Ellen Barker"Bad Liar"

Ellen Barker"Bad Liar"
Terkejut


__ADS_3

Beberapa hari setelah bekerja dengan Ryan, Ellen harus lembur karna ada banyak berkas yang diselesaikannya. Apalagi perusahaan tersebut baru berdiri, pasti ada banyak karyawan yang harus di terima dan di interview.


"Huh..." Desah Ellen tergeletak di sofa apartemen nya. Berbaring sejenak disitu adalah pikiran utamanya setelah pulang kerja.


"Lelahnyaaaa...." gerutunya lagi dan kali ini ia menarik badan sampai bunyi tulangnya terdengar jelas.


Bell apartemen Ellen berbunyi. Sejenak ia berpikir.


Ahh... pasti dia. Batin Ellen.


Dan dugaannya benar. Setelah membukakan pintu, sosok Erick yang dingin itu muncul di bola mata Ellen.


"Ada apa?" tanya Ellen.


"Bisakah kau tiap kedatangan tamu penting tidak bertanya 'ada apa' dulu?" ketus Erick.


Hey, ada apa dengannya. Sensitif sekali! Batin Ellen geram.


"Baiklah, silahkan ma-" Belum sempat Ellen menyelesaikan perkataannya, Erick masuk ke dalam sambil menyenggol Ellen dan gadis itu terpental ke dinding.


Sepertinya kali ini aku tidak akan menjadi mafia yang bebas. Harusnya aku tidak melakukan kesalahan, dan akibatnya aku harus berurusan dengan si tampan berhati iblis ini. Batin Ellen menangis.


"Hey. Duduklah." Ujar Erick kepada Ellen sambil menyilangkan kaki dan melipat tangan kemudian bersandar dengan santainya di sofa yang super empuk itu.


BAHKAN DIA MENYURUHKU DUDUK DI APARTEMEN MILIKKU?!! Ellen semakin kesal.


Ellen mengambil posisi duduknya bersenjangan dengan Erick. Pria itu benar-benar dingin, wajahnya saja tidak tersenyum. Seperti menghakimi seseorang yang melakukan kesalahan fatal.


"Bagaimana perkembangan dari pekerjaanmu?" tanya Erick menatap Ellen.


"Aku masih mencari tau, titik lemahnya." jawab Ellen singkat.


"Seberapa lama lagi?"


"Kau tidak perlu terburu-buru, tenang saja." kening Ellen sedikit mengkerut kesal. Ia merasa Erick seperti tidak mempercayainya.


"Aku pernah bilang sebelumnya bukan? Untuk tidak terlena." Erick tersenyum. Tapi itu tidak manis, senyuman itu terlihat sangat menakutkan.

__ADS_1


"Ya ya ya tuan Erick, aku tau. Jangan mengingatkan ku lagi." Ujar Ellen menggulingkan kedua bola matanya.


"Hey, apa yang barusan kau lakukan!" gertak Erick dan otomatis suara gertakan itu membuat Ellen sedikit terkejut.


Erick bangkit berdiri, menghampiri Ellen yang panik melihat reaksi pria itu.


Kemudian Erick mendorong tubuh Ellen sampai terbaring di atas sofa, menahan kedua pergelangan tangan gadis itu agar tidak bisa memberontak.


"Apa yang kau lakukan?!" gertak Ellen balik.


"Apa yang ku lakukan? Yaitu mengajarimu sopan santun." Jawab Erick dengan wajah yang begitu dekat dengan wajah Ellen.


"Kau tau? Hal yang kau lakukan barusan adalah hal yang paling tidak ku sukai." Tutur Erick lagi. Ellen berpikir hal apa yang telah dia lakukan sampai aura laki-laki itu sangat menyeramkan.


Apakah karna aku menggulingkan bola mataku?! Ellen menelan ludah.


"Erick, baiklah aku minta maaf. Tapi tolong jangan begini, aku kesakitan." Rintih Ellen berusaha melepaskan pergelangan tangannya dari genggaman yang kuat itu.


