Ellen Barker"Bad Liar"

Ellen Barker"Bad Liar"
Misi baru yang sama


__ADS_3

Wanita itu berjalan sambil melirik sekitarnya. Matanya terus saja bergerak. Dia berharap tempat ini adalah tempat teraman untuk menjumpai kliennya.


"Maaf menunggu lama." Ujarnya tersenyum.


"Tempat ini tempat yang paling aman sesuai permintaanmu. Dan aku akan mengatakannya sekarang." Ujar pria yang kemarin tanpa banyak basa-basi.


Ellen memperhatikannya lebih dalam lagi.


Sexy sekali lelaki ini. Batinnya sambil tersenyum.


"Maaf, apa kau sudah menikah?" tanya Ellen dengan spontan.


Pria itu diam sejenak karna terkejut mendengar pertanyaan itu, merasa heran dan bingung.


"Belum." jawabnya singkat.


Ellen hanya mengangguk. "Baik, lanjutkan."


"Sejujurnya, aku mengenalmu dari ayahku. Ayahku pernah meminta bantuan padamu, tapi kali ini aku yang akan mengambil bagian karna harus memastikan kau sudah benar-benar menuntaskannya sampai akhir."


Ellen terdiam. Apa maksudnya?


"Lalu?" tanya Ellen.


"Dulu musuh ayahku telah berhasil kau jatuhkan, sekarang generasinya berhasil bangkit kembali, ayahku selalu memuji cara kerjamu. Tapi aku ragu." Jawabnya.


"Kalau boleh tau, siapa ayahmu dan siapa musuh ayahmu itu?"


"Ayahku Dominic dan musuh terbesarnya adalah Taylor Lauren. Sekarang anaknya Ryan Lauren yang pernah bangkrut itu telah naik kembali. Mungkin kau harus lebih professional agar tidak ada kata bangkit kembali bagaimana?" jelas pria itu.


Ellen terdiam. Hal ini tidak terduga. Pikirannya melayang kemana-mana.


Pantas saja dia berkata seperti seolah mengenalku. Batinnya.


"Aku lupa, siapa namamu?" tanya Ellen ingin memastikan.


"Frederick Carlos."


"Oh ya..ya.." jawab Ellen terbata-bata.


"Ada apa? Kenapa kau kaku begitu? Apa ada masalah?"


Ellen menggeleng sambil tersenyum tenang. Bagaimana tidak, siapa yang tidak mengenal Frederick Carlos, pengusaha paling berjaya yang juga merupakan ahli waris dari sang ayah yaitu pengusaha dari tuan Dominic.


Ellen sempat mendengar tentangnya dari tuang Dominic sendiri bahkan cerita cerita dari lingkungannya. Namun Ellen tidak begitu tertarik karna itu bukan pekerjaan penting yang bisa menghasilkan uang.


Sekarang ia bisa melihat langsung pria ternama itu dan juga memiliki urusan penting dengannya.


"Dikartu identitas kau bernama Vallery Oscar, tapi ayahku bilang kau bernama Ellen. Jadi aku harus memanggilmu apa?" tanya Erick mengelus dagu.


"Terserahmu saja."


"Hmm, Ada bagusnya aku memanggilmu yang bukan nama aslimu saja." Erick menjawab dengan wajah dingin. Pria ini betul-betul menarik, pikirnya.


Dominic yang merupakan ayah dari Erick adalah klien yang paling setia pada Ellen. Sehingga gadis itu sudah menganggap Dominic sebagai keluarganya. Di usia tua Dominic pun, Ellen masih menyempatkan waktu untuk mengingat dan mengunjungi pria tua yang selalu meminta bantuannya itu.


"Mmm, ngomong-ngomong soal misi ini ada bagusnya saya pertimbangkan dulu. Karna ada beberapa hal yang betul-betul harus dipikirkan." Ellen menghela nafas.


"Apa karna Ryan adalah mantan kekasihmu? Oleh karna itu kau tidak betul betul menuntaskannya?" jawab Erick tersenyum dingin.


Mendengar pernyataan itu, Ellen tersedak wine yang sedang diteguknya. Alhasil dia terbatuk-batuk memecahkan keheningan restoran elite itu.


"Apa kau baik-baik saja, nyonya?" tanya pelayan disitu setelah memberi beberapa penanganan.


Ellen mengangguk sambil tersenyum. "Terimakasih."


Lalu pandangannya kembali pada pria yang bernama Frederick itu. Tatapan sarkatis Ellen membuat Erick sedikit tersenyum.


"Aku tau semua tentang kehidupanmu dengan begitu baik. Jadi untuk kali ini jangan mengecewakan lagi."


Ellen tertegun. Tiba-tiba suatu ide muncul dalam pikiran Ellen. Tapi masih belum meyakinkan apakah ide ini membantu dirinya atau malah memperkeruh masalah yang tengah dia hadapi.

__ADS_1


"Mmm, Tuan Erick." Panggil Ellen tenang.


Erick menaikkan alisnya. Responnya yang dingin itu membuat Ellen semakin tertarik mendalami karakternya.


