
Kali ini, Ryan dengan berani menerima tawaran Ellen dan melakukan pertemuan itu di perusahaannya Ryan sendiri. Ellen mengamat-ngamati sekitarnya. Mempelajari lingkup segala ruangannya. Gedung baru, aroma khas itu terhirup jelas di hidung Ellen.
"Silahkan masuk, nona." Kata staff yang sedari tadi mengkawal Ellen dari lobby.
Ellen tanpa ragu memasuki ruangan khusus. Itu adalah ruangan CEO perusahaan. Terlihat Ryan sedang duduk di meja kerjanya. Lalu bangkit berdiri melihat Ellen datang.
"Ada angin apa kau ingin bertemu?" tanya Ryan.
"Ingin mengobrol saja. Jawab Ellen langsung."
"Kebetulan, aku juga ingin mengobrol denganmu. Duduklah." Ryan tersenyum.
Beberapa saat, seorang staff masuk dengan baki ditangannya.
"Ini kopinya tuan muda." Setelah mengantarkan dua gelas kopi, ia kemudian meninggalkan ruangan.
"Jadi apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Ryan.
"Bagaimana dengan perusahaan barumu?" Ellen berusaha senatural mungkin untuk memulai obrolannya.
"Hmm seperti yang kau lihat, semuanya berjalan baik."
"Baguslah, tapi sepertinya kau masih membutuhkan pegawai lagi." Ujar Ellen sembari mengambil cangkir kopi lalu menyeduhnya.
"Ya seperti itulah. Ada beberapa banyak lamaran yang datang, tapi aku masih belum memiliki sekretaris untuk menghandle semua itu." Tukas Ryan juga mengambil cangkir kopi miliknya kemudian ikut menyeduh kopi bersama Ellen.
Bagus, ini sesuai dengan rencanaku. Batin Ellen tersenyum tipis.
"Oh ya? Bagaimana kalau aku saja yang menjadi sekretarismu? Hahaha, mana mungkin juga kau mau." Ellen tertawa setelah melontarkan kalimat itu.
__ADS_1
Ryan tidak langsung merespon. Ia menatap Ellen lekat-lekat. Ellen tidak bisa menebak, arti dari tatapan lelaki itu padanya.
"Hey, kenapa menatapku seperti itu? Aku hanya iseng." Kata Ellen sambil menaruh cangkir kopinya.
"Bagaimana kalau aku serius menanggapinya? Apakah kau akan bertanggung jawab?" tanya Ryan.
"Maksudmu? Kau..." Ujar Ellen terputus.
"Ya, bagaimana kalau kau saja yang jadi sekretaris ku? Kau harus bertanggung jawab atas penawaran mu barusan." Ryan tersenyum dingin.
"Kenapa tiba-tiba kau ingin menerimaku, padahal aku jelas jelas sudah meninggalkan mu dan tidak setia padamu." Tukas Ellen menatap Ryan penuh keyakinan.
Ryan tertawa sambil meletakkan cangkir kopinya diatas meja.
"Kau meminta, ya tentu saja aku akan mengabulkan."
Simpel sekali dia menjawab, hanya karna aku yang memintanya. Batin Ellen.
"Eh? Yaa, baiklah."
"Tapi dengan satu syarat." Sahut Ryan tersenyum. Ellen hanya memainkan alisnya untuk menjawab.
"Kau jangan pernah mengkhianati ku, seorang sekretaris merupakan kaki tangan atasannya. Aku tidak ingin membahas masalah kita lagi, yang ku minta kau jangan mengkhianati ku saat kau menjadi bagian dari perusahaan ini." Begitulah Ryan memberi pernyataannya.
Ellen terdiam sejenak, "baiklah." Jawabnya dengan mantap.
Ryan tersenyum mendengar jawaban dari gadis itu. Ellen tidak tau, apa rencana di balik ini. Karna gadis itu sangat merasa yakin, Ryan telah merancang sesuatu yang berkaitan dengan Ellen. Bisa saja bekerja dengan Ryan, pria itu semakin tau kehidupan Ellen dan siapa gadis itu sebenarnya. Atau bahkan, dia berencana untuk membunuh Ellen? Karna teringat akan pesan dari tuan Dominic untuk selalu berhati-hati.
Ah, sungguh merumitkan diriku sendiri. Batin Ellen.
__ADS_1
Ditengah keheningan itu, Ellen kembali membuka percakapan pada Ryan yang sedang asyik menyeduh kopinya.
"Lalu bagaimana dengan ibumu?" tanyanya.
Ryan tersentak mendengar Ellen menanyakan hal itu.
"Ada apa dengan ibuku? Kenapa kau terus berkata sepeti itu! Apa masalahmu pada ibuku, Ellen?!" gertak Ryan.
"Tidak, harusnya aku yang bertanya. Apa masalah ibumu padamu."
Ryan terdiam, bingung akan kalimat itu. "Apa maksudmu?"
Kemudian Ryan kembali meletakkan cangkirnya dan bangkit dari duduknya mendekati Ellen.
Ellen juga spontan bangkit berdiri.
"Katakan." Desak Ryan sambil mencekam kedua lengan Ellen. Gadis itu sempat merintih kesakitan.
"Dari pada kau bertanya padaku, lebih baik kau tanya saja padanya. Dan bila aku mengatakannya, kau percaya?" balas Ellen.
Ryan melepaskan cengkramannya dari lengan Ellen dan membuat gadis itu sedikit bernafas lega karna menahan sakit.
"Kau kesakitan?" tanya Ryan. Ellen melirik pria itu lalu tidak lama setelah itu ia membuang pandangannya.
"Tidak." jawab Ellen.
"Maaf. Aku tidak sengaja." Ujar Ryan memeluk Ellen.
"I-iya, aku tidak apa-apa." Jawan Ellen sedikit kaku, dan secara refleks tangannya membalas pelukan itu.
__ADS_1
Bahkan pelukannya saja masih terasa hangat, ayolah aku hanya rindu berpelukan dengannya. Batin Ellen tenggelam dalam pelukan itu.