemah dan tiada, maka semuanya juga akan ikut tiada.
Matteo masih mempertimbangkan rencana pemberontakannya, ia sudah berjanji pada ayahnya tidak akan mengungkit dan meminta haknya. Ia bukan orang yang gila akan kekuasaan dan tahta, hanya saja jika suatu saat Kaisar tak bisa berbuat adil selayaknya pemimpin ia bersumpah akan merebutnya, akan memberi tahu dunia jika Kaisar yang duduk disinggasana itu hanyalah orang yang dengan beruntung menggenggam Gardenia.
"Apa menurutmu jika aku memberontak akan menang?" tanya Matteo tiba-tiba.
"Duke..."
"Jika aku melakukan pemberontakan, apa aku akan menang dan menggantikan Kaisar?" Matteo berucap datar, seakan tak bersungguh-sungguh atas ucapannya.
"Duke, kau yakin akan memecah hubungan baikmu dengan Kaisar dan juga apa alasanmu memberontak? Apa hanya karena Kaisar tak bijaksana dalam menanggapi kasus wabah di Gardenia timur?" rentetan pertanyaan Graziano membuat Matteo mengepalkan tangannya, bukan hanya itu alasan ia ingin memberontak, banyak kisah kelam Kaisar lakukan. yang sudah
Graziano mengusap bahu Matteo, ia takut dengan ekspresi mengeras Matteo, kentara jika Matteo menahan amarah.
"Aku selalu mendukung apa yang kau putuskan, hanya saja tolong pikirkan dampak negatif dari pemberontakan. Kita akan kehilangan semuanya jika kalah, Kaisar bukanlah orang yang dapat diremehkan." Graziano berucap lembut, tak ingin memancing amarah Matteo.
"Lalu bagaimana orang tuamu Duchess, bukankah kau tak akan membiarkan mereka diperlakukan tak adil?" Matteo menatap Graziano.
Graziano memejamkan matanya, ia sangat takut kehilangan kedua orang tuanya, tapi ia juga tak mau jika sampai Matteo melakukan pemberontakan.
"Mari buat rencana lain, tanpa melibatkan nama keluargamu," ucap Graziano.
Matteo mengangguk, seharusnya dari awal ia berdiskusi dengan Graziano. Ia mungkin lebih pintar dari omeganya, hanya saja pembawaannya dengan amarah membuat langkah yang akan ia pilih salah, tapi bersama Graziano yang memiliki ketenangan ia bisa berbagi, dan memiliki partner yang cocok.
"Janganlah dulu pulang ke rumah, tunggulah sampai matahari naik dan latihan selesai, kita mengadakan rapat dan kau harus ikut membantuku dan memberikan pendapatmu," ucap Matteo, yang diangguki Graziano.
__ADS_1