
Sesuai syarat yang dibuat oleh Hiro kemarin, Ten menyetujui pertandingan antara Hiro dan dirinya.
Kini mereka sudah bersiap di arena pertarungan.
"Sebelum aku melawanmu, bolehkah aku bertanya kepadamu mengapa kau memilihku untuk berduel denganmu?" tanya Ten sambil memutar-mutar pedang kayunya santai.
Hiro menatap Ten secara intens, lalu menoleh ke teman-temannya yang lain di bangku penonton. "Simpel, aku pernah mengalahkan Kai, jadi aku tak tertarik untuk bertanding dengannya lagi. Sedangkan Zou, dia terlalu pintar. Mungkin aku belum menikmati pertandingannya dia sudah mengalahkanku begitu saja karena strategi jeniusnya," sedari dulu Hiro selalu saja menyanjung Zou, tidak pernah berpikir untuk mengejeknya seperti apa yang sering ia lakukan pada Kai.
Dari bangku penonton, Zou mendengus geli mendengar pernyataan Hiro. Dan jangan lupakan ada wajah kesal milik Kai.
"Lalu, kenapa tidak memilih Kyo?" tanya Ten sekali lagi.
Hiro terkekeh geli, "Kau ingat dia kemarin bilang bahwa kemampuan memanahnya adalah yang terbaik bukan? Jadi kurasa dia tidak sepadan untuk jadi teman bertanding pedangku."
"Kau terlalu memandang tinggi dirimu, Hiro," teriak Kyo.
Hiro terkekeh sekali lagi. "Jadi itu alasanmu menantangku? Kau yakin aku lawan yang sepadan untukmu?" Ten tersenyum remeh.
Hiro yang menatap senyum remeh Ten hanya bergidik, "Ten, jangan menatapku seperti itu. Ayolah, hanya kau yang tersisa. Aku tidak bermaksud meremehkanmu."
Kai dan Kyo bersorak dari bangku penonton. "Ayo Ten, kalahkan si sombong Hiro!"
"Ya itu benar! Jangan sampai kau lengah."
Ten tersenyum merespon dukungan teman-temannya. Sementara itu, Hiro mengeluarkan ekspresi sebalnya.
"Tidak usah menunggu lagi. Ayo kita mulai saja pertandingannya!"
Ten menyerang terlebih dahulu. Karena Hiro tidak pernah menanamkan strategi menghindar dalam kamusnya, jadi ia terus menangkis serangan dari Ten.
Dan benar saja, apa yang dikatakan oleh Hiro kemarin terbukti. Saking lamanya Hiro dan Ten bertarung, membuat Kai, Zou dan Kyo merasa sangat bosan.
Sebenarnya Ten bisa saja memenangkan pertandingan dengan cepat, ia berkali-kali telah melihat celah untuk menjatuhkan Hiro. Hanya saja, kemarin ia sendiri yang menyuruh Hiro untuk menikmati pertandingan. Mana mungkinkan ia akan menyudahinya dengan cepat dan mengingkari perkataannya sendiri?
Ten juga ikutan membuat celah, dengan begitu Hiro bisa menjatuhkannya dan pertandingan usai. Namun ia melihat Hiro dengan sengaja mengindari celah tersebut. Jadi ia berpikir bahwa Hiro benar-benar berniat membuat pertandingan lama.
"Ayolah, sampai kapan kalian akan terus bertanding? Apa kalian tidak lelah?"
__ADS_1
"Kami saja yang menonton sudah sangat bosan,"
Keluhan dari teman-temannya yang menonton membuat Hiro menyeringai. Akhirnya tujuannya tercapai.
"Ten, kau dengar sendiri mereka sudah bosan, jadi kita harus bagaimana sebaiknya?" tanya Hiro dengan nada memprovokasi.
Ten menangkap sinyal yang dikirim oleh Hiro padanya, Ten turut menyeringai. "Oh? Bagaimana menurutku? Tentu saja, pertandingan ini sangat seru," ucap Ten tidak nyambung.