"Kau juga sepertinya menyepelekan segala sesuatu hal. Kau mau menunggu sampai kapan menyelesaikan ini semua? Lebih cepat lebih baik, bukan?" Erick masih belum berhenti menyiksa pergelangan gadis itu.


Erick mulai melonggarkan sedikit genggamannya itu, mata Ellen yang sayu perlahan tertutup.


"Hey bangun." Erick mengguncang lengan Ellen. Mata itu sedikit terbuka, tetapi tertutup lagi.


"Dia tertidur?" gumam Erick. Tanpa di sadari ia tersenyum kecil melihat wajah Ellen.


Ia kemudian bangkit dari sofa lalu mengangkat Ellen menuju kamar. Dengan hati-hati meletakkan Ellen, ia mengelus rambut gadis itu.


"Sudah potong rambut rupanya." ujar Erick sambil menatap Ellen lekat.


Sepertinya ia memang lelah, baikah aku tidak akan terlalu memaksa nya. Batin Erick.


Sekarang tangannya berpindah mengelus pipi Ellen. Sejenak melakukan itu, ia sadar dan menghentikan perbuatannya.


"Apa yang sedang ku lakukan?!" gumam Erick menolak yang ada di pikirannya. Merasa tertarik dengan wanita ini adalah bukan salah satu dari keinginannya.


Apalagi wanita ini adalah bukan wanita baik seperti idamannya.

__ADS_1


"Kenapa kau harus terlahir untuk menjadi seorang penipu?" spontan pertanyaan itu keluar dari mulut Erick.


Apa lagi yang barusan ku katakan?! Erick menolak mentah-mentah pikirannya lagi.


Saat sedang beradu dengan pikirannya, tiba-tiba Ellen mengigau.


"Hhhh... Mmmm..." suara Ellen memecahkan perseteruan hati dan pikiran pria yang sedang bersamanya itu.


"Ellen?" panggilnya pelan.


"A-ah.. Aku lelah." ujar Ellen sambil menggerakkan badannya.


Erick tidak menjawab apa-apa lagi. Ia cukup menghela nafas sambil mengelus kembali rambut gadis itu.


Tanpa disadari karna terus menatap wajah Ellen, Erick mencium bibir Ellen.


Dan entah mimpi apa yang membuat Ellen terbangun dan mendapati Erick yang sedang mencium bibirnya.


Erick terkejut dan melepaskan ciuman itu. Hal yang sama juga dengan Ellen, gadis itu bangun dari tidurnya sambil menarik selimut menutupi dadanya.


"Istirahatlah. Tidak perlu lagi memaksakan dirimu jika sudah lelah." Ujar Erick lalu meninggalkan kamar itu.


Tadi barusan apa yang terjadi?! Lalu kenapa tiba-tiba dia berkata seperti itu? Setelah mencium ku dia juga pergi dengan mudahnya?! Bahkan tiba-tiba berbaik hati?! Batin Ellen masih dalam keadaan panik.


Ellen keluar dari kamarnya, melihat sekeliling ruangan. Apartemen sudah kosong.


Dia sudah pergi.


Ellen kembali memasuki kamar, dan kejadian yang tadi muncul dalam pikirannya.


"Aahh!! Aku bahkan tidak bisa melupakan kejadian tadi!! Padahal itu bukan ciuman pertamaku." Jerit Ellen dengan kesal.


Lalu ia kembali merenunginya lagi.


Tapi selama ini aku hanya bisa melihat bibir sexy sempurna itu. Dan tadi mendarat diatas bibirku. Bahkan rasanya pun... Mmmm manis, kenyal dan dingin. Batin Ellen terkikik.


Ku kira orangnya saja yang dingin, ternyata sampai bibirnya pun dingin. Batin Ellen dengan tawa yang menjadi-jadi.

__ADS_1


__ADS_2