
Sudah lima tahun berlalu sejak latihan pertama hari itu. Kelima anak kecil yang sering bersama tersebut telah tumbuh menjadi pemuda yang hebat, berkat Ayah Ten tentu saja.
Kini, mereka tidak lagi didampingi oleh Ken ketika berlatih karena Ken merasa sudah mengajarkan semua yang ia tahu kepada mereka. Sebaliknya, mereka tinggal berlatih mengasah kemampuan mereka dengan mencoba taktik baru, yaitu saling melawan satu sama lain. Tidak lagi menggunakan patung manusia kayu yang sudah tak berbentuk karena ulah serangan pedang mereka yang brutal.
Berbicara mengenai manusia kayu, selama lima tahun terakhir sudah tak terdengar lagi desas-desus tentang mitos itu. Mungkin karena sudah jarang yang membicarakannya, sehingga rumor manusia kayu itu seolah hilang begitu saja.
"Hiro, bersiap menghindari seranganku, ya," ucap Kai percaya diri sambil memegang pedang kayu dengan gagahnya. Meski sudah lima tahun berlalu, namun sifat yang melekat pada mereka berlima tidak banyak berubah. Perubahan signifikan yang bisa terlihat hanya tubuh mereka yang telah tumbuh menjadi pemuda yang gagah dan fisik mereka yang menjadi jauh lebih kuat.
"Heh, aku tidak akan menghindari seranganmu, justru kurasa kau yang akan menerima seranganku. Jadi berhati-hatilah," balas Hiro tak kalah percaya dirinya. Baik Kai maupun Hiro saling memandang remeh lawan masing-masing.
"Jangan banyak bicara lagi, terima seranganku!" seru Kai sambil berlari dan menghunuskan pedangnya kearah Hiro. Hiro dengan cepat menangkisnya. "Seranganmu yang hanya begini mana bisa membuatku menghindar?"
Hiro segera membalik keadaan, pedang kayunya yang menangkis serangan Kai digunakannya untuk menyerang Kai dari samping.
Takk
Suara pedang kayu yang tengah beradu terdengar lagi. "Mana bisa mengecohku dari samping, Hiro? Hanya ini kemampuanmu?" tanya Kai sinis.
"Tak kusangka kau tangkas juga, Kai. Tapi maaf saja, karena kau benar-benar terkecoh," Hiro balik tersenyum sinis. Sementara pedang mereka masih beradu, Hiro menggunakan kesempatan yang ada untuk menjegal kaki Kai. Setelah Kai kehilangan fokusnya pada pedang, dengan cepat Hiro mengakhiri serangan dengan menyerang ke titik lemah Kai, lehernya.
"Aduh!" teriakan Kai dibarengi dengan suara bedebum yang keras karena tubuhnya ambruk ke tanah. Dengan begini, pemenang pertarungan diantara mereka adalah Hiro.
Ten, Kyo dan Zou yang sedari tadi menonton bertepuk tangan, menandakan pertarungan berakhir. "Selamat, Hiro adalah pemenangnya," ucap Zou layaknya wasit.
Kai berseru tak terima, "Hei, mana bisa begitu! Hiro curang karena telah menggunakan fisik untuk membuatku lengah."
"Salah siapa kau begitu lemah, malah menyalahkanku," ejek Hiro puas.
Ten dengan segera menegur Kai, "Hiro tidak curang, Kai. Ketika kita melawan musuh, maka tidak ada lagi ampun bagi kita. Karena musuh pasti menggunakan segala cara untuk menjatuhkan kita, bahkan dengan cara licik sekalipun."
Berbeda dengan Hiro yang semakin bangga, Kai menatap Ten dengan pandangan tak percaya. "Kenapa kau membela Hiro, Ten?" tanya Kai merasa dikhianati.
__ADS_1
"Aku tidak membela siapapun disini, Kai. Hanya saja aku mengatakan fakta di medan perang yang sebenarnya," jawab Ten sambil menggelengkan kepala pelan.
"Apa yang dikatakan Ten benar, Kai. Jangan menyalahkan dia hanya karena kau kalah," Kyo ikut-ikutan menimpali. Membuat Kai merasa semua sahabatnya tidak ada lagi yang mendukungnya.
"Kau juga, Kyo?" tanya Kai mendramatisir keadaan. Selama ini yang tidak pernah memusuhinya adalah Ten dan Kyo. Namun hari ini ia mendengar dengan telinganya sendiri jika mereka berdua turut menyalahkannya.
"Kai, jangan seperti anak kecil," ujar Zou jengah. Dia sangat mengerti kalau Kai didepannya sedang berpura-pura merajuk. "Sebenarnya kau cukup kuat, jika fisikmu dan fisik Hiro dibandingkan, aku yakin kau dapat mengalahkannya," jelas Zou. Ia mengambil napas sebentar sebelum kemudian melanjutkan, "Namun, hanya menggunakan kekuatan fisik saja tidak bisa membuatmu menang. Yang terpenting adalah trik dan strategi yang jitu, itulah yang sebenarnya dibutuhkan, seperti yang telah dilakukan oleh Hiro."
Kai dengan cepat bangkit dari jatuhnya dan segera menangkup wajah Zou menggunakan kedua tangannya. "Wah, aku barusan bermimpi atau bagaimana, ini pertama kalinya aku dipuji oleh Zou," Kai mengatakannya sambil menoleh-nolehkan wajah Zou kekanan dan kekiri seolah sedang menelitinya.
Zou menangkis tangan Kai dari wajahnya, "Hei, beraninya kau menyentuhku, aku merasa menyesal telah memujimu."
