
Empat hari setelah hari itu, Graziano benar-benar bersikap dingin pada Matteo. Ia bahkan tak peduli dengan permintaan maaf Matteo, yang sudah memuakkan ditelinganya.
Yian semakin menjadi-jadi, bahkan ia beralasan tak ingin ditinggalkan oleh Matteo karena keinginan bayinya.
Kebencian Graziano pada Selir Yian semakin besar, bak budah lautan yang siap kapan saja menyapu pavilliun ilichi.
Pena yang tengah ia pegang sudah membuat sebagian kertas diatas meja itu menghitam karena tintanya.
"Yang mulia, apa Anda membutuhkan sesuatu?" Elena bertanya, ia mengkhawatirkan Graziano yang akhir-akhir ini banyak diam.
Graziano tersadar ia menyimpan penanya, lalu membuang kertas yang sudah bertinta itu.
"Elena, apa menurutmu harga pangan dibagian barat ini begitu besar?" tanya Graziano, karena ia menemukan kejanggalan saat menerima laporan keuangan dari bagian dapur.
"Yang saya Tahu harga pangan dan kebutuhan lainnya, tak jauh berbeda dengan Gardenia bagian timur," ucap Elena.
Graziano mengangguk, ia akan menelusuri soal ini. Bagaimana bisa pengeluaran disetiap bulannya begitu besar, setiap bulannya bertambah. Semalam bahkan ia harus memeriksa semua laporan keuangan dari tahun lalu, dan itu banyak kejanggalan.
"Pengeluaran sangat boros, aku akan membicarakan ini dengan duke," ucap Graziano.
"Menurut saya, pengeluaran yang banyak karena akhir-akhir ini yang mulia duke mengadakan pesta besar-besaran terus-menerus," tutur Elena, yang berhasil membuat Graziano diam beberapa saat.
Apa yang Elena katakan ada benarnya, pantas saja jika pengeluaran bulan sekarang begitu banyak, itu karena Matteo sudah berkali-kali mengadakan pesta. Tapi soal beberapa bulan ke belakang, ia harus tetap membicarakannya dengan Matteo, karena mau bagaimanapun sekarang soal keuangan ia yang mengatur setelah Matteo memberinya kepercayaan akan hal itu.
"Apa Selir Yian masih terus datang ke pavilliun daisy?" Mata Graziano menatap jendela kamar yang terbuka.
"Yang saya dengar, Selir Yian terus membuntuti kemanapun duke pergi. Bahkan Selir Yian berkali-kali menghalangi duke untuk pergi ke ibu kota untuk menemui kaisar, itu yang saya tahu dari beberapa pelayan sana," jelas Elena.
Graziano bangkit dari duduknya, ia memakai mantelnya.
"Ayo temani aku ke pavilliun ilichi." Graziano melangkah keluar yang diekori Elena.
Seperti biasa, siapapun yang melihat Graziano akan terkagum ditambah feromon vinus yang terasa menyegarkan, tak ayal banyak orang-orang rumah dan pavilliun selalu berdecak kagum padanya. Ia berjalan melewati pengawal dan para pelayan, semua menunduk hormat.
Graziano tak pernah menunduk saat berjalan, kentara jika ia memiliki harga diri yang dijungjung tinggi, dan kewibawaan yang tak luntur dari seorang duchess Gardenia bagian barat ini.
"Yang mulia duchess akan masuk, buka pintunya," ucap Elena, pada pengawal yang berjaga.
Titah seorang duchess sama dengan halnya titah duke, mereka segera membuka pintu.
__ADS_1
"Katakan pada Selir Yian, Tuanku duchess ingin menemuinya." Elena berkata pada Krisya yang ia temui saat pintu dibuka.
Kedatangan Graziano ke pavilliun ilichi, menjadi hal yang begitu menggemparkan bagi penghuni di sana, karena ini pertama kalinya duchess menginjakkan kaki dipavillun ilichi.
"Yang mulia Duchess, kau kemari. Ada apa kau kemari?"
Graziano tetap dengan ekspresi biasanya, saat pertanyaan yang begitu tak sopan terlontar dari mulut kecil Yian yang menghampirinya.
"Hanya ingin menjenguk Selir suamiku, orang-orang mengatakan Selir Yian mengalami kontraksi," sahut Graziano lembut.
Yian tersenyum, "ya duchess, saat itu perutku sakit. Sampai pelayanku harus memanggil Mat- maksudku yang mulia duke, maaf mengganggu waktu kalian waktu itu," jelasnya.
Matteo? Ya Tuhan, orang rendahan dihadapannya benar-benar definisi rendahan yang nyata, kasta dibawah dan pola pikir yang juga dibawah, dua kata yang Graziano simpulkan tentang Selir Yian, tak berpendidikan.
"Kau tak ingin menjamuku, Selir Yian. Ku dengar kau sering mengajak duke memasak," celetuk Graziano, tutur katanya tak pernah gagal dalam hal menyinggung Yian.
"Tentu, duduklah dengan nyaman. Aku memiliki makanan yang harus kau cicipi, itu terbuat dari strawberi, bukankah kau sangat menyukainya?" Yian mengumbar senyuman manisnya, jujur saja itu membuat Graziano semakin muak. Tujuannya kemari hanya ingin memperingati Yian dengan lembut, agar ia tahu batasannya.
"Tidak aku hanya bergurau," Graziano terkekeh, "aku kemari hanya ingin melihatmu saja, aku takut kau dalam keadaan buruk," lanjutnya.
