Ellen Barker"Bad Liar"

Ellen Barker"Bad Liar"
Bertemu Ryan


__ADS_3

Siang itu, disebuah restoran ternama. Seorang pria sedang duduk dengan tenang sambil meneguk segelas wine. Sesekali ia merapikan penampilannya. Sepertinya sedang menunggu kedatangan seseorang yang spesial.


Setelah melihat seseorang yang tengah dinantikannya itu datang, ia segera bangkit berdiri.


"Ryan." Panggil suara itu. Ia langsung menoleh ke arah suara.


"Hey! Silahkan duduk, Ellen." Jawabnya tersenyum senang sambil menuntun gadis itu ke kursinya.


Ellen ikut tersenyum tapi senyumannya tidak semanis senyuman orang seperti biasanya.


Dengan mengenakan gaun biru dongker yang membentuk tubuh sexynya itu, ia mengambil posisi duduk yang tenang.


"Akhirnya kau mau menenemuiku juga." Ryan membuka percakapan.


"Jangan banyak basa-basi, kau mau apa?" ekspresi Ellen berubah.


Ryan tertawa melihat kelakuan Ellen. Gadis itu semakin mengerutkan keningnya.


"Oh, sayang. Lihat lah dirimu! Hahaha," ujar Ryan masih tertawa.

__ADS_1


"Kau tetap terlihat cantik dalam keadaan marah sekalipun." Sambungnya


Ellen menarik nafas dalam dalam. Ia tetap harus mengontrol dirinya. Ia tau ini rumit, tidak pernah terjadi sebelumnya. Untuk itu jangan sampai ia malah jatuh keperangkapnya sendiri.


"Kalau kau memanggilku kesini hanya karna omongan yang tidak penting, lebih baik aku pergi. Waktu berhargaku terbuang sia-sia." Kata Ellen tegas.


Ryan tertawa kecil.


"Baiklah, Ellen. Kalau itu maumu, mari langsung ke pokok bahasan," Ellen diam saja, menatap Ryan lekat-lekat. Walaupun jantungnya sedikit berdebar.


"Kenapa kau menipuku? Kau mengatakan namamu adalah Vallery Oscar, kau meninggalkanku, dan kau menghilang. Apa semua ini ada kaitannya denganmu, Vallery? Aah.. tidak, Ellen?"


Ellen tidak langsung menjawab. Ia berusaha tetap tenang. Dan Ryan masih melanjutkan pembicaraannya.


Wanita itu tertawa. Sontak hal itu membuat Ryan bingung. Pria itu tidak melanjutkan pembicaraannya, seolah iya ingin mendengar wanita itu berbicara.


"Ckck Ryan Lauren. Kau pintar, memang pintar. Kalau kau tidak pintar mungkin saja kau tidak bisa bangkit lagi," tukas Ellen membuat Ryan tersentak.


"Tapi sangat disayangkan, kau mudah sekali dibodohi oleh orang-orang sekitarmu. Termasuk ibumu sendiri."

__ADS_1


"DIAM!" Bentak Ryan sehingga membuat orang yang berada di restoran itu terkejut. Tapi Ellen tetap tenang. Tidak memperdulikan hal yang memalukan itu. Tatapannya sangat sinis dan angkuh menatap Ryan yang sedang murka itu.


Ellen sudah yakin Ryan pasti murka setelah dipancing dengan umpan yang murahan seperti itu. Ternyata emosinya belum berubah juga sejak dulu.


"Baiklah tuan Ryan, sepertinya perjumpaan kita sampai disini saja," Ellen bangkit berdiri lalu merai tas mininya itu.


"Dan jangan pernah usik hidupku lagi."


Saat bangkit berdiri, Ellen melirik Ryan sembari tersenyum sinis.


"Ingat, walaupun diluar sana ada orang yang ingin dan akan menjahatimu, kau juga tidak boleh lengah pada orang-orang terdekatmu, termasuk keluarga sendiri. Rencana jahat tidak memandang apakah itu hubungan dekat ataupun jauh."


Setelah kalimat itu terlontarkan, Ellen melangkahkan kaki untuk pergi. Sementara Ryan cukup tersentak mendengar kalimat itu sambil memandang Ellen sampai sosoknya tidak terlihat lagi.


"Apa maksud dari ucapannya," Ujar lelaki itu kemudian.


"Apakah ini berkaitan tentang ibuku?" sambungnya lagi.


Ryan bertanya-tanya kenapa Ellen tidak mau menceritakan kalau memang ada sesuatu hal yang buruk sedang terjadi.

__ADS_1


Dia kelihatan sengaja menarik ulurku agar tertarik untuk melihatnya lagi. Heh! Batin Ryan.


"Tapi sialnya, kenapa aku masih berharap untuk bisa bersamanya!" sesal Ryan kemudian.


__ADS_2