Emerald Soulmate

Emerald Soulmate
01. Peradaban Kayu


__ADS_3

Bergantinya zaman batu ke zaman kayu benar-benar membuat perubahan besar pada era ini. Sebagai contoh, kebiasaan masyarakat yang awalnya menggunakan batu sebagai alat kebutuhan sehari-hari. Kini berganti bahan menjadi kayu semua, seperti kursi kayu, meja kayu, sapu kayu, bahkan rumah dengan dinding dan atap terbuat dari kayu.


Midorizawa Ten, salah satu anak kecil di sebuah kampung terlihat sedang menumbuk padi menggunakan lesung kayu. Tidak hanya Ten, anak kecil lainpun terlihat sedang melakukan kegiatan serupa. Karena kondisi ekonomi kampungnya yang terbilang rendah, mau tidak mau semua anak kecil di kampung ini sudah mulai ikut bekerja membantu orang tua mereka.


Meski begitu, Ten tidak pernah mengeluh. Ia menjalani pekerjaannya dengan suka hati. Demi orangtuanya yang sering sekali kecapaian setelah pulang bekerja, Ten mau melakukan apapun untuk membantu meringankan pekerjaan orangtuanya. Meski bisa dibilang umurnya masih cukup muda dari banyaknya anak-anak kampung di sekitarnya.


Ten mengusap peluh di dahinya, pekerjaannya menumbuk padi akan selesai sebentar lagi. Setelah itu, ia harus pergi berburu ke hutan bersama Ayahnya menangkap kelinci untuk dijadikan menu makan malam nanti. Membayangkan aroma dan rasa kelinci panggang membuatnya semakin bersemangat untuk segera menyelesaikan tugasnya.


"Ten, kemari!" pinta Ayahnya yang sedang memilih-milih panah untuk dijadikan senjata, Ten tahu bahwa Ayahnya sedang bersiap untuk pergi berburu.


Setelah menumbuk padi selesai, Ten segera menghampiri Ayahnya yang berada di samping rumah. "Iya Ayah, apakah aku harus bersiap sekarang untuk menemani Ayah berburu?" tanya Ten.


Midorizawa Ken, Ayah Ten, menghentikan aktivitasnya sejenak dan menatap kedua mata anaknya yang berbinar. Dia berjongkok untuk menyamakan tingginya di hadapan Ten. "Maaf Ten, sepertinya kamu tidak bisa ikut berburu hari ini," ucap Ken sambil mengusap rambut anaknya.


Ten yang mendengar itu sontak kecewa. Hari ini seharusnya akan menjadi hari pertama Ten berburu. Karena belum mahir menggunakan senjata, Ayahnya bilang akan mengajak Ten berburu sekaligus mengajarinya cara menggunakan panah. Tapi apa yang ia dengar barusan?


"Kenapa Ayah tidak jadi mengajakku? Apakah aku telah melakukan kesalahan hari ini?" tanya Ten dengan cemberut. Mendengar itu, Ken tersenyum dan menggeleng kecil.


"Tidak, kamu anak yang baik, Ten. Kamu tidak melakukan kesalahan apapun. Tapi, apa kamu tidak mendengarkan mitos yang beredar dari teman-temanmu?"


Masih dengan cemberut, Ten menggeleng, "Aku belum bermain bersama temanku hari ini. Ada mitos apa, Ayah?"


Ken segera memasang ekspresi serius. "Baru-baru ini, Ayah mendengar dari kampung sebelah, kalau ada yang pernah melihat manusia kayu di hutan. Meskipun banyak yang tidak percaya dan berkata bahwa itu mitos, tetapi untuk berjaga-jaga, kamu jangan ikut dulu. Karena kamu masih kecil, Ten," jelas Ken.


"Tapi, Yah. Kan aku pergi berburu bersama Ayah, tidak sendirian. Jadi ada Ayah yang akan menjagaku, biarkanlah aku ikut berburu bersamamu, Ayah," pinta Ten dengan nada merajuk, ia masih berharap Ayahnya akan mengizinkannya.


Kali ini Ken menggeleng dengan tegas, "Tidak, Ten. Memang sulit untuk mempercayai mitos ini. Tapi ini demi kebaikanmu sendiri. Karena jika kamu ikut, meski ada Ayah bersamamu, tapi Ayah akan fokus untuk berburu. Bagaimana jika saat itu kamu diculik oleh salah satu manusia kayu?"

__ADS_1


Ken berusaha menakut-nakuti anaknya agar berhenti merajuk kepadanya. Namun bukan Ten namanya jika akan menurut begitu saja, ia masih saja menggeleng tidak puas walau di dalam hatinya merasakan sedikit ketakutan. Bagaimanapun, hari ini adalah hari yang sangat dinanti-nantikannya, ia tidak ingin menerima keputusan Ayahnya yang membatalkannya begitu saja.


Ken menghela napas, "Begini saja, kamu pesan apa? Kelinci? Ayah akan berburu banyak hari ini. Jadi kita bisa pesta kelinci malam ini, mau?"


Jika menakut-nakuti tidak berguna, maka rayuan adalah cara ampuh untuk membujuk anak kecil. Buktinya, Ten akhirnya bersedia mengangguk.


