Emerald Soulmate

Emerald Soulmate
04. Mimpi buruk


__ADS_3

Setelah melihat patung manusia kayu, teman-teman Ten memutuskan untuk pulang lebih awal dari biasanya. Membuat Ten memiliki waktu untuk beristirahat sejenak sambil menunggu Ayahnya pulang dari berburu.


Waktu berlalu begitu cepat, Ibunya sudah kembali dari bekerja sejak sebelum petang tadi. Namun, sampai sekarang sudah hampir tengah malam, Ayahnya belum kembali pulang ke rumah mereka juga. Membuat Ten dan Fei mencemaskan sang kepala keluarga.


"Bagaimana ini, Bu? Ayah belum juga kembali-kembali," Ten yang cemas berlebihan sampai tak sadar menggigit kuku tangannya sendiri.


Fei juga tak kalah cemasnya, namun ia berhasil menutupinya dengan baik di depan Ten. "Tenanglah, Ten. Ayahmu pasti baik-baik saja, Ibu yakin. Sekarang sudah hampir tengah malam, kau tidurlah dulu. Besok pagi ketika kau bangun tidur Ayahmu pasti sudah berada di rumah," ucap Fei menenangkan Ten meskipun di dalam hatinya juga ketar-ketir. Bagaimana tidak? Ini sudah hampir tengah malam dan Ken belum juga kembali dari hutan, ada apa gerangan?


Ten yang memang sudah mengantuk, terpaksa mematuhi perintah Ibunya. Mau tidak mau, pertanyaan mengganjal yang sedari tadi dipikirannya harus ia nanti dengan sabar sampai keesokan harinya.


✨✨✨


Keesokan paginya, Ten bangun lebih awal, semalam dia mengkhawatirkan kondisi Ayahnya sampai terbawa ke dalam mimpinya. Dalam mimpinya, ia melihat bahwa Ayahnya sudah pulang, namun ia tidak bisa lega karena ternyata Ayahnya diikuti sesosok manusia kayu yang mirip sekali dengan patung manusia kayu yang Ayahnya buat.


Ten menggeleng dengan cepat, berusaha mengusir mimpi buruknya. Ia beranjak keluar dari kamarnya bermaksud menemui Ibunya. "Bu, apakah Ayah sudah pulang?" tanya Ten sambil mengucek mata.


Fei dan Ken yang berada di ruang keluarga menoleh mendengar suara anaknya. "Ten, mencari Ayah?" ujar Ken yang ternyata sudah pulang.


Ten berhenti mengucek mata, dan melihat kedua sosok orangtuanya di depannya. "Ayah," Ten segera menghamburkan diri ke pelukan Ayahnya. Ken mengusap-usap rambut anaknya dan diikuti kekehan kecil dari Fei. "Ten sangat mencemaskanmu semalam," ujar Fei yang membuat Ten malu.


Ken tertawa, "Apakah itu benar?"


Ten tidak menjawab, dia masih malu. Namun ia menganggukkan kepalanya pelan. "Kenapa Ayah pulang terlambat semalam?"


Ken melirik Fei sejenak dan Fei balas melirik Ken sebelum Ken menjawab pertanyaan Ten, "Tidak apa-apa, tidak perlu khawatir. Ayah hanya belum mendapatkan mangsa satupun sampai sore, jadi Ayah terus mencari hingga tak sadar sudah malam saja."


Ten mengangguk, tidak merasa curiga sama sekali. Kemudian ia teringat dengan banyaknya pertanyaan-pertanyaan dalam benaknya kemarin. "Ayah, aku ingin menanyakan suatu hal padamu, boleh?" Ten meminta izin terlebih dahulu.


Ken merasa aneh, tidak biasanya anaknya akan meminta izin terlebih dahulu sebelum bertanya, namun meski demikian ia tetap mengangguk, "Boleh, silahkan."


"Apakah Ayah pernah bertemu dengan manusia kayu? Apakah manusia kayu itu bukan mitos, Yah?" pertanyaan dari Ten sejenak membuat kedua orangtuanya menahan napas. Namun, Ken dengan cepat kembali menguasai keadaan.

__ADS_1


"Kenapa bertanya seperti itu, Ten?"


Ten pun bercerita, mengenai temannya yang ingin ikut berlatih bersama, sampai mereka melihat patung manusia kayu yang dibuat oleh Ken, kemudian bagaimana perkataan Hiro kemarin, dan juga mimpinya semalam. Ken menganggukkan kepala mengerti mengapa Ten bisa berpikir demikian.


"Pertama, Ayah membuat patung manusia kayu itu mirip dengan manusia biasa seperti kita, kok. Hanya Ayah ubah dibagian kepala, tangan dan kakinya saja."


Ten segera mengingat bentuk patung Ayahnya. Dengan batang kayu besar sebagai badan, kepala kayu kotak yang sedikit mengerikan, serta tangan dan kaki yang terbuat dari dahan dan ranting. Memang mirip seperti manusia biasa, tapi menurut Ten, itu lebih seperti alien kayu.


"Kedua, mungkin kamu bermimpi Ayah diikuti oleh manusia kayu karena kamu terlalu mencemaskan Ayah yang tak kunjung pulang kemarin, ditambah dengan kamu yang terlalu memikirkan mitos manusia kayu, sehingga terciptalah mimpi aneh tersebut," jelas Ken sambil tertawa.