"Aku rasa aku bisa menyelesaikan misi ini kembali kalau kau juga bersedia membantuku saat aku memerlukan bantuanmu nantinya." Jawab Ellen sambil mengelus bibir gelas menggunakan jari telunjuknya.


"Apa itu?"


Ellen tertawa kecil sambil menaikkan alis kirinya dengan tatapan tajam menatap Erick.


"Tidak perlu diceritakan sekarang. Nanti pada saat waktu yang tepat."


"Baiklah." Erick menjawabnya singkat.


Pertemuan itu berakhir dengan aman-aman saja. Kini Ellen sudah berada di apartement pribadinya tanpa ada masalah.


Karna saat ini, ia betul-betul mengawasi langkah dan sekitarnya. Ia sangat yakin, Ryan telah mengirimkan mata-mata untuk mencari tau tentangnya.


Ellen kemudian bergegas membasuh dirinya ke dalam bathtub dan berendam dengan air susu yang telah dipesannya sebelum sampai ke apartement.


Wangi lavender dari lilin itu membuat pikirin wanita itu semakin rileks. Sekujur tubuh sampai lehernya telah terendam di air susu hangat itu.


Tak tersadarkan, beberapa menit ia ketiduran dan hampir lupa batas waktu untuk berendam didalam bathtub saking rileks nya dia.


Dan setelah keluar dari kamar mandi, pikiran itu muncul kembali.


"Aku tidak menyangka Ryan bisa berjaya kembali?"


Sambil berhanduk, Ellen berjalan menuju jendela kaca apartementnya dan menatap pemandangan kota di lantai 40.


Apartement mewah itu adalah pemberian Dominic. Dulu Ellen tidak memiliki tempat tinggal yang tetap. Bahkan dulu Ryan sempat membelikan rumah yang tak kalah mewah pada Ellen, namun semua ditinggalkan oleh wanita itu saat misinya telah selesai.


Sebelum meninggalkan Ryan dengan misinya itu, Ellen masih mengingat bahwa dia memang meninggalkan 10% saham kepada Ryan. Saham sekecil itu bagaimana mungkin bisa naik lagi.


"Kenapa situasinya jadi begini?" pikir Ellen lagi.


Disatu sisi ia sedikit senang Ryan bisa bangkit kembali karna dulu ia tak sampai hati menjatuhkan perusahaan itu. Namun disatu sisi lagi, ia merasa bersalah karna iya tau kalau Dominic juga tengah kecewa. Misinya tidak pernah gagal atau pun mengecewakan. Baru sekali ini ia melihat targetnya bisa bangkit kembali, bahkan kembali menghantuinya.


"Inilah akibatnya jika aku berbelas kasih pada pekerjaanku. Merepotkan!" ketusnya karna ini memang kali pertama ia merasa tidak sampai hati.



"Jangan sampai aku jatuh cinta lagi. Aku tidak ingin misiku berantakan untuk kedua kalinya!" Ellen segera mengusir gambaran Erick yang ada dalam pikirannya.


Ditengah-tengah pertikaian pikirannya itu, ponsel Ellen berdering. Ia langsung bangkit berdiri dan mencari ponselnya.


Ellen tidak langsung mengangkat panggilan itu. Ia terdiam.


"Bukannya ini nomor Ryan saat menghubungiku kemarin? Mau apalagi dia?" gumam Ellen.


Ia tidak mengangkat panggilan itu sampai panggilan itu mati. Namun, nomor itu tetap menghubunginya sampai Ellen mengangkat panggilan itu.


"Ada apa?" sambar Ellen pada akhirnya menerima panggilan Ryan.


"Ellen, aku ingin bertemu."


"Ada apa?" tanya Ellen lagi.


"Aku hanya ingin bertemu."


"Ada apa?!" Ellen menekan intonasinya.


"Ellen, dengan semua yang telah ku berikan lalu kau meninggalkan ku tiba-tiba?! Apa benar kalau kau seorang penipu?! dan kau berbuat itu padaku selama ini?! gertak Ryan.


"Aku tidak pernah menipumu!" Ellen membalas gertakan itu menutupi rasa terkejutnya akan perkataan Ryan.


"Lalu kenapa kau tidak mau menemuiku? Aku ingin bertemu, Ellen. Sebentar saja." Ujar Ryan lembut.


"Tidak ada lagi hal yang perlu dibicarakan."


"Ellen, ku mohon."

__ADS_1


"Maaf. Harusnya kau tidak perlu mengusikku lagi." Dengan cepat Ellen mengakhiri panggilan itu dan segera mematikan ponselnya.


"Bagus sekali usahamu untuk mencari tau tentangku, Ryan. Bahkan kau hampir tau pekerjaanku, mungkin sebentar lagi kau tau tempat tinggalku yang aman ini," tukas Ellen meremas jemari nya


"Aku harus mencari tempat tinggal yang baru." Sambung Ellen.


Dan keesokan harinya, Ellen menjumpai kliennya. Bukan klien baru juga bukan Erick.