"Zouu, kenapa kau tega padaku, cukup Hiro saja yang memusuhiku, kenapa Ten dan Kyo ikut-ikutan menyalahkanku, kini kau juga membatalkan pujianmu padaku?" Kai berkata dengan nada merajuk yang membuat Zou geli dengan tingkahnya. Karena Kai mengucapkannya dengan cepat, membuatnya seolah sedang mengerap dengan akhiran 'U' saja.
Tawa Ten dan Kyo pecah seketika mendengar rap dari Kai barusan. Dengan serempak mereka berdua menghampiri Kai dan merangkul pundaknya. Ten disisi kanan sedangkan Kyo disisi kiri Kai.
"Kami mengatakan kebenarannya, itu semua semata-mata untuk menyadarkanmu akan realita. Agar membuatmu sadar dan termotivasi menjadi lebih baik kedepannya, kenapa kau malah marah pada kami?" tanya Ten sambil mencubit pipi Kai.
"Ya, itu benar. Daripada kami yang menyalahkanmu, ini justru lebih terlihat seperti kau yang sedang menyalahkan kami?" timpal Kyo melanjutkan.
"Ah!" Kai seperti tersadar, ia kemudian segera memberontak melepaskan diri dari rangkulan Ten dan Kyo.
"Tidak perlu sok suci dengan melepaskan diri seperti itu, Kai. Kau sendiri juga memegang-megang wajahku tadi, membuatku jijik, euh," Zou memasang tampang jijiknya.
Hiro tertawa keras karena penuturan Zou. Setelah lolos dari rangkulan Ten dan Kyo, Kai segera mengeluarkan ekspresi kesalnya. "Kalian berdua sama sekali tidak berubah, selalu saja berhasil membuatku kesal," ucap Kai dengan nada jengkel pada Hiro dan Zou.
"Mungkin itulah wujud sayang mereka padamu, Kai," Kyo menutup mulutnya sambil menahan tawa.
"Bukankah pada dasarnya kita semua saling menyayangi, jika tidak, apa pertemanan kita masih bisa bertahan sampai saat ini?" Ten dengan senyumannya, sungguh tidak bisa membuat keempat temannya menyanggah perkataannya.
"Aduh, aduh, uri maknae¹," Kyo mengucapkannya dengan gemas. Ia yang berdiri di dekat Ten segera merangkul pundak Ten, mungkin karena masih belum puas merangkul Kai tadi.
__ADS_1
Zou mendekatkan dirinya dan ikut merangkul Ten. Kai yang melihat itu langsung menunjuk-nunjuk Zou dengan heboh, "Zou, katamu tadi aku sok suci dengan melepas rangkulan mereka, kenapa sekarang kau mengingkari perkataanmu?"
"Siapa bilang aku mengingkari perkataanku. Aku hanya bilang kau sok suci, bukan berarti aku tidak ingin ikutan merangkul," kata Zou dengan meledek. Tak lupa ia menjulurkan lidahnya kearah Kai.
"Bilang saja kau iri, kenapa harus menipuku," sungut Kai.
"Zou, kau seperti anak kecil saja," ucap Hiro. Tapi meski begitu, langkahnya mendekati Zou dan bahkan ikut merangkul pundak Zou. "Tapi kau hebat karena berhasil menipu Kai. Yah, Kai memang mudah tertipu," lanjut Hiro mengingat hasil pertarungan mereka tadi.
"Kalian berdua!" Kai menggertakkan giginya, benar-benar kesal sekarang. Ia melihat keempat temannya yang saling berangkulan dengan posisi Hiro dipinggir merangkul Zou, diikuti Zou yang merangkul Ten, lalu Ten, dan disebelahnya Kyo juga merangkulnya.
"Kemarilah, Kai. Aku tau kau juga ingin merangkul kami," ucapan Ten membuat Kai ikut bergabung dalam rangkulan mereka. Mereka membentuk lingkaran dimana posisi Kai adalah merangkul Hiro dan Kyo.
"Kyo, bergantilah posisi denganku. Aku tak sudi merangkul Hiro, aku ingin ditengah-tengah dirimu dan Ten sehingga aku bisa merangkul Ten," pinta Kai sebelum tangannya menyentuh pundak Hiro.
"Tidak mau, kau sendiri yang melepaskan rangkulan kami tadi. Kau telah menyia-nyiakan rangkulan Ten, maka jangan salahkan aku tidak ingin berpindah posisi," ujar Kyo.
"Kenapa ingin merangkulku? Bukankah merangkul semuanya juga sama saja," Ten menyahuti ucapan Kai.
"Uh, Ten. Kau tidak tahu seberapa besar aku menyayangimu daripada orang disebelahku ini," tunjuk Kai pada Hiro.
"Sudahlah tinggal merangkul saja kenapa, mempersulit keadaan saja, kalau bukan karena perkataan Ten, mana mau aku dirangkul dirimu," cibir Hiro.
Akhirnya mau tak mau Kai merangkul Hiro juga. Terlihat dari raut wajah Kai jika ia terpaksa melakukannya.
Lingkaran rangkulan itu terbentuk sempurna setelah mereka saling merangkulkan kedua tangan mereka pada orang disisi mereka masing-masing.
Lalu mereka berlimapun saling memandang satu sama lain. Seperti bertelepati, sedetik kemudian, mereka tertawa bersama. Menertawakan betapa mereka seperti anak kecil yang masih saja saling berangkulan.
Bagaimanapun sifat mereka, dan pertengkaran-pertengakaran kecil di dalamnya. Itu hanyalah bumbu untuk mempererat pertemanan mereka. Seperti kata Ten, sejatinya mereka tetaplah saling peduli, saling mengerti dan saling menyayangi.
"Semoga pertemanan kita selalu erat selamanya!"
__ADS_1
🍃🍃🍃
¹uri maknae \= member termuda kita