Dungeon Leveling

Dungeon Leveling
Ch.17-1 vs 200k Orc + [Epilog]


__ADS_3

Mendengar hal itu, Zaizen terkejut.


"Beberapa tahun lalu? Bagaimana kau mengetahuinya!?" Zaizen bertanya dengan penuh penasaran.


"Aku adalah orang dari generasi ke-300 dan satu-satunya orang yang selamat dari badai Orc itu. Untuk membayar kesalahan yang ditimbulkan oleh generasiku, aku sengaja menetap disini dengan memberikan arahan kepada generasi-generasi selanjutnya agar tidak gegabah saat melawan para Orc, sehingga kejadian seperti yang generasiku alami dulu tidak terulang kembali" pria itu menjelaskan.


"Tapi, bagaimana kau tahu kalau ada generasi selanjutnya yang datang ketempat ini?" Zaizen kembali bertanya.


"Jauh sebelum diriku datang ketempat ini, para generasi sebelumnya sudah ada di tempat ini, tentunya, aku mengetahuinya karena hal itu"


"Jika saja diriku tidak tertangkap oleh para Orc sialan itu, mungkin aku sudah memberitahu hal itu kepadamu, pria pendatang" seusai berbicara, Pria itu menatap langit sambil tersenyum.


"Lagipula, kita sudah terlambat untuk melarikan diri karena sebentar lagi mereka akan datang"


Zaizen terdiam sejenak mengingat, ia baru saja membuat kesalahan yang menyebabkan nyawa mereka kembali terancam.


"Apakah ada jalan lain?" Zaizen kembali bertanya dengan penuh keseriusan.


"Hanya ada satu cara, yakni dengan bersembunyi di ruangan bawah tanah. Tapi para Orc cukup pintar untuk menangkal hal itu, mereka akan mencari dan terus mencari sampai menemukan tempat persembunyian itu jadi, lebih baik kita menyerahkan diri daripada menunda kematian kita"


"Jadi masih ada harapan ya" Zaizen berbicara sendiri hingga ucapan itu didengar oleh Pria didepannya.


"Nak! Apa kau dengar perkataan ku tadi!?" Pria itu mencoba menyadarkan Zaizen.


Tidak menjawab pertanyaan pria tersebut, justru Zaizen bersujud kepada pria yang ada hadapannya itu untuk meminta tolong.


"Tolong kabulkan permintaan egois ku ini. Walaupun kita baru saja saling mengenal, untuk kali ini saja tolong, tolong bawa mereka bersembunyi, biarkan diriku yang mengurus para Orc itu seorang diri!"


Beberapa orang yang menyaksikan aksi Zaizen bersujud kepada orang yang telah diselamatkankan nya, membuat mereka saling bertanya-tanya.


"Mengurus mereka seorang diri?" Pria itu mengira bahwa Zaizen sedang bercanda.


Melihat Zaizen bersujud kepadanya, pria itu tersenyum kecil.


"Tanpa kau suruh pun, aku akan melakukannya, lagi pula, aku juga tidak ingin mati begitu saja tanpa melakukan sebuah usaha, maaf perkataan ku tadi sebenarnya hanya bualan semata"


Seusai berbicara, pria itu berdiri.


"Nak, angkatlah kepadamu!"


Mendengar perkataan itu, Zaizen bergegas mengangkat kepalanya dan melihat bahwa wajah pria itu telah berubah.


"Semuanya dengarkan! Cepat kumpulan semua makanan yang tersisa di Kota ini untuk persediaan!" Teriak Pria tersebut dengan suara lantang.


Tidak perlu menunggu waktu lama, mereka menuruti apa kata pria itu katakan mengingat, dirinya adalah orang yang cukup terkenal ditempat tersebut.


Tidak ingin membuang-buang waktu, Zaizen juga ikut membantu


mengumpulkan persediaan.


15 menit berlalu, Orc pertama terlihat menuju ke kota. Walaupun mereka memiliki waktu yang terbatas, setidaknya mereka telah mengumpulkan persediaan makanan yang cukup untuk bertahan hidup selama seminggu.

__ADS_1


"Mereka telah muncul!" Salah satu pria berteriak sambil membawa persediaan terakhir menuju ketempat persembunyian.


Tempat persembunyian itu


Sebenarnya, hanya sebuah saluran irigrasi yang sudah tidak terpakai.


"Inikah yang terakhir?" Zaizen memastikan pria tersebut sudah masuk kedalam lubang saluran irigasi.


Pria itu mengangguk sebelum akhirnya berbicara.


"Nak, kau juga bersembunyilah di tempat ini"


Mendengar permintaan itu, Zaizen tersenyum kecil kemudian menjawab.


"Maafkan diriku, tugasku baru saja dimulai" sesuai berbicara, Zaizen bergegas meninggalkan tempat persembunyian itu.


"Dasar Pintar! Apa kau berencana mati lebih dulu!" Pria itu berteriak dengan begitu keras hingga Zaizen yang mendengar teriakan itu membalas dengan melambaikan tangannya.


