
Jam sudah menunjukan pukul 17.30
Ellen bolak balik didepan jendela kaca besar itu. Pemandangan seluruh kota terlihat begitu jelas, sinar matahari yang terbenam juga sedang menunjukan keindahannya yang selalu dinantikan setiap orang. Tapi fokus Ellen tidak disitu, ia sibuk memikirkan sesuatu yang lebih penting.
"Bagaimana ini?" pikirnya.
Beberapa kali ia mendengus dan jleb saat itu ide baru muncul.
Senyuman jahat tergambar diwajahnya. Benar-benar licik. Sekarang ia perlu belajar akting yang lebih baik saja.
Tapi apakah aku akan tega untuk melakukannya lagi? Pikirnya tiba-tiba.
Aku tidak boleh memalukan diriku lagi karna perasaan itu. Cukup ingat saja, aku adalah wanita yang tidak pantas untuk memiliki cinta dan mencintai seseorang. Batinnya kemudian.
Bell apartement nya berbunyi. Ellen berpikir sejenak. Perasaan dia tidak memanggil pelayan karna memesan sesuatu, bahkan lantai 40 ini khusus di akses oleh Ellen, bahkan pelayan saja bila hendak naik di daerah kekuasaannya harus dikonfirmasi oleh Ellen terlebih dahulu.
"Siapa itu?" Ellen terlihat was was. Ia berjalan, menghidupkan kamera dari dalam apartement nya untuk melihat siapa diluar. Takutnya itu adalah Ryan dengan saking nekatnya membobol keamanan apartement itu.
"Dia? Mau apa dia kesini?!"
__ADS_1
Tanpa banyak tanya, Ellen membukakan pintu itu. Saat pintu terbuka, senyuman manis dari tamu tak diundang itu membuat Ellen semakin bertanya-tanya. Walaupun ada kelegaan melihat siapa yang datang.
"Sedang apa kau disini?"
"Apa begini memperlakukan seorang tamu?" tanya Erick.
Ellen menghela nafas, masuk begitu saja dan diikuti dengan Erick. Lelaki itu sesekali memandangi seisi apartement Ellen.
"Duduklah." Ujar Ellen sambil membanting diri di sofa.
"Apa kau sudah memikirkannya?" Erick langsung ke intinya."
"Tergesa-gesa sekali." Kata Ellen dengan wajah sarkatis.
Karna tindakan barusan, pipi Ellen memerah.
"Hey nona, kau bisa saja terlena dalam hal apapun. Namun untuk sebuah hal penting jangan pernah menunda-nunda," mimik Erick mulai terlihat serius.
"Kau akan terus ketinggalan kalau kau selalu menunda sesuatu yang penting." Begitulah Erick mengakhirinya.
__ADS_1
Ellen tertegun.
Dia mengguruiku? batinnya.
"Segera lakukan tugas yang telah diberikan padamu, sebelum dia semakin berjaya dan kau semakin kesulitan nantinya." Erick bangkit berdiri yang diikuti juga dengan Ellen.
"Ah aku hampir lupa, ayah mengundangmu untuk datang ke rumah. Datanglah, ia sangat menantimu.
Aku pamit dulu." Tukas laki-laki itu dengan dingin.
Wajah Ellen mengkerut, sangat jelas terlihat di wajahnya kalau ia kesal pada Erick.
Apa-apaan dia barusan?! Selama ini aku selalu memujinya karna dia sangat tampan dan sexy. Tapi ternyata dia begitu menyebalkan ya!! Batin Ellen.
Rasanya ia ingin menjambak rambut Erick yang meninggalkan senyuman dingin di wajahnya. Apa apaan itu, seolah sengaja menakut-nakuti.
Ke depannya dia akan terus mengawasi ku. Aaahh sial. Aku yang terlalu naif karna berpikir akan sangat menyenangkan karna berurusan dengan orang nomor satu dengan bonus wajah tampan yang begitu rupawan. Batin Ellen sambil mengepalkan tangannya.
"Tapi ada apa ayah Dominic mengundangku?" gumamnya.
__ADS_1
"Oke baiklah, Ellen. Mari jalankan misimu. Sebelum seseorang yang menyebalkan datang tiba-tiba dan menggurui ku lagi." Lontarannya mulai memacu adrenalin dan semangatnya.
Akan ku tunjukkan padanya bahwa aku adalah Ellen Barker, seorang penipu yang tak bisa diremehkan olehnya!