
Jenifer adalah ibu kandung Ryan. Dia terlihat gelisah diatas tempat tidurnya. Sesekali ia melirik ke arah suaminya yang sedang berbaring di sebelahnya.
Malam semakin larut, jam dinding menunjukkan pukul 1 am. Wanita itu bangun dari tidurnya saat setelah memastikan suaminya sudah tertidur pulas. Ia berjalan sambil berjinjit agar suara langkah kakinya tidak terdengar.
Sekarang ia sudah berada diruang kerja suaminya. Sibuk mencari sesuatu, membuka laci per laci, file demi file.
"Dimana dia menyembunyikannya?" gumam Jenifer.
Tiba-tiba wajahnya berseri saat teringat sesuatu.
"Ahhh yaaa Mana mungkin ia menaruh disini! Pasti di brankas!"
Lalu dengan cepat ia menuju brankas berharga keluarganya itu dan menekan sandinya.
Tiiingggg.
Jenifer sempat terkejut mendengar bunyi brankas itu. lalu dengan buru-buru mengambil yang dia inginkan.
"Ketemu!" senyumnya sinis.
Itu adalah surat aset suaminya. Aset yang akan diberikan kepada penerusnya. Tapi dalam wasiat itu masih kosong. Belum tertulis nama siapapun. Karna selain Ryan sebagai putra di keluarga itu, masih ada lagi adik dari Ryan yang akan menginjak usia remaja.
__ADS_1
"Lihatlah, aku akan mengambil seluruh hartamu. Dasar laki-laki pelit tidak berguna."
Tiba-tiba sesuatu berbunyi dari ruangan itu.
"Apa itu?!" Jenifer sedikit panik.
"Waw," suara seseorang terdengar dari dalam ruangan.
"Siapa disana?!" gertak Jenifer.
Lalu sosok wanita keluar. Membuat Jenifer terbelalak. "Valery?!"
Ya itu adalah Ellen yang menyamar sebagai Valery. Melihat semua yang telah dilakukan oleh Jenifer.
"Hah, lalu kau mau apa? Mengancamku? Kau tak punya bukti apapun." Ucap Jenifer dengan sinis.
"Oh ya, sayangnya aku sudah merekam. Hahaha." Ellen terlihat begitu tenang dan Jenifer sendiri yang mulai panik.
"Oh ya, aku bisa bilang saja kau juga terlibat. Karna urusan apa kau diruangan suamiku!" Jenifer masih tidak mau kalah.
Yaampun, bodoh sekali wanita ini masih tidak mau kalah dengan ancaman murahannya itu. Apakah benar yang didepanku ini adalah ibu dari Ryan seorang yang jenius. Batin Ellen.
__ADS_1
"Tentu saja aku punya urusan dengan suamimu karna Ryan meminta bantuanku mengambil sebuah dokumen yang tertinggal di meja ini." Lalu menunjukan dokumen itu.
Jenifer hanya meremas jemarinya, tidak mungkin ia ketahuan dengan cara seperti ini. Memalukan sekali, pikirnya.
"Lalu kau mau apa? Mengancamku?" Jenifer mulai terlihat kacau.
Ellen tertawa sinis. Ia tidak menyangka wanita didepannya ini terlihat betul betul bodoh. Bahkan menyembunyikan rasa panik dan takutnya saja tidak bisa. Omongannya ngawur bahkan gemetar. Tapi dengan sombongnya masih menentang yang sudah jelas di kesalahannya sendiri.
Apakah benar ini ibu Ryan? Aduuhh nilai plus ku untuk keluarga ini berkurang. Batin Ellen lagi.
"Hey Jenifer," panggil Ellen dengan tatapan sinisnya. Jenifer sedikit tersentak melihat wanita itu memanggil namanya.
"Kau bahkan terlihat begitu bodoh. Bagaimana bisa kau menguasai seluruh harta suamimu kalau kau saja tidak bisa menguasai otakmu yang dangkal itu. Berhenti banyak bicara, semakin kau banyak bicara, kau semakin terlihat bodoh." Sambung Ellen dengan ketus.
"Apa katamu!!" gertak Jenifer terlihat marah.
"Ahhh sepertinya Ryan sudah lama menungguku, kasihan sekali dia bekerja lembur tapi ibunya memiliki niat yang licik, dan juga bodoh." Sindir Ellen sambil berjalan meninggalkan ruangan itu.
Jenifer ingin menyerang Ellen pada saat itu juga. Namun bila keributan terjadi bisa-bisa ia akan ketahuan malam itu.
"Aku harus memastikan kalau wanita kurang ajar itu tidak membuka mulut, aku harus mencari ancaman yang pas dengannya." Gumam Jenifer.
__ADS_1
Sepertinya misiku akan berjalan dengan mulus tanpa jejak. Gumam Ellen.