Duke's life prophecy

Duke's life prophecy
6


__ADS_3

"Pelayan akan membawakan beberapa kue kering kemari, maaf kupikir kau tak jadi bermalam di mari duke," ucap Graziano, tutur katanya selalu sopan bahkan ia tak pernah menyebut nama suaminya sendiri.


"Ini pertama kalinya aku bermalam di sini," sahut Matteo, keduanya duduk berhadapan. Ada rasa canggung yang mengalir di diri masing-masing, karena baru kali ini Matteo bermalam dikamar omeganya.


"Apa yang kau lakukan disaat waktu luang duches?" tanya Matteo.


"Hanya membanca buku, atau menerima laporan dari para kepala pelayan pavilliun, lalu memasukan laporan keuangan dari bendahara dapur," jelas Graziano, hari-harinya memang dihabiskan dengan hal-hal seperti itu. "Dan ya, akhir-akhir ini aku sangat menyukai pergi ke kebun strawberi," lanjutnya.


Matteo mengangguk mengerti, sebenarnya ia ingin tahu lebih jauh tentang Graziano, tapi entah mengapa seakan ada tembok besar yang tak bisa ia tembus.


Tok


Tok


"Aku akan membuka pintu, itu pasti pelayan yang membawa cemilan." Graziano beranjak saat mendengar pintu diketuk dari luar.


Saat pintu dibuka benar saja itu pelayan yang membawakan cemilan, Graziano menerimanya. Ia membawakan kue itu untuk Matteo.


"Sepertinya juru masak didapur tengah asik membuat kue kering dibaluri minyak samin ini," ucap Matteo saat melihat kue yang dibawa Graziano.


"Ah sepertinya benar, karena sudah dua hari ini aku juga memakan kue kering ini," sahut Graziano.


Matteo memakannya, ia memang tak bisa berkata-kata dengan juru masak, buatan mereka tak pernah membuat lidahnya menyukai makanan apapun yang dibuat.


Graziano hanya diam menatap alphanya itu menikmati cemilannya, Matteo memiliki fitur wajah yang tegas, dengan bahu tegap dan dada bidang, benar-benar menambah kadar ketampanan suaminya itu.


"Apa yang tengah duches pikirkan?"


Lamunan Graziano buyar saat mendengar pertanyaan Matteo.


"Tidak, hanya saja aku sangat mengagumimu, kau sangat tampan yang mulia," cetus Graziano, berhasil membuat Matteo tersedak.


"Minumlah, jangan terburu-buru yang mulia." Graziano memberikan secangkir air, yang langsung diminum oleh Matteo.


"Kau tak apa?" ucap Graziano, ia khawatir saat Matteo tersedak. Tersedak karena kue kering sangat tak enak, itu sakit saat menyangkut ditenggorokan.


"Aku tak apa," sahut Matteo. "Mari tidur ini sudah malam," ajak Matteo, yang diangguki sang omega.


Graziano segera membereskan bekas teko dan gelas yang sudah dipakai Matteo, ia menyimpannya dimeja dekat pintu.

__ADS_1


Graziano naik keranjangnya, ia menarik selimut untuk menyelimuti tubuhnya.


"Setiap malam bagiku selalu sepi dan dingin, tapi kali ini terasa hangat," ucap Graziano saat Matteo ikut berbaring disampingnya, "terima kasih duke," lanjutnya, ia mulai memejamkan matanya.


Matteo tersenyum tipis, ia pun ikut memejamkan matanya.


Malam terasa singkat saat ini bagi Graziano, karena ia sudah mendengar suara burung berkicau. Ia mulai membuka matanya perlahan, ia merasakan sesak diperutnya, saat dilihat ternyata Matteo tengah memeluknya.


Dengan perlahan Graziano menyingkirkan tangan Matteo, ia mendudukan dirinya. Matahari sudah menampakkan kehadirannya.


Graziano pergi meninggalkan ranjangnya, ia akan membersihkan dirinya terlebih dahulu sebelum Matteo bangun.


Tak butuh waktu lama, ia sudah selesai. Dan saat kembali ke kamar, ia sudah melihat Matteo baru bangun.


"Kau sudah bangun yang mulia, kau ingin sesuatu? Biar aku meminta pelayan untuk membawakannya," ucap Graziano, ia duduk disisi ranjang.


Matteo menggulir matanya, menatap omeganya yang sudah bersinar dipagi hari, bau manis menguar dari tubuh Graziano. Tanpa sadar ia menarik pinggang sang omega, mengikis jarak diantaranya.


