Ellen Barker"Bad Liar"

Ellen Barker"Bad Liar"
Terpikat


__ADS_3

Sebelumnya Ellen pernah bertemu dan berbincang dengan Ryan di perusahaan yang sedang di rintis ulang itu. Ellen dengan iseng mencoba menawarkan diri sebagai seorang sekretaris. Ia ingin melihat reaksi Ryan, apakah menerima atau tidak. Karna dengan jawaban itu, Ellen akan tau pemikiran Ryan tentangnya.


Dan kini siang itu di perusahaan Ryan. Ellen memarkirkan mobilnya, ia akan memulai pekerjaan barunya pada hari itu juga, setelah turun dari mobil ia memastikan sekelilingnya dengan aman.


"Fyuuuhhhh merepotkan saja. Erick pasti sedang memata-mataiku melalui anak buahnya." Batin Ellen.


Sesaat setelah memasuki perusahaan itu, Ellen melihat pegawai yang sudah sedikit banyak jumlahnya ketimbang hari kemarin.


"Cepat juga mereka di interview."


Ellen memasuki ruangannya, mengecek ponsel dan berdiri didepan jendela besar itu. mengamat-ngamati yang terjadi dibawah gedung. Melihat apakah ada hal-hal yang mencurigakan. Walaupun jarak antar jendela dan dibawah gedung itu cukup tinggi, tapi ketajaman mata Ellen tidak bisa diragukan.


"Valery." Panggil seseorang.


"Ryan, ah maaf. Ya tuan. Ada yang perlu saya bantu?" tanya Ellen saat membalikan badan. Ryan tertawa mendengar perkataan Ellen


"Ah, tidak. Aku hanya memastikan kau menikmati pekerjaanmu. Wah, kau sudah memotong pendek rambut mu?" Ujar Ryan menatap Ellen lekat-lekat. Ellen tertawa kecil mendengar Ryan banyak bicara, tapi tiba-tiba matanya terbelalak melihat penampilan Ryan.


"K-kau ke kantor memakai sweater?!" Ellen sedikit menjerit.


"Hey, santai saja. Kenapa? Disini aku adalah boss. Bebas aku mau memakai apa dari pada tidak memakai apapun." Jawab Ryan dengan mudahnya.

__ADS_1


"Karna kau adalah bossnya, kau harus jadi contoh yang baik!" Ellen terus menyanggah.


"Aku tinggal memecat. Untuk apa meniru penampilan ku, plagiat dilarang disini." Jawab Ryan lagi.


Ellen tersenyum kecut. Sepertinya tidak ada guna untuk berdebat dengan Ryan.


Tiba-tiba sesuatu yang membuatnya penasaran muncul.


"Hey, kenapa kau menerimaku sebagai sekretaris di perusahaanmu? Lalu kemarin kau tiba-tiba mengundangku ke rumahmu." Tanya Ellen.


"Oh kalau itu, aku mengajakmu ke rumah karna kau selalu menyinggung ibuku dan giliran untuk mengatakan ada apa, kau tidak beritahu. Bahkan kemarin kalian tidak saling sapa, aku tidak tau ada apa yang terjadi tapi mungkin ada saatnya untuk ku ketahui." Jelas Ryan dengan padat.


"Lalu dengan pekerjaanku ini?" tanya Ellen lagi.


Iya juga ya. Batin Ellen.


"Tapi sebenarnya bukan hanya itu, ada yang lebih penting." Sambung Ryan sambil mendekat. Sekarang jarak mereka sangat dekat. Ellen sedikit menoleh ke atas karna tinggi badan Ryan. Raut wajah wanita itu melambangkan kebingungan.


"Aku hanya ingin. Aku ingin kau bekerja denganku, aku bisa terus melihatmu," jawab Ryan tersenyum. Ellen sedikit berdebar dan merinding mendengar itu.


"Aku masih mencintaimu, Vay. Aku masih berharap kita bisa bersama lagi." Ryan mengakhiri perkataannya itu sambil tersenyum hangat.

__ADS_1


Ellen hanya terdiam dan tetap dalam posisi menoleh memandang Ryan. Pikirannya bercabang, bingung, bimbang, bercampur aduk.


"Vay?" panggil Ryan lagi dengan pelan. Ellen tidak menjawab tapi gerakan refleks alisnya seolah menjawab "Ya".


Perlahan wajah Ryan mulai mendekati wajah gadis itu, Ellen juga tidak melawan, dia masih diam. Dan sekarang bibir Ryan sudah menyentuh bibir Ellen, tangannya melingkari pinggang Ellen sedangkan tangannya yang satu menopang dagu Ellen.


Ellen masih tidak berkutik, tidak melawan. Bahkan ia menikmati ciuman itu. ia meletakan kedua telapak tangannya di dada Ryan kemudian berubah melingkari leher Ryan.


Ada apa ini, kenapa aku menikmatinya. Aku bahkan tidak ingin melepaskan ciumannya. Batin Ellen.


Setelah ciuman yang cukup lama itu terjadi dan posisi mereka yang sudah berada di sofa, Ellen kemudian merapikan dirinya.


"Apa kau masih mencintaiku, Vay?" tanya Ryan dari belakang Ellen, memeluk gadis itu dari belakang dengan sangat menempel.


"Ryan, aku sedang tidak ingin membahasnya." Jawab Ellen.


Ryan melepaskan pelukan itu, membalikan badan Ellen yang kini saling berhadapan dengannya.


"Baiklah, aku akan memastikan kalau kau adalah milikku. Mulailah bekerja." Ujar Ryan tersenyum lalu meninggalkan Ellen di ruangan tersebut.


"Apa yang terjadi barusan, bahkan kami hampir lepas kontrol! Bisa gila aku." Gumam Ellen menampar kecil kedua pipinya dan kemudian mulai bekerja.

__ADS_1


Bayang-bayang kegagalan dalam misi ini mulai menggerogoti pikirannya. Dan karna ketakutan akan tuan Dominic, Ellen benar-benar memastikan dia tidak akan terlibat dalam kisah percintaan lagi.


__ADS_2