Dungeon Leveling

Dungeon Leveling
Ch.10-Dungeon lantai 0 [2]


__ADS_3

"Apakah benar demikian?" Angeliza bertanya.


"Tentu saja aku tidak berbohong." balas Zaizen.


"Siapa yang memanggilmu kemari?"


"DarkEye, sesosok monster bermata satu dengan kedua sayap di bagian punggungnya."


"DarkEye, Aku tidak pernah mendengar nama itu." Angeliza berfikir, selama ribuan tahun, baru kali ini ia mendengar nama seperti itu.


"Kau tidak mengenalnya?" Zaizen memastikan.


"Ya, aku tidak mengenal nama itu dan ciri-ciri yang kau sebutkan tadi." balas Angeliza.


"Baiklah, setidaknya berikan aku sedikit waktu untuk menyembuhkan diriku." Zaizen berbicara.


Beberapa jam berselang, tubuh Zaizen akhirnya kembali seperti semula berkat Skill Regenerasi Pasif miliknya, sambil memanggang daging burung Ia mulai mengobrol dengan Angeliza.


"Ngomong-ngomong, kenapa umurku tidak bertambah? Bahkan sudah 4 tahun berlalu umurku tetap diangka 19?" tanya Zaizen dengan heran.


"Di Dungeon ini, semua usia benda ataupun makhluk hidup semuanya terhenti, begitupun diriku yang juga berhenti diusia 17 tahun."


"17 tahun?" Zaizen melirik kearah Angeliza.


"Sudah berapa lama kau berada di tempat ini?"


"1945 tahun" balas Angeliza datar.


"1945 tahun!?" Zaizen terkejut mengingat, ciri fisik Angeliza sangatlah normal seperti usia manusia 17 tahun pada umumnya.


Ya, hal itu sangat lumrah kerena, di Dungeon yang Zaizen tempati saat ini, semua objek dan subjek terhenti usianya.


"Yang membuatku bertanya-tanya adalah, bagaimana mereka menciptakan metode seperti ini?" Zaizen mengeluarkan layar hologram miliknya.


"Kau dapat melihatnya kan? Ini seperti Game."


Angeliza yang melihat hal itu hanya terdiam sebentar kemudian menjawab.


"Game, Apa itu? Yang kau perlihatkan itu adalah proyeksi Mana yang sudah dimodifikasi." balas Angeliza.


"Proyeksi Mana? Apakah ini berasal dari Manaku sendiri?" Zaizen memastikan.


"Tentu saja"


"Lalu dengan peningkatan level? Bagaimana menjelaskannya?" Zaizen kembali bertanya.


"Aku tidak tahu maksudmu."


"Maksudku adalah, ketika aku berhasil membunuh Monster diriku tiba-tiba mendapatkan kekuatan." Zaizen kembali menjelaskan.

__ADS_1


"Mungkin karena efek Soul Eater, dimana mereka yang memiliki Skill itu dapat memakan kekuatan yang telah ditaklukkannya, sehingga ketika dirimu membunuh makhluk, kau akan mengambil jiwa makhluk itu hingga dirimu bertambah kuat." jawab Angeliza datar.


"Jika yang dia bicarakan itu benar, mungkin semua manusia yang terpanggil ketempat ini juga memiliki kekuatan Soul Eater." gumam Zaizen.


"Sebenarnya aku ingin mengajukan pertanyaan ini di Awal, bagaimana caraku kembali ketempat asalku?" Zaizen bertanya dengan serius. Dari sekian pertanyaan yang Zaizen keluarkan, pertanyaan terakhir itu merupakan pertanyaan yang paling ia tunggu jawabannya.


"Keluar dari Dungeon ini? Satu-satunya jalan keluar adalah meminta Masterku untuk mengeluarkannya. Namun kasusmu berbeda, kau dipanggil ketempat ini tanpa melibatkan Masterku, dengan kata lain, kau mungkin dapat keluar tapi Aku tidak tahu kau keluar dengan cara apa."


"Mungkin kau dapat bertanya kepada DarkEye yang telah memanggilmu ke tempat ini." Angeliza menambahkan.


"DarkEye, sebenarnya DarkEye juga memberitahuku bahwa jalan keluar dari Dungeon ini adalah dengan menaklukkan setiap lantai." gumam Zaizen sebelum akhirnya menyodorkan daging panggang miliknya.


"Apa kau mau?"


"Malaikat sepertiku tidak memerlukan makanan karena diriku tidak memiliki sistem pencernaan."


"Tidak memiliki sistem pencernaan? Lalu apa yang ada didalam tubuhmu itu?" Zaizen bertanya dengan penuh penasaran.


"Aku tercipta dari cahaya, dan tentu saja tubuhku hanyalah kumpulan cahaya." balas Angeliza datar.


"O... begitu kah." setelah berbicara Zaizen mulai berdiri sambil melakukan peregangan otot.


"Ngomong-ngomong, bagaimana caraku kembali ke Dungeon lantai satu?"


"Satu-satunya cara adalah melewati portal, tapi Aku juga dapat membuka portal sendiri." balas Angeliza datar.


"Membuka portal sendiri? Kalau begitu kirimkan aku ke Dungeon lantai ujung!" Zaizen begitu bersemangat. Mengingat, dirinya sudah 4 tahun tertahan di Dungeon lantai satu, agar dapat menyusul teman-temannya, ia perlu menggunakan kekuatan yang Angeliza miliki.


