
Mereka berlima mulai memasuki kawasan hutan. Kyo yang berada di samping Ten semakin mengeratkan pegangan tangannya di lengan jubah Ten.
Pohon-pohon yang berada di hutan kebanyakan adalah pohon maple berdaun oranye. Kayunya yang sangat lebar dan kokoh membuat nuansa semakin menyeramkan. Daun-daunnya berguguran di tanah. Sehingga cahaya matahari bisa sedikit masuk. Meski begitu, karena pohon menjulang tinggi, intensitas cahaya yang masuk tidak terlalu banyak.
"Zou, kau yakin area hutannya tidak luas?" tanya Kai yang berada di sebelah Zou. Hiro yang tertinggal di belakang mempercepat langkahnya dan menyejajarkan dirinya dengan Kai dan Zou.
"Ya, di peta tidak luas. Skalanya hanya 1:10. Kita akan segera keluar dari sini secepatnya."
"Syukurlah," Kyo yang mendengarnya segera menghela napas lega. Ten terkekeh kecil karena ulahnya barusan.
"Ngomong-ngomong, hutan ini tampak indah. Masa iya ada yang pernah melihat manusia kayu disini?" Hiro mengamati sekelilingnya. Satu daun maple yang jatuh mendarat diatas pundaknya. Hiro segera mengambilnya.
"Hiro!" seru Kyo tajam. "Jangan bicara yang aneh selagi kita masih berada di hutan," sengaknya.
Hiro mencibir. "Kau itu yang terlalu penakut, Kyo! Tetap saja mempercayai mitos," ucap Hiro sambil memandangi daun di genggamannya.
"Sshh!" Zou menempelkan jari telunjuknya di mulut. "Jangan berisik, lihat ke depan! Sebentar lagi kita sampai," Zou memindahkan jari telunjuknya dari mulutnya dan menunjuk ke depan.
Serempak semuanya mengikuti arah jari telunjuk Zou. Dan bisa mereka lihat pantai biru jernih di depan sana.
Kyo segera melepas pengangan tangannya dari Ten dan berlari. "Akhirnya kita sampai! Yuhuuu!" serunya girang.
Kai menyusul Kyo dan ikut berlari. "Oh air! Rasa hausku sejak tadi terbayar!"
Tanpa melepas baju, keduanya segera menceburkan diri ke dalam pantai. Mereka segera berenang seolah melepaskan dahaga mereka.
Melihat itu, Zou dan Ten menggeleng kecil. "Kalian, ayo kita susul mereka dengan berlari," ujar Hiro.
"Kau duluan saja kalau ingin, Hiro. Kami akan menyusul," balas Ten. Ia tidak seantusias teman-temannya. Sejak mereka memasuki hutan tadi, perasaannya tidak enak dan dia mulai was-was. Jadi dia selalu diam sedari tadi.
Hiro mengangguk, dia menyusul berlari dan menceburkan dirinya ke pantai. Ikut berenang bersama kedua temannya yang sudah duluan.
Zou menyadari gelagat Ten yang tidak biasa. Sedari tadi Ten dan Kyo berjalan di belakangnya, jadi ia tidak tahu ekspresi yang ditunjukkan Ten. Namun Zou bisa merasakan aneh karena temannya yang satu ini tidak berbicara sepatah kata pun sejak tadi.
"Ada apa, Ten?"
Ten melirik awas sekelilingnya, kemudian berbicara dengan sedikit berbisik. "Aku merasa ada yang tidak beres semenjak memasuki hutan, apa kau tidak merasakannya, Zou?"
__ADS_1
Zou menoleh ke belakang sambil masih tetap berjalan. "Ada apa? Yang kurasakan hanya kau yang sedari tadi diam tidak berbicara," jawab Zou santai.
Ten berdecak sebal, "Aku merasa was-was sedari tadi."
Kini, Zou sepenuhnya berbalik menghadap belakang. Dia berjalan mundur. "Wah, apa karena berada di dekat Kyo sedari tadi membuatmu tertular perasaan takut?" tanya Zou sedikit mengejek.
"Aku serius, Zou. Jangan main-main," bentak Ten. Ten juga tidak mempercayai mitos itu sebenarnya. Tapi apa yang salah dengan perasaan was-wasnya ini?
Zou terdiam karena bentakan Ten. Ia tidak menduga kalau Ten benar-benar serius, niatnya bercanda tadi adalah untuk mencairkan suasana.
"Maaf, aku tidak tahu kalau kau serius," ucap Zou lirih.
Ten menggeleng, "Tidak apa-apa. Semoga ini hanya perasaanku saja."
Zou mengangguk, diam-diam dalam hatinya merasakan sedikit ketakutan juga karena feeling buruk Ten biasanya tidak main-main.