Melainkan Tuan Dominic, pengusaha terkaya yang juga merupakan klien setianya.


"Hmm.. begitu?" gumam Dominic saat mendengar cerita Ellen.


Hening beberapa detik. Tuan Dominic mengelus jenggotnya yang sudah memutih itu. Matanya masih tetap terlihat tajam walaupun telah mengenakan kaca mata.


"Baiklah, Ellen. Memang benar, kau harus berhati-hati. Tapi kau tidak perlu khawatir, dia tidak bisa menyadapmu, karna aku sudah melindungi privasimu. Dia juga tidak bisa mengikutimu sembarangan, karna setiap kau bertemu klienmu bukan ditempat sembarangan," jawab Dominic.


Ia melirik Ellen sejenak.


"Dan, apartement yang kau tempati itu adalah tempat teraman yang telah ku berikan padamu. Kamarmu adalah kamar khusus dan satu orang pun tidak bisa menjangkaumu disana. Sistem penjagaan disitu sangat ketat. Aku sudah mengatur semua, sayang. Tugasmu sekarang lakukan yang terbaik dan berhati-hatilah!" tutup Dominic.


Ellen terdiam sejenak. Menunduk.


"Maafkan aku, Pak."


Tuan Dominic hanya tersenyum kecil mendengar pernyataan itu.


"Tidak ada yang perlu kau salahkan dari hasil kerja kerasmu. Cinta bukanlah alasan untuk melemparkan kesalahan padamu. Dia bisa bangkit kembali juga karna usahanya sendiri."


Dominic menghela nafas sejenak. Maklum saja, faktor umur membuatnya sedikit kesusahan berbicara panjang lebar tanpa jeda.


"Mungkin kau bertanya-tanya, mengapa aku masih ingin menjatuhkan perusahaan keluarga itu, Ellen. Ada saatnya kau akan tau. Lakukan dulu tugasmu sampai tuntas. Aku juga tau, kau masih memikirkannya. Kau sudah ku anggap seperti putriku sendiri, untuk itu jangan kecewakan ayahmu ini, Nak." Ujar Dominic tesenyum.


Tapi senyuman itu tidak senyuman manis seperti kebanyakan orang. Senyuman itu sangat menyeramkan. Dominic memang sosok yang menyeramkan.


"Baik, Pak." Jawab Ellen sambil menelan ludah.


Ellen akhirnya pergi meninggalkan perusahaan itu dan kembali ke apartementnya. Dengan kepala yang sedikit pusing, ia berusaha naik menuju lantai 40 itu.


"Ahhh" desahnya kesakitan karna tubuhnya terjatuh begitu saja. Tanpa sadar, Ellen jatuh pingsan didalam lift itu.


Selang beberapa jam. Mata yang panjang dan berbulu lentik itu perlahan terbuka. Sinar lampu membuat matanya sedikit kesusahan untuk terbuka. Namun tiba-tiba, wajah seseorang menutupi cahaya lampu itu.


"Kau baik-baik saja?"


Ellen terdiam kebingungan. Bagaimana ceritanya Erick bisa ada didalam apartementnya.


"Sedang apa kau disini? Bagaimana kau bisa masuk?"


Namun Erick tak memperdulikan pertanyaan itu.


"Sepertinya kau sudah baikan, aku pergi dulu."


Ellen dengan cepat mencegatnya pergi. Ia menarik tangan Erick. Untung saja badan itu kokoh dan besar, kalau tidak lelaki itu sudah menindih tubuh Ellen.


"Hey!" tukas Erick dengan nada sedikit tinggi.


"Bagaimana kau bisa masuk ke dalam apartement ku, Tuan Erick?!" tanya Ellen dengan intonasi yang jelas dan raut wajah kekesalan itu terpampang jelas sambil bangun dari tidurnya.


Erick tidak langsung menjawab. Ia hanya mengamati Ellen begitu lekat.


"Kau lupa bahwa apartement ini adalah pemberian ayahku, Ellen. Dan satu hal yang perlu kau tau, seluruh gedung apartment ini adalah milikku atau lebih tepatnya saham pribadiku." Jawab lelaki itu dengan dingin dan membuat Ellen terdiam.


"Sepertinya kau sedang begitu panik. Ada apa? Atau karna kau terlalu memikirkan mantan kekasihmu itu?"


"Kau sudah boleh pergi sekarang." Ujar Ellen lalu membaringkan tubuhnya membelakangi Erick.


Lelaki itu hanya tersenyum kecut, lalu melangkahkan kakinya keluar.


Ellen menghembuskan nafasnya, itu terdengar jelas sekali. Banyaknya hal yang mengganggu ini membuatnya sedikit frustasi, terlebih-lebih masalah Ryan.


"Aku harus mengatur strategi. Baiklah, Ryan. Let's play the game." Kata Ellen tersenyum sinis.

__ADS_1



Ellen barker, gadis kelahiran 22 Agustus 1996. Usia mudanya hanyalah diisi dengan kejahatan sadisnya.


__ADS_2