Di saat yang sama, salah satu orang didalam tempat itu mencoba keluar dan mengejar Zaizen namun ditahan oleh Pria yang sebelumnya berbicara dengan Zaizen.


"Apa yang kau lakukan?"


"Aku ingin mengejarnya!"


"Sudah terlambat!"


Waktu berjalan begitu cepat hingga Zaizen sekarang sudah dikepung tiga puluh Orc.


★God Eye!★


\=\=\=\=\=\=[Monster]\=\=\=\=\=\=


Nama : Orc


Level : 18


HP. : 18.000


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Perbedaan Level yang sangat jauh itu membuat Zaizen bertambah percaya diri untuk melenyapkan semua Orc yang datang mengincarnya.


Tidak perlu menggunakan Skill penguatan tubuh, Zaizen berlari menuju puluhan Orc tersebut sambil mengayunkan pedangnya.


Cringg!


Cringg!


Cringg!


Alasan mengapa Zaizen tidak ingin mengaktifkan Skill penguatan karena, Zaizen ini menghemat Mana untuk berjaga-jaga, jika sewaktu-waktu ada Monster yang cukup kuat.

__ADS_1


Waktu berjalan begitu cepat hingga akhirnya Zaizen berhasil menumbangkan ratusan Orc.


Walaupun Zaizen berhasil menumbangkan ratusan Orc, para Orc tetap berdatangan di kota tersebut layaknya sedang ada festival paling meriah yang pernah ada.


"Jumlahnya mulai bertambah" ujar Zaizen kemudian meneguk segelas air yang tersimpan didalam Inventory miliknya.


Pertarungan Zaizen melawan para Orc sudah berlangsung selama 24 jam penuh dan pasukan Orc masih terus berdatangan. Selama itu pula, Zaizen telah menumbangkan ribuan Orc dengan penuh kesabaran.


"Sampai kapan ini berakhir" gumam Zaizen yang terus menyerang.


Beberapa saat kemudian, kawanan Orc dengan jenis yang berbeda mulai menampakkan diri. jenis itu adalah Red Orc. Yakni, Orc yang memiliki tubuh berwarna merah serta lebih agresif dibandingkan dengan Orc biasa.


Mereka muncul dengan kelompok yang cukup besar, Zaizen yang menyadari hal itu masih bersikap santai alasannya, para Red Orc memiliki level rata-rata 18-19. Tentunya, level mereka masih jauh dibandingkan dengan level Zaizen.


10 Jam berlalu semenjak kemunculan Red Orc, Zaizen terus menebas semua musuh yang datang kearahnya seperti layaknya menebas semak belukar yang ada di antara pepohonan.


Walaupun Zaizen unggul di Level, Ia perlahan merasakan kelelahan karena, selama ia pertamakali datang ke Dungeon lantai dua, Zaizen belum pernah mengistirahatkan tubuhnya.


"Jumlahnya terus bertambah!"


Zaizen masih menyerang dengan begitu ganas, berharap semuanya segera berakhir.


Hingga sudah dua hari berlalu, Zaizen merasakan kelelahan dan rasa kantuk yang cukup berat. walaupun sudah berjalan dua hari, para Orc terus menyerang secara bergantian.


Di tempat lain, yakni tempat bersembunyi didalam saluran irigasi.


Mereka mulai berdoa berharap, badai Orc itu segera berakhir. Tidak lupa, tempat persembunyian mereka mulai dialiri darah dari tubuh Orc yang telah mati.


"Sudah dua hari badai Orc itu belum berakhir" seorang pria berbicara dengan penuh gemetaran.


"Apa yang terjadi diluar? Kenapa banyak sekali darah mengalir ditempat ini?" Pria lainnya bertanya setelah melihat bahwa darah itu sudah mulai membanjiri tempat mereka bersembunyi.


"Kurasa diriku salah memilih tempat" jawab lainnya.


"Huek! Huekkk! Aku bahkan tidak kuat menghirup aroma yang sangat menyengat ini"


"Bertahanlah, kita tidak tahu apa yang sedang terjadi diluar"


Mereka yang bersembunyi di dalam saluran irigasi tidak mengetahui, bahwa saat itu Zaizen masih bertarung dengan para Orc seorang diri.


[Epilog]


Pada Akhirnya, Zaizen menenangkan Pertarungan melawan para Orc.


Perjalanan Zaizen masih berlanjut hingga dirinya mencapai puncak, yaitu lantai 100.


Setelah berhasil menaklukkan lantai 100, Zaizen terkejut, bahwa lantai terakhir yang ia taklukkan justru hanya sebuah pintu untuk memasuki dunia yang lebih luas lagi, yakni dunia baru.


Di dunia baru, Zaizen bertemu dengan teman-temannya yang berasal dari generasi awal.


[END]

__ADS_1


[Pesan : Tidak Ada.]


__ADS_2