Zou dan Ten sampai juga di pantai. Melihat kejernihan air dan warna birunya yang masih asri, membuat mereka berdua tidak tahan untuk tidak menceburkan diri juga.
"Kalian berdua kenapa lama sekali sih? Segar tau berenang disini," Kyo terlihat puas sekali.
Ten tersenyum kecil, mencoba menyembunyikan perasaannya. "Ya, segaar sekali. Tidak sia-sia kita berjalan lama tadi."
"Hahaha, kau seperti kura-kura saja, Kai," Hiro mengacung-acungkan jari telunjuknya heboh kearah Kai.
"Apa katamu?" Kai sedikit berteriak. Dia segera berenang menghampiri Hiro dan berniat menenggelamkannya.
Hiro yang mengetahui niat Kai segera berenang menghindar. "Kura-kura Kai," ejek Hiro tertawa puas.
"Hei, kemari kau!" Kai berenang mengejar Hiro dan Hiro terus menghindar. Dan terjadilah aksi kejar-kejaran.
Ketiga temannya yang melihat hanya tertawa. "Ten, jangan kau beri tau Kyo tentang tadi. Atau dia akan semakin ketakutan nanti," bisik Zou di telinga Ten.
Ten mengangguk paham, "Iya, aku tahu."
Kyo memicingkan matanya curiga melihat Zou dan Ten berbisik-bisik. "Apa yang sedang kalian bicarakan sampai tidak ingin membiarkan aku tahu?"
Ten tertawa canggung, "Tidak apa-apa. Buka masalah yang serius."
__ADS_1
Zou segera berenang menjauh, menyusul Hiro dan Kai yang masih berkejaran. Seolah menghindari pertanyaan dari Kyo.
Melihat itu, Kyo memperlihatkan tatapan menyelidiknya ke wajah Ten. "Serius? Kenapa Zou menjauh? Apakah dia gugup karena aku memergoki kalian merahasiakan sesuatu dariku?" tanya Kyo curiga.
Sedetik kemudian, wajahnya berubah terkejut. "Jangan-jangan... Kalian membicarakan hal dewasa?" Kyo menutup mulutnya menggunakan kedua tangannya.
Ten segera menjitak kepala Kyo. "Apa yang kau pikirkan? Kita masih remaja," sengit Ten.
Kyo meringis kesakitan. "Habisnya kalian mencurigakan sekali," cibir Kyo.
Ten segera berenang menjauh menyusul ketiga temannya. Melihat itu Kyo berseru tidak terima karena ia ditinggal sendiri. "Hei, Ten! Tunggu aku!"
Mereka berenang sambil tertawa bersama. Mereka pun bersenang-senang dan menikmati liburan kecil ini.
Setelah mereka lelah, mereka segera merebahkan diri di pasir pantai sambil menjemur pakaian mereka yang basah.
Suasana hening karena mereka benar-benar kelelahan, hanya terdengar deburan ombak-ombak kecil yang sesekali menyapu kaki mereka. Mata mereka terpejam, menikmati suasana ini. Baik masing-masing dari mereka tidak ingin ada yang memulai percakapan terlebih dahulu.
Krek krek
Tiba-tiba saja, terdengar suara kayu berderit. Mereka merasakan bahwa kayu-kayu yang berada di hutan bergerak sendiri.
"A-ada apa ini?" Ten segera bangkit dari rebahannya dan bergidik ngeri. Disusul teman-temannya yang lain.
Mereka berlima saling menatap. Dapat dilihat ketakutan mulai menyelimuti wajah mereka, terutama Kyo.
Ten mengangguk, seolah memberi syarat agar mereka segera pergi dari sana. Karena tidak ada jalan lain untuk memutar, mau tidak mau mereka harus melewati hutan sebagai jalan kembali. Dan Zou kembali memimpin jalan.
"Setelah kita kembali ke kampung nanti, kita harus memberi tahukan ini pada orang-orang. Terutama kepala kampung. Sepertinya mitos lima tahun lalu benar adanya," cicit Kyo ketakutan.
"Tenang, Kyo. Kita belum tahu kebenarannya, ayo kembali saja!" ujar Zou.
"Siapa bilang kalian boleh kembali?"
Ten, Zou, Kyo, Kai dan Hiro serempak menoleh ke depan dan melihat pasukan manusia kayu menghadang mereka. Jalan kembali ke kampung mereka telah diblokir, dan bisa mereka lihat, seorang wanita cantik duduk di sebuah kursi dengan menyilangkan kakinya angkuh.
Sepertinya, ia adalah pemimpinnya dan yang tadi berbicara kepada mereka.
__ADS_1
Raut wajah mereka berlima pias. Yang lebih parah, Kyo justru terlihat pucat. Sementara itu, Ten mengutuk perasaan was-wasnya sedari tadi. Kenapa feeling-nya harus selalu benar?
Kai memberanikan diri maju. "Si-siapa kau?!"