
"Ten, meskipun aku tidak membencimu, tapi aku harus serius dalam pertandingan. Jadi maaf kalau aku sengaja melukaimu," ucap Kai sambil menyeka sudut bibirnya arogan.
Ten menyeringai kecil. "Tidak ada yang menyuruhmu main-main dalam pertandingan, Kai. Ingat perkataan Zou kemarin? Yang terpenting adalah trik dan strategi, bukan kekuatan fisik," balas Ten sambil menggoyang jari telunjuknya.
"Oke, maka aku tak akan berbelas kasih," Kai mulai menyerang dahulu. Ten dengan gesit menghindar dan menangkas serangan yang diberikan Kai. Masih belum ada celah untuknya melawan balik.
Takk takk takk
Satu menyerang, satu menangkis, satu menghunuskan pedang, satu lagi menghindari serangan. Begitu seterusnya yang terjadi diantara mereka berdua.
"Sepertinya pertandinganku denganmu jauh lebih seru dibanding pertandinganku dengan Hiro kemarin," ucapan Kai direspon kekehan kecil oleh Ten.
"Aku mendengarnya!" sahut Hiro dari bangku penonton.
Pertandingan semakin sengit, permainan yang dimainkan oleh Kai dan Ten berimbang dengan baik. Sampai tangan Ten tidak sengaja berkeringat dan membuat pegangannya ke pedang mudah terlepas. Sehingga satu serangan dari Kai berhasil melempar pedang Ten ke belakang.
"Wow, kau mudah lengah, Ten," Kai mengangkat sebelah sudut bibirnya, merasa akan memenangkan pertandingan.
Ten yang mengerti situasi segera balas tersenyum remeh, "Jangan senang dulu, Kai."
Tanpa diduga, Ten dengan cepat melesat ke belakang tubuh Kai, memosisikan kuda-kudanya dan menyerang tengkuk Kai menggunakan sikunya.
"Eh, apa?" Kai yang terkejut karena Ten tiba-tiba menghilang dari arah pandangnya sangat tidak siap menerima serangan, alhasil yang terjadi adalah ia jatuh tersungkur ke depan. Ten berhasil memenangkan pertandingan dengan menggunakan serangan dari arah belakang.
Ketiga temannya yang lain segera bertepuk tangan. "Ten hebat," puji Kyo seketika.
"Gunakan strategi, Kai. Kenapa kau selalu saja terkecoh?" Zou angkat bicara.
"Mungkin karena Kai sombong saat tahu bahwa pedang Ten terjatuh tadi, mengira dirinya akan menang, namun tak disangka Ten bisa dengan cepat membalik keadaan," Hiro sengaja melebih-lebihkan nadanya agar membuat Kai kesal.
Kai bangkit dari jatuhnya, "Iya, iya. Aku kalah lagi. Tapi kenapa kau harus mengolokku sih, Hiro?"
"Oh, ya? Kau saja yang merasa," Hiro terkekeh kecil di akhir kalimatnya.
Ten segera mengalihkan perhatian Kai dari Hiro, "Titik lemahmu terlihat sangat jelas, Kai. Itu berada di sekitar lehermu. Ketika kau diserang di area tersebut, kau dengan cepat tumbang hanya dalam sekali serangan."
Zou membenarkan perkataan Ten, "Kemarin kau diserang Hiro di leher, hari ini kau diserang Ten di tengkuk. Dan kau kalah begitu saja, kenapa membiarkan lawan mendapat akses untuk menyerangnya?"
"Iya juga, ya," ucap Kai sambil mengusap-usap tengkuknya yang masih sakit.
"Nah, itu menandakan strategimu kurang bagus, Kai," Kyo menimpali.
__ADS_1
Kai melirik kearah Kyo, "Kenapa? Kau ingin melawanku sekarang?"
Kyo menggeleng, "Sehari satu orang mendapatkan satu giliran. Berilah kesempatan bagi yang lain untuk berlatih."
"Bilang saja kau takut, iya kan?" Kai tertawa kecil, namun tak terlalu digubris oleh Kyo.
Kai dan Ten menepi, sekarang adalah giliran Zou melawan Kyo.
Karena Zou pintar, jadi strategi yang ia pasang pun sangat baik. Kyo beberapa kali gagal menembus pertahanan yang Zou buat, tapi meski begitu Kyo tidak berhenti menyerang. Ia tidak akan membuat celah untuk Zou melawan balik.
Kyo menghunuskan pedangnya dari atas, kanan, kiri, bahkan dari bawah. Dan Zou menangkisnya dengan mudah seolah ia sudah membaca taktik penyerangan Kyo.
"Kau lawan yang sepadan untukku, Zou," salut Kyo karena sedari tadi Zou tidak lengah sedikitpun.
Zou tersenyum sinis, "Benarkah? Sepertinya aku bukan lawan yang sepadan untukmu."
Kyo mengernyitkan alisnya heran, "Apa maksudmu?"
Zou tidak menjawab. Ketika Kyo melawannya dari atas, Zou tidak menangkisnya lagi seperti tadi. Ia menunduk untuk menghindar dan melesatkan serangannya dari bawah.
Kyo terkejut, tapi ia berhasil menangkis serangan cepat Zou. Bisa dibilang, gerakan refleknya luar biasa. Tapi berkat itu, keadaan terbalik. Kini berganti Zou menyerang dan Kyo yang menghindar maupun menangkis semua serangan yang diberikan.
Kai sempat tersulut emosi mendengarnya, namun ia berhasil meredamnya. Kai balas mengejek Hiro, "Ya, berkat itu pertandingan kita tidak seru sama sekali, kau jadi tak memiliki waktu untuk menikmati pertandingannya bukan?"
