
Seorang gadis berlari dengan bercak darah yang mengotori pakaiannya.
Entah apa yang terjadi saat itu, setidaknya ia sedang dikejar oleh Monster bertampang mengerikan, salah satunya adalah Monster yang memiliki tentakel disetiap sisinya.
"Tolong Aku!" Gadis itu berteriak, berteriak sekeras-kerasnya.
Sayangnya, gadis itu berhenti berteriak karena Monster bertentakel itu telah berhasil menangkapnya.
"Tolong Aku!" Sekali lagi, Ia berteriak. Namun dirinya hanya dapat berteriak didalam hati saja mengingat, mulutnya sudah didekap oleh Monster tersebut. Ia juga sudah berusaha melawan, melawan sekuat tenaga. Sayangnya, Monster itu lebih kuat darinya sehingga percuma untuk melawan.
Perlahan tapi pasti, gadis itu menjadi lemas.
Disaat yang sama, tentakel Monster itu tiba-tiba terpotong seolah ada orang lain yang memotongnya.
"Dasar Monster bejat! Jika diriku tidak tetap waktu, mungkin gadis ini akan mengalami penderitaan yang sangat mendalam." Zaizen berbicara setelah memotong tentakel Monster tersebut menggunakan pedang miliknya.
Tanpa memberi ampun, Zaizen terus melancarkan serangan kepada semua Monster yang ada dihadapannya dengan begitu mudah.
"Huh... perlu sedikit waktu agar diriku datang ketempat ini." gumam Zaizen kemudian berjalan menghampiri gadis tersebut.
Wajah gadis itu terlihat pucat, seolah-olah dirinya telah menyaksikan sesuatu yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.
"Kau tidak apa-apa? Untuk sekarang, minumlah Potion ini, benda ini akan menyembuhkan lukamu." Zaizen mengangkat gadis tersebut, sekilas ia sempat melihat tatto angka 500 dibagian leher gadis itu.
"500?" Zaizen hanya terdiam, dirinya tidak pernah membayangkan jika sudah banyak manusia terpanggil ketempat tersebut.
Setelah sepenuhnya tersadar, gadis itu bertanya, "Siapa kau?"
"Tenanglah, aku dipihakmu, namaku Zen." Zaizen memperkenalkan diri.
"K-Kei-Keinara." Keinara memperkenalkan diri dengan nada tebata-bata.
"Keinara? Nama yang indah." sesaat setelah Zaizen berbicara, saat itu juga ada sesosok laki-laki berlari menghampiri Keinara.
"Keinara!!!"
"Siapa kau!?"
__ADS_1
"Apa yang baru saja kau lakukan kepada Keinara!" teriak orang tersebut.
"Kazeki, dia telah menyelamatkanku" balas Keinara dengan nada tebata-bata.
Mendengar perkataan Keinara, Kazeki segera bersujud kemudian meminta maaf sekaligus mengucapkan rasa terimakasih.
"Mohon maaf atas kelancanganku... terimakasih telah menyelamatkan Keinara!" Kazeki berbicara.
Bukan tanpa alasan, Kazeki melakukan itu semua lantaran ia sudah putus asa.
"Angkat kepalamu, kau tidak perlu berterimakasih kepadaku, aku hanya kebetulan lewat saja." Zaizen membalas dengan nada datar.
Saat ini, didalam benak Zaizen adalah mencari keberadaan DarkEye untuk meminta penjelasan yang lebih rinci.
"Ngomong-ngomong, berapa jumlah kalian yang masih hidup?" tanya Zaizen kepada Kazeki.
"Hanya tersisa kami berdua." balas Kazeki dengan raut muka sedih.
"Ha!?" Zaizen terkejut, Ia tidak dapat membayangkan jika mereka berdua pergi ke ruangan Boss Monster, mungkin mereka akan mati dengan begitu mudah.
"Apa aku tidak salah dengar?" Zaizen kembali memastikan, ia bahkan tidak percaya dengan perkataan Kazeki.
"Bahkan sudah satu minggu semenjak kami terpanggil ketempat ini, jumlah korban tewas selalu bertambah setiap harinya, hingga saat ini hanya tersisa kami berdua." Kazeki menambahkan.
Saat Zaizen mendengar pengakuan dari Kazeki, pandangannya terhadap DarkEye berubah. Dulunya, Zaizen menganggap bahwa keberadaan DarkEye hanya sebatas figuran semata namun, Ia akhirnya tersadar bahwa DarkEye sangatlah kejam.