Perkataan Ten yang mengandung makna tersirat di dalamnya, membuat mereka yang mendengarnya tahu, bahwa Ten dan Hiro sepakat mengerjai ketiga temannya.
"Wah, kalian jahat! Kalian sengaja bermain lama untuk membuat kita bosan menunggu!" tuduh Kai kesal.
Zou yang sedari tadi diam ikut menimpali, "Sebenarnya aku sudah merasa bahwa arena pertandingan ini diubah menjadi panggung. Aku melihat kalian sengaja menampilkan celah agar lawan bisa menjatuhkan dengan mudah. Namun baik Hiro maupun Ten sama sekali tidak memanfaatkan kesempatan tersebut. Jadi aku menduga kalian sengaja membuat ini lama. Apakah aku benar?"
Hiro tidak lagi fokus pada pertandingan, ia justru menjatuhkan pedang kayunya dan bertepuk tangan. "Seperti yang diharapkan, Zou terlalu jeli untuk bisa ditipu."
Sementara itu, Ten masih berdiri menatap Hiro dengan pandangan yang sulit diartikan. Hiro balas menatap Ten. "Aku menyerah," ujar Hiro sambil mengangkat tangan. "Aku yang pertama kali menciptakan celah, dan kau bisa saja mengalahkanku pada saat itu juga. Tapi aku cukup terkejut kau memilih untuk melanjutkan pertandingan. Kurasa kau mengikuti permainanku dengan sangat baik, tidak salah aku memilihmu," lanjut Hiro disertai kekehan kecil.
Kyo menyahut, "Ten, kau tahu semuanya. Tapi kenapa kau lebih memilih mengikuti Hiro dan tidak memikirkan perasaan kami?"
Hiro tersenyum. "Jadi kau menyadarinya?"
Kai, Zou dan Kyo mengerutkan dahinya bingung, mereka tidak mengerti dengan pembicaraan Hiro dan Ten. "Apa maksudnya?" Kai menyuarakan pikirannya.
"Sebenarnya, Hiro mengajakku bertanding karena dia tidak ingin membuatku bosan menunggu dan bersama-sama merasakan keseruan bertanding. Tidak ada alasan lain, kurasa di awal pertandingan tadi kau hanya membuat akal-akalan saja, ya?" jelas Ten.
Mendengar itu, ketiga temannya sontak menunjukkan ekspresi tak percaya. "Apa?!"
Hiro tertawa, "Yah kau benar, Ten. Tapi tidak sepenuhnya benar. Alasan yang aku buat di awal pertandingan bukan akal-akalan. Aku memang berniat memuji Zou."
Dengan cepat Zou mencengkeram kerah baju Hiro. "Ini pertama kalinya aku tidak senang mendengar pujian darimu, kenapa kau sengaja membuatku bosan jika berniat memujiku?"
Melihat tindakan tak terduga dari Zou membuat Hiro merasa kaget, "Oke, oke. Maafkan aku. Aku memujimu, tidak ada yang salah dengan itu. Hanya saja, aku membuatmu bosan menunggu, karena kau juga membuatku bosan dengan pertandinganmu kemarin bersama Kyo."
Zou melepaskan cengkramannya, "Jadi kau berniat balas dendam? Targetmu adalah aku dan Kyo?"
Semuanya menjadi paham sekarang dengan situasi rumit yang telah dibuat oleh Hiro. Kyo menjadi merasa bersalah, "Maafkan aku telah membuatmu bosan kemarin. Aku mengerti rasanya bosan menunggu setelah kau menunjukkannya padaku."
__ADS_1
Kai dengan tiba-tiba menyela perbincangan mereka, "Hei-hei. Apa kalian tak berpikir bahwa aku yang sangat dirugikan disini? Aku bukanlah target Hiro, tapi aku juga ikut merasakan menunggu bosan. Kalian sungguh tidak adil padaku."
Mendengar itu, Hiro segera mendekat ke arah Kai. "Oke, maafkan aku. Aku salah karena telah menyeretmu padahal kau tidak bersalah disini," Hiro mengucapkannya dengan sungguh-sungguh.
