Emerald Soulmate

Emerald Soulmate
10. Bermain atau berlibur?


__ADS_3

Mendengar itu, serentak empat kepala yang tadinya menunduk melihat tak percaya ke arah Kai. Kai tersenyum, lalu tanpa diduga keempat temannya menerjang tubuhnya secara bersamaan. "Terimakasih, Kai."


"Hei, lepaskan pelukan kalian, aku tidak bisa napas nih, sesak!" rintih Kai. Dengan begitu pelukan mereka terlepas. Dan mereka tertawa bersama.


"Oh, ya. Kenapa tadi kalian terlambat? Kalau kalian tiba lebih cepat, kita pasti sudah memanah di dojo sekarang,"


Ten menjelaskan semua yang terjadi tadi. Kai pun melongo mendengar penjelasan dari Ten. "Jadi, kalian terlambat karena kerumahku terlebih dahulu?"


Kyo mengangguk dengan cepat, "Ya. Kenapa kau melupakan janji kalau kita berkumpul di rumah Ten?"


Kai menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Ehm, maafkan aku. Semalam karena masih marah, aku melupakannya. Dan aku dengan santai ke dojo terlebih dahulu tanpa tahu bahwa kalian mencariku," ucap Kai meringis.


"Tidak apa, itu sudah berlalu. Jadi, apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Zou.


Ten menjentikkan jarinya semangat, "Aku tahu."


Hiro memicingkan matanya curiga, "Jangan aneh-aneh ya, Ten."


Kai menyentil dahi Hiro, "Kau kenapa selalu menuduh terlebih dahulu."


"Aduh," Hiro memegang dahinya yang sakit. "Jangan karena kita baru baikan jadi kita tidak bermusuhan, ya," lanjut Hiro.


Zou mendelik, "Hiro. Jangan mulai."


Hiro meringis, "Baiklah, silahkan dilanjut, Ten."


Ten tersenyum dengan lebar, "Ayo kita lakukan hal yang sudah lama tidak pernah kita lakukan lagi."


Teman-temannya yang lain mengangkat alisnya, menunggu lanjutan percakapan dari Ten.


"Ayo kita bermain!"


Krik krik


Suasana sempat hening sebelum Zou tersadar dari bengongnya. "Kau serius? Kita sudah remaja!"


Ten menoleh, "Lalu apa? Memangnya remaja tidak boleh bermain?"


Hiro menggeleng. "Boleh-boleh saja, tapi tidak mungkin kan kita bermain petak umpet seperti anak kecil,"


Ten mengangguk dengan tenang, "Karena itu, aku ingin bertanya pada kalian. Apakah kalian punya usul?"


Kyo mengangkat sebelah tangannya, "Aku ingin sekali memanah."

__ADS_1


"Bagaimana dengan alat panahnya, Kyo? Kau tahu sendiri semua panah milik Ayahku telah disumbangkan ke dojo, hanya menyisakan satu panah yang biasa Ayah gunakan untuk berburu," jelas Ten. Keinginan Kyo tidak bisa dikabulkan selama mereka kepenuhan dojo.


Kyo menunduk dengan lesu. "Aku tahu, tapi...,"


Zou menepuk pundak Kyo. "Bagaimana kalau kita berlibur?"


"Berlibur? Kita liburan?" Hiro yang paling semangat. Mata Kai berbinar mendengar usul Zou, "Aku setuju!"


Ten mengangguk dan Zou tersenyum. "Nah, bagaimana denganmu, Kyo?"


Melihat empat temannya setuju, mau tak mau Kyo ikut mengangguk. Karena tidak mungkin satu lawan empat akan menang.


"Baiklah, sudah diputuskan. Kita akan berlibur saja," putus Zou.


"Tunggu-tunggu. Usulku tadi adalah bermain, kenapa jadi liburan?" tanya Ten.


Zou menatap Ten, "Sudahlah Ten, yang lain sudah setuju. Kau pun juga setuju kan. Yang penting kita senang, tidak masalah bukan itu bermain atau berlibur?"


"Baiklah, baiklah."


"Jadi, kemana kita akan pergi liburan?" tanya Kai memulai sesi musyawarah.


"Gunung? Hutan? Pantai?" Hiro mengusulkan satu persatu pendapatnya.


"Hutan? Kau serius? Bagaimana kalau manusia kayu muncul?" Kyo mengungkit mitos yang telah beberapa tahun lalu hilang. Tapi Kyo sama sekali tidak lupa, karena itu adalah alasan mengapa ia harus belajar melawan ketakutannya sendiri.


"Wah, aku saja hampir lupa dengan mitos itu," pikir Hiro. Zou menyetujui ucapan Hiro, "Ya. Bukankah itu hanya mitos? Kenapa harus takut?"


Ten menambahi, "Lagipula, kita sudah remaja! Aku tidak takut lagi!" sejak awal semuanya tidak lagi mempercayai kebenaran mitos tersebut, termasuk Ten. Namun, terkecuali Kyo tentunya.


"Kita sudah kuat, Kyo. Dengan kemampuan bermain pedang kita, kita bisa mengalahkan siapa saja!" ujar Kai sombong.


Kyo melirik Kai, "Jangan sombong dulu. Ingat, diatas langit masih ada langit."