"Kau sangat wangi duches, aku menyukainya." Matteo menghirup ceruk leher Graziano, membuat sang omega berjengit.


"Yang mulia, segeralah membersihkan diri. Kau akan terlambat untuk menemui kaisar," ucap Graziano, ia berusa lepas dari rengkuhan Matteo.


"Bunga apa yang kau gunakan saat mandi?" tanya Matteo, ia masih menikmati posisinya, dimana ia menyandarkan kepalanya diceruk leher Graziano.


"Tidak, aku hanya berendam sebentar," ucap Graziano.


Matteo mengangguk, ia masih ingat bau


feromon Graziano saat lepas kendali diaula,


saat itu ia sangat marah melihat banyak alpha


yang tergoda akan feroman duchesnya, pantas


saja mereka tergoda feromon omeganya begitu


memabukkan, bahkan ia sendiri tak bisa lepas


dari bau ini.

__ADS_1


Matteo mengecupi tulang selangka Graziano, membuat sang omega menggigit bibir bawahnya.


"Yang mulia, hentikan... " Graziano mendorong dada Matteo, tapi kekuatan omega jauh dibawah alpha, itu membuat usaha Graziano sia-sia.


Matteo mengecupi leher Graziano, sesekali menyesapnya membuat lenguhan merdu keluar dari omeganya.


"Yang muliahh... "


Ada sengatan yang membuat tubuh Graziano sensitif, ia melupakan kapan siklus heatnya. Matteo tak berhenti sampai di sana, ia terus menyesap leher sang omega membuat tanda kemerahan di sana.


Matteo semakin merapatkan tubuh keduanya, kini posisi Graziano duduk dipangkuan Matteo, alphanya itu asik menikmati leher dan juga bahunya, bahkan pakaian atas Graziano sudah tak melekat lagi ditubuhnya, itu semua ulah Matteo.


Jiwa alphanya sudah diambil alih oleh nafsu yang membungbung, Matteo bahkan tak peduli dengan rontaan Graziano.


Ia meraup bibir merah muda sang duchess, mengulumnya, menyesap, menyecap rasa manis yang begitu memabukkan. Feromon mint dan feromon bau vinus milik Graziano bercampur membuat nafsu keduanya mengambil alih kewarasan yang semula tinggal secuil.


"Mhhh yang muliahh ... " lenguh Graziano, ... saat tangan hangat Matteo mengusap pinggangnya, Matteo beralih menyesap kedua ****** Graziano yang mencuat seakan meminta untuk dihisap terus-terusan.


Matteo membuka celana yang dipakai Graziano, ia menatap sang omega yang juga menatapnya dengan sayu kentara jika nafsu sudah menguasainya, Graziano yang selalu rapih dimatanya kini tampak kacau dengan bibir yang sedikit bengkak.


Matteo memasukan satu jarinya ke dalam hole sang omega, membuat Graziano meremat blazernya. Ia mengorek-ngoreknya, dengan gaya memutar membuat Graziano prustasi dibuatnya, Matteo seakan tak bosan bermain-main dihole sang istri, ia mulai menambah jarinya lalu mengeluar masukan dengan tempo cepat.


Graziano hanya bisa mendesah, pasrah akan apa yang alphanya lakukan.


"Eumhh... dukehh euhh." ******* lirih Graziano semakin memancing libino Matteo, dengan tergesa ia mengeluarkan jarinya dari hole sang omega, ia membuka pakaianya, mendorong Graziano untuk berbaring diranjang.


Miliknya sudah mencuat siap memasuki hole sang omega, precum terus keluar dari sana.


"Bersiaplah duches." Matteo mencium bibir sang istri, sedangkan dibawah sana, ia tengah berusaha memasukan miliknya, membuat omeganya meringis kesakitan.


"Dukehh...


"Sebentar lagi," ucap Matteo, kembali meraup bibir sang istri, agar rasa sakitnya teralihkan.


"Ahh!"


Matteo tersenyum, saat miliknya masuk. Ia melihat kebawah melihat hole Graziano yang memerah, melahap batang miliknya.


Matteo mendiamkannya untuk beberapa saat, lalu ia memaju mundurkan pinggangnya, mulai menumbuk hole sang omega. Sedangkan Graziano hanya bisa memejamkan matanya, saat titik nikmatnya berkali-kali disundul oleh milik Matteo.

__ADS_1


Keduanya menikmati kegiatan panas dipagi ini, melakukan hal yang sempat tertunda.


__ADS_2