"Tapi ada syaratnya–"


"Cepat katakan, apa syaratnya!" Zaizen memotong perkataan Angeliza.


"Aku perlu menjalin kontrak dengan mereka yang ada di lantai ujung. Sayangnya, sampai saat ini aku tidak memiliki kontrak dengan siapapun bahkan Masterku sendiri." Angeliza menjelaskan.


Zaizen yang saat itu bersemangat, seketika sirna, setelah mendengar penjelasan dari Angeliza.


"Saat pertama kali kita bertemu, kau pernah berkata mengenai manusia, apakah dulu ada manusia disini?"


"Ya, dulu memang ada manusia di Dungeon ini, namun mereka tidak seperti dirimu, mereka memiliki telinga panjang serta rambut berwarna kuning muda dan mereka menyebutnya dengan sebutan Elf, ada juga manusia yang memiliki ciri fisik pendek dan mereka menyebutnya dengan sebutan Dwarf tapi aku juga pernah melihat ciri fisik yang sama sepertimu namun, mereka lebih mengenal Sihir daripada dirimu dan mereka menyebutnya dengan sebutan Human (Manusia)." Angeliza menjelaskan.


"Human? Bukankah DarkEye mengatakan bahwa kami adalah generasi pertama?" gumam Zaizen kemudian berbicara.


"Human. Sejak kapan mereka ada disini?"


"Bahkan jauh sebelum diriku diciptakan, mereka telah ada disini." balas Angeliza.


"Sial apakah DarkEye berbohong pada kami?" gumam Zaizen sebelum akhirnya bertanya.


"Ngomong-ngomong, berapa jumlah Monster yang tinggal disini?"

__ADS_1


"Jika makhluk hidup yang kau bicarakan, kurasa ada 820.000 termasuk burung yang kau bunuh itu"


"Baiklah, kurasa aku akan tinggal disini untuk sementara waktu, aku ingin meningkatan kekuatan bertarungku agar ketika diriku kembali ke lantai satu, Aku dapat mengalahkan para Monster yang ada disana dengan begitu mudah." Zaizen begitu percaya diri, ia sebenarnya hanya teringat dengan metode yang Gameze ajarkan.


"Sebelum aku memulainya, aku ingin menjalin kontrak denganmu bagaimana, apakah kau menyetujuinya?" Zaizen bertanya dengan penuh semangat. Lagi pula, kapan lagi dirinya dapat menjalin kontrak dengan Malaikat yang memiliki paras menawan.


"Untuk dapat menjalin kontrak, kau hanya perlu menciumku." Angeliza berbicara dengan nada datar.


Lagi-lagi hidung Zaizen berdarah mengingat, kapan lagi ia dapat mencium sesosok Malaikat secara gratis? Ha? Kapan lagi?


"Mem-men-men... menciummu? Tunggu sebentar... aku ingin membersihkan wajahku." Zaizen menjadi panik alasannya, hal itu adalah kali pertamanya ia berciuman.


Setelah melakukan persiapan yang tidak diperlukan, Zaizen mulai menyodorkan bibirnya.


"Tunggu, apa yang kau lakukan?" Tiba-tiba, Angeliza menjaga jarak.


"Tentu saja menciummu." setelah berbicara, Zaizen kembali menyodorkan bibirnya.


"Ya, kita akan melakukan ciuman tangan, jadi ciuman seperti itu tidak diperlukan." balas Angeliza dengan muka datar.


Sontak perkataan itu membuat semangat ksatria yang Zaizen miliki tiba-tiba menghilang.


"Ha? Ciuman tangan?"


"Ya. Ciuman tangan, yang kita perlukan hanyalah menggabungkan kedua tangan kita." Angeliza menjelaskan.


"O...jadi seperti itu ya, sungguh tidak mengasyikan." Zaizen memasang muka kecewa.


Waktu berjalan begitu cepat.


Setelah menjalin kontrak dengan Angeliza, Zaizen mulai meningkatkan level miliknya dengan membasmi Monster-monster yang ada di sana.


Di minggu pertama, Zaizen mengalami kesulitan, walaupun demikian, Zaizen tetap optimis.


Di minggu berikutnya, Zaizen menemukan metode baru.


Satu bulan berlalu, Ia telah bertarung dengan berbagai macam Monster yang ada di sana walaupun terkadang ia mengalami kekalahan.


Di bulan kelima, Zaizen sudah cukup mahir bertarung menggunakan pedang.


Hingga sudah satu tahun lamanya, Zaizen berlatih seorang diri dengan didampingi oleh Angeliza, kini Zaizen telah banyak berubah. Perubahan yang paling mencolok adalah penampilan serta Skill yang ia miliki juga sudah bertambah.


"Yah... tak terasa sudah satu tahun diriku melewati Neraka keduaku, walaupun Monster disini memiliki level yang beragam, setidaknya diriku cukup kuat untuk membasmi semua Monster yang ada di lantai satu, termasuk Boss Monster dengan level 100 itu." Zaizen berbicara dengan nada percaya diri.


Bukan tanpa alasan, Zaizen saat ini telah menginjak level 200 lebih berkat perjuangan yang sangat melelahkan.


"Angeliza, ayo kita pergi ke lantai satu!"


"Baik." Angeliza menjawab dengan nada datar.

__ADS_1


__ADS_2