
"Kalian tau? Seumur hidupku, aku tak pernah ingin pergi ke hutan untuk berburu. Lalu, untuk apa aku susah payah berlatih menyerang manusia kayu yang bahkan keberadaannya saja masih dianggap mitos?"
Kai dan Ten menghela napas berkali-kali. Sudah sejak tadi mereka tak henti-hentinya membujuk Kyo, namun usaha mereka masih sia-sia. Kyo masih kukuh tak ingin ikut berlatih.
"Apakah kau setakut itu pada mitos manusia kayu?" tanya Kai.
Kyo menggeleng, "Aku memang takut, tapi dibandingkan pada mitos manusia kayu, aku jauh lebih takut menghadapi kenyataan yang ada. Bagaimana jika mitos itu benar? Bagaimana wujud dan penampakan mereka? Bagaimana jika mereka menakutkan? Bagaimana jika mereka mengerikan? Bagaimana jika aku bertemu dengan mereka? Tidak. Aku tidak akan pernah pergi ke hutan. Hutan adalah tempat terakhir yang mungkin akan terpaksa aku kunjungi."
"Tapi Kyo--"
"Tidak! Kumohon, jangan lanjutkan!" Kyo dengan cepat menutup wajahnya menggunakan kedua tangannya. Ia menangis tersedu-sedu.
Kai dan Ten saling berpandangan. Mereka benar-benar telah kehabisan cara untuk membujuk Kyo. Apalagi sampai membuat Kyo menangis seperti ini, membuat mereka tidak tega.
Ten mengusap pundak Kyo, berusaha menenangkannya. "Aku mengerti seberapa besar rasa takutmu, Kyo. Tapi, apa kau tak pernah berpikir untuk menghilangkan rasa takutmu dengan cara menjadi lebih kuat dan berani melawan mereka?"
"Aku saja takut membayangkan rupa mereka, bagaimana aku bisa menghadapi mereka?" Kyo masih saja menangis.
Ten menarik kesimpulan dari perkataan-perkataan Kyo. Dari yang Ten pahami adalah, Kyo takut dengan bayangan mengerikan manusia kayu yang ia ciptakan sendiri.
Dengan sabar, Ten terus menjawab, "Kalau begitu, lawan rasa takut saat kamu membayangkan mereka. Anggap mereka hanya lelucon yang kebetulan menjadi mitos. Anggap saja mereka sama seperti kita manusia biasa. Anggap kita latihan untuk menjadikanmu lebih berani dan lebih kuat. Untuk melindungi diri sendiri ketika bahaya datang nanti, bukan sebagai pengingat rasa takutmu terhadap mereka."
Kai terperangah mendengar penjelasan halus dari Ten, tidak salah Zou mengirimkan Ten kemari. Mengatasi hal-hal seperti ini memang Ten lah ahlinya, si hati lembut diantara mereka berlima.
Kai mengangguk membenarkan Ten. "Kyo, apa yang dikatakan Ten benar. Aku hanya ingin menambahi saja, Paman Ken sudah bersedia melatih kita. Ini adalah kesempatan emas untuk kita lebih kuat, kenapa harus menyia-nyiakannya? Ini juga demimu, aku rela sampai datang kemari dua kali, apakah kau sama sekali tak menghargainya?" Kai mengeluarkan jurus andalannya, yaitu merajuk pada akhir kalimatnya, sehingga banyak sekali orang luluh dengan permintaannya.
Kyo mulai mengangkat wajahnya dan menghapus sisa air matanya. Kemudian ia memandang Ten dan Kai secara bergantian. Benar, mereka berdua ada disini untuknya, bukankah kasihan jika membiarkan mereka berdua pulang dengan tangan kosong ketika mereka sudah berusaha dengan keras untuk membujuknya?
Kyo perlahan mengangguk. "Baiklah, aku tak akan lagi membayangkan seberapa menakutkan mereka yang membuatku tersiksa akan ketakutan ini. Aku juga akan setuju berlatih demi kuat. Kalian harus ingat ya! Aku setuju berlatih bukan untuk menyerang mereka di masa depan, karena aku tetap tidak sudi menginjakkan kakiku ke hutan," ujar Kyo masih cemberut sambil memalingkan wajah.
Kai dan Ten yang mendengar itu akhirnya bisa bernapas dengan lega. Syukurlah, menghabiskan waktu yang lama untuk membujuk Kyo tidak berakhir sia-sia.
"Iya, Kyo. Itu terserah padamu tak akan pergi ke hutan atau kemanapun. Karena manusia kayupun juga mitos, jadi tak perlu menyerang mereka," ujar Kai.
__ADS_1
"Akupun tak percaya dengan keberadaan mereka. Kita niatkan berlatih untuk melindungi diri sendiri. Nah sekarang, mari kita berangkat menuju rumahku, kasihan Zou dan Hiro sudah lama menunggu," ajak Ten sambil menarik lengan Kai dan Kyo.
"Biar saja mereka menunggu lama, salah sendiri membuatku kesal, huh," cibir Kai.
Ten tertawa sementara Kyo mengangkat satu alisnya heran, tidak mengerti.
"Kalian lama sekali," keluh Hiro. Itu adalah sambutan pertama yang mereka dapatkan begitu menapakkan kaki di rumah Ten.
"Maaf, membuat kalian menunggu lama, Kyo susah sekali dibujuk," ucap Ten merasa bersalah.