Faktor lain yang menyebabkan DarkEye dipandang sebelah mata karena dia sangat sulit untuk dibunuh.
"DarkEye!" Zaizen berteriak dalam hati disertai raut muka yang penuh kekesalan.
Zaizen hanya dapat mengira-ngira, bahwa DarkEye juga terlibat dalam pemanggilan manusia di bumi, untuk itu Zaizen perlu membicarakan hal tersebut, mungkin ia juga perlu menginterogasinya.
Di situasi yang tegang tersebut, Keinara mencarikan suasana.
"Ano... tolong turunkan aku, aku sudah merasa baikan sekarang" Keinara berbicara dengan kedua pipinya berwarna merah.
Zaizen kembali tersadar, emosinya perlahan menjadi stabil. "Maafkan aku karena baru menyadarinya"
__ADS_1
"Jadi, apa yang akan kalian lakukan setelah ini?" Zaizen bertanya seolah berusaha menciptakan suasana baru.
"Kami akan pergi ke tempat Boss Monster berada dan mengalahkan nya" Kazeki berbicara dengan sedikit keraguan, walaupun saat ini level yang dimiliki Kazeki berada di angka 8, tentunya sangat mustahil mengingat Boss Monster disana berada di level 100.
"Kalian berdua akan bertarung melawan Boss Monster itu?" Zaizen kembali memastikan, sungguh tidak masuk akal jika mereka benar-benar bertarung melawan Monster yang puluhan kali lebih kuat dibandingkan mereka berdua, bahkan sebelum mereka menyentuh lantai Boss Monster, mereka telah kehilangan banyak anggota.
"Saat ini, aku sudah menemukan lokasi Boss Monster itu berada, Tapi dengan kekuatan kami berdua, kami percaya bahwa kami dapat mengalahkan nya." Kazeki berbicara dengan nada percaya diri sayangnya, Zaizen hanya melihat bahwa perkataan Kazeki hanya bualan semata.
"Hanya berdua? Mengalahkan Boss Monster? Berapa levelmu saat ini?" Zaizen bertanya sambil melirik kearah Kazeki.
Dengan penuh percaya diri, Kazeki mengangguk.
"Level kami berada di angka 7 dan 8." jawab Kazeki.
"Dengan level itu, apakah kalian benar-benar yakin dapat mengalahkan Boss Monster itu?"
"Tentu saja kami yakin—"
"Sampah!" Zaizen memotong perkataan Kazeki dengan tiba-tiba hingga membuat mereka berdua terkejut mendengar perkataan itu.
"Melihat kalian seperti ini, seperti melihat diriku dimasa lalu... terlalu percaya diri, terlalu naif, terlalu berharap lebih...! Bahkan sebelum menyentuh lantai Boss Monster saja kalian telah kehilangan banyak anggota. Apa kalian berencana mati berdua!? Memangnya ini cerita Novel? Dimana sang tokoh utama dan pasangannya meninggal bersamaan begitu saja?"
Sontak perkataan Zaizen membuat mata Kazeki bergetar. Sebenarnya, Kazeki juga menyadari bahwa mengalahkan Boss Monster sangat mustahil, lantaran dirinya juga sudah putus asa dan tidak memiliki jalan lain.
"Lalu apa yang harus kami lakukan!?" Kazeki berbicara dengan suara yang dipenuhi oleh keputusasaan. Beberapa saat setelahnya, Kazeki merubah nada bicaranya dengan sedikit kewaspadaan.
"Siapa kau sebenarnya!? Kenapa kau ada disini!!"
Zaizen hanya terdiam, ia tidak menjawab pertanyaan tersebut karena didalam benak Zaizen, Kazeki sedang mengalihkan pembicaraan.
"Katakan padaku! Siapa kau sebenarnya!?" Sekali lagi, Kazeki bertanya, kali ini nada suaranya dipenuhi oleh kemarahan.
"Dilihat dari sikapmu, kau pasti orang yang keras kepala."
Tidak perlu menunggu waktu lama, Zaizen segera membuka kerah baju miliknya kemudian memperlihatkan tatto angka 0 dibagian lehernya kehadapan Kazeki dan Keinara.
"A-angka 0!?" Kazeki dan Keinara terkejut.
__ADS_1
"Perkenalkan, namaku Zaizen Sczillenz. Generasi manusia pertama yang terpanggil ketempat ini." Zaizen memperkenalkan diri dengan nada lantang seolah, ia tidak perlu lagi menyembunyikan hal itu kepada mereka berdua.
"G-generasi manusia pertama?"