Ken tersenyum puas, ia segera berdiri dan mengambil panah diatas meja. "Nah, kalau kamu sudah selesai dengan pekerjaanmu, pergilah bermain sebentar. Ingat, pulang sebelum petang, oke? Ayah akan pergi sekarang."


Ten menganggukkan kepalanya, "Baik Ayah, hati-hati dijalan."


Segera setelah itu, Ten berlari kecil menuju lapangan luas dekat rumahnya dan berkumpul bersama teman-temannya yang sudah menyelesaikan pekerjaan mereka.


"Hai teman-teman, maaf aku sedikit terlambat," ucap Ten. Salah satu temannya yang bernama Kai menyahut, "Tidak apa-apa Ten, kita juga sedang menunggu Kyo, dia masih memangkas rumput di halamannya."


Ten mengangguk paham. Ten, Kai, Kyo, Hiro, dan Zou, mereka berlima memang selalu bermain bersama. Jadi ketika ada diantara mereka yang masih bekerja, mereka akan menunggu sampai semuanya telah selesai.


"Oh iya, Ten. Bukannya kemarin kamu bilang hari ini tidak akan ikut bermain bersama kita karena kamu akan pergi berburu?" tanya Zou mengingat-ingat.


Hiro menyanggah pertanyaan Kai, "Tidak mungkin berburu akan secepat itu, Kai. Ayahku saja pergi berburu siang pulang petang. Katanya menemukan mangsa itu tidak semudah kelihatannya."


Kai menatap Hiro. "Aku tidak bilang berburu itu cepat, aku hanya bertanya pada Ten kenapa ia bisa secepat itu berburunya," balas Kai.


"Hanya ada satu jawabannya, yaitu Ten tidak jadi berburu. Apakah aku benar?" Zou memang yang paling pintar diantara mereka, jadi ia mudah mengingat dan analisa pemikirannya selalu tepat.


Ten mengangguk pelan. "Kamu benar, Zou. Aku tidak jadi pergi berburu, Ayahku melarangku."


Kini ketiganya menatap fokus kearah Ten bersiap mendengarkan alasannya.

__ADS_1


"Ayahku mendengar ada--"


"Hai teman-teman, maaf sekali aku membuat kalian menunggu lama. Pekerjaanku sedang banyak hari ini," tiba-tiba saja Kyo datang dan berucap membuat perkataan Ten terpotong.


"Tidak apa-apa, Kyo. Hanya saja kau datang di waktu yang tidak tepat," balas Hiro. Yang lain mengangguk membenarkan.


"Eh? Ada apa memangnya? Apa kalian sudah selesai bermain?" Kyo panik sendiri.


Kai menggeleng. "Kami belum bermain karena kami masih menunggumu, hanya saja Ten akan menjelaskan kenapa dirinya tidak jadi berburu dan perkataannya kau potong begitu saja."


Mendengar itu, Kyo sedikit lega. Namun setelahnya ia segera membungkukkan badannya, "Maaf atas tindakanku barusan, silahkan dilanjut, Ten."


Ten segera memulai penjelasannya lagi, dengan kini keempat temannya memusatkan perhatian padanya. "Ayahku mendengar ada mitos manusia kayu di hutan dari orang-orang di kampung sebelah. Katanya, ada yang pernah melihatnya. Jadi Ayahku tidak jadi mengajakku pergi berburu karena takut jika aku bisa saja diculik oleh manusia kayu itu," jelas Ten panjang kali lebar.


"Ma-manusia kayu?" Kyo langsung bergidik ketakutan. Dia yang paling penakut diantara mereka berlima.


"Apakah mitos itu beneran ada? Bisa jadi rumor ada yang melihat itu bohong kan? Kenapa Ayahmu langsung mempercayainya?" tanya Zou. "Menurut pemikiranku, bila belum ada bukti, maka fakta belum bisa terjadi."


Hiro membenarkan perkataan Zou, "Kau benar, Zou. Aku salut pada kepintaranmu itu," Hiro sedikit bertepuk tangan.


Sementara itu, Kai langsung kesal pada Hiro. Perkataannya tadi dengan cepat disanggah oleh Hiro, sedangkan perkataan Zou saja langsung dipuji-puji, "Dasar Hiro!"


Hiro menaikkan sebelah alisnya, "Aku kenapa?"


Sebelum kemarahan Kai meledak, Ten segera menghentikan mereka, "Sudah-sudah. Aku memang tidak tahu kebenarannya, Zou. Dan Ayahku tidak ingin mempercayainya begitu saja, namun, untuk berjaga-jaga, aku dilarang ikut karena aku masih kecil."


Semuanya terdiam sekarang. Mitos manusia kayu yang baru saja diceritakan oleh Ten membuat mereka berpikir antara tidak percaya dan takut bila saja mitos itu benar.

__ADS_1


"Sudahlah, untuk apa kita memikirkannya, ayo kita bermain saja," ajak Hiro yang memecah suasana hening. Yang lainpun segera mengangguk setuju.


"Baiklah, ayo."


__ADS_2