Kai menoleh heran kearah Kyo, "Tumben kau bijak."


Ten menengahi, "Sudah. Kita tidak akan pergi ke hutan. Bagaimana kalau kita pergi ke pantai saja? Aku ingin berenang, pasti segar sekali!"


Lagi-lagi Hiro mengangguk semangat, "Ah, berenang cocok sekali dengan panas terik siang ini!"


"Tapi, pantai didekat kampung kita hanya yang berada di Utara. Untuk dapat kesana, kita harus melalui hutan," ucap Zou.


Mendengar kata hutan, lagi-lagi Kyo merinding. "Haruskah kita pergi ke pantai?"

__ADS_1


"Kyo, coba bayangkan segarnya air jernih di pantai ketika kau menyelaminya. Apa kau tidak tertarik?" manis sekali mulut Kai ketika membujuk Kyo.


"Aku tertarik, jelas tertarik. Tapi bagaimana kalau mitos itu benar, teman-teman?" sekali lagi Kyo masih ingin memengaruhi pikiran keempat temannya agar tidak pergi.


"Jangan cemas, hutan itu hanya berada di tepi pantai. Begitu kita melaluinya sebentar, kita pasti sudah sampai di pantainya," tenang Ten.


Kyo mengalah sekali lagi, ia tidak ingin berdebat. Sudah ia katakan bukan sebelumnya kalau satu lawan empat tidak mungkin menang.


Zou mulai berjalan ke Utara mendahului teman-temannya, "Kita berangkat sekarang, karena hari sudah mulai siang!"


Ten menggeret tangan Kyo agar ia mau mengikuti mereka. Sepanjang perjalanan Ten terus-menerus menenangkan Kyo.


Tak terasa, sudah hampir satu jam mereka menghabiskan waktu perjalanan. Dengan berjalan kaki, tentu saja perjalanan terasa lebih panjang. Karena mereka tidak mempunyai kuda untuk kendaraan yang bisa mereka tumpangi.


Tapi demi berlibur ke pantai, mereka rela melakukan perjalanan ini. Lelah mereka rasakan, istirahat juga mereka lakukan berkali-kali. Berkat Zou yang pintar, ia sudah menghafal peta lokasi di sekitar kampung mereka. Jadi, perjalanan ke pantai yang belum pernah mereka tuju, Zou dapat dengan mudah menunjukkan jalannya.


"Haus sekali," keluh Kai. Ia menatap terik matahari diatasnya sambil menutup sedikit pandangan matanya menggunakan sebelah tangan.


"Sama, aku juga," Kyo tampak ngos-ngosan. Ia mendudukkan dirinya di tanah begitu saja. Tampak sekali kalau ia kelelahan.


"Kita sudah istirahat berkali-kali, tapi kenapa perjalanan masih terasa sangat jauh," Hiro ikut mengeluh. Dia turut mendudukkan diri di sebelah Kyo.


"Tentu saja perjalanan jauh karena kita beristirahat berkali-kali. Kita telah menghabiskan banyak waktu!" hardik Zou pada Kyo dan Hiro. Ia sendiri sebenarnya juga lelah, namun kenapa fisik kedua temannya jauh lebih lemah dan gampang sekali kelelahan sehingga mereka beristirahat berulang kali? Ini sungguh diluar pemikirannya.


Ten menenangkannya, "Zou. Kau sudah berusaha dengan keras. Sebaiknya peta berjalan kami sedikit istirahat juga sekarang agar ada tenaga untuk nanti."


Zou mendelik mendengar Ten memanggilnya dengan sebutan baru untuk dirinya. "Peta berjalan? Apa-apaan itu," dengus Zou. Meski demikian, ia mengikuti saran dari Ten dan beristirahat.


"Zou, berapa lama lagi perjalanan yang harus kita tempuh?" tanya Kai yang posisinya berada di paling depan. Kai juga kelelahan, tapi fisiknya adalah yang terkuat diantara mereka berlima. Jadi sebenarnya ia masih sanggup berjalan untuk saat ini.


"Setelah ini, kita akan memasuki hutan. Lalu akan sampai di pantai. Perjalanan tidak akan lama lagi," jawab Zou.


Mendengar itu Hiro langsung semangat, ia segera bangkit berdiri. "Kalau begitu ayo bergegas sekarang! Kita sudah hampir sampai kan!"


Kyo mendesah. "Haah, kalau saja aku tidak haus saat ini, aku tidak akan berangkat sekarang," ucapnya sambil berdiri.


"Ya, sebentar lagi sampai dan rasa hausmu hilang jika kau berenang di pantai, jadi siapkan mentalmu di dalam hutan, Kyo," ujar Ten menyemangati Kyo.


Kyo mendekat kearah Ten dan merangkul sebelah tangan Ten, "Janji kau harus berada di dekatku."


Ten tertawa, "Iya, iya."


Hiro mendecih. "Dasar penakut!" ejeknya pada Kyo.

__ADS_1


"Mari berangkat lagi!" seru Zou agar Kyo tidak meladeni pertengkaran yang dibuat Hiro.


Dan sekali lagi, mereka kembali melanjutkan perjalanan liburan ini.


__ADS_2