Ellen Barker"Bad Liar"

Ellen Barker"Bad Liar"
Ke rumah Ryan


__ADS_3

Pagi itu Ellen masih terlentang diatas tempat tidurnya. Jadwal bekerjanya juga masih belum di mulai.


Ia menunggu panggilan dari Ryan yang sudah lewat sehari. Dan saat sedang memikirkan itu, panggilan masuk dari Ryan berdering di pagi yang sama.


"Ya, tuan." Jawab Ellen.


"Hey, sejak kapan kau berbicara seperti itu." tukas Ryan dari dalam telpon.


"Aku akan bekerja denganmu, dan kau adalah atasanku, jadi aku harus berbicara yang sopan mulai hari ini." Jawab Ellen lagi.


Ryan tertawa, "Baiklah, kalau begitu aku mengundang mu untuk datang ke rumahku sore ini. Aku akan menjemputmu."


Sontak hal itu membuat Ellen terkejut.


Ke rumahnya??? Apa ini pertanda buruk?


"Untuk apa?" tanya Ellen.


"Sudah jangan banyak tanya, ikuti saja perintah dari atasanmu ini." perkataan Ryan semakin membuat Ellen curiga.


"Harus ada alasan!" tegas Ellen.


"Ada apa, Ellen? Kau tidak ingin menjumpai keluarga ku lagi? Mereka selalu bertanya tentangmu. Aku hanya ingin kau menjumpai dan makan malam dengan mereka." Jawab Ryan dengan nada melemah.


Ellen menghela nafas panjang.


"Baiklah..."


"Oke! Berdandan lah secantik mungkin, setelah sekian lama tidak berjumpa mereka, kau harus tampil lebih cantik lagi, see you soon!" kata Ryan kembali dengan semangat dan mengakhiri panggilan.


Hmmm... tapi walaupun begitu aku harus tetap hati hati dan terus memastikan yang dapat ku pastikan. Batin Ellen sambil bangkit dari tempat tidurnya.

__ADS_1


Sore itu...



Setibanya dirumah yang cukup mewah bergaya klasik modern itu, Ellen tersenyum.


"Aku ingat, rumah ini adalah rumah yang ingin di berikan Ryan padaku sebelum kami akan menikah, ku kira ini ikut ludes juga." Gumam Ellen mengusapkan jemarinya di dinding rumah itu. Menarik, pikirnya.


"Kau sudah datang? Kenapa tidak memberitahuku?" sosok Ryan muncul dari belakang Ellen.


Ellen memasang wajah bingung. Dari mana pria ini muncul dari belakangku? Apakah dia mendengar ucapkan ku tadi? Pikir Ellen.


"Kau dari mana?" tanya Ellen.


"Setelah memarkirkan mobil, aku pergi ke gerbang. Aku melihat kau tidak lewat pintu utama, kau malah kesini." Jawab Ryan.


"Aku ingin melihat-lihat." Jawab Ellen singkat.


Ellen masih ingin terus memastikan, apakah Ryan tahu apa yang sebenarnya, tidak hanya Ryan, juga seluruh keluarganya.


"Ayo masuk, mereka sedang menunggumu?" Ryan segera menarik tangan Ellen.


Ellen memasuki pintu utama rumah itu. Ia melihat seisi rumah dan cukup terpukau. Ellen memang tau kalau keluarga Ryan masih memiliki rumah yang lain tapi ia tidak tau kalau rumah itu adalah rumah yang sempat menjadi miliknya, dan karna rasa ibanya itu ia tidak memasukannya ke dalam hantaman badai yang dibuatnya.


Baru kali ini aku menjadi orang berperasaan-Ellen.


"Valery!" suara itu terdengar jelas.


Dia mengangguk membungkukan badan. Semua wajah itu tersenyum, kecuali satu wanita. Yaitu Jenifer. Ellen memandang Jenifer dan itu tidak lama, ia hanya meninggalkan sorot mata jijik.


"Dari mana saja kau?" tanya ayah Ryan, Taylor Lauren.

__ADS_1


"Maaf kalau selama ini aku tidak memiliki kabar, aku tidak bisa melakukan apapun, jadi aku takut untuk terlibat." Jawab Ellen dengan raut wajah sedih.


"Sampai memutuskan hubungan dengan Ryan? Kenapa begitu?" tanya Taylor dengan wajah kecewa.


“Sudahlah, Vay ayo duduk dulu. Ayah jangan begitu." Sela Ryan.


Cukup lama Ellen berbincang-bincang dengan keluarga yang sempat ia jadikan sebagai calon keluarganya sendiri. Dari banyaknya perbincangan, sepertinya jejak permainan Ellen tidak tercium seperti biasanya.


Benar benar tidak ku duga, aku masuk kembali ke dalam permainan dan terlibat kepada orang yang sama, sungguh ini adalah pertama kalinya. Batin Ellen sambil meneguk sampanye.


Saat itu Ellen sedang berjalan mengelilingi kolam yang tidak begitu besar. Ia menikmati rumah unik itu. tidak seperti rumah Dominic yang luar biasa besar dan mewah sampai membuatnya sesak nafas.


"Disini juga kau." Suara dari belakang mengejutkan Ellen. Gadis itu tersenyum masam melihat siapa yang muncul.


"Apalagi tujuanmu dengan kemunculan yang tiba-tiba ini?" tanya Jenifer tanpa banyak basa-basi.


"Aku penasaran, apakah kau ikut terlibat atas kebangkrutan keluargamu." Jawab Ellen dengan santai.


"Jangan sembarangan kau!" gertak Jenifer.


"Aku juga bersyukur tidak menikah dengan Ryan, karna aku tidak ingin punya mertua seperti model mu ini." Tukas Ellen lagi. Jenifer tertawa sinis.


"Aku juga bersyukur tidak memiliki menantu yang identitasnya tidak jelas seperti dirimu. Aku merasa curiga kalau kedatangan mu ini memiliki maksud tertentu." Balas Jenifer.


"Berpikir-pikirlah untuk menduga, nyonya. Biar ku beritau saja, aku ini adalah sekretaris perusahaan anakmu, dan anakmu sendiri yang menginginkan itu. Aku tidak sepertimu, sudah menikah dan memiliki anak tapi masih memiliki keserakahan untuk diri sendiri." Tutup Ellen meninggalkan Jenifer. Buang-buang waktu untuk berbicara dengannya, pikir Ellen. Tapi dengan cepat, Jenifer menarik tangan Ellen dan menyeret gadis itu sampai terjatuh.


Ellen merintih dan menatap Jenifer dengan tajam.


"Kau ingin mencari masalah denganku?!"


"Akan ku pastikan siapa kau! Manusia yang identitasnya tidak jelas sepertimu ini pasti menyembunyikan sesuatu hal yang tidak di ketahui oleh orang!" gertak Jenifer sambil menunjuk wajah Ellen.

__ADS_1


"Heh, silahkan saja. Aku juga masih menyimpan rekaman seorang pencuri dirumah sendiri." Balas Ellen sambil bangkit berdiri, terus menatap Jenifer dengan tajam.


Kemudian ia berjalan pergi meninggalkan Jenifer yang geram akan dirinya.


__ADS_2