"Boleh tinggalkan kami berdua?" Graziano menatap para pelayan pavilliun ilichi, mereka semua menganguk, segera keluar begitupun Elena, kini tinggal ia dan Yian saja.
"Mari sudahi basa-basi ini Selir Yian, kedatanganku kemari hanya ingin menyadarkanmu, bukan karena apa-apa hanya saja aku takut tak ada yang menyadarkanmu, akan tingkahmu yang akhir-akhir ini sangat berlebihan," tutur Graziano, mengeluarkan segalanya tak peduli dengan wajah me merah Yian.
"Biar kupersingkat, kau hanya seorang selir
jadi kuharap kau kenal apa itu batasan," ucap
Graziano penuh penekanan.
Yian merasa tertekan dengan perkataan Graziano, bibirnya melengkuh lalu turunlah air mata yang membasahi pipinya. Ia terisak, dengan tangan yang meremas gaunnya.
"Apa maksudmu Duchess? Aku sadar aku orang rendahan, tapi perlu kau tahu jika saat ini aku tengah mengandung anak yang mulia," tutur Yian disela isakan, ia terisak pilu sudah seperti jika Graziano tengah mengancam.
"Ya Tuhan, bagaimana cara agar kau mengerti jika aku duchess di sini, aku pasangan duke. Seharusnya kau mengerti Selir Yian." Graziano meremas ujung meja, ia sudah tak bisa mengontrol dirinya bahkan tutur katanya yang selalu sopan lenyap.
"Tapi yang mulia mengatakan dia mencintaiku, aku dunianya, dan aku juga mencintainya. Kenapa Duchess tak mengerti, kami memiliki cinta dalam hubungan ini," imbuh Yian dengan mata merahnya.
"Ku akui aku kalah dalam hal itu, tapi aku berani menjamin jika kau tak ada mungkin aku dan duke sudah bisa memulai dari awal, dan berjuang bersama untuk saling mencintai,"
__ADS_1
"Jadi kau menyuruhku pergi?" Yian menangis dengan begitu keras, sampai para pengawal dan pelayan diluar mendengar tangisannya.
Graziano mengepalkan tangannya, ia menatap Yian nyalang. Ingin sekali ia menarik rambut panjang itu, menyeratnya ke danau dan menenggelamkannya.
"Jangan membuatku geram Selir Yian," tekan Graziano.
"Maafkan aku Duchess, tapi sampai kapanpun aku tak akan mengugurkan bayiku, dan meninggalkan yang mulia!"
Graziano berdiri dari duduknya, kenapa wanita dihadapannya bertingkah konyol, ia hanya mengatakan batasan buka mengusirnya.
Selir Yian bersimpuh dikaki Graziano, ia meraung seakan hatinya begitu sakit.
"Ampuni aku yang mulia, tapi kumohon jangan menyuruhku meninggalkan yang mulia duke, aku sangat mencintainya dan kami tengah menunggu kelahiran anak kami, yang mul..."
Brak
Pintu dibuka dengan sangat keras membuat Graziano tersentak dan ucapan Yian yang tergantung.
"Apa yang kau lakukan Selir Yian, kenapa kau bersimpuh dihadapannya?" Matteo, ya orang yang membuka pintu dengan begitu keras adalah Matteo, ia menatap kedua omega itu bergantian.
Matteo menghampiri keduanya, ia membantu Yian berdiri dan menatap dingin pada Graziano.
"Aku tak melakukan apapun," bela Graziano, membela dirinya dari tatapan menusuk itu.
"Apa kau sering membolos saat sekolah kebangsawanan Duchess? Bagaimana bisa kau membuat seorang omega yang tengah mengandung bersimpuh," ucap Matteo.
"Tolong dengarkan penjelasanku yang mulia, aku tak memintanya bersimpuh, dia sendiri yang melakukannya,"elak Graziano, emosinya tersulut dengan perkataan pedas Matteo.
"Ya, tapi kau membiarkannya. Jangan terus mengelak Duchess, aku mendengar dengan telinga ku sendiri, bagaimana Selir Yian memohon padamu, kau menyuruhnya pergi dan mengugurkan bayi kami. Sebenarnya apa yang kau pikirkan?" Matteo melangkah lebih dekat pada Graziano.
"Aku hanya menjelaskan batasanya sebagai seorang selir, aku hanya menegaskan hakku.. shh.." Graziano meringis, saat tanganya dicengkram kuat oleh Matteo.
"Seharusnya kau yang harus tahu akan batasanmu, aku menikahimu karena ramalan itu yang telah kaisar percayai, sedangkan Selir Yian, dia kekasihku, dan dia calon ibu dari anakku," Matteo menatap mata berkaca-kaca Graziano, tak ada kilau indah di sana, "apa kau sekarang paham Duchess yang terhormat?" ucapnya.
"Ya, aku paham yang mulia, maafkan aku telah menyakiti selirmu, tapi mohon lepaskan tanganku, ini menyakitkan," lirih Graziano diakhir, hatinya sakit tapi tangannya juga sakit.
"Selir Yian, maafkan aku. Jika suatu saat aku melakukannya, adukan saja pada duke aku akan menerima hukuman darinya, aku pergi maaf mengganggu." Graziano pergi dengan tergesah meninggalkan sumber rasa sesaknya.
Ia berjalan dengan air mata yang mati-matian ia bendung, dadanya sakit. Kenapa Matteo tak bisa mendengar penjelasannya, apa segitu butanyakah suaminya itu karena cintanya pada selir?
__ADS_1
Graziano tidak kembali ke rumah utama, melainkan ia pergi ke kebun strawberi.
Ia duduk didusun tempat biasa pengurus kebun berteduh.