Namun bukannya terharu karena ketulusan Hiro, Kai justru marah-marah. "Seenaknya kau minta maaf padaku setelah semuanya terjadi, apa kau kira permintaan maafmu bisa mengobati kebosananku tadi?"
Hiro jadi ikutan tersulut emosi, "Bagaimanapun semuanya telah berlalu. Kau tak ingin menerima permintaan maafku, yasudah!" Hiro berlalu meninggalkan Kai dan teman-temannya.
"Kenapa jadi kau yang marah padaku? Seharusnya aku yang berhak marah, kan. Hei Hiro kembali!" seru Kai.
Ten menggeleng kecil melihat pertengkaran mereka. Dengan segera, Ten menyentuh pundak Kai. "Hiro berusaha untuk akur denganmu tadi, kenapa kau tidak sedikit lebih lembut dalam menyikapinya?"
Kai segera menoleh ke samping dimana Ten berada, "Kau juga bersalah! Kau mengerti dengan niat Hiro, tapi bukannya menghentikannya malah justru menikmatinya. Menurutmu kau berhak menasehatiku setelah dengan sengaja membuatku menunggu?"
"Kau emosian Kai. Hentikan, jangan menyalahkan siapapun lagi," lerai Zou.
Kai menatap Zou sengit, "Menjadi korban ketidak adilan, apakah aku hanya bisa diam saja dan kesal sendirian?"
Ten menenangkan Kai. "Aku tidak berniat membuat kalian bosan menunggu, sungguh. Terutama padamu, Kai. Karena kau tidak bersalah. Tapi aku yang menyarankan agar Hiro menikmati pertandingan kemarin. Dan aku tidak bisa menjilat ludahku sendiri dengan mengakhiri pertandingan secara cepat. Ini semua salahku, mohon maafkan aku," Ten mengucapkannya sambil menundukkan kepalanya dalam, sungguh menyesali perbuatannya.
Kai mengabaikan Ten. "Lupakan. Aku tidak ingin mendengar penjelasan darimu," ujar Kai sambil berjalan pergi, hendak pulang seperti yang dilakukan Hiro.
Ten tidak mencegahnya. Kini tinggal Zou, Ten dan Kyo yang tersisa.
"Bagaimana ini? Ini semua salahku," ucap Ten lirih. "Kalau saja aku tidak menyarankan Hiro agar melamakan pertandingan, maka dia tidak akan mengadakan pertandingan ini juga. Dan kalian tidak menunggu lama."
Kyo maju menenangkan Ten, "Tidak ini bukan salahmu. Ini salah aku dan Zou, kalau saja kami tidak bertanding lama kemarin, mungkin Hiro tidak akan berpikir untuk balas dendam."
Zou menyahut, "Tidak. Ini salah kita bersama, kita semua salah. Aku dan Kyo penyebab semua ini. Hiro dan Ten yang sengaja membuat lama pertandingan, dan Kai yang emosian."
Ten tersenyum miris mendengarnya. "Kasihan Kai. Aku tau dia hanya korban, aku juga tahu dia berhak marah atas semuanya. Tapi selanjutnya bagaimana pertemanan kita? Apakah akan retak karena kejadian hari ini?"
Kyo mengusap pundak Ten, "Bagaimana mungkin retak hanya karena kejadian kecil seperti ini? Kita telah bersama bertahun-tahun lamanya. Kurasa pertemanan kita memang harus ada ujian kecil sebagai batu kerikilnya."
"Tenang saja, Ten. Besok semua pasti akan berkumpul kembali karena kita gagal memanah hari ini. Hiro orang yang menepati janji, jadi ia tidak mungkin tidak datang. Dan Kai yang mengusulkan ini, kurasa dia tidak akan rela meninggalkan usulnya begitu saja," ucap Zou memprediksi.
Ten mengangkat kepalanya dan tersenyum, "Baiklah. Aku akan percaya perkataan kalian."
__ADS_1