
"Pecahan Fragment? Sebuah keajaiban? Kau pikir aku akan percaya begitu saja... dasar sistem sampah!" sembari mengistirahatkan tubuhnya sejenak, Zaizen memandang kearah Kazeki dan Keinara yang sudah lama mematung.
"Kenapa kalian diam saja? Bukankah seharusnya kalian senang?" Zaizen bertanya dengan nada polos.
Mereka berdua baru saja melihat kejadian yang sangat gila, mulai dari Zaizen yang terkena serangan fatal dan ia masih dapat berdiri santai, muncul perisai tak kasat mata yang mampu menahan serangan dari DarkEye dan yang terakhir adalah kekuatan yang dimiliki Zaizen sangatlah tidak masuk akal. Mana mungkin mereka dapat bersikap tenang setelah menyaksikan kejadian itu.
Sambil mengatur nafas, Kazeki sekali lagi mengajukan pertanyaan, "Zen. Jawab aku dengan jujur! Siapa kau sebenarnya!?"
Zaizen tersenyum tipis. Ia bahkan tidak menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Kazeki. Malahan, Zaizen bertanya balik dengan pertanyaan yang membuat mereka menjadi waspada.
"Jika aku bukan manusia, kalian akan menyebutku apa!?"
"Monster" tanpa sadar, Kazeki berbicara seperti itu.
Mendengar hal itu, Zaizen kembali berdiri menghadap Kazeki dan Keinara dengan tatapan yang tidak biasa.
"Monster!?" Zaizen menatap tajam kearah Kazeki dan Keinara "Ya, Aku memang Monster, dan sekarang Aku akan memakan kalian seperti ini."
Zaizen mulai memperlihatkan aksinya dengan memakan tangan kanannya sendiri dihadapan Kazeki dan Keinara. Sebenarnya Zaizen hanya ingin bercanda.
"A-Apa!? Dia memakan tubuhnya sendiri!? Dia benar-benar Monster!" Tubuh Kazeki menjadi gemetar setelah menyaksikan hal itu, bukan gemetar karena ingin melawan, justru gemetar karena ketakutan.
"Kiyaaaaaa!" Keinara yang tidak kuat melihat aksi Zaizen seketika pingsan.
Melihat hal itu, Kazeki segera berjalan melindungi Keinara sambil mengacungkan pedang dengan penuh gemetaran.
"A-Apa yang kau lihat! Dasar Monster sialan! Lihat aku! Saat ini lawanmu adalah aku!" Kazeki berbicara dengan nada lantang yang sebenarnya dipenuhi oleh rasa ketakutan.
Melihat suasana sudah menjadi tegang, Zaizen mulai mencairkan suasana dengan tertawa.
"Hahahaha... maaf-maaf tadi itu hanya bercanda!" Zaizen tertawa lepas sambil berguling-guling dengan penuh air mata yang mengucur deras.
"Sudah lima tahun lebih diriku tidak bercanda dengan sesama manusia, ternyata rasanya masih sama." gumam Zaizen.
Kazeki yang mendengar hal itu menjadi bingung.
"B-bercanda katamu? Yang benar saja! Aku hampir menebasmu dengan pedangku!" Kazeki berbicara dengan tubuh gemetar. Ya, Kazeki masih merasa takut kepada Zaizen.
"Terkadang, bercanda itu juga diperlukan agar otak kita kembali segar" balas Zaizen polos.
Segera, sikap kewaspadaan Kazeki perlahan menghilang setelah mendengar perkataan Zaizen barusan.
"Dasar b0d0h! Jika ingin bercanda, lihat dulu situasinya! Lagi pula, bercanda mu terlalu mengerikan untuk disebut sebagai bercanda!" sahut Kazeki dengan penuh kekesalan.
"Hahahah... maaf-maaf tadi itu ... lupakan saja!"
"Mana mungkin aku melupakannya begitu saja dasar B0d0h!" balas Kazeki kesal.
__ADS_1
Beberapa saat setelahnya, Keinara kembali tersadar.
"Aku masih hidup? Apakah Monsternya sudah pergi?" Ketika Keinara kembali menatap kearah Zaizen, ia mulai menjerit hingga akhirnya kembali pingsan.
"Kiyaaaaaa! Monster itu masih disini!!" teriak Keinara kemudian kembali pingsan.
Zaizen yang melihat hal itu seketika bertanya-tanya. "Kenapa dia kembali pingsan? Bukankah aku sudah mengatakannya, bahwa aku sedang bercanda!?"
"Dasar B0d0h! Mana mungkin dia tahu! Kau mengatakan hal itu saat Keinara belum tersadar!" Kazeki kembali mengumpat kesal.
"Baiklah-baiklah kuarsa kita sudahi dulu sesi bercandanya." Zaizen kembali memasang wajah serius.
"Kazeki. Apa kau berencana tinggal di tempat ini?" tanya Zaizen serius.
Kazeki hanya terdiam, dirinya sebenarnya tidak ingin tinggal di Dungeon ini.
"Kenapa tidak menjawab, apa kau berubah pikiran?" Zaizen memastikan.
Kazeki mulai menatap kearah lain, ia menatap kebawah seolah sedang ingin mengajukan permohonan. "Jika kau ingin pergi meninggalkan tempat ini, tolong bawalah kami juga, kami berjanji tidak akan menjadi beban diwaktu perjalanan."