Ten cemberut, rasanya tidak puas dengan penjelasan yang Ayahnya sampaikan, tapi bagaimanapun penjelasan Ayahnya masuk akal juga, sehingga Ten hanya bisa mengangguk.


"Nah, ketiga. Ayah memperbolehkan temanmu untuk ikut latihan bersama, tapi sebelum itu Ayah harus membuat patung manusia kayu lagi agar jumlahnya ada lima, jadi kamu bantu, ya."


Ten mengangguk sekali lagi. Kemarin Ayahnya sudah membuat 2 patung, sisa 3 lagi karena teman-teman Ten ditambah Ten totalnya ada 5. Jika kemarin Ayahnya seorang diri bisa membuat 2 patung dalam sehari, maka ditambah dengan bantuan Ten hari ini, membuat 3 patung bukanlah hal yang mustahil. "Baiklah Ayah, ayo kita lakukan sekarang."


✨✨✨


Tiga patung sudah jadi dalam waktu beberapa jam, kini waktu sudah siang. Hiro dan Zou sudah sampai dirumah Ten, mereka sudah siap untuk berlatih, tinggal menunggu Kai dan Kyo.


"Ah, itu bukan apa-apa. Aku senang karena ideku bisa berguna untuk kepentingan orang lain. Sampaikan terimakasihku juga kepada mereka atas buahnya," ucap Ten sambil tersenyum. Ia mengambil kotak buah yang masih terlihat segar tersebut dan menyimpannya ke rumah.


"Kau memang layak dipuji, Ten. Ah, karena Kai tidak ada disini, jadi tidak ada yang cemburu," ujar Hiro.


Zou dan Ten tertawa, "Kau suka sekali membuat masalah dengan Kai ya."


Kai tiba-tiba muncul, "Mencariku?"


Ketiganya serempak menoleh kearah Kai yang baru saja datang. "Jangan kepedean," Hiro menoyor dahi Kai.


"Apa sih? Datang-datang bukannya disambut malah ditoyor," gumam Kai kesal.

__ADS_1


Zou sama sekali tidak menghiraukan sambutan 'baik' Hiro kepada Kai. "Mana Kyo? Dia tidak datang bersamamu, Kai?"


Kai berhenti mengusap kepalanya yang tadi ditoyor oleh Hiro. "Tidak, tadi aku sempat datang ke rumahnya untuk mengajaknya bersama kemari, tapi katanya ia takut melawan manusia kayu," ucap Kai sambil menunjuk patung manusia kayu di halaman rumah Ten.


"Eh, loh? Kemarin masih ada dua, kok sekarang sudah ada lima yaa?" Kai kebingungan. Ten tertawa, "Tentu saja, Ayah dan aku membuatnya lagi hari ini. Agar kita berlima bisa menyerang mereka tanpa perlu gantian."


Kai manggut-manggut mengerti, "Tapi bagaimana ini? Kyo tidak ingin ikut."


Zou terlihat berpikir, "Bukankah kemarin semuanya setuju untuk datang, ya?"


Hiro menggeleng, "Kemarin karena keputusan secara sepihak Kai, tidak ada yang protes. Mungkin Kyo malu jika ia mengatakan ia tidak bersedia sendiri."


"Jadi maksudmu itu salahku?" tanya Kai kepada Hiro. Hiro mengangkat kedua bahunya cuek, "Mungkin."


"Dasar Hi-"


Ten segera memotong perkataan Kai, "Hentikan! Sebaiknya kita cari cara untuk membujuk Kyo, bukankah rugi jika kita ada kesempatan untuk berlatih sementara dia melewatkannya?"


Zou mengangguk menyetujui usulan Ten, "Oke, Ten, Kai, kalian bujuklah Kyo. Aku dan Hiro akan menunggu disini, jika kita semua pergi kesana dan dirumah Ten sepi, nanti Ayah Ten mengira kita bermain dan tidak ingin latihan."


Sementara Hiro mengangguk setuju, Kai yang masih kesal karena Hiro tambah meledak-ledak. "Apa maksudmu menyuruh-nyuruhku seenakmu? Kenapa tidak kau sendiri yang membujuk Kyo?" Kai menunjuk-nunjuk Zou kesal.


Zou dengan tenang menjawab, "Karena jika aku dan Ten yang kesana, aku tidak tahu apa yang akan terjadi nanti bila kalian ditinggalkan berdua, aku hanya kasihan pada rumah Ten yang mungkin saja kacau akibat ulah kalian."


Kai menggertakkan giginya geram, "Kau!"


"Aku bercanda, bukankah kau tadi sudah kerumah Kyo? Mungkin Kyo akan luluh karena kau bersedia dua kali kesana untuk membujuknya, dan Ten dengan kata-kata lembutnya akan semakin membuat Kyo terbujuk, tidakkah kau terpikir sampai kesana?" jawab Zou pada akhirnya.


Ten dan Hiro sebagai penonton sejak tadi hanya memberikan tepuk tangan, "Zou benar."


"Hmph, terserahlah, kalau begitu ayo, Ten. Kita tinggalkan mereka berdua, sungguh membuatku kesal saja," Kai dengan segera menarik tangan Ten menjauh dari rumahnya.

__ADS_1


Ten melambaikan tangannya pada Zou dan Hiro, "Sampai nanti, doakan kita berhasil, ya!"


Zou dan Hiro balas melambai ke Ten, "Pasti."


__ADS_2