
Untuk yang kedua kalinya, Ellen menginjakkan kaki dirumah super megah itu.
Ya benar, itu adalah kediaman tuan Dominic, orang terkaya dan tersukses dalam bidang karirnya.
Ellen pertama kali menginjakkan kaki ke rumah itu saat pertama kali dia dan tuan Dominic resmi menjadi seorang partner. Tidak disangka, ia akan datang lagi kesitu. Walaupun sudah menganggap Dominic sebagai ayahnya, namun Ellen hanya menjumpai Dominic itu di perusahaannya saja.
"Ellen!" sambut seorang wanita dengan dress anggun yang menutupi badannya. Wajahnya sangat cantik, walaupun sudah berumur lebih dari 40 tahun. Badannya juga bagus, bahkan orang tidak percaya bahwa itu adalah ibu dari Erick.
"Ibu sangat rindu!" isaknya memeluk Ellen begitu melihat anak gadisnya itu.
"Aku juga merindukanmu, bu." Ellen membalas pelukan itu.
"Masuklah, dia sudah menunggumu di ruang kerjanya." Ucap wanita yang bernama Sonia.
Ellen mengangguk mengerti sambil tersenyum meninggalkan Sonia didepan pintu ruang kerja tuan Dominic.
Setelah masuk diruang kerja itu, Ellen memperhatikan sekeliling ruangannya.
Tidak ada yang berubah, masih seperti dulu. Batinnya.
Ruang kerja itu cukup besar dan lengkap. Tuan Dominic terlihat sedang duduk menunggu di meja kerjanya. Melihat sosok Ellen muncul, ia bangkit berdiri.
"Kenapa lama sekali kau datang?" tanyanya.
"Maaf, ada hal yang harus ku bereskan dulu." Jawab Ellen.
"Kemarilah." Dominic mengajak Ellen ke meja kerjanya. Ellen berjalan menuju meja kerja itu.
Ellen terkejut melihat sebuah benda yang di ulurkan oleh Dominic diatas mejanya.
__ADS_1
"A-apa maksudnya?" tanya Ellen gugup melihat sebuah pistol yang di ulurkan Dominic.
"Duduklah dulu." Tukas Dominic mengerti bahwa Ellen sedang berpikiran yang tidak-tidak.
"Ellen, kau tau bukan kalau aku sudah menganggapmu sebagai putriku. Aku hanya memiliki seorang anak yaitu Erick dan setelah ada kau, sekarang aku memiliki sepasang anak," Dominic bercerita sambil tersenyum.
Ellen masih terdiam, membiarkan Dominic menjelaskan apa maksudnya.
"Aku tidak akan membiarkan seorang pun melukaimu, tanpa kau tau pun, aku selalu memastikan keamananmu. Bawalah senjata ini untukmu, ingat ini hanya untuk berjaga-jaga." Sambung Dominic menggeser pistol itu tepat di hadapan Ellen.
"Kenapa tiba-tiba?" tanya Ellen.
"Kau harus hati-hati nak, ke depannya kita tidak tau apa yang akan terjadi. Apalagi sekarang kau sedang berurusan lagi dengan musuhku." Jawab Dominic.
Ellen menghela nafas. Mengambil pistol itu dan menyimpan pada tempatnya.
"Ellen..." panggil Dominic pelan. Ellen menatapnya, sepertinya ia ingin menyampaikan sesuatu lagi.
Mendengar itu, Ellen terlihat antusias untuk mendengarkan kisah di balik itu. Karna melihat betapa kerasnya tuan Dominic untuk mengharuskan keluarga Lauren hancur. Bagaimana Ellen tidak penasaran.
"Tentu saja jika kau bersedia, pak." Jawab Ellen tenang.
Dominic tertawa kecil. "Baiklah," Dominic mengambil nafas terlebih dahulu, karna sepertinya ia akan bercerita panjang. Apalagi faktor usia ini yang membuat dirinya susah untuk bercerita banyak. Jadi ia mempersiapkan pernafasan terlebih dahulu agar cerita ini dapat diceritakan dengan lancar.
"Dulu aku dan Taylor Lauren adalah sahabat baik." Ujar Dominic membuka kisahnya.