Melihat wajah Hiro dan Zou yang tak enak dipandang, membuat Kai tertawa dengan keras. "Hahaha, salah sendiri kalian menjahatiku tadi, kena karma kan, hahaha," Kai sepertinya puas sekali dengan penderitaan yang dialami oleh mereka berdua.
Sementara itu, wajah Hiro dan Zou tambah jelek saja setelah diejek oleh Kai. "Ini semua salahmu, Kyo. Susah sekali dibujuk, membuat kita menunggu lama dan berhasil membuat Kaitem jelek ini menghina kita," tuduh Zou tak berperasaan pada Kyo.
"A-aku," Kyo berusaha menjelaskan, tapi ia bingung harus berkata apa.
"Kau memanggilku apa tadi? Kaitem jelek? Hei pangeran kodok sok pintar, mengaca dulu ya kau!" Kai tak terima sama sekali mendapat julukan seperti itu.
"Memang kenyataannya begitu kan Kaitem jelek?" Hiro tambah memanas-manasi.
Ten menepuk dahinya sendiri. Melihat pertengkaran Kai dan Hiro saja sudah membuat kepala pusing, ini kenapa Zou jadi ikut-ikutan? Zou bosan hanya menjadi penonton di setiap pertengkaran mereka?
Ten menepuk bahu Kyo. "Kyo, coba kau lerai mereka," ucap Ten yang masih melihat pertengakaran mereka bertiga.
"Aku?" Kyo menunjuk dirinya sendiri. "A-Apakah aku bisa?"
Ten mengangguk, "Kau pasti bisa, katamu ingin menjadi kuat. Ayo coba saja."
Kyo memandang mereka yang masih bertengkar, "Kai, Hiro, Zou hentikan!"
Mereka hanya memandang Kyo sekilas, kemudian lanjut bertengkar. "Apa aku salah dengar? Sepertinya penyebab kita bertengkar tadi kau deh, Kyo. Apa kau mau ikut bertengkar bersama kami?" tanya Hiro santai.
Penawaran macam apa itu? Bila sudah begini, mau tak mau Ten sendiri yang turun tangan mengatasi. "Baiklah, kalian. Jadi berlatih tidak? Jika tidak, pintu untuk keluar dari rumahku terbuka lebar bagi kalian yang masih ingin lanjut bertengkar," Ten membuat gaya seolah mengusir mereka.
__ADS_1
Seketika pertengkaran mereka terhenti dan tak ada lagi yang bersuara. Melihat itu Ten tersenyum puas. "Tunggu apalagi? Ayo berlatih sekarang."
Teman-teman Ten segera bersorak semangat, seolah lupa dengan apa yang barusan terjadi diantara mereka. "Ten," panggil Kyo saat Kai, Hiro dan Zou sudah pergi ke tempat dimana Ayah Ten menaruh patung manusia kayu.
Ten menoleh, "Kenapa?"
"Aku..., sepertinya tidak berguna. Melerai mereka saja tidak bisa, apa aku pantas mengikuti latihan dan menjadi kuat?" sepertinya Ten memahami satu hal lagi, Kyo selain orangnya penakut, juga sangat minder.
Ten menarik sebelah tangan Kyo dan menggenggamnya, "Kenapa tidak pantas? Semua orang berhak berlatih supaya menjadi lebih kuat, baik yang awalnya orang itu lemah, ataupun merasa tidak berani. Ketika memiliki tekad untuk menjadi lebih kuat, kita harus mendukungnya, bukannya malah menjatuhkannya."
Kyo tersenyum, entah kenapa perkataan Ten selalu berhasil memberinya motivasi. Meskipun usia Ten lebih muda dibanding mereka berempat, tapi sifat bijak dan lembutnya benar-benar melebihi mereka. Mungkin karena sifat Ken dan Fei yang sangat baik itu diwarisi oleh putra sewayang mereka.
Ken tiba-tiba muncul dari sebuah ruangan dan memanggil Ten beserta teman-temannya, "Apakah kalian sudah siap untuk berlatih?"
Ten segera menarik tangan Kyo menghampiri tempat dimana Ayah dan teman-temannya yang lain berkumpul. "Kami sudah siap, Ayah," jawab Ten.
Ken mengangguk, "Bagus."
"Tadi Ayah sudah menyiapkan pedang kayu juga untuk kalian berlatih," lanjut Ken sambil membagikan pedang kayu satu persatu pada lima anak kecil di depannya.
"Paman Ken, jadi latihan pertama akan dimulai dari menggunakan pedang?" tanya Hiro penasaran sambil menerima pedang kayu di tangannya.
"Iya, memangnya kenapa?"
"Kukira latihan pertama akan dimulai dari ilmu beladiri terlebih dahulu," jawab Hiro.
Ken tertawa mendengar penuturan dari Hiro. "Memang seperti itu harusnya. Namun karena ini sudah menjelang siang, waktu Paman tidak banyak karena harus berangkat untuk berburu. Jadi hari ini Paman akan mengajarkan teknik dasar berpedang dulu," jelas Ken.
"Apakah Paman tidak takut pada mitos manusia kayu?" iseng, Kai menanyakan hal ini.
Ken lagi-lagi tertawa geli, "Untuk apa takut? Bukankah itu semua hanya mitos?"
Ucapan Ken segera diangguki oleh semua orang yang ada.
__ADS_1
Setelah semua menerima pedang kayu di tangan masing-masing, Ken dengan tegas berkata, "Latihan hari pertama, resmi dimulai!"