"Kau sangat naif, Hiro," Zou menimpali meski ia masih berada di arena.
"Huh, terserahku, itu adalah strategiku," Hiro menggeram, sedangkan Ten yang berada di sebelahnya hanya tertawa kecil. "Sekali-kali kau harus merasakan menikmati pertandingannya, Hiro. Cobalah mengulur waktu, itu akan terasa seru."
Hiro dengan segera menoleh kearah Ten dan Kai yang berada di sebelah kanannya. Mereka jadi membahas hal lain dan tidak fokus lagi pada pertandingan. Tau-tau saja, kedua pedang kayu milik Kyo dan Zou tak berada dalam genggaman tangan mereka lagi.
"Eh, bagaimana itu bisa terjadi?" ketiga penonton menoleh kebingungan. Sementara itu di arena, Kyo dan Zou hanya diam, tak berniat menjelaskan. Mereka melanjutkan pertarungan dengan adu silat.
Zou menendang, sementara Kyo mengindar. Lalu gantian Kyo yang meninju dan Zou menangkisnya. Pertandingan semakin seru, baik Kyo maupun Zou sudah mengucurkan keringat di dahi mereka, pertanda kelelahan. Namun masing-masing dari mereka belum ada yang ingin menyerah.
Sampai sepertinya Zou ingin segera mengakhiri pertandingan. Ia menunduk dan memutar kakinya mengenai Kyo sehingga Kyo menjatuhkan sebelah lututnya. Lalu dengan cepat Zou berdiri dan menyerang Kyo dari atas, membuat Kyo yang baru saja ingin ikut berdiri kewalahan menangkisnya. Posisinya benar-benar tak menguntungkannya, jadi ia memilih untuk menyerah.
"Baik, baik. Aku kalah," Kyo menjatuhkan kedua lututnya dan mengangkat kedua tangannya ke atas kepala.
Zou tersenyum penuh kemenangan. Kai, Ten dan Hiro bertepuk tangan salut dengan cara Zou mengakhiri pertandingan. "Zou hebat."
"Bagaimana, Kyo? Masih ingin membicarakan strategi denganku?" ucap Kai yang jelas berniat untuk menyindir Kyo.
__ADS_1
"Hei, kalau saja Zou tidak ingin mengakhiri pertandingan dengan cepat, mungkin aku masih belum kalah dan bisa membalikkan keadaan," Kyo berjalan mendekati mereka bertiga, diikuti Zou di belakangnya.
Kai membuat gestur merendahkan dengan menggunakan tangannya, "Sudahlah. Akui saja dirimu memang tak bisa menandingi strategi yang Zou mainkan."
Kyo memicingkan matanya kearah Kai, "Kau balas dendam padaku karena kemarin tidak bisa merangkul Ten?"
Ten yang awalnya tak tertarik dengan perdebatan mereka segera menoleh. "Kenapa jadi membawa-bawa namaku?" Ten mengangkat sebelah alisnya naik.
"Hei, tidak usah mengungkit kejadian kemarin pada masalah hari ini, ya," ucap Kai tak terima.
Kyo segera memutar bola matanya, bosan meladeni lebih lanjut.
"Pertandingan besok kita ubah lagi, bagaimana?" mendengar usulan tiba-tiba dari Kai, serempak keempat pasang mata segera memandang ke arahnya.
"Membuat aturan baru? Jangan aneh-aneh, ya," belum apa-apa, Hiro sudah curiga.
"Jangan menuduhku dengan cepat, dengarkan penjelasanku terlebih dahulu," Kai mengatakannya dengan serius. Zou menenggak minumannya haus, setelah itu berjalan mendekati Kai.
"Bagaimana kalau besok pertandingan bukan lagi menggunakan pedang, bukan juga karate. Tapi duel memanah, setuju?"
Ten mengangguk, "Boleh-boleh saja, lagipula kita juga perlu mengasah kemampuan memanah kita."
Kai mengacungkan satu jarinya, "Satu setuju, yang lain?"
"Sejauh ini, kemampuan memanahku adalah yang terbaik, tentu aku setuju," ucap Kyo dengan semangat.
Mau tak mau Hiro dan Zou ikut mengangguk. Berlatih pedang telah mereka kuasai sejak lama, hanya tinggal mengasah kemampuan dan menambah pengalaman bertarung saja. Kini gantian bertanding memanah tidak ada salahnya mereka coba, bukan?
"Sebelum itu, aku mempunyai syarat," ucap Hiro. Yang lain menoleh, menunggu kelanjutan dari ucapannya. "Biarkan aku bertanding pedang sekali lagi dengan salah satu dari kalian, aku ingin mengulur waktu sehingga bisa menikmati pertandingan."
Respon tercepat atas perkataan Hiro ditunjukkan oleh Kai. Ia tertawa terbahak-bahak dengan puas. "Jadi, tuan Hiro ini akhirnya penasaran dengan serunya pertandingan, ya?" ledek Kai.
Hiro mencebikkan bibirnya, "Hmph! Jangan salah! Aku hanya bosan saja melihat pertandingan kalian yang lama. Jadi aku berpikir untuk membuat kalian merasakan bosan juga dengan melihat pertandinganku."
Diam-diam, Kai mencibir, "Alasan."
"Dasar tukang iri," sahut Zou. "Tapi itu terserah padamu sih," ia mengendikkan bahunya cuek.
"Jadi, kau ingin bertanding dengan siapa besok?" tanya Kyo.
Hiro menoleh ke arah Ten yang berada di sebelahnya, "Ten, izinkan aku untuk melawanmu."
__ADS_1