"Kami serba melakukan sesuatu apapun bersama. Apapun yang kami miliki, kami harus memiliki nya bersama. Yaahh.. bila ku ingat lagi itu adalah hal yang sangat menggelitik."
Dominic terdiam sebentar, ia berpikir lagi. Kelihatannya dia tidak ingin melewatkan satu kisah pun itu.
__ADS_1
"Itu sekitar kami berusia 25 tahun. Ah tidak, 27 tahun.
Aku memang keluarga dari yang berkecukupan, sedangkan Taylor adalah yatim piatu. Tapi karna aku bersahabat baik dengannya, aku menjadi mandiri. Aku memutuskan untuk mencari urusan kehidupanku sendiri." Dominic menghela nafas.
Ellen sedikit terharu mendengar cerita yang belum seberapa itu. Ia terharu karna di usianya ini saja ia bahkan belum merasakan memiliki seorang teman.
"Lalu aku memiliki ide, yaitu membangun sebuah perusahaan. Namun mimpiku itu belum terwujud, ayahku meninggal. Dan aku adalah pewaris tunggalnya, terpaksa aku harus menjalankan kembali perusahaan itu. Kurasa memiliki anak satu-satunya adalah turun temurun dari generasi ku, hahaha." Ujar Dominic tertawa riang. Ellen tidak pernah melihat ayah angkatnya seriang itu.
"Aku mengajak Taylor bergabung denganku. Dia menerima tawaran itu, dan memberikannya jabatan sebagai wakilku, wakil CEO.
Kebetulan aku sedang menjalani rapat bisnis di Kanada, lalu aku menyerahkan tanggung jawab padanya. Kau tau Ellen, aku sangat kecewa di hari itu, dia merugikan perusahaan saat aku kembali, tapi aku masih memaafkannya tanpa mencari tau kenapa dia melakukan hal itu. Itulah kenapa aku menegaskan padamu untuk tidak menyepelekan sesuatu hal kecil."
Ellen terdiam.
"Singkat saja, hari-hariku sebagai CEO selalu sibuk berpergian, meeting dan menandatangani begitu banyak berkas. Disitulah Taylor memanfaatkan rasa lelahku. Dia sudah lama merancang untuk merebut kekuasaanku. Dia selama ini sengaja membangkrutkan perusahaan ku karna diam-diam dia membuat perusahaan sendiri. Aku bahkan tidak menyadari bahwa dia memberikanku surat untuk di tandatangani yang menyatakan aku menyerahkan saham perusahaanku padanya." Dominic tersenyum masam.
"Aku tidak tau kenapa dia sepicik itu, bahkan tega melakukan padaku yang jelas sudah banyak berbuat baik padanya. Tapi untung saja nasibku selalu baik, buktinya aku tetap masih bisa berjaya diatasnya." Dominic menatap Ellen dalam.
"Kau tau maksud dari ceritaku?
Di dunia ini, pertemanan itu hanyalah ilusi. Rasa cinta dan setia itu hanyalah tipuan, coba saja kau berpikir ada berapa banyak manusia yang sudah terhianati. Baik itu pertemanan antar sesama dan lawan jenis, Ellen anakku, percayalah itu hanya hal yang akan membuat dirimu terlihat menyedihkan." Dominic mengakhiri ceritanya.
Ellen tertegun sejenak. "Saya mengerti."
"Aku tidak ingin kau melewati hari-harimu dengan menyedihkan. Kau bisa saja mencari kebahagiaanmu setelah menuntaskan dendamku, nak.
Mau kau berteman dengan siapa, jatuh cinta dengan siapa, bahkan dengan Erick sekalipun bila takdirmu begitu.
Tapi ingat, kau jangan mudah tertipu hanya karna dirimu seorang penipu. Paham?" Ujar Dominic lagi.
Mata Ellen berkaca-kaca. Dominic menghampiri Ellen dan duduk di kursi sebelahnya. Menggenggam tangan gadis itu sambil menepuk pundak Ellen.
__ADS_1
"Selesainya misimu ini, kau akan tetap jadi putriku." Dominic tersenyum yang dibalas dengan senyuman Ellen.
"Terimakasih, pak. Saya sudah mengerti sekarang." Jawab Ellen menggenggam balik tangan pria tua yang dianggapnya ayah itu.