Zaizen terdiam sesaat, didalam benaknya. Zaizen berfikir, bahwa dengan mengajak mereka pergi bersama, semua akan beres begitu saja. Daripada melakukan hal itu, justru Zaizen mempunyai rencana lain yang mana, rencana itu akan menguntungkan mereka berdua.
"Tidak, daripada mengajak kalian berdua, lebih baik aku pergi sendiri." Zaizen menolak permintaan Kazeki.
"Kenapa!?" Kazeki hanya dapat pasrah setelah mendengar penolakan dari Zaizen.
"Karena aku membutuhkan kalian." Zaizen menjawab dengan penuh senyuman.
"Apa kau ingat perkataan DarkEye?" Zaizen menatap kearah Kazeki seolah tatapan itu memiliki maksud yang mendalam.
"Perkataan DarkEye?" gumam Kazeki.
Kazeki mencoba mengingat semua perkataan DarkEye akan tetapi, Kazeki tidak paham mengenai perkataan yang Zaizen maksud.
"Tolong beritahu aku!" Kazeki menyerah.
"Aku ingin kalian tetap disini —"
"Apa!" Kazeki memotong perkataan Zaizen dengan penuh emosi.
"Sudah kuduga, kau memang orang yang keras kepala, dengarkan dulu perkataanku sampai selesai!" Zaizen berbicara dengan nada sedikit kesal.
Setelah Kazeki terdiam, Zaizen melanjutkan perkataannya.
"Sebelum DarkEye lenyap, DarkEye pernah berkata bahwa selama para Iblis menguasai Dungeon ini, mereka akan terus memanggil manusia."
"Untuk itu, aku ingin kau menunggu kedatangan para Generasi selanjutnya dengan memandu mereka menuju ke tempat yang aman."
__ADS_1
Mendengar hal itu, Kazeki kembali memotong perkataan Zaizen.
"Kau ingin aku terus tinggal ditempat ini?"
"Sudah kubilang dengarkan perkataanku sampai selesai!" sahut Zaizen kesal.
Kazeki mengangguk pelan.
"Saat ini, aku memiliki partner yang dapat diandalkan. Dia mampu membuka portal untuk mengirim kita kesegala tempat termasuk bumi. Namun untuk dapat membuka portal itu, diperlukan sebuah pemicu dari tempat lain. Misalkan jika diriku berhasil kembali ke bumi, saat itu juga portal itu dapat diaktifkan karena Aku yang jadi pemicunya, dengan kata lain. Kalian hanya perlu menunggu disini sampai diriku berhasil kembali ke Bumi"
Zaizen menghela nafas.
"Selama diriku melewati lantai demi lantai di Dungeon ini, tugas mu hanya terus bertahan hidup bersama para Generasi yang terus datang ke tempat ini dengan tinggal di Dungeon lantai 0. Tenanglah, kalian tidak perlu bersusah payah bertarung melawan para Monster dengan begitu, nyawa kalian tetap aman".
Mendengar penjelasan itu, Kazeki hanya dapat mematung, rasa kesal yang sebelumnya ia miliki seketika menjadi rasa bersalah karena terus memotong perkataan Zaizen. Terlebih lagi, Zaizen justru mengorbankan nyawanya sendiri demi orang lain yang tidak dia kenal.
"Jadi selama kau berpetualang dan mengalami berbagai tantangan dan penderitaan, kami hanya disini saja dan menunggu mu berhasil pulang ke bumi?" Kazeki bertanya dengan tatapan kosong.
"Tentu saja, karena aku tidak ingin para Generasi selanjutnya mati dengan sia-sia —" Belum selesai berbicara, perkataan Zaizen kembali dipotong oleh Kazeki.
"Dasar B0d0h!" Kazeki berteriak kesal disertai air mata yang hampir keluar.
"BAGAIMANA JIKA KAU MATI!!!" Imbuhnya.
Mendengar hal itu, Zaizen tersenyum tipis.
"Tenanglah kawan, aku tidak akan mati semudah itu." setelah selesai berbicara, Zaizen segera memanggil Angeliza.
"Angeliza perlihatkan dirimu"
Dalam beberapa detik, muncul sebuah cahaya yang membentuk wujud manusia dengan kedua sayap berwarna putih.
Perlahan tapi pasti, Angeliza menampilkan wujudnya dihadapan Kazeki.
Kazeki yang melihat sosok Angeliza mulai terkejut sekaligus terpana.
"Angeliza kita berpisah di sini, bantulah mereka okay?"
"Baik Master kedua." balas Angeliza datar
Zaizen perlahan mendekati Kazeki kemudian menepuk pundaknya.
"Jangan lupa tugasmu, tugasmu lebih berat dibandingkan denganku." Zaizen tersenyum dengan riang kemudian membalikkan badannya dan berlari begitu saja menuju ke tempat Boss Monster berada.
"Sampai ketemu lagi!" Zaizen melambaikan tangan.
Ketika Zaizen sudah menghilang dari pandangan Kazeki, Keinara tersadar.
__ADS_1
"Kazeki, dimana Monster itu?" tanya Keinara.
"Monster yang kau tanyakan barusan, sekarang telah berubah menjadi pahlawan yang saat ini menjelajahi Neraka seorang diri demi orang lain yang tidak dia kenal seperti kita." balas Kazeki dengan senyum kecil.